USTADZ GALAK

USTADZ GALAK
85. Hamil?


__ADS_3

"Syahla!" Dian melambaikan tangannya pada Syahla yang baru memasuki area kafe. Syahla tersenyum dan balas melambaikan tangan.


"Maaf Kak, udah nunggu lama ya?" tanya Syahla setelah selesai ber-cipika-cipiki dengan Dian.


"Nggak kok, barusan aja Gue. Btw, kemarin yang baru dari Amrik, mana oleh-olehnya?" goda Dian. Memang, mereka berdua masih sering saling kontak sejak penerbitan novel pertama Syahla. Dan kali ini, Dian kembali minta bertemu untuk membicarakan kontrak berikutnya.


"Sorry kak, nggak sempet beli oleh-oleh. Soalnya, sebenarnya aku pulang nggak sesuai jadwal sih," Syahla merasa tak enak hati.


"Aduh, Gue cuma bercanda kali La. Nggak usah dibawa hati begitu! Gue kan kesini juga niatnya bukan mau minta oleh-oleh, tapi mau ngomongin kontrak! Oh iya, sebelum masuk pembahasan itu, kita makan dulu ya. Gue laper banget!"


Syahla menganggukkan kepala setuju. Dia memang lumayan lapar karena beberapa hari ini nafsu makannya berkurang drastis. Mungkin efek dari sakit hati juga membuat orang menjadi tak nafsu makan.


Dian kemudian memesan ikan bakar untuk dirinya sendiri dan nasi goreng untuk Syahla. Segera saja, dua wanita berbeda usia itu sudah asyik membicarakan banyak hal. Membuat Syahla sejenak lupa pada semua masalahnya.


Memang hanya sejenak, karena setelah kembali lagi ke apartemen, ia merasakan kekosongan di hatinya. Perasaan sedih yang masih tertinggal di hati kembali menyeruak. Membuatnya mau tidak mau harus menahan air mata sekuat tenaga.


"Syahla?"


Panggilan itu membuat Syahla menoleh, terlihat Gian keluar dari lift. "Aku denger kabar kalau kamu sudah pulang, tapi aku belum ketemu kamu sama sekali. Eh, ternyata kita malah ketemu di sini."


"Hai," Syahla sebisa mungkin memaksa bibirnya untuk tersenyum. Meski ia belum sempat menyembunyikan matanya yang terlihat sembab.


"Hai juga. Eh, kok kamu udah pulang? Bukannya waktu itu pamitnya dua minggu ya?"


"Ah, iya, aku ada urusan mendadak di sini, jadi pulang lebih cepat." jawab Syahla mengarang alasan.


"Oh.. " Gian memang menganggukkan kepala, tapi matanya memperhatikan wajah Syahla dengan seksama. "Nggak ada apa-apa kan?"


Syahla terhenyak. Tak menyangka Gian akan bertanya begitu. Tapi ia buru-buru menggeleng. "Nggak, nggak ada apa-apa kok."


"Oh, syukur deh kalau gitu. Oh ya, terus Marla gimana nih? Mau dijemput sekarang? Yah, padahal Marla barusan aja akrab sama Milly dan Chiko," Milly dan Chiko adalah nama kucing-kucing Gian.

__ADS_1


"Eng, sebenarnya aku mau ngerepotin kamu lagi sih. Aku mau minta tolong kamu jagain Marla sebentar lagi. Soalnya akhir-akhir ini aku sibuk, jadi kayanya malah nggak bisa ngurus Marla seharian."


"Oke, Oke, nggak masalah kok." Gian menganggukkan kepala. Laki-laki itu sebenarnya merasa aneh dengan ucapan Syahla. Tentu saja, karena Gian melihat sendiri bagaimana Syahla memperlakukan Marla sudah seperti anaknya sendiri. Bahkan sebelum berangkat ke Amerika pun, Syahla terlihat berat sekali melepaskan Marla. Jadi, kenapa sekarang dia malah mau menitipkan Marla lebih lama?


Pasti ada yang aneh, batin Gian di dalam hati.


Sependapat dengan Gian, Anggika juga turut menyadari kalau sahabatnya itu mulai terlihat aneh. Beberapa hari ini dia bahkan jarang melihat Syahla makan dua kali sehari. Yah, mungkin saja sih gadis itu beli makan di luar. Apalagi akhir-akhir ini Syahla memang sedang disibukkan dengan rencana peluncuran novel barunya. Tapi, kenapa Anggika merasa badan Syahla semakin kurus?


Anggika juga sering melihat Syahla muntah-muntah layaknya orang sakit. Tapi setiap kali dicek, gadis itu tidak demam. Lebih anehnya lagi, Syahla juga bilang kalau dia merasa mual setiap kali mencium bau parfum atau aroma yang sedikit menyengat. Akhirnya Anggika ikut terkena imbasnya, dia tidak diperbolehkan memakai parfum jika berada di dalam rumah.


