USTADZ GALAK

USTADZ GALAK
48. Mas Sayang


__ADS_3

Kesedihan Syahla karena harus berpisah dari keluarga tercinta tidak berlangsung lama. Karena tepat satu hari setelah kepulangan mereka ke Jakarta, Syahla melonjak kegirangan karena mendapat sebuah kabar dari Dian, editor dari Penerbit Media Kata.


"Mas Suami! Novel saya sudah selesai dicetak!" serunya sembari memeluk suaminya yang hendak menjemur pakaian. Ustadz Amar kerepotan memeluk sang istri sementara kedua tangannya sedang memegang keranjang besar cucian. Tapi mendengar kabar baik dari istrinya, ia akhirnya meletakkan keranjang itu di lantai dan memeluk Syahla yang sedang berteriak gembira.


"Selamat," Ustadz Amar mengecup kening istrinya lembut. "Akhirnya yang kamu impi-impikan tercapai juga."


"Saya senang sekali Mas Suami! Rasanya kepengen terbang! Oh iya, besok saya harus ke Media Kata, Mas Suami bantu pilihkan baju ya?"


"Oke sayang, anytime for you."


"Eleh, sok-sokan amat pakai bahasa Inggris," Syahla tertawa. "I love you," Bisiknya kemudian.


"I Love You too,"


...----------------...


Esoknya, Syahla dan Ustadz Amar datang ke Media Kata. Selain hari ini adalah peluncuran perdana novel karangan Syahla, mereka juga mengadakan sesi tanda tangan. Syahla sejak pagi sudah heboh mempersiapkan segala sesuatunya. Ustadz Amar juga sibuk menenangkan istrinya yang tidak bisa tidur semalaman karena terlalu gugup.


"Nanti kalau misalnya tidak ada yang datang sama sekali, apa mereka akan minta saya membayar kerugian?" Pertanyaan itu terus dilontarkan Syahla selama perjalanan mereka menuju tempat yang dituju. Ustadz Amar hanya tersenyum sambil berusaha menjawab setenang mungkin.


"Mereka kan sudah promosi sebelumnya di media sosial. Para pembaca di web juga sepertinya sangat antusias dengan kabar ini. Lagipula, meskipun nanti tidak ada yang datang, saya yang akan memborong semua bukunya, jadi jangan khawatir."


Syahla mengangguk-anggukkan kepalanya. Baiklah, dia harus tenang. Semua penulis best seller pasti pernah mengalami masa seperti ini.


Sesampainya di toko buku, Syahla terharu melihat novel bertuliskan namanya terpajang di dalam rak. Syahla memang memakai nama aslinya sebagai penulis novel, karena dia ingin namanya dikenal oleh masyarakat luas seperti impiannya sejak dulu.


"Syahla Nafisa," Syahla membacanya namanya yang dicetak tepat di bawah judul sembari mengelus cover novel berwarna biru muda itu. Terdapat gambar laki-laki berpeci dan perempuan berhijab yang berhadapan satu sama lain. Sementara laut menjadi pilihan latar belakang gambar tersebut. Saat sedang sibuk mengagumi hasil karyanya sendiri, Syahla terkejut karena ada yang menepuk bahunya.


"Hai La!" Dian tersenyum ceria. "Apa kabar?"


"Alhamdulillah baik Kak," Syahla menyalami Dian dengan semangat. "Kakak sendiri apa kabar?"


"Gue sih sehat terus La. Oh iya, selamat ya. Jumlah pre-order novel Lo sudah genap 100 pesanan sekarang. Sepertinya pembaca novel Lo di web sangat antusias dengan debut novel Lo."


"Serius Kak?" Syahla menutup mulutnya terharu. "Sudah sampai 100? Yaampun, nggak nyangka. Saya kira nggak bakal ada yang mau beli novel saya."

__ADS_1


"Jangan remehkan kekuatan promosi Media Kata. Lo juga jangan terlalu merendah gitu deh. Pembaca Lo juga sudah lumayan banyak kok." Dian tersenyum simpul. "Oke, sekarang ayo ikut Gue. Kita harus siap-siap untuk event tanda tangan."


Syahla mengangguk. Sebelumnya ia menoleh dulu ke arah suaminya, tapi dahinya mengernyit heran karena tidak menemukan lelaki itu di tempatnya tadi. Kemana suaminya itu pergi?


"La? Yuk," Dian melambaikan tangan karena dilihatnya Syahla tidak kunjung beranjak.


"Oke Kak," Syahla akhirnya memilih untuk memikirkan suaminya nanti dan mengikuti Dian.


...----------------...


Ustadz Amar saat ini sedang berdiri di depan toko buku dengan penuh penantian. Sambil sesekali melihat jam tangan, ia mencoba menghitung berapa kira-kira orang yang datang untuk meminta tanda tangan istrinya. Dia khawatir jika yang dicemaskan istrinya terjadi dan Syahla akan kecewa.


Setelah setengah jam menunggu dan sepertinya hanya kurang dari tiga puluh orang yang masuk, Ustadz Amar akhirnya mencoba bertindak. Ia menghampiri beberapa pemuda yang tampak menongkrong di sebuah kafe yang terletak di samping toko buku.


