You'Re My Husband

You'Re My Husband
Bab.44 CERAI


__ADS_3

Satu minggu sudah Rion tidak pulang setelah kepulangan Amena dari Italia.


Siang hari ini Hazel sedang berada di kantor pengadilan agama bersama Mia.


Hazel dengan mantap hati mengajukan gugatan cerai kepada Rion tanpa meminta harta gono gini.


Dengan wajah datar Hazel menunggu surat cerai nya keluar.


"Bukankah rumah itu milik mu?" tanya Mia.


"Bercerai dengan nya saja sudah cukup, aku tidak akan menuntut apa pun yang akan membuat semuanya menjadi sulit" jawab Hazel.


"Rumah itu peninggalan om Eric kan?" tanya Mia.


"Aku tahu, sudahlah aku ikhlaskan untuk nya" jawab Hazel.


"Nona Lorens" panggil salah satu staf pengadilan agama.


"Itu saya" sambut Hazel dan langsung berdiri mendekati staf itu.


Hazel menyelesaikan beberapa surat yang harus ditanda tangani nya sebelum membawa surat cerai itu.


Setelah selesai, Hazel pun berlalu pergi bersama Mia saat hari mulai sore.


"Setelah ini tinggal dimana?" tanya Mia setelah mereka berada didalam mobil Mia.


"Akan ku fikirkan nanti" jawab Hazel sembari melirik kearah map coklat yang ada ditangannya.


Drttt


Drttt


Drttt


Ponsel Hazel berdering, ada sebuah panggilan telepon dari Mark.


"Halo kak" ucap Hazel setelah panggilan terhubung.


"Kau benar benar akan cerai Hazel?" tanya Mark.


Hazel langsung melirik kearah Mia yang menganggukkan kepalanya.


Hazel memang tidak memberitahu siapa pun tentang perceraian nya ini, hanya Mia sahabat nya yang tahu.


"Keputusan ku sudah bulat" jawab Hazel.


"Mau ku jemput nanti malam? tinggal dirumah ku mulai sekarang" tawar Mark.


"Tidak usah, aku tidak ingin kau berdebat dengan Rion nantinya, Mia saja yang menjemput dan aku untuk sementara akan tinggal di apartemen nya" tolak Hazel.


"Lalu setelah itu? ingin kemana?" tanya Mark.


"Entahlah, aku berfikir akan keluar negeri kak" jawab Hazel.


"Katakan kepada ku setelah ini kau akan kemana akan ku urus semua nya" ucap Mark dan langsung memutuskan panggilan nya.


Hazel menghela nafas, berat baginya untuk bercerai dengan Rion tetapi terus bertahan juga membuatnya sakit.


Mia mengelus lembut pundak Hazel, Mia tahu Hazel sudah mencintai Rion walaupun diperlakukan demikian.


Hazel memandang pekatnya senja disore hari yang mengiringi perjalanan mereka menuju kediaman Hazel.


Setetes air mata Hazel turun membasahi wajah cantik nya yang terlihat sendu.


"Maafkan Hazel pa, Hazel tidak bisa menjaga apa yang Hazel miliki dan lagi lagi Hazel harus mengalah" batin Hazel nelangsa.


Mobil yang dikendarai Mia pun sampai didepan rumah mewah kediaman Hazel.


"Terimakasih Mia, akan ku beri kabar nanti malam" ucap Hazel sebelum keluar dari mobil.


"Jangan berterimakasih aku sahabat mu, pergilah" ucap Mia.

__ADS_1


Hazel tersenyum dan berlalu keluar mobil, Mia pun langsung melaju pergi meninggalkan pekarangan rumah Hazel.


Dengan wajah datar Hazel berjalan memasuki rumah, bik Rumi memandang sendu kearah Hazel.


Orang orang dirumah ini sudah tahu apa yang akan dilakukan Hazel.


Apa lagi melihat map yang tertera dari pengadilan agama yang sedang digenggaman Hazel.


Tanpa menyapa siapa pun seperti biasa nya, Hazel berjalan menuju kamar nya dengan wajah datar.


Bik Rumi dan beberapa pelayan pun berjalan dengan kepala tertunduk mengikuti Hazel.


Brakkk


Hazel membuka pintu dengan sedikit kasar hingga menimbulkan bunyi yang sedikit nyaring.


Hazel menghela nafas "Kalian ngapain mengikuti aku? pergilah dan lanjutkan pekerjaan kalian" ucap Hazel menatap beberapa orang yang tadi mengikuti nya.


"Jangan pergi nona" lirih bik Rumi memandang sendu Hazel.


Hazel sebenarnya tidak tega melihat mereka yang menahan kepergian nya, hanya saja Hazel sudah tidak ingin mempertahankan apa pun dirumah ini.


Hazel langsung berlalu ke walk in closed untuk membereskan beberapa pakaiannya dan barang barang nya tanpa memperdulikan bik Rumi dan pelayan wanita lain nya.


Hari sudah mulai gelap saat Hazel baru selesai memasukkan barang barang nya kedalam koper yang cukup besar.


"Halo Steve" ucap Hazel setelah panggilan nya diangkat oleh asisten Rion.


"Ada apa non?" tanya Steve yang juga tidak pulang selama seminggu tanpa tahu situasi dirumah mulai berubah.


"Bawa Rion pulang malam ini, ada hal penting yang akan aku bicarakan"


Setelah mengatakan itu, Hazel langsung mematikan panggilan nya tanpa menunggu jawaban dari Steve.


