
Makan malam bersama itu pun berjalan dengan lancar, bahkan Hazel semakin banyak tahu akan masa lalu tentang kedua orang tua nya.
"Lihatlah, waktu sudah menunjukkan pukul 11 malam" celetuk Gani membuat Hazel dan Eric terkekeh.
"Yasudah kalau begitu kami pulang lebih dulu, kasihan menantu ku pasti kelelahan" ucap Eric dan langsung bangkit dari duduk nya.
"Sampai jumpa di lain waktu. dan kau nak, aku senang bisa bertemu dengan mu" ucap Gani tersenyum kearah Hazel.
"Senang juga bisa bertemu dan mengobrol banyak dengan om" jawab Hazel tersenyum manis.
Hazel dan Eric pun langsung berlalu keluar restauran menuju parkiran karena waktu sudah semakin larut.
"Aku bersyukur kedua orang tua ku dikelilingi orang baik seperti kalian" ucap Hazel setelah mereka didalam mobil.
"Mama dan papa mu orang baik nak, sudah pasti mereka dikelilingi orang baik" ucap Eric mengelus surai Hazel.
"Papa nginap?" tanya Hazel
"Iya, soalnya sudah terlalu malam untuk melanjutkan perjalanan lagi" jawab Eric dan di setujui Hazel.
Setelah beberapa saat kemudian, mobil yang mereka tumpangi pun berhenti didepan rumah mewah milik Rion.
Hazel dan Eric berjalan bersama memasuki rumah mewah yang sudah sepi itu karena pasti para pelayan sudah tidur.
"Papa naik lah lebih dulu, Hazel akan buatkan teh hangat untuk papa" ucap Hazel dan berlalu kedapur.
Eric berjalan dengan perlahan menaiki anak tangga, usia yang tidak lagi muda membuat tubuh Eric sangat rentan terhadap penyakit.
Eric berjalan menuju kamar yang sering Ditiduri nya saat menginap dirumah Rion dan Hazel.
Eric berjalan melewati kamar utama yang ditiduri Hazel dan Rion, Eric terus berjalan menuju kamar nya yang berada di ujung.
Langkah Eric terhenti saat mendengar suara suara aneh dari sebelah kamar yang dulunya pernah ditiduri Hazel.
Eric menempelkan telinga nya di daun pintu untuk memastikan suara yang didengar nya benar atau tidak.
"Ahhh Rion, perlahan sedikit"
"Kenapa harus meminta perlahan, kau yang memancing ku duluan sayang"
Eric mengernyitkan dahi nya saat suara itu begitu jelas terdengar di telinga nya, suara yang begitu menjijikkan bagi Eric.
Eric seketika mengingat pemilik suara sepasang orang yang sedang berada didalam kamar itu.
"Sialan, mati hari ini kau Rion" rahang Eric seketika mengeras dan bersiap untuk membuka pintu.
Brukk
Brukk
Brakk
Pintu pun terbuka paksa, Eric terbelalak melihat putranya sedang bercumbu mesra dengan wanita yang bukan istrinya.
"Papa"
"BEDEBAHH!!"
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Hazel berjalan ke luar dapur menuju lantai dua dengan membawa nampan yang berisi segelas teh hangat dan segelas air mineral.
Brukk
Brukk
Brakk
Langkah Hazel terhenti saat mendengar suara dobrakan dan dentuman pintu yang begitu keras berasal dari lantai atas.
"BEDEBAH SIALAN!"
Hazel langsung mempercepat langkah nya saat mendengar makian yang dilontarkan oleh Eric hingga satu rumah mendengarnya.
Hazel terus mempercepat langkah nya karena khawatir terjadi sesuatu terhadap Eric ataupun Rion.
"Papa!"
Pyarrr
Nampan yang dipegang Hazel pun terjatuh hingga gelas nya pecah karena melihat Eric yang terjatuh pingsan sembari memegang dada nya.
Hazel berlari menghampiri raga Eric yang sudah terkulai lemas diatas lantai yang dingin ini.
"Papa bangun"
Hazel terkejut saat melihat suaminya dan kekasih suaminya sedang berada di satu kamar yang sama.
Yang membuat Hazel terkejut adalah, Rion yang baru memakai pakaian luarnya dan sudah bisa Hazel tebak apa yang terjadi tadi.