Kegelisahan Anggika kemudian dibagikan kepada pacarnya, Kak Ren. Tapi, respon Kak Ren benar-benar di luar dugaan.


"Aku yakin dia hamil," ucap Kak Ren tegas. "Nggak ada lagi alasan lain yang masuk akal dari itu."


"Hah? Jangan sembarangan ngomong ah, sayang!" hardik Anggika. "Syahla kan masih kuliah, dia masih muda! Nggak mungkin hamil!"


Kak Ren menghela napas panjang. "Sayang, Syahla itu sudah dua puluh tahun, sudah cukup dewasa untuk hamil. Lagian, Syahla kan juga sudah punya suami. Jadi, malah lebih nggak aneh lagi kalau dia hamil!"


"Ya malah bagus dong! Justru karena hamil itu malah bisa bikin mereka baikan! Iya nggak?"


Anggika memandangi wajah pacarnya yang menunjukkan ekspresi yakin seratus persen. Meski yang dikatakan Kak Ren masuk akal, tapi masa sih Syahla beneran hamil?


"Coba deh, kamu bilang pelan-pelan ke Syahla. Minta dia cek kehamilan pakai testpack. Kalau dia memang beneran hamil, berarti dia harus mulai jaga diri sekarang. Tapi kalau nggak, ya dia harus ke rumah sakit buat periksa kondisi kesehatannya."


Anggika mendengarkan ucapan Kak Ren dengan seksama. Otaknya mulai berpikir. Bagaimana caranya membicarakan soal ini ke Syahla?


...----------------...


Sampai di apartemen, Anggika dibuat terkejut dengan Syahla yang terduduk lesu di atas sofa. Kepalanya tertunduk dan wajahnya tertutup oleh rambut panjangnya yang terurai.


"La," Anggika mendekat takut-takut. Matanya melirik ke arah kaki Syahla, memastikan kalau wanita yang ada di depannya itu benar-benar manusia dan bukan makhluk tak kasat mata. "Lo kenapa?"

__ADS_1


Syahla mendongakkan kepalanya. Terlihat wajahnya sudah basah karena air mata. "Anggi.."


"Kenapa? Kenapa?" Anggika panik. "Lo sakit? Mau gue anter ke rumah sakit?"


Syahla menggeleng-gelengkan kepalanya. "Aku harus gimana Nggi? Aku.. Aku.."


Anggika menunggu Syahla menyelesaikan ucapannya dengan jantung berdebar. "Kenapa? Lo kenapa?"


Syahla menunjukkan sebuah benda pipih di tangannya pada Anggika. "Aku hamil Nggi,"


Anggika terbelalak. Ia menerima alat tes kehamilan yang diberikan Syahla dengan tangan bergetar. "Ini valid nggak sih La? Lo udah coba berapa kali?"


"Tiga kali. Pagi kemarin, kemarinnya lagi, dan pagi ini. Semua hasilnya positif. Sekarang aku harus gimana Nggi?"


Anggika duduk di samping Syahla dan membiarkan Syahla menyandarkan kepala di bahunya. "Ya gimana lagi? Ini kan udah terjadi. Lo ngomong lah sama Pak Amar, dia harus tau karena dia kan suami Lo."


"Tapi, aku takut Nggi.."


"Takut kenapa La?"


"Takut kalau Mas Amar nggak mau sama bayi ini. Gimana kalau misalnya Mas Amar malah menceraikan aku, seperti yang waktu itu aku bilang ke dia? Aku harus gimana Nggi kalau itu terjadi? Aku sama anakku gimana?" Syahla mulai menangis lagi.


"Syahla. Hei. Lihat aku! Syahla!" Anggika terpaksa meninggikan suara agar Syahla menatapnya. "Tenangin diri Lo, oke? Semua itu cuma pikiran buruk Lo aja. Gue yakin Pak Amar nggak akan ngelakuin itu. Gue tau banget betapa sayangnya dia sama Lo. Syahla, sekarang Lo nggak cuma bertanggungjawab sama diri Lo sendiri. Ada manusia lain yang ada di dalam perut Lo. Kalau Lo sedih, bayi Lo bisa ikut sedih. Lo nggak mau kan bayi Lo jadi sedih?"


Syahla menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Good. Jadi, mulai sekarang, jadilah seorang ibu yang bahagia dan selalu berpikir positif. Jangan kebanyakan nangis, dan mulai tersenyum. Coba Gue tes, Bu Syahla, senyum.."


Syahla menatap Anggika dengan napas yang masih tersendat akibat sisa tangisnya. Lalu dengan perlahan, ia mulai menaikkan sudut-sudut bibirnya. Menunjukkan senyuman tipis.


"Bagus," Anggika memeluk Syahla dengan erat. "Kamu sudah bisa jadi ibu yang baik La,"

__ADS_1


__ADS_2