You'Re My Husband

You'Re My Husband
Bab.38 OBAT PENENANG


__ADS_3

Di pagi yang cerah, Hazel baru saja terbangun dari tidurnya karena merasakan perut nya yang seperti tertimpa sesuatu yang berat.


Hazel melirik, ternyata tangan Rion yang ada diatas perut nya. dengan perlahan Hazel menurunkan tangan Rion dan berlalu pergi.


Hazel melakukan aktivasi seperti biasa, mandi terlebih dulu dan melanjutkan dengan memasak.


Setelah selesai Hazel kembali ke kamar Rion untuk membangunkan suami nya yang masih terlelap.


"Rion" panggil Hazel dengan mengguncang pelan tubuh Rion.


Rion menggeliat dan membuka matanya dengan perlahan, Rion menarik tangan Hazel hingga terjatuh diatas tubuh nya.


"Ahhhh Rion!" terkejut Hazel membuat Rion terkekeh.


"Lanjut tidur saja yuk" ajak Rion.


"Tidak, kak Steve mengatakan akan ada pertemuan dengan beberapa petinggi negara hari ini" tolak Hazel.


"5 menit lagi" ucap Rion.


"Tidak bisa, ayo bangun" desak Hazel menarik lengan Rion.


Dengan malas Rion bangun dari tidurnya, Hazel menarik tangan Rion menuju kamar mandi.


"Mandi" titah Hazel


"Mandiin" goda Rion.


Brakkkk


"Mandi sendiri!" teriak Hazel dari depan pintu setelah menutup pintu kamar mandi dengan keras.


Terdengar tawa Rion dari dalam kamar mandi karena Hazel tak berhenti mengomeli dirinya.


"Aishhh menyebalkan" gerutu Hazel dan berlalu kelemari pakaian dimana pakaian Rion tersimpan.


Hazel memilih setelan jas mana yang akan Rion gunakan dipertemuan penting siang hari ini.


Takkkkk


Sebuah botol kapsul terjatuh dari sudut lemari Rion saat Hazel ingin mengambil pakaian dalam Rion.


"Apa ini?" gumam Hazel menggapai botol plastik itu.


"Obat? obat apa ini?" gumam Hazel memperhatikan botol berwarna gelap dan isinya sepertinya tinggal setengah.


"Setahuku Rion tidak memiliki penyakit dalam, lalu obat apa ini?" Hazel terus bertanya tanya pada dirinya sendiri.


Ceklekkk


"Hazel" panggil Rion membuat Hazel terjingkat kaget.


Hazel langsung memasukkan botol obat itu kedalam saku nya dan berbalik menatap Rion yang baru keluar kamar mandi dengan hanya menggunakan handuk.


"Ahhh Rion, pakai baju kamu" teriak Hazel menutup mata nya dengan tangan nya.


"Kenapa? kita sudah menikah" ucap Rion berjalan mendekati Hazel.


"Yakkkk cepat lah!" desak Hazel.

__ADS_1


"Pakaian ku?" tanya Rion yang sudah berdiri di hadapan Hazel.


Hazel membuka matanya berharap Rion tidak berada di dekatnya, Rion yang menunggu Hazel membuka mata pun berusaha menahan tawanya.


"Uwahhhhh Rion!" terkejut Hazel langsung berlari keluar walk in closed.


Rion tertawa terpingkal pingkal melihat istrinya yang begitu polos sehingga melihatnya seperti ini saja langsung lari.


Rion mengenakan setelan jas nya yang memang sudah selesai Hazel siapkan diatas meja.


Kini Rion sudah rapi dengan setelan jas berwarna hitam, hanya dasi nya saja yang belum terpakai.


Rion kembali kekamar dan melihat Hazel yang sedang merapikan tempat tidur mereka yang sedikit berantakan.


"Dasi" ucap Rion memberikan dasi nya pada Hazel.


"Menunduk sedikit" titah Hazel dengan wajah yang masih ditekuk.


"Marah ya?" tanya Rion.


"Pikir sendiri" ketus Hazel membuat Rion terkekeh.


"Takut ya?" goda Rion.


"E...engga kok" jawab Hazel tanpa berani memandang Rion.


"Kalau ga takut kenapa harus lari?" tanya Rion sembari menahan tawanya karena melihat wajah Hazel yang sudah memerah.


"Ak...aku hanya terkejut, ya aku terkejut" jawab Hazel membuat Rion lagi lagi tertawa.


"Bagaimana? sudah rapi?" tanya Rion.


"Suamiku selalu perfect, sudah yuk turun kita sarapan" ajak Hazel.


Hazel langsung berlalu pergi dengan mobil dan juga seorang sopir yang biasa mengantarkan Hazel ke mana mana.


"Kita kemana non?" tanya supir itu.