Untuk saat ini yang dipikirkan Hazel hanyalah keselamatan Eric, bukan tidak perduli dengan Rion hanya saja Eric lebih penting sekarang ini.
"Rion, ayo cepat bawa papa kerumah sakit" ucap Hazel yang sudah berlinang air mata.
"A..ayo kita bawa" ucap Rion dan langsung membopong tubuh Eric dengan diikuti oleh Hazel langsung.
Hazel membukakan pintu agar Rion bisa meletakkan tubuh Eric diset belakang dan Hazel lah yang memangku kepalanya.
"Cepat Rion!" panik Hazel.
Rion langsung melesatkan mobilnya meninggalkan Amena yang berteriak diteras rumah memanggil mama nya.
"Papa bertahanlah hiks" lirih Hazel menggenggam tangan Eric.
"Rion cepat" ucap Hazel dengan wajah yang sangat ketakutan.
"Tenang Hazel, kamu jangan panik" ucap Rion yang terus fokus pada jalanan.
Setelah beberapa saat kemudian, mobil yang dikendarai Rion pun sampai didepan rumah sakit terbesar di kota.
Rion langsung ke luar dan membuka pintu untuk Hazel, Rion langsung membopong tubuh lemah Eric.
"Tolong, siapa pun tolong!" panik Hazel langsung berlari kemeja administrasi.
"Tenang, Hazel ada apa?" tanya seorang pria yang berpakaian dokter lengkap.
__ADS_1
"Dokter abidin, itu papa ayo" ucap Hazel langsung menarik tangan dokter tampan itu.
"Abidin, tolong tangani papa" ucap Rion membaringkan tubuh Eric diatas brankar.
Medis pun langsung mengambil alih Eric, Hazel sudah menangis sedari tadi karena panik dengan keadaan Eric.
Dua jam berlalu tetapi pintu riang ICU terus tertutup membuat semua orang yang ada didepan nya semakin risau.
"Tenang lah non" ucap bik Rumi yang sudah datang bersama Steve.
Disana juga sudah ada Amena yang duduk berdampingan dengan Rion, wajah Rion pun terlihat gusar menunggu dokter yang menangani papa nya.
"Jangan tinggalkan Hazel, pa" lirih Hazel yang terus meneteskan air mata hingga matanya terlihat bengkak.
"Tuan pasti baik baik saja, tuang orang yang kuat non" ucap Bik Rumi memeluk tubuh Hazel.
Ceklekkk
Pintu ruang ICU terbuka, Hazel langsung berdiri lebih dulu dan menghampiri sang dokter.
"Bagaimana keadaan papa? dia baik baik saja kan?" tanya Hazel.
Dokter tampan yang ternyata sepupu Rion pun menundukkan kepalanya dengan raut wajah sedih.
"Jawab Dokter!" desak Hazel.
"Maaf Hazel, om Eric tidak bisa diselamatkan"
Deghhhh
Seketika tubuh Hazel jatuh pingsan, beruntung ada Rion yang langsung menangkap nya dan menggendong nya.
"Dimana ruang perawatan nya?" tanya Rion.
Dokter Abidin pun memimpin jalan menuju ruang perawatan agar Hazel dapat ditangani.
"Rion, aku mas..."
"Suasana sedang berkabu, jangan sesekali merusak nya dengan ocehan busuk mu itu" ucap Steve menahan tangan Amena yang ingin mengejar Rion.
"Kau siapa sehingga dengan berani melarang ku hah?!" bentak Amena.
"Aku orang kepercayaan tuan Rion jika kau ingat, dan satu lagi aku tidak akan pernah mengizinkan mu menyentuh nona Hazel"
"Cih, wanita marahan itu" cibir Amena.
"Siapa yang murahan disini? kau akan tahu akibatnya jika berani mengusik nona Hazel, akan ku buat tuan Rion sendiri yang membunuhmu dengan tangan nya. cam kan itu" ancam Steve dan berlalu pergi menyusul Rion.
"Paling tidak anda punya hati nona Amena, merusak kebahagiaan orang lain tidak membuat hidup mu berjalan dengan lancar" tambah bik Rumi dan melengos pergi.
"Sialan! lihat saja jika aku sudah menjadi nyonya dirumah itu, kalian berdua adalah orang pertama yang aku tendang keluar" gumam Amena sembari mengepakkan tangan nya.
.
.
.
__ADS_1
Jangan lupa dukungan nya hihi🥰