
Ckitttt
Mobil yang dikendarai Mark pun berhenti tepat di depan rumah sakit dimana Lukman dibawa.
Hazel langsung berlari pergi masuk kedalam rumah sakit sembari menelpon Liza guna menanyakan dimana ruangan Lukman berada.
"Hazel jangan lari!" teriak Mark berlari mengejar langkah Hazel yang sudah jauh didepan nya.
"Halo Liza, dimana ruangan om Lukman?" tanya Hazel tergesa-gesa.
"Di lantai dua, ruang ICU" jawab Liza.
"Oke terimakasih" ucap Hazel langsung menutup panggilan itu.
"Hazel jangan lari!" teriak Mark yang terus mengejar Hazel tapi telinga Hazel seakan tuli tanpa memperdulikan teriakan Mark.
Brukkk
"Awwwss.." pekik Hazel saat tanpa sengaja kaki nya menabrak brankar kosong yang ada didekat tangga.
"Hazel, kamu tidak apa?" tanya Mark yang berhasil menyambangi Hazel.
"Tidak apa" jawab Hazel yang ingin kembali lanjut berjalan tetapi ditahan Mark.
"Tunggu, kaki mu terluka. ayo kita obati dulu" ajak Mark
"Tidak kak, nanti saja ayo kita cepat kesana. aku mohon" pinta Hazel menggenggam tangan Mark.
Melihat wajah Hazel yang sudah hampir menangis, membuat Mark tidak tega menolak permintaan wanita ini.
"Oke, tapi jangan berlari lihat kaki mu terluka" ucap Mark dan langsung menggendong Hazel dan berjalan menuju lift saja.
"Ada lift disini, kenapa menggunakan tangga?" tanya Mark memandang Hazel yang berada di gendongan nya.
"Aku fikir lift akan penuh, terlalu lama menunggu membuat ku tidak sabar" jawab Hazel yang tidak berani menatap wajah Mark yang sudah pasti marah.
"Jika bukan karena keadaan mendesak sudah pasti aku akan menghukum mu" gerutu Mark.
Tingggg
Lift pun terbuka, Mark langsung melangkah keluar dengan masih ada Hazel dalam gendongan nya.
"Turunkan aku kak, kita sudah sampai" pinta Hazel setelah mereka sampai didepan ruang ICU.
Liza dan Lia pun langsung mengalihkan pandangan nya kearah Hazel dan Mark yang baru datang.
"Dimana om Lukman? bagaimana keadaan nya?" cecar Hazel memandang Lia dan Liza.
"Masih didalam, dokter sedang menanganinya" jawab Liza tertunduk sedih.
"Oh Tuhan, bagaimana bisa om Lukman kambuh dari sakit?" tanya Hazel meneteskan air mata.
"Papi dan mami tadi bertengkar" jawab Liza yang tidak berani memandang sang mami.
__ADS_1
"Liza!" bentak Lia yang tidak Terima karena jawaban putrinya seakan menyalahkan dirinya.
"Sudah tante, yang terpenting kita berdoa saja agar om Lukman baik baik saja" ucap Hazel menengahi.
"Sudahlah Hazel, kau jan..."
"Sudah, jangan menyalahkan Hazel nyonya Lia" ucap Mark memandang tajam Lia membuat wanita paruh baya itu terdiam.
Tak Tak Tak.
Terdengar ketukan suara sepatu pantofel yang mengarah kemereka, Hazel menolah dan melihat Eric dan Rion yang datang bersama.
"Papa"
"Nak" ucap Eric dan langsung memeluk Hazel yang pastinya merasa sangat sedih.
"Tenanglah, kita tunggu dokter selesai menangani oom mu" ucap Eric mengelus lembut surai Hazel.
Ceklekk
"Keluarga pak Lukman" Panggil dokter yang keluar dari ruangan ICU.
"Bagaimana keadaan papi saya dok?" tanya Liza yang mendekati dokter bersamaan dengan Hazel.
"Maaf nona, tuan Lukman tidak bisa diselamatkan. kami sudah berusaha sekuat mungkin tetapi Tuhan berkehendak lain" ucap Dokter.
Deghhh
Brukkk
Mark langsung berlari mendekati Hazel dan membopong wanita itu, langkah Mark terhenti saat Eric menghadang didepan nya.
"Berikan menantuku" pinta Eric memandang tajam Mark.
