
Eric masuk ke kediaman putranya dengan raut kesal, bagaimana tidak kesal? menantu cantiknya menolak pergi bersama hanya karena dilarang oleh Rion.
"Hazel" panggil Eric setelah melihat Hazel duduk di bangku taman.
"Papa? aku pikir papa akan pergi sendiri"
"Sudahlah nak, jangan terlalu menuruti suami mu itu dan ayo pergi bersama papa" ajak Eric.
Hazel tersenyum dan membawa Eric untuk duduk disamping nya, Hazel tahu cara berpikir ayah dan anak ini memang berbeda.
"Pa, Hazel tidak ingin menjadi istri yang pembangkang terhadap suami"
"Seandainya papa tahu jika Rion membuat surat kontrak perjanjian dengan ku pasti papa akan sangat marah pada Rion" batin Hazel.
Eric menghembuskan nafas kasar, entah harus marah atau bersyukur karena Hazel bisa begitu menurut dengan Rion.
"Baiklah nak, tapi biarkan papa menemani mu satu harian disini" pinta Rion.
"Baiklah pa, aku bahagia bisa ditemani papa" jawab Hazel tersenyum senang.
"Bocah tengil itu bisa bisanya melarang Hazel pergi bersama ku" batin Eric mengumpati putranya didalam hati.
"Ingin melakukan apa hari ini?" tanya Eric sembari berjalan memasuki rumah bersama Hazel.
"Hazel ingin membuatkan Rion makan siang, tetapi dia melarang keluar" gumam Hazel.
"Aha.. Hazel tahu, papa yang antar ya biar Hazel yang masak" usul Hazel.
"K..kok papa sih sayang? suruh saja yang lain" tolak Eric yang sedang malas bertatap muka dengan putranya.
"Hazel mohon" pinta Hazel menampilkan raut yang menggemaskan membuat Eric sangat sulit untuk menolak.
"Oke, apa papa boleh membantu masak?"
"Tidak, Hazel ingin Rion makan masakan dari tangan Hazel tanpa campur tangan papa oke?"
Eric mencubit gemas pipi chubby menantu cantik nya itu, wajah Hazel benar benar membuat kerinduan Eric pada Anderson sedikit berkurang.
"Baiklah, tapi papa ingin melihat boleh?"
"Tentu saja" ucap Hazel dan menarik Eric kearah dapur dengan antusias.
Hazel mulai memasak dengan dibantu bik Rumi saja karena melarang pelayanan lain membantu.
Eric menatap wajah menantunya itu, ada terselip rasa bersalah didiri Eric karena menikahkan Hazel dengan pria yang tidak mencintai nya.
"Aku hanya bisa doa semoga Rion dapat mencintai Hazel sepenuh hati" batin Eric menatap lekat wajah Hazel.
Setelah beberapa saat berkutat dengan berbagai macam alat dapur, Akhirnya masakan lezat Hazel pun selesai.
__ADS_1
Hazel juga sudah menyiapkan bekal untuk suaminya dan mertuanya karena tahu Eric akan makan diperusahaan saja.
"Ini untuk papa dan ini untuk Rion, Hazel menyiapkan dua bekal agar kalian bisa makan bersama" ucap Hazel menyerahkan paperbag dengan isi dua tempat bekal.
"Lalu kamu?"
"Hazel akan makan bersama bik Rumi dan yang lain" jawab Hazel.
Melihat kerja keras menantunya membuat Eric sangat tidak tega untuk menolak keinginan wanita cantik ini.
"Baiklah" jawab Eric mengalah.
Hazel pun langsung tersenyum senang, Hazel menyalami tangan Eric dan mengantarkan Eric sampai depan rumah.
Bik Rumi yang melihat kegigihan nona mudanya dalam mengambil hati suaminya pun merasa tersentuh.
"Mari makan non, bibik akan temani" ajak bik Rumi menggiring Hazel masuk kedalam rumah.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Rion baru saja selesai menghadiri meating bersama staf nya, pria tampan itu berjalan menuju ruangan nya.
"Rion"
"Astaga! papa!" ketus Rion yang terkejut melihat kehadiran papa nya diruang kerja nya.
"Papa ngapain?" tanya Rion setelah mendudukkan dirinya di kursi kerja nya.
"Hah? jadi..."
