
Rion berjalan memasuki ruang kerja nya dengan wajah yang sangat sulit diartikan.
Rion duduk dikursi kerja nya dan langsung membuka laptop nya.
Rion membuka rekaman CCTV yang menampilkan Hazel sedang menangis di dalam kamar nya.
"kau mengigau seakan ada seseorang yang ingin menyakiti mu dan hebat nya lagi kau kembali tenang setelah aku menyentuh mu" kata kata Hazel yang terngiang dikepala Rion.
Karena ingin membuktikan ucapan Hazel, Rion pun langsung memutar rekaman CCTV di kamar mereka saat Hazel pertama kali tidur bersama nya.
Seakan tak percaya dengan yang dilihatnya, Rion pun langsung memutar semua rekaman CCTV saat Hazel tidur bersama nya satu demi satu.
"Ti...tidak mungkin? apakah benar begitu?" gumam Rion seakan tak percaya.
Rion langsung menyambar ponsel nya dan menghubungi seseorang.
"Halo dokter, ada yang ingin ku tanyakan pada mu" ucap Rion setelah panggilan terhubung.
Ternyata Rion menghubungi dokter psikolog nya yang selama ini menangani nya.
"Selamat malam tuan Rion, ada yang bisa saya bantu? anda sudah sangat lama tidak mendatangi saya apa lagi semenjak anda menikah" ucap dokter itu antusias.
Seketika Rion terdiam saat mengingat dia memang tidak pernah mendatangi dokter psikolog lagi setelah menikah dengan Hazel.
"Tuan Rion? anda masih disana?" tanya dokter itu saat tidak mendengar suara Rion.
"Iya dokter, ada yang ingin saya tanyakan" jawab Rion.
"Silahkan tuan" ucap dokter itu.
"Begini, tidur saya dan emosi saya mulai terkontrol semenjak saya menikah apa itu ada pengaruhnya? maksud saya, istri saya sendiri yang menjadi obat nya. apakah bisa begitu dokter?" tanya Rion.
"Wahhh hebat sekali, ternyata anda sudah tidak membutuhkan obat medis tuan. itu semua bisa terjadi karena ada beberapa pasien saya yang mengalami demikian" jawab dokter itu.
"Bagaimana mungkin dok?" tanya Rion seakan tak percaya.
"Memang terdengar konyol tuan, tetapi kekuatan cinta itu ada tuan. saya harap anda percaya itu, istri anda adalah obat anda sendiri tuan" ucap Dokter itu.
"Terimakasih dokter" ucap Rion dan langsung memutuskan panggilan nya.
Seketika Rion merasa begitu amat bersalah terhadap Hazel yang diperlakukan buruk selama ini.
Rion rasanya ingin sekali mendatangi Hazel dan langsung memeluk wanita itu.
"Dia pasti sangat membenci ku, Aaaaaaa kenapa harus ku sadari sekarang disaat semuanya mulai ricuh" prustasi Rion.
Rion memansang lekat wajah Hazel yang terlihat dilayar laptop nya.
Terlihat Hazel yang masih menangis hingga kini bahkan mengatakan bahwa Hazel membenci Rion.
"Aku membenci mu Rion! kenapa kau menyakiti ku disaat aku begitu mencintai mu" lirih Hazel.
Rion meneteskan air mata mengingat perjuangan Hazel agar dipandang nya selama ini.
"Maafkan aku Hazel, maaf untuk semuanya aku tidak tahu jika seperti ini jadinya" lirih Rion mengelus wajah Hazel yang ada dilayar kaca.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
Dikamar Hazel, Hazel masih terus menangis karena tak ada seorang pun yang ingin membukakan nya pintu.
Ponsel Hazel berada ditangan Rion sehingga Hazel tidak bisa menghubungi siapa pun.
"Aku membenci mu Rion! kenapa kau menyakiti ku disaat aku begitu mencintai mu" lirih Hazel.
"Kurang sabar aku menghadapi segalanya selama ini Rion, aku lelah dan sakit melihat wanita itu dicintai begitu hebat oleh mu sedangkan aku?"
"Aku seperti pelayan yang hanya berguna disaat kau membutuhkan aku sedangkan dia kau manja layaknya seorang ratu" lirih Hazel.
Hazel terduduk disudut kamar sembari memeluk lutut nya dan terus menangis.
Hingga waktu menunjukkan pukul 10 malam, karena lelah menangis akhirnya Hazel pun tertidur dilantai kamar.
Rion dengan perlahan masuk kedalam kamar Hazel hingga tidak menimbulkan bunyi sedikit pun.
Rion berjalan mendekati Hazel, sakit rasanya melihat mata sembab wanita ini.
Rion mengangkat tubuh Hazel dan merebahkan nya diatas ranjang agar lebih nyaman.
"Maafkan aku" lirih Rion yang menangis sembari menatap wajah lelah Hazel.
Rion menyelimuti tubuh Hazel agar tidak kedinginan karena malam ini cukup dingin.
Tinggg
"Kau didalam Hazel? aku menghubungi mu sedari tadi tapi tidak menjawab, apa kau baik baik saja adik kecil ku? jika dalam waktu 10 menit kau tidak membalas pesan ku maka aku akan masuk secara paksa"
Itu adalah isi pesan dari Mark, Mark memang sedari tadi menelpon Hazel tetapi ponsel Hazel ditangan Rion.