"Bukan waktunya untuk berdebat tuan Eric, saya permisi" ucap Mark dan berjalan begitu saja meninggalkan Eric yang langsung mengepalkan tangan nya.
"Dokter, tolong tangani adik saya" ucap Mark dan langsung merebahkan Hazel diatas brankar.
Brankar Hazel dibawa masuk kedalam ruangan yang tidak jauh dari ruangan ICU dimana Lukman berada.
"Papi!" histeris Liza setelah jasad Lukman dibawa keluar ruangan ICU.
"Siapkan semua upacara pemakaman nya" ucap Eric kepada dokter dan langsung dipahami.
"Papi jangan tinggalkan Liza, papi bangun papi!" teriak Liza yang ditahan oleh Eric.
Rion mengerutkan keningnya saat melihat wajah Lia yang seperti biasa saja, bahkan tidak ada raut sedih diwajahnya itu.
"Jaga mereka, aku akan menemui menantuku" ucap Eric pada kedua bodyguard nya yang baru datang.
"Ayo Rion"
"Kemana pi?" tanya Rion menahan tangan nya yang ditarik Eric.
__ADS_1
"Kemana? kamu bertanya kita akan kemana? istri mu pingsan Rion, dia sedang bersama pria lain. ayo!" ajak Eric menarik tangan Rion yang mau tidak mau mengikuti nya.
Eric berjalan dengan raut cemas karena tadi melihat wajah pucat Hazel setelah dalam gendongan Mark.
Ceklekkk
Ruang perawatan Hazel pun terbuka, Eric dan Rion pun masuk lalu melihat pemandangan yang begitu menyedihkan.
Hazel menangis sejadi jadinya setelah bangun dari pingsan mana kala kabar kematian Lukman bukanlah rekayasa.
"Hazel, tenangkan dirimu om Lukman sudah tenang" ucap Mark mengelus punggung Hazel.
"Tidak kak, om Lukman tidak boleh meninggalkan aku. om Lukman kemari om temani Hazel!" histeris Hazel meronta dalam pelukan Mark.
"Hazel, nak sudah nak" ucap Eric mengelus pundak Hazel.
"Papa, dimana om Lukman papa? dia baik baik saja kan? dia harus baik biak saja pa hiks" isak Hazel yang terus menangis dalam pelukan Mark.
"Jangan tinggalkan Hazel om, hanya om penyemangat Hazel selama ini jika om pergi lalu Hazel harus berkeluh kesah kemana jika ada masalah"
"Tenanglah, doakan yang terbaik untuk arwah nya Zel" ucap Mark menenangkan.
"Aku ingin melihatnya untuk terakhir kali, kak" pinta Hazel menatap Mark.
Hati Mark terasa berdenyut melihat mata indah yang setiap harinya berbinar kini memerah karena menangis.
"Kamu yakin? kuat?" tanya Mark dan Hazel pun mengangguk.
Mark membantu Hazel turun dari brankar dan meletakkan wanita itu diatas kursi roda agar mewanti jika Hazel pingsan lagi.
Mark mendorong kursi roda Hazel keluar ruangan rawat itu, Rion dan Eric pun mengikuti dibelakang nya.
Sesampainya diruang jenazah, Mereka pun masuk dan melihat Liza yang masih terus menangis tersedu sedu disamping jenazah Lukman.
"O..om" gumam Hazel menutup mulutnya karena masih merasa bahwa ini semua mimpi.
"Om Lukman" Hazel berdiri dari kursi roda dan berjalan perlahan mendekati jenazah Lukman yang terbujur lemas dan dingin itu.
"Om bangun om, jangan tinggalkan Hazel!" histeris Hazel mengguncang lengan Lukman.
"Hazel, sudah nak ikhlaskan kepergian Om Lukman" ucap Eric merangkul bahu Hazel.
"Hazel masih membutuhkan om Lukman, pa" lirih Hazel yang terus berlinang air mata.
Mark memandang tak percaya kearah Rion, disaat istrinya dalam keadaan terpukul Rion masih sempat bermain ponsel sembari tersenyum samar.
Bukan tidak sadar bahwa Rion sedang berkirim pesan dengan kekasihnya tetapi bukan saatnya Mark memperkeruh keadaan.
.
.
.
__ADS_1
Bawang nya banyak kan? 🤣