"Yap.. kamu yang akan menjadi CEO dengan satu syarat pastinya" ucap Eric menyela ucapan Rion.
"Sudahlah pa, Rion sudah tahu maksud papa. lagian papa mau kemana sih?" tanya Rion
"Papa sudah ingin menikmati hari tua sembari menunggu kehadiran calon cucu papa"
"Uhuk uhuk" Rion tersedak kopi hangat yang baru diminum nya karena ucapan papa nya.
"Jangan kau fikir aku tidak tahu Rion, jangan pernah ceraikan Hazel apa pun keadaannya" ucap Eric menatap tajam putranya.
Eric berdiri dari duduknya sembari menggenggam sebuah tas bekal dan meletakkan nya diatas meja kerja Rion dengan kasar.
"Masakan Hazel, kau lihat dia begitu menghargai mu hingga menolak ajakan ku karena kau melarang nya keluar" Eric pun berjalan menuju pintu keluar.
"Oh iya satu lagi, jika ku lihat wanita itu masih ada di sekitar mu maka jangan salahkan aku menarik semua apa yang kau miliki sekarang"
Brakkkk
Eric berlalu sembari membanting pintu kerja Rion hingga menimbulkan bunyi yang sangat nyaring.
__ADS_1
Rion terus menatap tas bekal yang berwarna navi itu, tak dipungkiri jika Hazel memang istri idaman semua pria.
"Senurut itu kah?" gumam Rion yang merasa tidak percaya.
Rion membuka laptop nya dan membuka rekaman CCTV untuk melihat dimana Hazel saat ini.
Hazel terus mencari keberadaan Hazel, hingga akhirnya Rion menemukan Hazel yang sedang duduk di taman sembari membaca buku.
"Di..dia benar benar dirumah? Ckk sudahlah" gerutu Rion yang terus memperhatikan Hazel.
Ceklekkk
"Sayangggg" sapa Amena yang tiba tiba masuk membuat Rion terjingkat dan cepat cepat mengembalikan beranda laptop nya.
"Hay sayang" sapa Rion kembali sembari merentangkan tangan nya.
Amena mendekat dan langsung duduk dipangkuan Rion, Amena bergelayut manja didada bidang Rion.
"Kamu merindukan aku?" tanya Rion dan Amena pun mengangguk.
"Aku sangat merindukanmu" jawab Amena sembari melepas kancing kemeja Rion satu persatu.
Rion pun paham apa maksud kekasih nya itu, Rion mengangkat tubuh Amena dan membawanya kekamar istirahat yang ada diruangan nya.
Rion meletakkan tubuh Amena keatas ranjang dan langsung melanjutkan kegiatan untuk kepuasan gairah nya yang sudah tersulut.
Hingga dua jam pun berlalu, kini kedua orang itu sedang berbaring dibawah selimut tanpa sehelai benang pun.
Amena mengerutkan kening nya saat melihat wajah Rion yang seperti sedang memikirkan sesuatu.
"Ada apa hem?" tanya Amena mengecup pipi Rion.
"Tidak apa" jawab Rion tersenyum paksa.
"Aku tidak bisa mencintai Hazel karena Amena terus berada dihati ku, tapi jika aku meneruskan hubungan ini sudah pasti papa akan tahu cepat atau lambat. apa Amena mau menemani ku merintis semuanya dari awal lagi"
Rion terus berfikir akan dibawa kemana hubungan nya dengan Amena sedangkan ancaman sudah keluar dari bibir Eric.
"Kamu memikirkan wanita itu bukan?" tebak Amena yang langsung cemberut.
"Aku tidak memikirkan dia, hanya memikirkan tentang hubungan kita karena papa sudah mengancam ku"
"Mengancam?" tanya Amena dan Rion pun mengangguk.
"Papa memaksa untuk mengakhiri hubungan kita sedangkan aku sangat mencintaimu, papa juga mengancam akan menarik semua apa yang aku miliki sekarang jika terus menentang nya" jawab Rion.
"Sial! tua bangka itu benar benar sangat membenci ku rupanya, untuk apa terus bersama Rion jika hidup miskin bisa rusak reputasi ku sebagai model" batin Amena.
"Tenang sayang, jalani saja dulu seperti ini jangan terlalu dipikirkan" ucap Amena memeluk tubuh kekar Rion.
__ADS_1
🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀
Jangan lupa dukungan untuk author ya say🥰