
Malam pun mulai waktu sudah menunjukkan pukul 10 malam saat Hazel baru saja keluar dari kamar mandi.
Hazel baru saja selesai mengganti baju nya dengan gaun tidur yang tidak terlalu tipis.
Hazel memandang kesal kearah laptop nya yang sudah hancur dan kini berada ditong sampah yang ada di sudut kamar nya.
"Dia pikir membeli laptop tidak memakai uang? sangat menyebalkan" gerutu Hazel.
Hazel membanting tubuhnya diatas ranjang sembari melihat ponsel nya.
Ponsel Hazel sudah berada ditangan dang empunya karena Rion sendiri yang mengembalikan nya.
"Apakah berhasil? dia mempercayai mu atau kekasih gila nya itu? ohh good, aku berharap Rion mempercayai mu dan meninggalkan wanita gila itu"
Hazel terkekeh melihat isi pesan dari Mia yang beberapa waktu lalu belum dibaca nya.
"Kita tunggu saja besok" balas Hazel.
Tinggg
"Apakah tuan percaya pada mu non? jika tidak maka izinkan aku membunuh wanita itu agar tidak mengganggu mu lagi, kau tahu? tangan ku begitu gatal untuk melenyapkan nya"
Hazel tertawa membaca isi pesan dari wanita misterius yang pernah memberikan amplop yang berisi scandal Amena padanya.
"Jangan terlalu sadis, istirahat dan nikmati hidup mu. aku tidur duluan" balas Hazel.
Hazel meletakkan ponsel nya dan beralih pada buku novel yang sering dibaca nya.
Seketika Hazel teringat Rion, Hazel tahu Rion tidak tidur walaupun bersama Amena karena pria itu tidak akan tenang jika hanya mengkonsumsi obat penenang.
Trauma nya juga akan terus memenuhi isi kepalanya dan itu membuat nya tidak bisa tidur.
"Kasian banget kalau dia ga bisa tidur, bodo ah dia aja ga kasian sama aku" gerutu Hazel dan kembali fokus pada buku nya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Dikamar Rion, Rion memandang pekatnya malam dengan ditemani semilir angin dari balkon kamar.
Sesekali Rion memamdang balkon kamar Hazel berharap wanita itu berdiri juga disana, tetapi itu semua nihil.
Rion beralih memandang kefoto pernikahan nya bersama Hazel yang ia letakan dimeja sudut balkon.
Foto yang tidak terlalu besar itu memancarkan cahaya rembulan yang sedang bersinar malam ini.
"Kau memang anugerah untuk ku tetapi kenapa baru sekarang aku menyadari nya di saat kau mulai membuat keputusan berpisah dengan ku jauh lebih baik"
"Hazel maafkan aku, usaha mu begitu keras untuk membinah rumah tangga yang harmonis bersama ku semalam tapi kini semuanya berubah dengan begitu cepat"
"Kau menggugat cerai dan ingin menyerah akan segalanya disaat aku baru menyadari bahwa kau adalah wanita yang dilahirkan dan ditakdirkan untuk ku, kita terikat Zel"
Rion mengusap air mata yang luruh ke wajah tampan nya, penyesalan akan prilaku buruk nya kepada Hazel terus terngiang dikepala Rion.
Kenapa baru saat ini dia menyadari bahwa Hazel lah satu satu nya wanita yang sangat mencintai nya dengan tulus.
Hazel lah wanita yang paling sempurna yang diutus Tuhan untuk bersamanya.
Rion kembali masuk kedalam kamar nya dan langsung menuju walk in closed untuk mengganti pakaiannya.
__ADS_1
Setelah selesai, Rion pun kembali dan sudah menggunakan piyama tidur berwarna navi.
Rion merebahkan tubuh nya diatas ranjang, rasanya begitu lelah menghadapi hari hari belakangan ini.
Rion mencoba untuk memejamkan matanya namun sulit, seakan ada yang tertinggal tapi tidak tahu apa.
"Kau tidak menemani ku tidur" lirih Rion melihat sisi ranjang nya yang kosong.
Rion teringat Hazel yang biasanya menemani tidur nyenyak nya hingga pagi datang.
Rion terus berusaha untuk tidur dan memaksa matanya agar terpejam karena merasa begitu lelah.
Hingga akhirnya waktu menunjukkan pukul 00:00 tetapi mata Rion masih terbuka lebar.
Rion begitu lelah karena tidak bisa tidur dengan tenang, seakan ada yang kurang seperti ini.
Dengan langkah lunglai dan juga membawa sebuah guling, Rion berjalan keluar kamar dan menghampiri kamar Hazel.
Tok Tok Tok
Ceklekkk
Hazel terkejut melihat Rion dengan mata panda nya sudah berdiri didepan kamar nya.
Dengan membawa sebuah guling dengan wajah yang dibuat memelas seperti seorang anak kecil yang menghampiri ibunya yang terpisah kamar dengan nya.
