
Hazel berjalan menuju pintu utama sembari menekan ponsel nya untuk menghubungi Mia.
Rion menyusul Hazel dari belakang dan langsung merampas ponsel Hazel.
Semua pelayan sudah tidak ada disana dan Steve juga memantau dari jauh takut Rion terlalu emosi dan melakukan hal bodoh kepada Hazel.
"Kembalikan ponsel ku!" bentak Hazel.
"Kau fikir aku tidak bisa hidup setelah bercerai dengan mu hah? cukup Rion, kau sudah cukup menguji kesabaran ku selama ini!" bentak Hazel.
"Turunkan nada bicara mu Hazel Matya" ucap Rion yang terus menahan emosi nya.
"Kembali kekamar mu sekarang" ucap Rion menggenggam lengan Hazel.
"Lepas!" teriak Hazel menepis kasar tangan Rion.
"Jangan sentuh aku dengan tangan kotor mu itu, sentuh saja wanita yang selalu kau puja puja itu. tapi kau harus ingat dia itu bisa apa hem?" ucap Hazel.
"Perlu kau ingat, aku bisa menjadi dia tapi dia belum tentu bisa menjadi aku, dia hanya mampu berpose didepan camera dan menutupi segala keburukannya" ucap Hazel.
"Jaga ucapan mu Hazel" ucap Rion yang semakin emosi.
"Kau marah? ingin memukul ku karena aku menghina pacar mu itu? aku bukan pelayan mu Rion, cam kan itu" ucap Hazel dan berbalik.
Rion menarik pinggang Hazel dan membanting tubuh mungil itu diatas sofa.
"Kau mengatakan apa tadi? kau mengatakan bahwa Amena hanya mampu berpose didepan camera dan tidak mampu menjadi wanita seperti mu?" ucap Rion menindih tubuh Hazel.
"Menyingkir dari tubuh ku! apa aku salah? heh, apa bisa wanita mu itu mengurusmu disaat kau sakit? merawat mu disaat kau pulang dalam keadaan mabuk?"
"Bisakah dia sesabar aku, saat melihat suaminya bermalam dengan wanita lain hingga berhari hari? kau coba saja jika memang dia mampu" ucap Hazel mendorong kuat tubuh Rion agar menyingkir darinya.
Hazel berdiri dan membenarkan gaun nya yang sedikit tertarik karena Rion.
"Kau cemburu pada nya? kau mencintai ku disaat kau tahu pernikahan kita hanya diatas ker..."
"Aku cemburu! aku mencintaimu walaupun aku tahu pernikahan kita diatas kertas! apa aku salah? apa aku salah karena telah mencintai suami ku?!" teriak Hazel membuat Rion terdiam.
"Kau selalu mengatakan kepada ku bahwa pernikahan kita hanya diatas kertas bukan? maka malam ini aku selesaikan segalanya tanpa meminta apa pun dari mu" ketus Hazel.
Mata Hazel mulai berkaca kaca karena terus berdebat hebat dengan Rion sedari tadi.
"Kau fikir kesabaran ku harus seluas apa Rion? cukup sudah ku diamkan selama ini, bukankah pernah ku katakan kepada mu untuk baik selamanya disaat wanita itu tidak ada disini? tapi kenapa disaat dia kembali kau juga ikut berubah!" bentak Hazel.
"Aku pernah meminta mu untuk menjadi pelindung ku tapi apa yang kau lakukan? kau terus menghabiskan waktu mu bersama wanita itu!" teriak Hazel dengan emosi yang memburu.
__ADS_1
"Kembali kekamar mu Hazel Matya" ucap Rion menunjuk jalan menuju tangga dengan jari telunjuk nya.
"Tidak" tolak Hazel.
"Kembali kekamar mu Hazel!" bentak Rion.
"Aku tidak akan mendengarkan mu lagi, apa hak mu menyuruh ku?"
"Aku masih suami mu Hazel" jawab Rion menatap tajam Hazel.
"Kau sudah bukan suami ku Rion!" teriak Hazel.
"Heh, cukup sudah selama ini aku menjadi penenang mu disaat malam" kekeh Hazel miris.
"Apa maksud mu?" tanya Rion tidak mengerti.
"Kapan terakhir kali kau mengkonsumsi obat penenang? sudah sangat lama bukan? tetapi kau tidak menyadari nya juga hingga kini" ucap Hazel tertawa miris.
