You'Re My Husband

You'Re My Husband
Bab.17 SEANDAINYA


__ADS_3

Setelah melakukan makan siang bersama, Hazel pun berbincang hangat bersama Mia diruangan kerja sahabatnya itu.


"Masa kamu diam aja sih Zel, jambak atau tampar gitu kalau bisa seret ke tengah jalan" gerutu Mia.


Hazel baru saja menceritakan apa saja yang dialaminya selama dua minggu ini kepada Mia, tentu saja itu desakan dari Mia.


Hazel memang sering berbagi cerita kepada Mia karena wanita ini cukup bisa menjaga rahasia dan menjadi pendengar yang baik.


"Setelah mendapatkan jabatan sebagai CEO, wanita ulat bulu itu pasti terus membelenggu Rion" gerutu Mia.


"Sudah pasti" jawab Hazel yang hanya bisa pasrah.


"Zel, jangan diam aja dong"


"Kamu mau aku marah seperti orang gila Mia? marah juga percuma karena Rion tidak mencintai ku" ucap Hazel.


"I..iya emang tapi kan.."


"Sudah, aku masih terus berusaha bagaimana caranya agar Rion tidak lagi berhubungan dengan wanita itu" ucap Hazel menenangkan Mia.


"Ahhh sudahlah, yang penting dia tidak berbuat nekad. jika saja dia berani maka aku sendiri yang akan membunuhnya" gerutu Mia mengepalkan tangan nya.


"Oh iya, resto kamu?" tanya Mia mengalihkan pembicaraan mereka.


"Aku harus minta izin Rion dulu" Mia melongo mendengar jawaban sahabatnya.


"I..izin? izin apa?" tanya Mia bingung.


"Ya Rion izinin aku buat ngelola resto itu ga" jawab Hazel.


"Kamu udah gila Hazel? kenapa harus meminta persetujuan darinya lagi? resto itu milikmu" ucap Mia kesal.


"Memang resto itu milikku Mia, hanya saja Rion itu suami ku dia juga berhak menentukan apa yang boleh dan tidak boleh aku lakukan" jawab Hazel.


"Aku tidak tahu harus memuji kau wanita baik atau bodoh" gerutu Mia menatap Hazel kesal membuat wanita cantik itu terkekeh.


"Sudahlah, terlalu kesal dengan ku juga tidak baik" ucap Hazel tertawa.


Didepan ruangan Mia, Toni tanpa sengaja mendengar semua percakapan kedua wanita itu dari celah pintu yang sedikit terbuka.


"Ternyata tuan Rion tidak mencintai Hazel" gumam Toni mengepalkan tangan nya dan berlalu pergi.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Diruang kerja Leon, Leon sedang memandang wajah cantik Hazel dari rekaman CCTV yang ada diruangan Mia.


Leon juga mendengar semua percakapan kedua sahabat yang sedang melepas rindu itu.


"Tidak mencintai, Rion bodoh itu masih mempertahankan kekasih angkuhnya" gumam Leon mengepalkan tangan nya.


Drttt Drttt Drttt


"Katakan"


"Anda benar tuan Leon, tuan Rion masih berhubungan dengan nona Amena bahkan ketika nona Hazel datang keruangan tuan Rion ada nona Amena disana"


Kepalan tangan Leon semakin kuat setelah mendengar kabar dari mata mata nya yang diperintahkan untuk menyelidiki kehidupan baru Hazel.


"Lalu?"


"Hanya itu tuan"


Tuttt

__ADS_1


Leon langsung menutup panggilan itu, amarah nya begitu tersulut mendengar kabar bahwa Hazel tidak diperlakukan selayaknya istri oleh Rion.


"Sialan!"


Brakkkk


Pyarrrr


Vas bunga kaca kecil yang ada diatas meja Leon pun pecah berkeping-keping membentur dinding putih itu.


"Jika saja Hazel tidak menjadi anak yang penurut, bukan tidak mungkin aku mengambilnya Rion"


Ceklekkkk


"Apa apaan ini Leon?" tanya seorang pria tampan berkacamata yang umur nya lebih muda dari Leon.


"Mark?"


Mark Bagelert, adik Leon tetapi dari ibu yang berbeda. walau demikian hubungan mereka sangat baik.


"Kapan kau kembali?" tanya Leon dan langsung memeluk adik nya yang sudah bertahun tahun lamanya tinggal diluar negeri.


"Pagi tadi sampai, apa yang kau lakukan?" tanya Mark bingung.


Leon membanting tubuhnya diatas sofa dan langsung memijit pelipisnya yang terasa pusing.


"Hazel ya?" tebak Mark yang tahu kabar pernikahan Hazel dengan Presdir terkaya yang kini berubah menjadi CEO.