"Halo, maaf mengganggu waktunya. Bisa minta tolong sebentar?" tanya Ustadz Amar dengan sopan. Untungnya kelima pemuda itu sepertinya orang-orang baik, karena mereka menjawab sapaan Ustadz Amar dengan ramah.


"Begini, saya minta tolong sama kalian untuk beli buku di sana, nama pengarangnya Syahla Nafisa. Setelah beli, saya minta tolong sekali lagi supaya kalian mengantre di event tanda tangan dan minta tanda tangan penulisnya. Saya akan kasih uang masing-masing seratus ribu untuk beli bukunya, nanti setelah selesai minta tanda tangan, saya kasih lagi lima puluh ribu. Buku yang tadi sudah dibeli bisa kalian ambil. Bagaimana?"


Kelima pemuda itu sepertinya tertarik dengan tawaran Ustadz Amar. Setelah berunding, mereka semua akhirnya menyetujui permintaan Ustadz Amar dan masuk ke toko buku setelah menerima uang.


Sementara itu di dalam toko buku, Syahla kelabakan karena tiba-tiba orang yang meminta tanda tangannya terus berdatangan tanpa henti.


"Terimakasih," Syahla tersenyum pada beberapa remaja yang berpenampilan urakan dengan rambut pirang warna-warni. Sebenarnya ia agak membatin di dalam hati, tumben sekali kan anak-anak berjiwa metal seperti itu mau membaca novel romantis? Tapi ia memutuskan untuk tidak terlalu berprasangka buruk. Memang apa salahnya anak punk baca novel?


"Kakek juga suka baca novel romantis?" Syahla kali ini tidak bisa menyembunyikan rasa penasarannya saat ia mendapati seorang kakek yang berjalan terhuyung-huyung dengan bantuan tongkat turut meminta tanda tangannya. Bukannya apa-apa, hanya saja Syahla merasa novelnya lebih cocok untuk dibaca para remaja karena ceritanya memang mengangkat tema anak sekolah.


"Ah nggak, soalnya tadi Kakek disuruh," Kakek itu menjawab sambil menunjuk ke arah luar, tapi cepat-cepat ia meralat perkataannya. "Disuruh cucu maksudnya," lanjut si kakek.


"Oh begitu. Kakek perhatian banget ya sama cucunya. Cucu Kakek pasti senang," Syahla tidak bertanya lagi dan langsung menyerahkan novel yang telah ditandatangani pada si Kakek. "Terimakasih ya Kek,"


Kakek itu menganggukkan kepala dan melangkah keluar dengan bantuan tongkatnya.


Acara tanda tangan terus berlangsung sampai batas waktu yang ditentukan. Ketika dirasa sudah tidak ada orang lagi, Syahla memijit pergelangan tangannya yang terasa pegal. Astaga, pantas saja tangannya terasa kebas. Ternyata dirinya sudah menghabiskan dua tinta bolpoint. Meksipun terasa capek, Syahla tersenyum bahagia.


"Sold out!" seru Dian mengejutkan Syahla. "Lo mencetak sejarah La! Belum pernah ada penulis baru yang novelnya langsung soldout di hari pertama!"

__ADS_1


Syahla berkali-kali mengucap hamdalah. Sungguh sebuah keajaiban. Apa boleh ia merasa sebahagia ini?


"Permisi," Seorang laki-laki menghampiri meja Syahla dan menyerahkan lima buah novel. "Saya mau minta tanda tangan."


Syahla semula tertegun karena pandangannya pertama kali tertuju pada tumpukan novel di hadapannya. Saat pandangannya perlahan naik ke wajah lekaki itu, ia tersenyum sumringah melihat siapa yang datang.


"Mas, ngapain beli banyak banget?"


Lelaki itu yang tidak lain dan tidak bukan adalah Ustadz Amar balas tersenyum. "Yang satu untuk saya baca di rumah. Satu lagi untuk saya baca di kampus. Yang tiga akan saya kirimkan ke orang tua saya, orang tua kamu, dan keluarga ndalem di Al-Raudhah."


"Boros," canda Syahla sambil membuka tutup bolpointnya. "Jadi, nama siapa yang harus saya tulis di sini?"


"Eng, yang ini suami tercinta, yang ini sayangku, yang ini cintaku, selanjutnya suami terhebat, yang terakhir mas sayang."


Syahla tertawa terbahak-bahak. Tapi ia menuruti keinginan sang suami dan menuliskan semua nama yang ia sebutkan. Tak lupa ia menambahkan beberapa kalimat pesan untuk si penerima buku.


...Mas Sayang, terimakasih karena sudah hadir di hidup saya....


...Syahla Nafisa....


...----------------...


Yang begini loh maksud hamba Ya Allah😭🀲


Dosa nggak sih jatuh cinta sama karakter buatan sendiri? 😭 Ngenes amat yakπŸ˜…


Pokoknya Ustadz Amar ini tipe cowok yang nggak cuma green flag, tapi ijo neon, ijo stabilo! Idaman sekali epribadeh!


Cung siapa aja yang sudah mampir? β˜πŸ˜„


Terimakasih yang sudah membaca hasil kehaluan sayaπŸ™ Halu aja soalnya yang kaya Ustadz Amar tuh nggak ada di dunia ini. Wkwkkwkwk


Maapkeun Author yang sering ngaret kalau update πŸ™πŸ˜Œ


I Love You semuanya 😘

__ADS_1


__ADS_2