You'Re My Husband

You'Re My Husband
Bab.43 BELENGGU


__ADS_3

Kedekatan antara Hazel dan Rion pun berjalan dengan baik, bahkan mereka sudah sekamar berdua.


Tetapi itu semua tidak berlangsung lama karena hari ini adalah hari kepulangan Amena.


Rion sedang menjemput kekasih nya di bandara dengan mobil sport yang dikendarai nya langsung.


Waktu sudah menunjukkan pukul 8 malam saat Rion menjemput Amena di bandara.


"Sayang!" pekik Amena langsung menghambur kedalam pelukan Rion.


"Apakah kau merindukan aku?" tanya Amena bergelayut manja dipelukan Rion.


"Tentu saja sayang, aku merindukan mu" jawab Rion mengecup bibir Amena sekilas.


"Kita menghabiskan malam ini bersama?" tanya Amena dan Rion pun menyetujui nya.


Rion pun langsung melesatkan mobilnya pergi menuju apartemen Amena.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Dikediaman Rion, Hazel sedang sangat kesal karena Rion tiba tiba pergi meninggalkan nya.


Tinggg


Ponsel Hazel berdering pertanda sebuah pesan dari seseorang masuk.


Hazel langsung menyambar ponsel nya yang ada diatas nakas dan langsung membaca pesan itu.


"Pantas saja, aishhhh menyebalkan sekali" gerutu Hazel.


Drttt


Drttt


Drttt


Lagi lagi ponsel Hazel berdering, ada sebuah panggilan yang ternyata dari Mia.


"Halo Mia" ucap Hazel setelah menerima telepon dari Mia.


"Ada dengan mu? kau bertengkar dengan Rion?" tanya Mia yang mendengar nada bicara Hazel sedikit berbeda.


"Dia menyebalkan" ketus Hazel yang sangat kesal dengan suaminya.


"Aku jemput, kita ke resto deh ngobrol ngobrol"


Tut


Mia langsung memutuskan panggilan itu tanpa menunggu jawaban dari Hazel.


Hazel menghela nafas dan langsung bersiap mengganti pakaiannya.


Setelah beberapa saat Hazel pun sudah rapi dengan menggunakan celana panjang bahan berwarna denim yang dipadu dengan blouse putih.


"Aku pergi keresto bersama Mia" pesan singkat yang dikirim Hazel untuk Rion.

__ADS_1


Hazel pun berjalan menuruni tangga menuju lantai dasar yang terlihat masih terang.


"Non" panggil bik Rumi.


"Eh bibik, Hazel mau keresto sebentar ya bik nanti kalau Rion pulang tolong bilang kalau Hazel sudah kirim pesan ke ponsel nya"


Tin Tin


"Hazel pergi dulu ya bik" pamit Hazel dan berlalu pergi.


Hazel menaiki mobil Mia yang langsung melesat pergi meninggalkan pekarangan rumah.


Sepanjang perjalanan Hazel terus memandang gemerlap nya lampu kota saat malam.


"Nenek lampir itu udah kembali ya?" tanya Mia dan Hazel mengangguk.


"Mau sampai kapan terus begini? kalau kamu mencintai Rion maka harus mengambil tindakan Hazel" ucap Mia yang mulai kesal dengan prahara rumah tangga Hazel.


"Aku mencintainya tapi aku tidak ingin memaksanya" jawab Hazel.


"Terserah padamu saja" jawab Mia.


Mobil Mia pun berhenti di pekarangan parkir resto milik Hazel yang terlihat masih ramai.


Hazel dan Mia pun berjalan memasuki resto dengan tak lupa menyapa semua karyawan mereka.


"Kamu lupa kunci ya?" tanya Mia kepada Hazel saat mereka berada di lantai paling tiga, dimana ruangan Hazel berada.


"Aku selalu kunci, bahkan tadi siang juga ku kunci" jawab Hazel.


Mereka melihat pintu ruang kerja Hazel yang sedikit terbuka sehingga berfikir Hazel lah yang tidak mengunci nya.


Hazel dan Mia pun langsung masuk saja tanpa menghiraukan dugaan mereka.


"Halo leadis" sapa Mark yang ternyata berada didalam ruangan Hazel.


"Kak Mark!" pekik Hazel girang dan langsung menghambur kepelukan Mark.


"Wah wah, ternyata ada yang begitu merindukan ku hem?" ucap Mark membalas pelukan Hazel.


"Sangat sangat sangat merindukan mu, kenapa tidak memberitahu ku jika kau kembali? kenapa mengejutkan?" cecar Hazel.


