USTADZ GALAK

USTADZ GALAK
56. Pengakuan Kak Rama


__ADS_3

Saat sedang melangkah keluar dari pintu fakultas, Syahla berpapasan dengan Ustadz Amar yang sepertinya juga keluar dari gedung rektorat dengan terburu-buru. Segera saja Syahla menghampiri sang suami sambil berteriak.


"MAS!"


Ustadz Amar menoleh ke sumber suara dan mereka bertatapan mata. Tanpa banyak kata, Ustadz Amar mengetahui kalau sang istri sepertinya sudah menerima kabar yang sama seperti yang ia terima.


"Istri pasti sudah dengar ya? Saya rencananya akan pergi ke Bogor sekarang, kamu mau ikut?"


Syahla menganggukkan kepalanya. "Iya! Saya ikut!"


"Oke," Ustadz Amar menghela napas panjang. "Kita berangkat sekarang."


Tanpa menunggu waktu lama, Syahla dan Ustadz Amar bergegas masuk ke dalam mobil mereka dan melanjutkan perjalanan menuju Bogor.


...----------------...


Setelah hampir dua jam, Syahla dan Ustadz Amar sampai di RSUD yang dituju. Tanpa membuang waktu, mereka segera mendatangi resepsionis untuk menanyakan tentang Kak Rama.


"Oh, Anda berdua ini keluarganya ya?" Tanya sang suster.


"Iya Sus," bohong Ustadz Amar. "Bagaimana keadaan pasien Sus?"


"Pasien mengalami benturan yang keras pada lututnya, dan itu membuat beberapa tulang dan syaraf rusak. Kami sudah melakukan tindakan operasi, namun sepertinya pasien tidak bisa berjalan normal kembali. Meskipun tidak lumpuh, pasien nantinya akan berjalan pincang." jelas sang suster, membuat Syahla dan Ustadz Amar mengangguk-anggukan kepala mereka.


"Sayang sekali," celetuk Ustadz Amar yang membuat Syahla menyikut suaminya.


"Terimakasih Sus, kalau begitu kami permisi ingin melihat kondisi pasien," pamit Syahla kemudian.


"Silakan. Kami sudah memindahkan pasien ke kamar perawatan. Mari, saya antar,"

__ADS_1


Syahla dan Ustadz Amar saling berpandangan sejenak dan mengikuti Suster yang sudah berjalan duluan.


Setelah sampai di depan pintu, sang suster berpamitan dan meninggalkan mereka berdua saja di sana. Syahla berusaha menenangkan perasaannya yang bergemuruh. Ustadz Amar mengerti dan langsung menggenggam tangan sang istri.


"Sayang, setelah melewati pintu ini, kita akan bertemu Rama, biang kerok dari semua masalah kita. Kamu yakin tetap mau ikut masuk?"


Syahla menghela napas panjang, kemudian menganggukkan kepalanya yakin. "Iya, saya ikut Mas. Bagaimana pun, saya akan menghadapi langsung sumber dari masalah kita. Meskipun sekarang ini saya sangat marah, saya akan berusaha mengendalikan diri."


"Baiklah," Ustadz Amar mengeratkan genggamannya pada sang istri. "Bismillahirrahmanirrahim,"


...----------------...


Ketika pintu dibuka, Syahla dan Ustadz Amar dapat melihat seorang laki-laki yang sedang tergolek lemah dengan perban menutupi seluruh wajahnya, serta keadaan kaki kanan yang sudah digips. Saat melihat kedatangan Ustadz Amar, Kak Rama langsung membelalakkan mata dan mencoba untuk kabur, sayangnya keadaan kakinya tidak mendukung hal tersebut.


"Kamu tidak akan bisa kabur lagi sekarang," tukas Ustadz Amar yang malah semakin mendekati Kak Rama yang ketakutan. "Saya butuh penjelasan kamu."


"Tentu saja saya sudah lihat. Dan saya bersyukur karena kaki kamu tidak perlu diamputasi," Sarkas Ustadz Amar. "Dimana kamu sembunyikan video-video itu?"


"Lu nggak akan bisa menemukannya! Karena Gua udah nyimpen video itu di tempat yang aman!"


"Kak Rama," Syahla yang semula hanya berdiri di depan pintu akhirnya mendekat. "Kenapa kamu melakukan ini pada saya?"