"Dia sudah menikah"


"Ckk bukan itu, pernikahannya terjadi dua pekan lalu tapi kenapa marah nya baru baru saja? kenapa?" desak Mark.


Leon memang sangat sulit menutupi sesuatu dari Mark, karena Mark memiliki sikap yang sama seperti Hazel yaitu kepo.


"Barion Jacob, dia sudah menjabat CEO lalu apa lagi? kau sudah menjadi CEO di perusahaan mu sendiri"


"Bukan itu Mark" ketus Leon yang mulai kesal melihat kelemotan adik nya.


"Ckk jangan berbelit bodoh"


"Rion kan sudah punya kekasih"


"Lalu? jika dia sudah menikah dengan Hazel berarti sudah memutuskan kekasih nya bukan?"


"Nah disitu masalahnya" ucap Leon yang langsung menepuk pundak Mark.


"Hah? apa? aku tidak mengerti jangan membuat ku semakin bingung" desak Mark yang belum juga mengerti.


"Rion belum putus dari kekasihnya"


"APAAA!" terkejut Mark setelah mendengar ucapan kakaknya.


"Jangan berteriak bodoh!" ketus Leon


"T...tapi dia sudah menikah dengan Hazel"


"Mereka dijodohkan"


"Pantas saja, apa Hazel tahu itu?" tanya Mark yang memang selalu kepo dengan kabar terkini apa lagi ini tentang kakak nya.


"Tahu, dia pasti sangat terluka memiliki suami seperti Rion"


"Jangan berfikir dangkal kak" ucap Mark membuat Leon mengerutkan kening nya.

__ADS_1


"Maksud mu?"


"Kakak tahu seperti apa otak Hazel itu, aku hanya berharap wanita itu tidak dibuat malu didepan umum oleh Hazel" ucap Mark dengan kekehan kecil.


Seketika Leon pun ikut tertawa mendengar ucapan adik nya, siapa yang tahu dibalik wajah polos Hazel itu ada beribu cara jahil dikepalanya.


"Dia tidak senakal itu Mark" kekeh Leon hingga geleng kepala.


"Oh ayolah kak, dia hanya belum menunjukkan taring nya rawrr" ucap Mark menirukan suara binatang buas membuat tawa Leon semakin meledak.


"Ckk kau ini ada ada saja, oh iya ayo kita datangi dia Hazel pasti senang melihat mu" ucap Leon menarik tangan Mark.


Leon dan Mark pun berjalan bersama menuju lantai 9 dimana ruangan Mia berada.


Diwaktu yang bersamaan pula Hazel dan Mia keluar dari ruangan itu, Hazel terkejut melihat kedatangan adik mantan bos nya itu.


"Kak Mark!" pekik Hazel langsung menghambur kepelukan Mark yang sudah merentangkan tangan nya.


Mark pun membalas pelukan Hazel dengan antusias, Hazel memang dianggap adik sendiri oleh Mark dan itu tidak bisa membuat Leon cemburu memang.


"Kapan kau kembali? kenapa tidak mengabariku? bagaimana kabar mu? apa baik baik saja? ayo jawab kak" cecar Hazel membuat beberapa staf yang ada disana melongo.


"Aku gemas sekali padamu" kekeh Mark mencubit pipi Hazel.


"Kau tidak menjawab nya?"


"Terlalu banyak pertanyaan mu anak kecil, yang penting aku sudah ada disini dan akan melepaskan rinduku pada mu hem?"


"Tapi kau tidak datang saat pernikahan ku" ucap Hazel mengerucut kan bibirnya.


"Maaf ya, tapi hadiah nya akan ku berikan sekarang ini"


"Benarkah?"


"Iya, kau ingin apa?" tanya Mark mengusap lembut rambut panjang Hazel.


"Bagaimana jika kau menemaniku bermain? hingga sore nanti" ucap Hazel.


"Apa pun untuk mu"


"Yeayyyy" girang Hazel hingga melompat lompat kecil membuat siapa saja gemas melihatnya.


"Apa kalian ingin ikut? kamu kak?" tanya Mark memandang Mia dan Leon.


"Kami ada rapat, pergilah dan senangkan hati Hazel"


"Titip sahabat ku kak, dia akan merepotkan mu" kekeh Mia mencubit pipi Hazel dan berlalu pergi.


"Ayo" ajak Mark menggandeng tangan Hazel dan berlalu menuju lift.


Leon menatap bahagia kepergian Mark dan Hazel, Leon begitu bersyukur Mark bisa memberikan kasih sayang layaknya seorang kakak kepada Hazel.


"Terkadang kau menjadi seperti seorang ibu tapi juga terkadang seperti seorang adik didepan kami, seandainya Hazel"


.


.


.


Kiwwww, ayo ayo mana nih yang baca mana nih wkwk.


Dukungan nya mana nih? kok sepi ya😆

__ADS_1


__ADS_2