Tinggg
Isi pesan dari sahabat Hazel, Mia juga bersama Madk menunggu didepan gerbang rumah Rion.
"Mereka begitu menyayangi Hazel karena Hazel wanita yang baik bahkan Leon yang seperti itu saja sempat memperjuangkan cinta Hazel, lalu aku? aku yang sudah memiliki nya tidak bisa menjaga nya dengan baik"
"Maafkan aku Hazel, aku menyesal sudah memperlakukan mu layaknya bukan seorang istri. maafkan aku" lirih Rion mengecup kening Hazel.
Rion berjalan keluar dari kamar Hazel dan langsung menuruni tangga untuk menemui Mark dan Mia.
Rion berjalan menuju gerbang utama rumah nya, terlihat Mark dan Mia serta beberapa orang berbadan kekar yang bersama mereka menunggu didepan gerbang rumah Rion.
"Maaf tuan, tuan Mark dan nona Mia menunggu nona Hazel sedari tadi" ucap penjaga gerbang Rion.
"Buka" titah Rion.
Penjaga gerbang rumah Rion yang berjumlah dua orang pun langsung membuka gerbang atas perintah tuan nya.
Mark dan Mia langsung masuk dan menghadap Rion yang berdiri dengan raut datar menyambut mereka.
"Ini sudah cukup larut untuk datang berkunjung" ucap Rion.
"Dimana adik ku?" tanya Mark to the poin.
"Jangan ganggu dia, sebelum nya aku sudah memperingatkan kakak mu agar tidak bertemu dengan istri ku lagi, lalu sekarang dirimu?" ketus Rion.
"Kau menyakiti nya? berani nya kau!" bentak Mark ingin memukul Rion.
__ADS_1
"Mark jangan seperti itu" ucap Mia melerai agar tidak ada perkelahian.
"Rion, aku mohon kepada mu. kami tidak akan membawa Hazel pergi asal kami tahu keadaan Hazel baik baik saja saat ini" ucap Mia.
"Aku mohon Rion, Hazel sahabat ku satu satu nya yang aku miliki. jangan sakiti dia Rion dia seperti adik ku" mohon Mia dengan mata berkaca kaca.
"Dia sudah tidur, kalian bisa temui dia besok" jawab Rion datar.
"Kau jangan berbohong sialan! Hazel sudah menggugat cerai dirimu maka aku sebagai kakak harus membawa adik ku pulang" ucap Mark yang ingin menerobos masik tapi ditahan oleh penjaga gerbang Rion.
"Hazel, ini kak Mark!" teriak Hazel.
"Jangan berteriak atau dia akan terbangun dan menangis lagi, ikuti aku" titah Rion dan berjalan menuju rumah nya lebih dulu.
"Ayo Mark, jangan emosi seperti itu kasihan Hazel" ucap Mia.
Mereka pun mengikuti langkah Rion yang terus berjalan dan berhenti didepan pintu kamar Hazel.
Rio membuka pintu nya dan memperlihatkan pemandangan Hazel yang sedang tertidur lelap diatas kasur.
Mia langsung masuk dan mendekati sahabat nya, Mia mengecek beberapa bagian tubuh Hazel dan tidak mendapati luka sedikit pun.
"Bagaimana? apakah aku menyakiti nya?" tanya Rion.
Mia menatap kearah Mark dengan gelengan kepala pertanda bahwa Rion memang tidak menyakiti Hazel.
"Sudah puas? aku dan Hazel tidak akan bercerai sampai kapan pun, jadi silahkan kembali kerumah kalian karena Hazel sedang istirahat" ucap Rion mempersilahkan mereka untuk pergi.
"Jangan sampai ku temui lecet dibagian tubuh Hazel maka kau akan membayar nya dengan kepala mu sendiri" ancam Mark.
Mia berjalan keluar kamar Hazel dan langsung menutup pintu kamar Hazel lagi.
"Rion" panggil Mia.
"Ke balkon saja" jawab Rion dan berlalu lebih dulu menuju balkon.
"Aku akan berbicara dengan Rion sebentar saja, tunggulah ditangga" ucap Mia dan pergi menyusul Rion.
"Katakan" titah Rion setelah Mia berada disamping nya.
"Jangan membuatnya menangis lagi Rion, Hazel begitu mencintai mu. kau begitu berharga dihidup Hazel tapi kau menganggap nya seonggok sampah" ucap Mia sedih.
"Jika dia mencintaiku, dia tidak akan menggugat cerai ku" ucap Rion.
"Kesabaran seseorang ada batas nya Rion, jika tidak begini mungkin kau akan terus semena mena terhadap Hazel, titip sahabat ku dan aku percaya kepada mu karena Hazel juga percaya kepada mu" ucap Mia dan berlalu pergi.
Rion hanya diam menatap pekat nya malam dan hembusan angin malam yang cukup dingin.
Rion menatap sekilas kepergian Mark dan Mia yang terus memandang nya dari bawah.
.
.
.
Kok sepi☹️ mana ni raeders author?
__ADS_1