
Sore hari yang berangin, terlihat langit mulai menurunkan rintik hujan yang semakin lama semakin deras.
Hazel berdiri diambang pintu utama menunggu kedatangan suaminya yang belum sampai dari kantor.
Setelah beberapa saat akhirnya mobil milik Rion pun memasuki pekarangan rumah mewah mereka.
Dengan senyum manis Hazel menyambut kedatangan suaminya, Rion pun turun dari mobil berjalan mendekati Hazel.
"Hujan, kenapa menunggu ku disini?" tanya Rion.
"Aku merindukan mu, boleh peluk?" tanya Hazel.
Rion mengerutkan kening nya, Rion mengecek suhu tubuh Hazel dengan cara menempelkan telapak tangan nya didahi Hazel.
"Tapi ga panas, kenapa? kesambet?" tanya Rion.
"Ihh Rion, peluk boleh?" tanya Hazel merentangkan tangan nya.
Rion tersenyum gemas melihat sikap manja Hazel yang entah datang dari mana, Rion pun langsung memeluk tubuh Hazel.
"Sudah" ucap Hazel melerai pelukan nya dan berlalu masuk.
"Hanya sebatas itu? Hazel, apa apaan kamu ini" gerutu Rion menyusul langkah Hazel.
"Hey, tunggu aku!" panggil Rion.
"Wekkk kejar aku" ucap Hazel mempercepat langkah nya menuju tangga.
"Ohhh kamu nantang aku ya, aku kejar kamu!" teriak Rion yang mempercepat langkah nya mengejar langkah kecil Hazel.
Hazel tertawa terbahak bahak sembari terus berlari menghindari kejaran dari Rion yang terus berusaha menangkap nya.
"Hazel, naik tangga jangan berlari!" teriak Rion.
Hazel terus berusaha lebih cepat meninggalkan Rion yang berada dibelakang nya, saat ingin menaiki anak tangga.
"Happpp... dapat kamu" ucap Rion yang langsung menarik pinggang Hazel dengan kedua tangan nya.
"Haha Rion geli, Aaa Rion lepaskan aku haha" gelak Hazel yang merasakan geli pada bagian pinggang nya karena ulah Rion.
"Kamu nakal ya, kalau jatuh gimana hem?" tanya Rion membalikkan tubuh Hazel menghadap dirinya.
"Kan ada kamu" jawab Hazel.
__ADS_1
"Ada aku? kalau kamu jatuh saat tidak ada aku bagaimana Hazel?" tanya Rion bingung.
"Aku percaya kamu bisa menjaga aku sebab itu aku tidak pernah khawatir dengan apa pun" jawab Hazel dan berlalu kedapur.
"Pergi mandi, aku akan siapkan makan malam!" teriak Hazel.
Rion mematung mendengar jawaban Hazel, entah mengapa hati Rion sangat bahagia mendengar ucapan Hazel yang seakan menjadikan dirinya sesuatu yang paling berharga dihidup Hazel.
"Dia nakal sekali" kekeh Rion dan berjalan menaiki anak tangga.
Dari sudut rumah, Bik Rumi dan Steve sedari tadi memandangi sepasang suami istri yang semakin hari semakin dekat itu.
"Ingin taruhan bik?" tanya Steve.
"Jika kita mengambil pilihan yang sama lalu siapa yang akan berkorban" jawab bik Rumi menggelengkan kepalanya.
"Taruhan yang lain bagaimana?" tawar Steve.
"Carilah calon istri untuk dirimu Steve, jika kau menemukan nya maka bibik akan membelikan apa yang kau inginkan" celetuk bik Rumi dan berlalu pergi.
"Aishhh bik Rumi, umur ku dengan tuan lebih tua tuan Rion kenapa mendesak ku untuk terus menikah" gerutu Rion membuat bik Rumi tertawa.
Waktu pun terus berjalan, malam semakin larut dan waktu sudah menunjukkan pukul 9 malam.
Sepasang suami istri itu sudah berada dikamar mereka dengan ranjang yang sama dan kamar yang sama.
Hazel naik keatas ranjang dan langsung menutup laptop Rion, Hazel meletakkan laptop Rion diatas nakas dan merebahkan kepalanya dipaha Rion.
"Ada apa hem?" tanya Rion mengelus lembut surai Hazel.
"Bolehkah aku bercerita?" tanya Hazel.
"Ceritakan lah, aku akan mendengarkan nya" jawab Rion.
"Kau tahu Rion, aku pernah berada di titik jika aku mati mungkin semua nya jauh lebih baik" ucap Hazel.
Rion langsung memandang wajah cantik istrinya, kenapa wanita ini tiba tiba mengatakan hal seperti itu.