"Kerumah sakit pak, tapi bapak jangan beri tahu siapa pun ya" pinta Hazel.


"Baik non" nurut supir Hazel.


Setelah beberapa saat kemudian, mobil yang ditumpangi Hazel pun sampai di sebuah rumah sakit terbesar di pusat kota.


"Bapak tunggu disini saja" titah Hazel dan langsung ke luar dari mobil.


Hazel berjalan menyusuri lorong rumah sakit, seketika langkah Hazel terhenti saat melihat seseorang yang dikenalnya.


"Kek Steve? ngapain dia kesini?" batin Hazel saat melihat Steve asisten suaminya yang sedang duduk di kursi tunggu.


Hazel bersembunyi dibalik tembok agar tidak terjangkau pandangan Steve yang masih asik dengan ponselnya.


Setelah beberapa saat kemudian seorang perawat mendekati Steve dan memberikan kantung plastik kecil kepada Steve yang setelah menerima nya berlalu pergi.


Setelah memastikan Steve pergi, Hazel dengan cepat menyusul perawat yang tadi memberikan sekantung obat pada Steve.


"Suster permisi" panggil Hazel.


"Maaf nona, ada yang bisa saya bantu?" tanya perawat itu dengan sopan.

__ADS_1


"Bisa saya tahu pria tadi membeli obat apa?" tanya Hazel pada perawat itu.


"Oh tuan Steve, beliau memang setiap bulan kemari untuk mengambil obat penenang"


Deghhhh


Seketika pikiran Hazel terlempar pada saat dirinya menemukan sebotol obat di lemari suaminya.


"Bisa kita berbicara di ruangan yang tertutup sus?" tanya Hazel pada perawat itu yang langsung menggiring Hazel pada sebuah ruang rawat kosong.


"Ada apa nona?" tanya suster itu yang belum mengerti maksud Hazel.


Hazel merogoh tas yang dibawanya dan mengeluarkan sebotol obat yang ditemukan dilemari Rion tadi pagi.


"Apakah obat nya seperti ini?" tanya Hazel menunjukkan obat itu kepada sang perawat.


"Bisa saya cek dulu non?" pinta perawat itu dan langsung diizinkan oleh Hazel.


Perawat itu membuka laci penyimpanan obat yang ada diruangan itu dan langsung mencocokkan dengan obat yang dibawa Hazel.


"Benar non, ini obat yang tuan Steve beli. bukankah nona istri tuan Jacob?" tanya perawat itu.


"Benar, apa suster tahu Steve membeli obat penenang itu untuk siapa?" tanya Hazel lagi.


"Soal itu saya tidak tahu nona, Tuan Steve membeli atas nama nya sendiri" jawab perawat itu.


"Suster tahu obat penenang ini untuk penyakit apa?" tanya Hazel yang masih memiliki beribu pertanyaan dikepalanya.


"Obat ini diresepkan oleh dokter psikolog non, hanya orang orang yang memiliki mental healt parah yang mengkonsumsi nya"


Deghhhh


Jawaban dari perawat itu benar benar mengejutkan Hazel, pikiran Hazel saat ini entah mengapa terus tertuju pada suaminya.


"Jika tidak mengkonsumsi ini dampak nya seperti apa sus?" tanya Hazel yang terus meminta penjelasan.


"Dampak nya seperti orang yang ketakutan parah atau bahkan sampai menyakiti diri nya sendiri non, biasanya pasien mengkonsumsi nya agar bisa tidur tenang tetapi tidak semua bisa tenang ada juga yang seperti mengigau atau bahkan mengeluarkan peluh hingga menangis dalam tidur"


Sekali lagi Hazel dibuat terkejut dengan penjelasan perawat yang memberikan obat kepada Steve tadi, hati Hazel benar benar khawatir dengan keadaan suaminya.


"Nona baik baik saja?" tanya perawat itu saat melihat Hazel yang seperti sedang sibuk dengan pikiran nya sendiri.


"Iya suster saya baik baik saja, boleh saya meminta nomor ponsel suster?" tanya Hazel.


"Boleh non" jawab perawat itu.


Hazel pun langsung memberikan ponsel nya pasangan sang perawat agar mencatat sendiri nomor ponsel nya.


"Terimakasih Sus, oh iya Sus percakapan kita ini jangan sampai bocor kepada siapa pun ya. ini untuk suster" ucap Hazel memberikan beberapa lembar uang seratus ribu.


"Terimakasih non, nona bisa hubungi saya jika memerlukan bantuan" jawab perawat itu sembari menerima uang yang diberikan Hazel.


"Kalau begitu saya permisi" pamit Hazel.


"Sekali lagi terimakasih non" ucap perawat itu dengan senyum terharu.


.


.

__ADS_1


.


Jangan lupa dukungan untuk author yak😉


__ADS_2