
**Happy reading readers!
Selamat baca karya ku, semoga suka ya readers.
Jangan lupa ketik like dan beri vote sebanyak-banyak nya ya readers.
Dukungan readers sangat berarti bagi author.
Salam hangat dari author
#alsya suci maesya putri**
Hendra memperhatikan pria yang pernah membunuh ayah Panji dari kejauhan.
Pria yang pernah membunuh ayah Panji terus memperhatikan Chika yang sedang mencari gelang pemberian ibu nya.
Pria itu berjalan perlahan mendekati Chika.
Tinggal beberapa langkah lagi pria itu sampai di dekat Chika, pria itu mengeluarkan pisau lipat dari saku jaket hitam nya.
Gawat!! Chika dalam bahaya!!
Hendra berlari secepat mungkin ke arah Chika.
Pria yang mengeluarkan pisau itu mengangkat tangan nya ingin menusuk Chika.
__ADS_1
"Chika awas!!" Hendra mendorong Chika hingga terjatuh.
"Aduh sakit, siapa sih yang mendorong aku? Gak ada kerjaan banget sih" Chika kesal melihat ke arah pria yang mendorong nya.
Tik tik tik.. Darah menetes-netes dari perut Hendra yang tertusuk pisau.
"Arghhh, Chi Chika ce cepat se selamatkan nya nyawa mu" Hendra bicara terbata-bata.
"Kak! Kak Hendra!" Chika gemetaran terkejut melihat Hendra tertusuk hingga penuh lumuran darah yang menetes demi menyelamatkan nya.
"Tolong! Tolong!" Teriak Chika histeris.
Pria yang menusuk Hendra langsung kabur.
Chika menghampiri Hendra yang tak berdaya baring di atas tanah.
"Hisk hisk hisk.. Kak Hendra bertahan lah! Maafkan aku kak, ini semua karena salah ku, hu hu hu" Chika menangis melihat Hendra yang kesakitan tak berdaya.
"Dasar gadis bodoh, mengapa kamu menangis? Nanti cantik kamu hilang lo" Hendra bicara pelan sembari membelai pipi Chika.
"Hu hu hu kak Hendra, jangan becanda! Lihat kondisi mu sudah seperti ini! Kak Hendra, aku mohon bertahan lah demi aku! A aku aku.. Aku menyukai mu kak, Aku bersedia menjadi pacar mu, asalkan kamu bisa bertahan" Jelas Chika menangis tersedu-sedu.
"Te terima kasih Chika, aku sangat mencintai mu sa sayang" Hendra tersenyum mengelus pipi Chika lalu Hendra pingsan.
"Tidakkk!!!" Chika teriak histeris.
__ADS_1
"Hu hu hu... Kak Hendra! Hu hu hu, maafkan aku, hu hu hu" Chika menangis tersedu-sedu sembari memeluk Hendra yang sudah tidak sadari diri.
Pada waktu yang sama di mobil.
"Kok Hendra dan Chika lama sekali ya?" Tanya Dicky kesal dan khawatir.
"Coba kita cari yuk tuan Dicky? Aku merasa ada yang tidak beres dan perasaan ku juga tidak enak tuan, aku sangat khawatir pada Chika dan kak Hendra tuan" Ajak Adelia khawatir.
"Baik lah Adelia, mari kita cari Chika dan Hendra ke luar" Dicky membuka sabuk pengaman nya.
"Panji, tolong kamu jaga Riska ya! Kasihan Riska lelah ia sampai ketiduran, kakak akan pergi sebentar dengan Adelia untuk mencari Chika dan Hendra, kamu jangan ke mana-mana ya" Pinta Dicky pada Panji.
"Baik kakak, kak Dicky dan juga kak Adelia hati-hati ya" Jawab Panji khawatir.
"Iya" Jawab Dicky ke luar dari mobil.
"Baiklah Panji, terima kasih ya" Tutur Adelia membuka pintu mobil.
Adelia dan Dicky berjalan berdua mencari Chika dan Hendra.
"Tu tuan, lihat itu!" Adelia berlari menarik tangan Dicky.
"Kenapa? Mengapa kamu menarik tangan ku?" Dicky patuh mengikuti Adelia berlari.
Adelia dan Dicky terkejut melihat Chika menagis tersedu-sedu memeluk Hendra yang berlumuran darah.
__ADS_1
Bersambung..