
**Happy reading readers..
Jangan lupa like dan vote sebanyak-banyak nya ya readers.
Salam hangat dari author
#alsya suci maesya putri**
Dasar bocah tengik sialan! Sudah aku beri kesempatan untuk lebih dekat lagi dengan Chika.
Tapi si bocah tengik ini ingin memanas-manaskan aku ya!
Awas aja nanti ya bocah tengik!
Yang sabar ya wahai jiwa ku yang jomblo!
"Uhuk uhuk" Dicky memberi kode lototan mata pada Hendra melalui kaca spion yang di belokan ke arah Hendra.
Eh, si gunung es melototi aku! Hehe seperti nya si gunung es kesal dengan ku.
Hehe, rasain tu jiwa jomblo kamu membara kan hahaha.
Hendra tertawa kecil melihat ekspresi Dicky yang terlihat kesal.
Tak lama kemudian Dicky, Adelia, Hendra dan Chika pun sampai di sekolah Riska dan Panji.
Brukkk...
"Suara apa itu?" Dicky, Adelia, Hendra dan Chika serentak.
!!!!!! Dicky terkejut langsung lari ke luar dari mobil meninggalkan Adelia, Hendra dan Chika.
"Tuan/Boss Dicky!!!" Hendra, Adelia dan Chika serentak
__ADS_1
"Apa yang terjadi? Mengapa Dicky berlari dengan ekspresi sangat cemas?" Tanya Hendra penasaran membuka pintu mobil.
"Tidak tahu, ayo kita ikuti boss Dicky!" Chika keluar dari mobil.
"Iya ayo!" Sambung Adelia.
Hendra, Adelia dan Chika berjalan cepat mengikuti Dicky.
!!!! Hendra terkejut.
"Chika! Adelia! Kalian tunggu di sini saja ya! Aku akan menolong Dicky dulu, jangan ikut ini sangat berbahaya" Hendra serius.
"Tapi..." Chika dan Adelia khawatir.
"Dengarkan kata ku! Jangan membantah!" Tegas Hendra.
"...." Adelia takut menganggukan kepala nya.
"Tunggu!" Chika menahan tangan Hendra.
"I itu... Hati-hati ya!" Chika merona.
"....." Hendra tersenyum menganggukan kepala lalu berangkat menolong Dicky.
Chika dan Adelia menunggu Dicky dan Hendra dengan cemas.
Bak! Buk! Suara tinju meninju.
Dicky meninju sekumpulan preman dengan gagah berani.
Hendra yang baru hadir di tempat kejadian langsung membantu Dicky berkelahi.
Tang! Tak! Bak! Buk!
__ADS_1
Satu persatu preman pun gugur.
"Sialan! Dasar anak buah tidak berguna! Bisa-bisa nya gugur dengan dua orang pria biasa! Lihat saja tidak akan aku biarkan!" Wanita misterius memerhatikan perkelahian antara Dicky, Hendra dan anak buah nya dari jauh.
"Cihh, Dicky! Kamu sampai kapan pun aku tidak akan membuat hidup mu bahagia, hahahaha" Wanita misterius tertawa jahat.
Hahaha, ternyata lumayan juga kemampuan dua orang ini!
Aku akan langsung perintahkan pembunuh bayaran pribadi ku untuk membereskan Dicky dan teman nya.
Huh huh..
Dicky dan Hendra ngos-ngosan setelah mengabisi preman-preman.
"Huhuhu.." Riska menangis memeluk Dicky.
"Sudah tenang ya, sekarang sudah aman" Dicky mengusap kepala Riska.
"Panji, apa kamu baik-baik saja? Ke mari lah" Dicky memerintahkan Panji agar menghampiri nya.
"Kak, maafkan aku yang tidak bisa menolong teman sekelas ku" Panji sedih berjalan pelan ke Dicky.
"Tak masalah, maafkan kakak yang telambat datang" Dicky memeluk Panji dan Riska.
Tak di sangka ternyata gunung es bisa selembut itu pada anak kecil, aku bahkan tidak bisa mengenal nya dengan sifat lembut nya ini.
Biasa nya sifat nya keras, dingin, egois dan sangat pemarah tapi sangat lembut pada anak kecil.
Hendra tersenyum berjalan mendekati Dicky, Riska dan Panji.
"Ayo kita balik ke mobil" Ajak Hendra pada Dicky, Riska dan Panji.
"Ayo!" Dicky membimbing Riska dan Panji berjalan balik ke mobil.
__ADS_1
Bersambung...