You'Re My Husband

You'Re My Husband
Bab.40 PRIA KUAT


__ADS_3

Didalam mobil, Hazel terus memeluk tubuh Mia yang seakan lemah karena terus menangis.


Cukup lama Mia menangis didepan makam Faya hingga Mia cukup tenang baru Hazel membawanya kembali.


"Jangan bekerja dalam satu atau dua minggu ini ya Mia, istirahat saja di apartemen mu biar aku saja yang ngehandle resto" ucap Hazel.


"Terimakasih Hazel" ucap Mia.


"Tidak perlu berterimakasih, kau sahabat ku ingat itu" ucap Hazel dan Mia pun hanya mengangguk saja.


"Pak kita singgah ke rumah sakit dan belikan vitamin untuk Mia, setelah itu kita antar Mia ke apartemen nya ya" ucap Hazel pada sopir nya.


"Baik non" jawab supir Hazel.


Setelah singgah kerumah sakit untuk membelikan Mia vitamin dan juga minimarket untuk membeli minuman dan cemilan sehat untuk Mia, mobil pun berhenti di depan gedung apartemen dimana apartemen Mia berada.


"Minta tolong bawakan ya pak" pinta Hazel.


"Baik non" jawab supir Hazel yang membawa belanjaan Hazel.


"Jangan bersedih lagi" bisik Hazel yang berjalan sembari merangkul bahu Mia.


Sesampainya dilantai 9 tepatnya di apartemen Mia, Hazel langsung menyuruh Mia untuk membersihkan dirinya.


Hazel sendiri langsung menyusun makanan dan minuman yang dibelinya tadi serta vitamin untuk Mia.


Hazel juga mengganti selimut Mia dengan selimut yang lebih tebal agar Mia lebih nyaman.


"Aku merepotkan mu" ucap Mia menatap sahabat nya.


"Tidak ada yang repot, kita sudah makan tadi jadi sekarang kamu tidur saja ya. semuanya sudah aku bereskan setelah kamu tidur baru aku akan pulang" ucap Hazel.


"Baiklah" jawab Mia.


Mia langsung merebahkan dirinya diatas ranjang dan mulai menutup matanya karena cukup lelah dengan semuanya.


Tidak butuh waktu yang lama, Mia pun terlelap dalam tidurnya. Hazel pun membenarkan selimut Mia agar tidak kedinginan.


Setelah dirasa semua aman, Hazel langsung berlalu pergi meninggalkan apartemen Mia.


"Kita kemana non?" tanya supir Hazel setelah mereka didalam mobil.


"Kita pulang saja ya pak" jawab Hazel yang juga merasa lelah hari ini.


"Baik non" ucap supir Hazel dan langsung melesatkan mobilnya menuju kediaman Hazel.

__ADS_1


Mobil yang ditumpangi Hazel pun berhenti tepat didepan rumah mewah nya, dengan wajah lelah Hazel turun dari mobil dan langsung disambut bik Rumi.


"Nona kenapa? kok terlihat lelah?" tanya bik Rumi.


"Iya bik hanya sedikit lelah, bisa minta tolong buatkan teh hangat dan antarkan ke kamar bik? Hazel letih" pinta Hazel.


"Ayo bibik antar nona Hazel ke kamar dulu" ucap bik Rumi dan memapah Hazel menuju kamar nya yang berada di lantai 2.


Setelah sampai dikamar Hazel, Hazel langsung membersihkan tubuhnya yang terasa lelah itu.


Hazel pun keluar dengan hanya menggunakan gaun tipis, Hazel berjalan menuju sofa yang berada di sudut kamar nya.


"Ini teh nya non, nona ingin bibik pijat?" tawar bik Rumi.


"Apa tidak merepotkan bik?" tanya Hazel sedikit sungkan.


"Tidak non, ayo keranjang agar bibik pijat" ajak bik Rumi dan disetujui oleh Hazel.


Hazel pun menelungkupkan tubuh nya diatas ranjang, bik Rumi pun mulai memijat tubuh Hazel.


"Bibik sudah lama bekerja dengan Rion?" tanya Hazel.


"Lama non, sebelum nyonya besar hamil" jawab bik Rumi.


"Lama banget, Mama Rion meninggal karena apa ya bik?" tanya Hazel penasaran.


"Karena apa bibik?" tanya Hazel sekali.


Melihat wajah ragu bik Rumi, Hazel langsung mendudukkan dirinya dan menghadap bik Rumi.


"Bibik jawab Hazel, Hazel ini istri Rion bik. apa salah jika Hazel ingin mengetahui masa lalu Rion?" desak Hazel.


"Tapi non...."


"Hazel mohon bik" pinta Hazel.