"Bisakah wanita mu itu membuat mu tenang saat tidur dan menjadikan tidur mu nyenyak? bisakah dia membuat mu berhenti mengkonsumsi obat penenang seperti aku?"
"Kau tahu Rion? kau mengigau seakan ada seseorang yang ingin menyakiti mu dan hebat nya lagi kau kembali tenang setelah aku menyentuh mu, kau tidak mengerti juga?"
Hazel mengambil tas nya dan mengeluarkan sebotol obat milik Rion dan dilemparkan tepat kearah Rion.
"Itu obat mu bukan? obat yang diberikan oleh dokter psikolog karena trauma masa lalu mu bersama mama mu?"
Rion memandang lekat mata Hazel untuk mencari kebohongan dari setiap kata yang dilontarkannya tetapi nihil, kejujuran dan ketulusan terpancar dimata Hazel.
"Kau tidak percaya? kau bisa megecek semua CCTV yang ada disudut kamar kita untuk membuktikan nya, dan coba kau ingat kapan terakhir kali kau merasa tidur mu begitu nyenyak" ucap Hazel dan berjalan menuju pintu utama.
"Kembali kekamar mu Hazel" ucap Rion yang tidak dihiraukan oleh Hazel.
"Kembali kekamar mu Hazel Matya!" teriak Rion.
Hazel terus berjalan menuju pintu utama yang masih tertutup, saat berada di hadapan pintu Hazel ingin membuka pintunya tetapi ternyata terkunci.
Hazel berbalik dan menatap kearah Rion, ternyata Steve sudah berdiri dibelakang Rion dengan membawa kunci pintu utama.
"Kembali kekamar mu" titah Rion.
"Buka pintunya, kemarikan kuncinya Steve" titah Hazel menatap tajam Steve.
Steve tidak mampu menatap mata tajam Hazel, bagaimana mungkin mata yang selalu memancarkan kelembutan sekarang seperti seekor macan yang ingin memangsa buruan nya.
"Naik Hazel" titah Rion.
__ADS_1
"Kuncinya Steve!" bentak Hazel.
"Kembali kekamar mu Steve, aku akan berusaha untuk membawanya kekamar" bisik Rion.
"Jangan menyakiti nona, tuan" lirih Steve yang merasa kasihan dengan rumah tangga mereka.
"Pergilah, aku tidak akan menyakiti nya" ucap Rion.
Steve pun berlalu pergi membawa kunci pintu utama agar Hazel tidak bisa pergi.
"Steve! kuncinya Steve!" teriak Hazel sembari berlari mengejar Steve tetapi langsung di tangkap oleh Rion.
"Lepaskan aku brengsek! aku ingin pergi dari rumah ini!" teriak Hazel.
Rion mengangkat tubuh Hazel dan meletakkan nya diatas pundak Rion seperti mengangkat karung beras.
"Turunkan aku! turunkan aku Rion!" teriak Hazel memukul punggung Rion sekuat tenaga nya.
Seperti tak merasakan apa pun, Rion terus berjalan menaiki anak tangga menuju kamar mereka.
"Turunkan aku! aku ingin pergi!" bentak Hazel yang terus memukul Rion dengan tangan mungil nya.
Rion membuka pintu kamar lama Hazel dan memasukkan Hazel kedalam kamar itu.
Rion mengunci pintu kamar itu dari luar, sedangkan balkon sudah ditutup lebih dulu dan dikunci oleh Steve.
"Buka pintunya Rion! jangan kurung aku disini!" teriak Hazel sembari memukul mukul pintu kamar nya.
Rion berjalan meninggalkan kamar Hazel dengan membawa kunci kamar Hazel.
Brak Brak Brak
"Buka pintunya Rion!" teriak Hazel yang mulai meneteskan air mata.
Perdebatan dengan Rion membuat hati Hazel begitu sakit hingga akhirnya wanita ini tidak mampu menahan air mata nya lagi.
"Buka pintunya hiks hiks" lirih Hazel hingga akhirnya terduduk didepan pintu kamar nya.
"Aku ingin pergi, aku membenci mu Rion" lirih Hazel memeluk lutut nya dan menangis tersedu sedu.
.
.
.
__ADS_1
Jangan lupa dukungan nya😁