You'Re My Husband

You'Re My Husband
Bab.22 PEMBELAAN


__ADS_3

Upacara pemakaman Lukman pun berjalan dengan lancar, banyak sanak saudara Hazel yang datang ke acara pemakaman itu.


Hazel memandang kosong ke arah makam Lukman yang masih basah itu, Mark dan Leon juga datang ke acara pemakaman Lukman karena cukup kenal dengan baik oleh oom kesayangan Hazel itu.


Leon memandang iba kearah Hazel, saat ingin melangkah mendekati Hazel langkah Leon terhenti saat tangan Eric menahan nya.


"Jangan dekati menantuku" ucap Eric memandang tajam kearah Leon.


"Akan ku jauhi Hazel setelah putra mu layak disebut sebagai suami" jawab Leon menepis tangan Eric dan berjalan mendekati Hazel.


Eric mengepalkan tangan nya mendengar jawaban Leon, Eric hendak mengejar langkah Leon tetapi terhenti saat tangan Mark menahan nya.


"Jika bukan kakak ku maka siapa lagi yang akan perduli dengan Hazel? putra mu saja duduk manis didalam mobil" ucap Mark menatap remeh kearah Eric.


Rahang Eric pun langsung mengeras mendengar ucapan Mark, Mark pun langsung berlalu pergi mendekati kakak nya yang sudah bersama Hazel.


"Hazel, sudah Zel ikhlaskan beliau" ucap Leon merangkul pundak Hazel.


"Hazel belum siap kehilangan dia, pak" jawab Hazel menundukkan kepalanya.


"Hazel, gara gara kau putraku meninggal!" bentak seorang wanita tua yang ternyata adalah nenek Hazel.


Air mata Hazel semakin deras karena ucapan dari nenek nya, setelah kematian orang tuanya Hazel memang sangat dikucilkan di keluarga ayah nya sedangkan ibu nya hanya wanita sebatang kara yang menikah dengan pria kaya.


"Dasar anak pembawa sial!" teriak wanita tua itu dan langsung menarik kuat rambut Hazel.


"Ahhh nenek lepas, sakit nenek hiks!" pinta Hazel memegang rambut nya.


Eric dan Rion dari jauh terkejut mendengar teriakan Hazel yang cukup nyaring, Rion dan Eric pun langsung berlari mendekati dimana Hazel berada.


"Dasar anak pembawa sial, jika saja putraku tidak menikah dengan ibu mu dan tidak melahirkan anak seperti mu mungkin saja dia masih hidup sekarang ini. lalu sekarang karena memungut dirimu putra kedua ku mati!" bentak nenek Hazel.


"Sakit nek hiks" rintih Hazel yang sudah tersungkur diatas tanah.


"Nyonya, lepaskan nyonya" ucap Leon mencoba untuk membantu Hazel.


"Akhhh!" pekik Hazel saat jambakan dari nenek nya semakin kuat karena ada yang membela.


"Jangan membela nya, dia hanya seorang wanita pembawa sial!" teriak nenek Hazel.


Rion dan Eric terkejut saat melihat Hazel yang sudah terseret diatas tanah karena tarikan dari nenek nya.


"Lep..."


"Lepaskan istriku!" bentak Rion langsung menepis tangan nenek Hazel dan memeluk Hazel.


Leon yang awalanya ingin menolong Hazel pun langsung terdiam karena Rion orang pertama yang maju lebih dulu dari dirinya.

__ADS_1


"Kau! untuk apa kau menikahi wanita pembawa sial seperti nya hah!" teriak nenek Hazel.


"Cukup nyonya Berta, saya menikah dengan Hazel karena orang tua saya tapi bukan berarti saya tidak ada hak untuk melindungi nya" ucap Rion menatap tajam nenek Hazel yang bernama Berta Lorens.


"Cih, kau bahkan tida..."


"Cukup! cinta atau tidak nya saya dengan Hazel itu sudah urusan kami berdua. saya disini suaminya jadi untuk kedepannya saya harap anda lebih tahu posisi nyonya Berta. Hazel bukan lagi milik keluarga Lorens tetapi sudah menjadi nona muda jacob, cam kan itu!" ucap Rion.


Rion langsung menggendong Hazel dan berlalu pergi meninggalkan pemakaman yang langsung senyap karena ucapan Rion.


Leon dan Mark juga mematung mendengar kata kata pembelaan dari Rion yang dilontarkan untuk Hazel.


Hazel menangis sesenggukan dipelukan Rion, hatinya begitu sakit karena kehadiran nya sangat tidak diinginkan oleh keluarga nya yang lain.


