
Setelah selesai sarapan, Hazel pun mengantar Rion sampai didepan rumah mewah mereka.
"Tunggu" ucap Hazel menahan tangan Rion.
Rion menghentikan langkah nya yang ingin masuk kedalam mobil dan langsung berbalik memandang Hazel.
"Dasi kamu" ucap Hazel menunjukkan sebuah dasi berwarna hitam yang senada dengan setelan jas yang dikenakan Rion hari ini.
"Biar ak...."
"No, aku yang Pakaikan" ucap Hazel menepis tangan Rion yang ingin menggapai dasi itu.
"Kau terlalu pen..."
"Sutttt, membungkuk lah sedikit" titah Hazel menarik kemeja Rion agar lebih dekat dengan wajah nya.
Hazel pun mulai memasangkan dasi itu kekerah baju Rion, Rion terus menatap wajah teduh istrinya.
"Sudah, suami ku sudah tampan. hati hati ya" ucap Hazel mengecup punggung tangan Rion.
"Te...terimakasih" ucap Rion sedikit gugup dan langsung masuk kedalam mobil.
"Da.. Rion" ucap Hazel melambaikan tangan nya saat mobil Rion mulai melaju pergi.
Hazel terus berdiri disana sampai mobil suaminya menghilang dari pandangan nya.
Tin Tin Tin
Langkah Hazel terhenti saat ingin berbalik masuk kedalam rumah karena suara klakson mobil yang datang dari gerbang utama.
"Kak Mark" ucap Hazel girang
"Hallo adik kecil ku sayang, sudah siap pergi?" tanya Mark setelah berhenti tepat didepan Hazel.
"Aku ambil tas dulu" ucap Hazel dan langsung berlari masuk.
"Jangan lari lari, Hazel!" teriak Mark yang sedikit khawatir dengan sikap aktif Hazel yang terkadang membuatnya terkekeh.
"Tuan Mark" panggil bik Rumi yang tiba tiba muncul dari samping rumah.
"Maaf, anda siapa?" tanya Mark memandang bik Rumi.
"Saya kepala pelayan dirumah ini tuan, saya juga yang menjaga nona muda Hazel selama tinggal disini" jawab bik Rumi tersenyum.
"O..ohh, terimakasih sudah menjaga Hazel bik" ucap Mark menyalami bik Rumi.
"Sudah menjadi tugas saya tuan, teruslah ciptakan senyuman untuk nona Hazel selama tuan Rion belum mampu, tuan" ucap bik Rumi dan langsung berlalu pergi.
"A..apa maksud bik, bik Rumi!" panggil Mark tetapi tidak diindahkan oleh bik Rumi.
__ADS_1
Bik Rumi berlalu begitu saja meninggalkan Mark yang kebingungan akan kata kata darinya.
Tidak lama kemudian Hazel pun berjalan keluar dengan memegang tas kecil berwarna putih yang ada di pundaknya.
"Ayo kak" ucap Hazel dan langsung masuk kedalam mobil Mark.
Mark pun langsung masuk juga dan langsung melesat pergi meninggalkan pekarangan rumah mewah itu.
Setelah beberapa saat mengendarai mobilnya, Mark pun menghentikan mobilnya didepan pemakaman umum.
"Ayo" ajak Mark setelah membukakan pintu Hazel.
Hazel langsung turun dan berjalan bersama menuju pusara kedua orang tuanya yang terletak tidak jauh dari parkiran.
"Hay ma, hay pa" ucap Hazel yang berlutut diantara pusara mama dan papa nya.
Mark ikut berlutut di samping Hazel, Mark tidak ingin Hazel terlalu larut dalam kesedihan nya.
"Hazel sudah memenuhi keinginan mama dan papa, Hazel sudah menikah dengan pria yang kalian pilihkan" ucap Hazel tersenyum.
"Maaf ya pa, ma. Hazel belum bisa membuat Rion mencintai Hazel, tapi Hazel janji akan membuat Rion mencintai Hazel dan hanya Hazel satu satunya wanita yang akan dicintai Rion nantinya".
Air mata Hazel pun mulai luruh, setelah sekian lama tidak datang ke makam kedua orang tuanya. kini Hazel pun datang untuk mencurahkan semua isi hatinya yang selama ini dipendam nya.