Hazel meletakkan ponsel nya diatas nakas dan berlalu kekamar mandi untuk membersihkan tubuh nya.


Setelah beberapa saat kemudian, Hazel pun keluar dari kamar mandi dan sudah menggunakan gaun pendek ketat dan seksi.


Setelah semua selesai, Hazel pun berjalan keluar kamar dan menuruni anak tangga.


Hazel melihat semua pelayan dan koki berbaris rapi diruang tamu.


Seperti tak melihat apa pun, Hazel berjalan saja dan mendudukkan dirinya disofa single yang menghadap ke pintu utama.


Finally, kesabaran seorang Hazel Matya Lorens pun sudah diluar batas maximal.


Drttt


Drttt


Drttt


Ponsel Hazel berdering ada sebuah telepon masuk dari Mia dan Hazel langsung menerima nya.


"Apa kau yakin?" tanya Mia dari sambungan telepon.


Hazel mendesak Mia untuk menjemputnya satu atau setengah jam lagi di persimpangan jalan karena Hazel akan meninggalkan rumah ini.


"Aku yakin, akan ku kirim pesan setelah aku keluar" ucap Hazel dan langsung mematikan panggilan itu.


Semua pelayan dirumah itu berkumpul diruang tamu dengan posisi yang berbaris rapi.


"Nona" lirih bik Rumi tetapi Hazel seperti menulikan telinga nya.


Hazel melirik jam tangan dan beralih ke secarik kertas dan bolpoin yang ada diatas meja.


Dengan anggun Hazel menunggu kepulangan Rion, duduk dengan satu kaki yang menjadi tumpuan membuat Hazel terlihat memiliki aura yang berbeda malam ini.


"Kalian kembali saja kekamar masing masing jangan menemani ku menunggu nya" ucap Hazel tanpa memandang pelayan rumah Rion.


"Nona jangan pergi" serempak mereka mengucapkan kata kata yang sama.

__ADS_1


Hazel tidak menjawab apa pun, sudah cukup baginya untuk menjadi seseorang yang begitu sabar dirumah ini.


Beberapa saat kemudian tersengar suara mobil yang berhenti tepat didepan rumah.


Ceklekkkkk


Rion mengerutkan kening nya saat membuka pintu utama dan melihat semua orang berkumpul.


Yang membuat Rion terheran adalah Hazel yang seperti hendak menghadiri pesta malam dengan gaun seksi nya.


"Ada apa?" tanya Rion bingung sembari berjalan mendekati Hazel.


Steve yang baru memasuki rumah juga terkejut melihat semua orang berkumpul.


"Tanda tangani dan kita akan selesai" ucap Hazel menunjuk secarik kertas yang ada dihadapan nya dengan dagu nya.


Rion terbelalak saat melihat surat cerai yang akan ditanda tangani nya.


"Apa apaan kam..."


"Bukankah kau menginginkan sebuah kebebasan? oh tunggu, maksud aku kau sudah bebas bukan? lalu untuk apa aku?" tanya Hazel.


"Tanda tangani dan kita akan selesai, aku tidak akan membawa sepeser pun harta dari mu"


Ctarrrrrr


Seperti tersambar petir baik itu Steve maupun Rion, bahkan semua orang yang mendengar nya.


"Aku tidak akan tanda tangan" tolak Rion.


"Terserah pada mu, gugatan ku sudah sampai dipengadilan mau tanda tangan atau tidak itu tidak akan merubah keputusan ku untuk bercerai dengan mu" ucap Hazel.


"Jangan main main nona Jacob"


"Larat kata kata mu Rion, nama belakang ku Lorens ingat itu!" ketus Hazel.


"Aku tidak akan tanda tangani surat ini"


Krakkkkk


Rion merobek surat cerai itu hingga menjadi potong potongan kecil dan melemparkannya ke sembarang tempat.


"Sudah?" ucap Rion menatap tajam Hazel.


"Terserah pada mu, intinya kita akan tetap bercerai!" ketus Hazel dan langsung menyambar koper nya.


Tangan Hazel digenggam oleh Rion agar tidak pergi meninggalkan rumah ini.


"Lepaskan tangan ku! aku sudah muak dengan semua ini kau tahu? selama ini aku sudah cukup untuk terus bersabar menghadapi mu, tapi apakah aku harus terus bersabar?" ucap Hazel dengan nada tinggi.


"Sejak kapan kau berani meninggikan suara mu didepan ku" ucap Rion dengan rahang yang sudah mengeras.


"Kenapa? Apakah aku harus terus melembut didepan mu? aku sudah cukup bersabar selama ini!" bentak Hazel.


Entah mengapa hati Rion sangat sakit melihat sikap Hazel yang seperti ini padanya, apa lagi gugatan cerai itu membuat Rion begitu tersulut emosi.


"Kembali kekamar jangan sampai aku berbuat lebih kepada mu" ucap Rion dengan emosi yang hampir meledak.


"Lepas!" bentak Hazel menepis kasar tangan Rion.


"Aku bukan istri mu lagi mulai saat ini, panggil saja wanita mu itu untuk mengurus segalanya dan menemani mu tidur!"


.


.


.


Finally, kepo ga mereka jadi cerai atau engga? staytune ya bestie😗


Jangan lupa dukungan untuk author 😁

__ADS_1


__ADS_2