"Ke..kenapa? ini sudah malam Rion, aku tidak ingin berdebat dengan mu" ucap Hazel memandang heran kearah Rion.
"Aku ingin tidur" jawab Rion dengan nada lirih.
"Temenin" pinta Rion dengan wajah memelas membuat Hazel melongo mendengarnya.
"Ti....."
"Aku mohon, Aaaaa aku tidak bisa tidur saat tidak bersama mu hiks" lirih Rion yang langsung memeluk Hazel.
"Rion lepaskan aku" tolak Hazel mencoba untuk melepaskan pelukan Rion.
"Tidak, jangan tolak aku Hazel maafkan aku hiks" mohon Rion hingga menangis.
"K...kau menangis?" tanya Hazel yang langsung mengurai paksa pelukan Rion.
Hazel menahan tawanya saat melihat wajah Rion yang seperti bayi tidak diberi susu.
"Jangan menangis" ucap Hazel mengusap air mata Rion dengan ibu jarinya.
"Kau menolak ku hiks" lirih Rion yang terus meneteskan air mata.
"Tidak tidak, ayo sini" ajak Hazel menggiring Rion keranjang nya setelah menutup pintu.
Hazel mendudukkan tubuh Rion ditepi ranjang, Rion langsung memeluk tubuh mungil Hazel yang masih berdiri dihadapannya.
"Rion jangan begini" sesak Hazel karena Rion memeluk nya dengan erat.
"Jangan menolak ku hiks" lirih Rion dalam pelukan Hazel.
"Berhentilah jadi suami yang nakal jika tidak ingin ku tolak" ucap Hazel.
__ADS_1
"Maafkan aku dan aku berjanji akan memperbaiki semuanya" jawab Rion memandang sendu Hazel.
Hazel tersenyum, Hazel naik keatas ranjang dan duduk berhadapan dengan Rion.
"Seandainya kau begini sejak lama mungkin aku tidak seletih ini Rion, kau tahu sehebat apa aku mencintaimu bukan?" ucap Hazel mengusap air mata Rion.
"Maafkan aku yang terlambat menyadari dan membuat mu lelah, aku mencintaimu Hazel" jawab Rion.
Seketika Hazel membatu mendengar ucapan Rion, apa tadi? cinta? apa Hazel tidak salah dengar.
"Kau mengatakan apa?" tanya Hazel dengan mata berkaca kaca.
"Aku mencintaimu, terdengar sangat omong kosong memang tapi baru ku sadari setelah kepergian Amena ke Italia dan kau mengurusku dengan tulus bahkan kita sering menghabiskan waktu bersama"
"Maafkan aku Hazel, aku belum bisa memberi kebahagiaan layaknya seorang suami kepada mu tapi percayalah aku akan berusaha mewujudkan semua mimpi mu" ucap Rion dengan tulus.
Hazel memandang lekat mata Rion mencoba untuk mencari kebohongan di sana namun tidak ada, hanya ketulusan yang terlihat.
"Ri...Rion" terbata Hazel seakan tak percaya.
"Maafkan aku, aku akan mencoba untuk menjadi suami yang baik mulai saat ini" ucap Rion langsung memeluk Hazel.
Seketika air mata luruh ke pipi Hazel, begitu indah untuk didengar oleh Hazel.
Hazel menangis dalam pelukan Rion, menangis bahagia hingga tidak mampu untuk mengungkapkan bagaimana bahagia nya karena perjuangan nya terbalaskan juga.
"Jangan menangis" ucap Rion mengusap air mata Hazel.
"Terimakasih, terimakasih sudah menyadarinya sebelum aku pergi" ucap Hazel yang terus menangis bahagia.
"Kau begitu berharga untuk ku lepas, aku juga tidak rela melihat mu bahagia bersama pria lain ketika kau sudah tidak bersama ku" ucap Rion.
"Berjanjilah untuk terus bersama ku Hazel, jangan ucapkan kata perpisahan dengan lantang lagi karena kau satu satunya harta berharga ku saat ini, Hanya kau Hazel" ucap Rion.
Hazel semakin terharu dengan ucapan Rion, hatinya begitu bahagia mendengar penuturan indah dari Rion.
"Aku berjanji dan aku akan menagih janji mu yang akan membahagiakan aku" ucap Hazel tersenyum manis.
"Tanpa kau minta sayang, semuanya akan ku berikan tanpa kau minta" ucap Rion mengecup pipi Hazel.
Rion dan Hazel pun merebahkan diri mereka diatas ranjang king size dengan spray putih itu.
Rion terus memandang wajah cantik istrinya, seakan tidak ingin terlewat barang sedetik pun.
"I love you Hazel Matya"
"I love you tou my husband"
.
.
.
Awwww jadi baper author 🤭
jangan lupa dukungannya readers tercinta🥰
__ADS_1