Mark mengusap lembut pundak Hazel, Mark tidak bisa melarang Hazel agar tidak menangis karena Mark tahu sulit hidup Hazel dan rasa rindu Hazel kepada kedua orang tuanya.
Hazel terus bercerita dengan celotehan nya didepan pusara kedua orang tuanya, hati Mark sangat sakit mendengar keluh kesah wanita ini.
"Kita mau kemana?" tanya Mark setelah mereka berada didalam mobil.
"Kit...."
Drttt Drttt Drttt
Ucapan Hazel terhenti saat ponsel nya berdering didalam tas kecil yang dibawanya, Hazel langsung mengambil ponsel nya dan langsung terheran melihat nama Liza yang tertera sebagai penelpon disana.
"Liza? tumben banget" gumam Hazel dan langsung menggeser ikok hijau yang ada dilayar ponsel nya.
"Halo Za, ada apa?"
"Hazel, papi masuk rumah sakit. cepat kemari aku kirim alamat nya hiks" ucap Liza dari seberang sembari tersedu sedu.
"Apa?! o..oke aku akan kesana" ucap Hazel terkejut dan langsung memutuskan panggilan itu.
Tinggg
Pesan dari Liza yang menampilkan alamat rumah sakit dimana Lukman dirawat pun masuk.
"Ada apa Zel?" tanya Mark yang belum tahu kabar Lukman.
__ADS_1
"Kita kerumah sakit ini ya kak, om Lukman masuk rumah sakit" ucap Hazel menunjukkan alamat nya pada Mark dengan wajah cemas.
"Hah? oke oke, kamu tenang ya kita akan kesana" ucap Mark dan langsung putar haluan menuju rumah sakit.
Hazel mengotak atik ponselnya mencari nomor kontak yang hendak di telpon nya, Mark bingung siapa yang akan dikabari Hazel lagi.
"Halo Rion" ucap Hazel setelah panggilan terhubung.
"Dia menghubungi Rion? Rion belum tentu perduli dengan situasi saat ini tetapi dia begitu menghargai Rion sebagai suaminya" batin Mark yang bangga pada Hazel.
"Ada apa?" tanya Rion datar dari seberang sana.
"Rion, kamu datang ke alamat rumah sakit yang aku kirim ya. om Lukman masuk rumah sakit" ucap Hazel dengan wajah yang sangat cemas.
"Hemm" jawab Rion singkat dan langsung menutup panggilan.
Mark yang mendengar jawaban acuh dari Rion pun langsung menggenggam erat kemudi nya karena merasa sangat emosi.
"Halo pa" ucap Hazel yang menghubungi Eric.
"Ada apa nak? nada bicara mu terdengar panik" tanya Eric dari Seberang sana.
"Papa datang ke alamat rumah sakit yang Hazel kirim ya"
"Rumah sakit? kamu kenapa nak? kamu baik baik saja?" cecar Eric yang mwngura Hazel lah yang masuk rumah sakit.
"Bukan Hazel pa, om Lukman masuk rumah sakit" jawab Hazel.
"Hah? yasudah kamu tenang ya, kamu sama siapa dan dimana sekarang?" tanya Eric.
"Hazel sudah dijalan bersama kak Mark, papa langsung kerumah sakit saja" ucap Hazel.
"Mark? o..ohh Oke, papa akan kesana" ucap Eric dan langsung menutup panggilan nya.
Wajah Hazel terlihat sangat cemas karena kabar yang sangat mengejutkan, Mark mengelus punggung tangan Hazel.
"Kamu tenang Zel, kita akan sampai sebentar lagi. semua akan baik baik saja om Lukman orang yang kuat" ucap Mark menenangkan.
"Heem, semoga saja kak. aku sangat khawatir karena om Lukman mempunyai riwayat penyakit jantung" ucap Hazel menyeka setitik air mata.
"Tenangkan dirimu, kita lihat keadaan om Lukman dan berdoalah semoga dia baik baik saja" ucap Mark mengelus pundak Hazel.
"Amin, ya Tuhan selamatkan lah om Lukman. om jangan tinggalkan Hazel" gumam Hazel menangkup wajah nya dengan kedua tangan nya.
.
.
✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨
__ADS_1
Jangan lupa like, comment dan gift nya sebagai bonus untuk author😁