"Tapi pemikiran aku salah, jika aku mati aku tidak akan menikah dengan pria tampan dan kaya seperti mu" ucap Hazel mengundang tawa Rion.
Hazel ikut tertawa, Hazel mendudukkan dirinya dan mulai bersandar didada bidang Rion.
"Kau tahu masa kecil ku kan Rion? papa pernah mengatakan kepada ku dulu saat hari kelahiran ku ada seseorang yang menunggu ku lebih antusias dari pada kedua orang tua ku"
__ADS_1
"Syukur dia sekarang bersama ku. tapi Rion, kenapa tidak dari dulu saja kita bersama? kau tahu hidup ku begitu sulit dijalani setelah kepergian papa dan mama? semua orang menolak ku, semua orang tidak ingin aku berada disisi mereka karena bagi mereka kematian papa dan mama karena aku"
"Kamu lihat bagaimana nenek kepada ku? dia begitu membenci ku padahal aku darah daging putranya. dia pernah mengatakan dia sangat membenci mata ku karena begitu mirip dengan mama, tapi kenapa dia membenci mama ku Rion? lalu, jika dia membenci mama apakah harus membenci ku juga yang tidak tahu menahu bagaimana masa lalu mereka?"
"Aku tidak pernah menyesal telah terlahir dari orang tua seperti mereka, aku cukup bersyukur memiliki mereka Rion. tapi aku menyesal telah lahir kedunia dan membuat mereka tiada" ucap Hazel tersenyum miris.
"Jangan berbicara seperti itu Hazel" ucap Rion yang merasa sedih dengan ucapan Hazel.
"Di malam itu, dimana aku dan orang tua ku baru saja pulang dari sebuah taman bermain. siapa sangka malam itu adalah malam terakhir aku bersama mereka dan terakhir kali juga aku melihat senyum mereka"
"Mobil yang papa kendarai saat itu tiba tiba hilang Kendali, karena panik dan ada truk besar didepan papa membanting stir kearah kanan yang ternyata jurang"
Hazel memejamkan matanya, memori dimana kecelakaan itu terjadi tidak akan pernah hilang dari kepalanya.
"Mobil kami pun jatuh kejurang, aku menangis didalam mobil dan memanggil mama dan papa berharap mereka bangun. saat itu aku melihat darah yang banyak keluar dari tubuh mama dan papa, darah yang mengalir deras dari segala sisi mereka Rion"
Tangan Hazel bergetar menceritakan apa yang waktu itu benar benar dialaminya dan masih terekam jelas diingatan nya.
"Karena merasa kepala ku sangat pusing aku puji jatuh pingsan, tiba tiba aku terbangun dan melihat suasana rumah sakit. aku bangun dan berlari mencari keberadaan mama dan papa ku lalu langkah ku terhenti di sebuah lorong sepi"
"Aku melihat orang tua ku ditodong sebuah pistol oleh seorang yang memakai jubah hitam dengan wajah yang tidak bisa dilihat, mama dan papa ditembak tepat didepan ku hingga darah itu mengenai wajah ku. aku hanya bisa berteriak sekencang kencang nya"
"Untung itu hanya sebuah mimpi, akun terbangun dengan kepanikan dan bersyukur itu semua memang mimpi. aku berharap orang tua ku masih hidup tetapi harapan ku tidak terwujud, mama dan papa tetap meninggal"
Setitik air mata Rion menetes mengenai rambut panjang Hazel, seakan mengalami sakit yang sama Rion menggenggam erat tangan Hazel.
"Sejak saat itu aku sangat takut dengan darah, melihat luka kecil saja rasanya aku ingin pingsan. ketakutan ku membuat ku lemah Rion, aku takut jika kedepannya aku harus menghadapi semua nya sendiri lagi tanpa dirimu" lirih Hazel dalam dekapan Rion.
"Jangan tinggalkan aku Rion, kau kekuatan ku" lirih Hazel hingga akhirnya tertidur.
Rion sedari tadi tidak mengeluarkan sepatah maupun dua kata atas apa yang Hazel ceritakan kepadanya.
Hanya air mata yang mampu menggambarkan isi kepala dan hati Rion setelah mendengar cerita Hazel.
Rion merebahkan tubuh Hazel dan juga dirinya, Rion memeluk tubuh Hazel yang sudah tertidur lelap.
"Maafkan aku" lirih Rion memberikan satu kecupan dikening Hazel.
"Aku akan menjadi kekuatan mu Hazel, akan ku usahakan itu" bisik Rion menarik Hazel masuk dalam dekapan nya.
.
.
__ADS_1
.
Jangan lupa dukungan nya ya readers 😉