Bik Rumi menghembuskan nafas kasar "Baiklah" jawab bik Rumi mengalah.


"Almarhum nyonya meninggal karena dibunuh" ucap bik Rumi.


"Hah? di..dibunuh? siapa bik? siapa yang membunuh mama?" tanya Hazel terkejut.


"Musuh tuan non, tuan pernah memiliki perjanjian pada mafia terkuat" jawab bik Rumi.


"Perjanjian apa? perjanjian akan menyerahkan nyawa mama pada mafia?"

__ADS_1


"Bukan non, almarhum nyonya dulunya hanya seorang gadis biasa yang memiliki dendam masa lalu dimana keluarga nya dibantai habis oleh para penjahat terkuat. Nyonya berhasil karena almarhum papa tuan Eric menyelamatkan nya saat melarikan diri" jawab bik Rumi.


"Hahhh menyeramkan sekali" ucap Hazel bergidik ngeri.


"Nyonya pernah bercerita sampai menangis pada tuan Eric tentang ketakutan nya pada suara pistol, tuan Eric yang begitu mencintai nyonya pun membalaskan dendam nyonya kepada penjahat itu dengan cara membunuhnya, tetapi bukan tuan yang membunuh mereka melainkan sekelompok mafia kejam"


"Para mafia setuju membantu asalkan tuan mau mengabdi pada mereka, awalnya semua berjalan dengan lancar dendam pun terbalas. seiring berjalan nya waktu nyonya mengetahui bahwa tuan masuk kedalam klan mafia, nyonya begitu marah dan takut disaat yang bersamaan" ucap bik Rumi menceritakan


"Kenapa harus marah? bukankah dendam nya sudah terbalaskan?" tanya Hazel.


"Memang dendam nya terbalaskan, tetapi resiko menjadi anggota mafia itu sangat besar nona nyawa tuan dipertaruhkan setiap kali bersama mereka" jawab bik Rumi.


"Lalu bik?"


"Nyonya memohon kepada tuan untuk berhenti saja dan jangan pernah bertemu lagi dengan mereka awal nya tuan menolak tetapi nyonya mengancam dengan perceraian, mau tidak mau tuan pun berhenti menjadi kaki tangan mafia itu hingga akhirnya hari naas itu pun terjadi"


"Ketua mafia itu begitu marah karena tuan Eric tidak lagi membersamainya untuk memenuhi janji nya, tuan Eric juga terus berusaha kabur dan pada saat itu usia tuan Rion tepat menginjak usia 8 tahun dimana nyonya dibunuh tepat dihadapan tuan Rion"


Deghhhh


Seketika Hazel mengingat akan penyakit mental yang bisa saja terjadi pada suaminya karena kematian ibu nya.


"Nyonya ditembak tepat dibagian dada saat itu tuan Rion bersama nyonya melarikan diri, nyonya mendorong tuan Rion kebelakang tong sampah sehingga peluru yang tadinya tertuju pada tuan Rion malah mengenai nyonya. bibik saat itu berada tidak jauh dibelakang nyonya karena kami semua melarikan diri tetapi kamu terpisah dengan tuan Eric"


"Bibik langsung membawa pergi tuan Rion yang sudah menangis ketakutan apa lagi para mafia jahat itu terus melesatkan peluru ketubuh nyonya hingga akhirnya tidak bernyawa"


Hazel yang mendengar cerita dari bik Rumi pun meneteskan air mata, seakan rasa takut Rion bisa Hazel rasakan juga.


"Tuan Rion terus berteriak memanggil nyonya, bibik benar benar takut waktu itu sehingga bibik terus berlari mencari keberadaan tuan Eric, bukan tidak perduli pada nyonya tetapi melihat beliau seperti itu bibik lebih baik menyelamatkan tuan Rion lebih dulu. nyonya juga berpesan pada bibik untuk membawa tuan Rion jauh jika kami ketahuan tanpa harus menjadi temeng untuk nyonya"


"Itu hari yang sangat sakit untuk kami semua, begitu banyak pertumpahan darah dan hanya kami bertiga yang selamat waktu itu. tuan pun memutuskan untuk membawa kami keluar negeri dimana beberapa rekan baik tuan berada sehingga tuan bisa merintis kembali"


Seperti merasakan sakit dan takut nya Rion dimasa lalu, Hazel menangis tersedu-sedu setelah mendengar cerita itu.


"Dia pasti sangat ketakutan" lirih Hazel.


Bik Rumi langsung memeluk Hazel, bik Rumi paham selembut apa hati Hazel apa lagi cerita ini adalah cerita masa lalu suaminya.


"Tapi dia pria yang cukup kuat non".


.


.


.

__ADS_1


Jangan lupakan kewajiban kalian wahai pembaca hihi😄


__ADS_2