Kak Rama terkejut karena tidak menyangka gadis itu akan datang. "Oh Dek Lala, apa Lu nggak tahu? Lu udah menyakiti Gua, tentu Gua harus membalasnya dengan balasan yang setimpal."


Syahla mengernyitkan dahi. "Apa yang saya lakukan sampai bisa menyakiti Kak Rama?"


"Lu udah main-main sama perasaan Gua! Lu duluan yang menggoda Gua, tapi pada akhirnya Lu bilang Lu udah punya suami waktu Gua lagi sayang-sayangnya sama Lu! Lu nggak tahu kan sesakit apa Gua?"


"Kak, saya minta maaf kalau membuat Kak Rama salah paham. Tapi, saya sama sekali nggak pernah bermaksud untuk menggoda Kak Rama! Bukannya Kak Rama yang berusaha mendekati saya selama ini?"

__ADS_1


"Gua mendekati Lu karena Lu mendekati Gua duluan! Waktu Lu pertama kali dateng ke Persma, Lu sengaja kan datang sendirian ke Persma biar bisa ketemu Gua? Lu juga sengaja kan dateng ke sana setelah makrab biar Gua bisa mengingat Lu?"


"Hah?" Syahla sampai tidak sanggup berkata apa-apa. Bagaimana bisa orang ini sangat percaya diri berkata seperti itu? Ia kemudian menoleh ke arah Ustadz Amar yang hanya memandanginya sambil terdiam.


"Itu nggak benar!" Bantah Syahla kemudian. "Saya waktu itu datang ke Persma sendirian sama sekali nggak ada niat buat ketemu Kak Rama! Itu semua cuma kebetulan! Dan kenapa saya datang ke Persma saat semua anggota sudah makrab, ya itu karena saya baru pulang dari kampung!"


"Terus, kenapa selama ini Lu baik sama Gua?"


"Karena saya menghormati Kak Rama sebagai senior saya!" Ucap Syahla emosi. "Jadi Kak Rama melakukan ini semua cuma karena hal itu? Termasuk memfitnah saya pernah tidur dengan kamu di depan suami saya?"


Kak Rama mendengus. "Semua perempuan cantik yang ada di kampus tidak pernah ada satupun yang gagal Gua dekati. Cuma Lu yang gagal. Dan Gua akan mencoba menyingkirkan halangan yang dapat mengganggu Gua,"


"Dengan cara memasang kamera tersembunyi dan menyebarkan fitnah?" Ustadz Amar menelisik.


"Iya! Tapi itu semua belum selesai. Masih ada ratusan video yang belum Gua upload kemanapun. Tapi kalian nggak akan bisa menangkap Gua, karena kalian nggak punya bukti apa-apa."


Ustadz Amar mengepalkan tangannya kuat-kuat. Kalau tidak mengingat mereka sedang berada di rumah sakit, ingin rasanya ia meninju laki-laki itu sampai babak belur.


"Ada buktinya," tukas Syahla yang membuat kedua lelaki itu menoleh. Syahla lantas menunjukkan layar handphonenya. "Saya sudah merekam semua percakapan kita, termasuk pengakuan kamu, Kak Rama."


Kak Rama membelalakkan mata. Ia kemudian berusaha turun dari ranjang untuk merebut handphone Syahla. Namun, karena keadaan kakinya yang belum sembuh, Kak Rama pada akhirnya terjatuh dan menelungkup di atas lantai.


Ustadz Amar memandangi apa yang dilakukan Kak Rama dengan tatapan dingin. Sama sekali tidak berniat membantu laki-laki itu untuk kembali ke ranjangnya. "Karena sudah ada pengakuan dari kamu, sekarang saya tinggal melaporkan pada polisi. Saya pastikan kamu tidak akan bisa keluar sejengkal pun dari ruangan ini."


"SIALAN!" Kak Rama berteriak marah. "Jangan cuma nangkap Gua, tapi tangkap juga si Anne! Dia lah yang udah menyimpan dan menyebarkan semua video Lu berdua!"


Syahla terbelalak. "Kak Anne?"


"Ternyata begitu," Ustadz Amar mengangguk-anggukan kepalanya. "Ayo sayang, kita harus bertemu pelaku yang kedua." ucap Ustadz Amar sembari meraih tangan Syahla dan mengajaknya keluar dari ruangan itu. Meninggalkan Kak Rama yang sedang berteriak-teriak kesakitan.

__ADS_1


__ADS_2