"Cerewet sekali, yang penting kakak mu ini sudah berada dihdapan mu bukan?" ucap Mark mencubit gemas hidung Hazel.


Mia yang melihat kehadiran Mark pun hanya berdiam diri diposisi nya.


"Mia" panggil Mark


"Iya, sejak kapan kau kembali?" tanya Mia basa basi.


"Tadi pagi, semuanya sudah selesai disana jadi aku lebih cepat kembali" jawab Mark.


"Mengobrol lah disini, aku akan buatkan kopi" ucap Hazel dan langsung berlalu pergi meninggalkan Mark dan Mia.


"Ingin terus berdiri?" tanya Mark membuat Mia terkekeh.

__ADS_1


"Ayolah duduk" ajak Mia.


Mereka berdua pun langsung duduk disofa yang ada disudut ruangan Hazel.


"Dari mu?" tanya Mia yang melihat beberpa paperbag dengan warna yang berbeda didekat sofa.


"Kau tahu Hazel begitu penuntut, ada berbagai macam cemilan yang disukainya disana" jawab Mark membuat Mia tertawa.


"Kau masih menganggap nya anak kecil" ucap Mia geleng kepala.


"Bukankah kau juga memperlakukan nya seperti itu?" tanya Mark dan Mia pun mengangguk sembari terkekeh.


"Biarlah Hazel terus seperti itu, yang aku harapkan ada perubahan adalah kita" celetuk Mark membuat Mia langsung menoleh kearah nya.


"Maksud mu?" tanya Mia.


"Kau sudah cukup paham dengan apa yang ku maksud Mia, jangan anggap aku masih mengingat nya jujur ku akui aku tidak akan pernah bisa melupakan nya tapi bukan berarti saat bersama mu hanya karena janji ku padanya" ucap Mark.


"Dia sahabat ku Mark" ucap Mia memalingkan wajah nya.


"Lalu aku? bukankah kita sama sama berada di fase yang rumit? bukan, bukan kita tapi kau sendiri. kau yang mencoba untuk mempersulit segalanya" ucap Mark.


"Mau mencoba menyalahkan aku?" tanya Mia dengan mata berkaca kaca "coba kau pahami perasaan ku Mark" ucap Mia memandang Mark.


"Aku sudah cukup mengerti Mia, hanya kau yang tidak paham keadaan. bukan maksud ku menyalahkan mu hanya saja kita tidak bisa terus seperti ini" ucap Mark.


"Dia selamanya tetap sahabat ku Mark walaupun dia sudah tiada" ucap Mia memalingkan wajah nya karena tidak sanggup menahan air mata.


"Faya Clarista, kenapa kau memilih kan aku jodoh yang sangat sulit untuk mengerti keadaan? dia terus mengatakan bahwa kau sahabatnya tapi tidak memikirkan aku" celoteh Mark.


Ingin sekalian rasanya Mia memukul wajah tampan Mark yang suka sekali berbicara asal seperti Hazel.


"Aku ingin menyusul Hazel" ucap Mia yang langsung bangkit dari duduk nya.


Saat ingin melangkah, tiba tiba Mia berhenti saat tangan kekar Mark memeluk pinggang nya.


"Aku tahu ini sulit, tapi kita tidak bisa terjebak di fase yang seperti ini untuk selamanya Mia. aku tidak memintamu melupakan Faya karena aku juga tidak mampu melupakan nya. hanya saja, marilah bangkit bersama membangun apa yang seharusnya sejak awal kita bangun" ucap Mark.


Mark memeluk pinggang Mia dengan erat, setetes demi setetes air mata Mia pun luruh.


"Bukankah dia sudah mempercayakan aku kepada mu? begitu juga sebaliknya Mia, aku kamu dan kenangan Faya. bukankah seharusnya kita mampu?" ucap Mark.


"Faya sahabat ku Mark, kau adalah harta yang paling berharga bagi Faya. bagaimana mungkin aku mengambil dirimu dari nya?" ucap Mia yang akhirnya tidak bisa menahan tangis nya.


Mia begitu lemah setiap kali membahas tentang dirinya, Mark dan Faya. semuanya begitu sulit membuat Mia seperti terbelenggu rantai yang tak berujung.


"Dia sudah memberikan harta yang paling berharga nya untuk mu, bukankah seharusnya kau menerima dan menjaga nya?" ucap Mark.


"Apakah aku harus menerima nya?" tanya Mia menyeka air matanya.


"Kau memang harus menerima nya" ucap Mark dan memperdalam pelukan nya.


.


.

__ADS_1


.


Apakah masih ada raeders disini? hihi😁


__ADS_2