"Sudah jangan menangis, kita pulang sekarang" ucap Rion yang masih memeluk Hazel didalam mobil.


"Apa salah ku Rion" lirih Hazel


Rion melepas jas nya dan diselimutkan ke tubuh Hazel karena cuaca yang cukup dingin hari ini.


"Kau tidak bersalah, setelah ini jangan temui lagi mereka, paham?" ucap Rion mengelus lembut surai Hazel.


Hazel hanya menganggukkan kepalanya saja, Rion merebahkan kepala Hazel didada bidang nya agar Hazel dapat istirahat.


Eric yang sedari tadi menyaksikan semua kejadian itu pun tersentuh, Eric tersenyum samar melihat rasa peduli Rion kepada Hazel.


"Papa harap semuanya akan jauh lebih baik kedepannya Rion, hanya Hazel satu satunya wanita yang bisa mengendalikan dirimu dan menjadi penyokong disaat dirimu akan tumbang. Hazel adalah wanita yang akan selalu menemani mu dalam keadaan apa pun" batin Eric.


Rion melihat Hazel tertidur dalam pelukan nya sehingga tidak tega untuk membangunkan wanita ini yang terlihat sangat kelelahan.


"Bawalah dia turun dan istirahat, papa akan pulang ke rumah papa" ucap Eric membukakan pintu untuk putranya.


Rion mengangguk dan langsung menggendong Hazel keluar mobil, Eric pun langsung melesat pergi meninggalkan pekarangan rumah Rion.


Rion membawa Hazel masuk kedalam kamar mereka dan merebahkan wanita itu diatas ranjang.


Rion mengusap lembut kening Hazel, entah mengapa hati Rion sakit melihat Hazel di benci oleh keluarganya sendiri.


"Maaf ya"


Cupp


Satu kecupan diberikan Rion dikening Hazel, Hazel pun masih terus terlelap karena lelah menangisi kepergian Lukman.


Rion merogoh saku nya dan mengambil ponsel untuk menelpon seseorang.


"Halo bik, datang kekamar dan gantikan pakaian Hazel. aku akan mandi"

__ADS_1


Setelah mengatakan itu, Rion pun menutup panggilan dan meletakkan ponsel nya diatas nakas.


Rion berlalu kekamar mandi untuk membersihkan dirinya karena merasa lelah juga menjaga Hazel yang terus tidak mau makan karena masih terpukul.


Setelah beberapa saat Rion pun keluar dari kamar mandi dan sudah mengenakan pakaian santai dirumah.


Rion melihat Hazel yang masih tertidur, pakaian Hazel juga sudah diganti oleh bik Rumi saat Rion mandi tadi.


Rion naik keatas ranjang dan duduk disamping Hazel sembari memangku laptop untuk menyelesaikan beberapa pekerjaan kantor nya.


Hari sudah gelap, waktu menunjukkan pukul 9 malam tetapi Hazel baru saja mulai membuka mata.


Hazel menoleh dan melihat Rion yang sedang mengerjakan pekerjaan kantor sembari duduk disamping nya.


"Rion" panggil Hazel membuat Rion langsung menoleh.


"Lapar?" tanya Rion dan Hazel pun mengangguk.


"Ayo turun, akan ku perintahkan bik Rumi menyiapkan makanan untuk kita" jawab Rion dan langsung bangkit dengan diikuti Hazel.


"Kamu belum makan Rion?" tanya Hazel dan Rion pun menggeleng.


"Kenapa belum?" tanya Hazel lagi.


"Kau masih tertidur tadi" jawab Rion acuh


"Kamu menunggu ku?" tanya Hazel


"Lupakan" ucap Rion dan berlalu lebih dulu meninggalkan Hazel.


"E..eh kok ditinggal sih" gerutu Hazel dan berlari menyusul langkah Rion.


Sesampainya didapur, para pelayan sudah menyiapkan makan malam yang sudah terlambat untuk kedua majikan mereka.


"Nona baik baik saja?" tanya bik Rumi dengan raut khawatir.


"Tentu baik, bibik tidak perlu khawatir" jawab Hazel.


Rion dan Hazel pun melanjutkan makan malam bersama yang sudah terlambat, bik Rumi tersenyum samar melihat perubahan sikap Rion yng sedikit demi sedikit mulai terlihat.


Saat jam makan malam tadi bik Rumi sudah memanggil Rion agar turun makan dan bik Rumi lah yang menjaga Hazel, tetapi Rion menolak dengan alasan belum lapar.


"Paling tidak rumah ini lebih hangat setelah kedatangan nona muda"


.


.

__ADS_1


.


Jangan lupa like, comment dan bunga mawar nya sebagai uang parkir


__ADS_2