(Bukan) Pernikahan Impian

(Bukan) Pernikahan Impian
Party


__ADS_3

Bulan duduk termenung di bangku tunggu ruang periksa. Eyang Kakung minta diantar periksa di rumah sakit karena tiga hari ini dadanya terasa sakit.


Untuk mengisi kebosanan Bulan menghubungi Sonya. Ia mencoba mengirim whatsapp, namun hanya centang abu saja. Berkali kali mencoba menghubungi, tapi tak diangkat.


Setelah panggilan yang kesekian, barulah terdengar suara di seberang sana.


"Halo Darling..!" Sapa Sonya dengan suara centilnya.


"Halo, ke mana saja sih? Dari tadi ga diangkat-angkat." Sahut Bulan dengan omelan.


"Ini tadi sedang perpanjang paspor, lalu menjamu tamu dari jauh.." Jawab Sonya masih dengan nada centilnya.


Bulan terkikik mendengar jawaban Sonya. Ia sangat hapal dengan tingkah teman yang satu ini.


"Aku dan Mario berantem, menyebalkan. Dia bagai kerbau dicucuk hidungnya sama klien tercintanya itu. Ada penghiburan gak dari kamu?"


"Sialan, memangnya aku wanita penghibur?!" Jawab Sonya sewot.


"Ada sih, besok malam di apartemenku, aku mengadakan pesta. Ada temanku yang bersedia nge-DJ. Seru deh!" Tawar Sonya dengan gembira.


"Hmm... Boleh juga.." gumam Bulan. Walaupun bukan itu yang dimaksud penghiburan tadi.


"Aku sudah kirim ke whatsapp grup teman-teman. Tapi, besok pagi kamu bantuin aku menyiapkan keperluan party ya!" Suara Sonya bersemangat.


"Baiklah. Aku tak akan mengecewakanmu." Jawab Bulan.


"Oya, kalau ketemu kakakmu, ingatkan lagi untuk datang besok, ada urusan bisnis." Pesan Sonya.


Raka, kakak Bulan adalah pialang saham Sonya.


"Jumat malam bertemu Raka di rumah? Jangan harap deh. Gak janji!" Sahut Bulan.


"Eh, ajak juga sopir pribadimu itu ya. Bilangin ke dia, aku bisa membuatnya menjadi tuan semalam sebagai penghiburan telah menjadi sopir tanpa bayaran akhir akhir ini." Sambung Sonya sambil menyeringai nakal.


Bulan hendak membalas Sonya, tapi Eyang sudah keluar dari ruang periksa.


"Sudah, ya. Bye." Bulan buru buru menutup panggilannya, lalu mendekati Eyangnya.


"Gimana Eyang?"


"Diberi resep dan anjuran seperti yang sudah-sudah. Kurangi makanan berlemak, kurangi beban kerja, harus lebih rutin olahraga." Jawab Eyang.


"Ironis sekali. Punya tempat olahraga, tapi jarang olahraga!" Celetuk Bulan.


Eyang terkekeh.


"Eyang kan sukanya maen golf. Tapi, tempatnya jauh." Sahut Eyang.


"Huh, Eyang, kalau bisa bikin lapangan golf di area Eyang, pasti sudah dibikin!" Ledek Bulan.


"Omong-omong soal golf, hari Minggu mama papamu mau menemani Eyang dan Opa main golf. Kamu mau ikut juga nggak? Kita sekalian ke rumah Opa." Ajak Eyang.


Opa adalah sebutan kakek dari Mama Bulan.


"Boleh. Sudah lama juga, nggak bertemu Opa dan Oma. Raka ikut juga nggak?"


"Nggak. Dia malas bertemu Oma. Yang tidak bosan bosan menanyakan calon istri padanya." Jawab Eyang sambil menggelengkan kepala.


Bulan nyengir.


Kakaknya selalu malas bertemu Oma karena selalu diberondong pertanyaan mengenai calon istri. Oma juga tak kenal lelah menanyakannya. Setelah Raka, lalu giliran Bulan yang ganti diberondong pertanyaan yang sama.


Bulan mengantar Eyang pulang ke rumah, lalu ia langsung kembali ke rumahnya.


Bulan melangkah gontai ke dalam rumah. Hatinya masih menyimpan kegundahan. Walaupun dia telah menyibukkan diri seharian, tetap saja pikirannya tidak lepas dari Mario. Dan semua perbuatan yang telah dilakukannya.


Masuk ke ruang tengah, di atas meja ada sebuket bunga mawar. Bulan mengambil amplop yang terselip di sela sela bunga.

__ADS_1


Hanya kamu satu satunya.....


I love you.


Mario


Bulan terpekur, kemudian menghampiri kamar Langit.


Pintu sedikit terbuka, Langit sedang mengemasi pakaiannya.


"Loh, katamu baru bulan depan kamarmu selesai direnovasi. Kok sudah berkemas sekarang?" Tanya Bulan heran.


"Tidak apa apa, aku bisa tidur di ruang depan, yang sudah selesai." Jawab Langit sambil terus melipat dan memasukkan ke dalam tas.


Bulan beringsut duduk bersila di tepi kasur, matanya mengikuti gerak Langit.


"Oya, ada kiriman bunga tadi, buatmu." Tukas Langit.


"Ya, dari Mario. Kami berantem, dan sepertinya sebagai permintaan maafnya." Cerocos Bulan sambil mengangguk.


"Kamu maafin?"


"Ya... Gitu deh. Tapi tidak dalam waktu dekat ini. Masih gondok." Jawab Bulan sambil mengangkat bahunya.


Langit menoleh ke arah Bulan.


"Kenapa sih perempuan itu harus membuang waktu seperti itu, jika akhirnya tetap sama. Sukanya mengulur ulur waktunya?" Tanyanya.


"Begini, itu yang disebut kebijakan dari kebijaksanaan. Tingkat hukuman harus disesuaikan dengan tingkat kekesalan yang kita rasakan. Dan bukan membuang waktu, itu adalah bagian dari proses konsekuensi yang harus diterima atas perbuatan yang tidak berkenan." Cerocos Bulan tentang pengadilan cinta menurutnya.


"Hai... Kamu berantem dengan kekasihmu?" Tanya Bulan.


Langit menganguk.


"Ketahuan kamu tinggal di sini?" Tebak Bulan.


"Sebenarnya, kemarahannya karena aku sudah tidak jujur berbulan-bulan, menutupi keadaan yang sebenarnya." Ungkap Langit.


"Bahwa kamu tinggal di sini?"


Lagi lagi Langit menganguk.


Akhirnya Bulan paham alasan Langit mempercepat untuk kembali ke rumah kontrakannya.


"Langit, Sonya mengundang kita ke pestanya besok. Mau, kan? Hitung-hitung pesta perpisahan kita?" Bulan mengajak Langit ke pesta yang diadakan Sonya.


Langit menganguk pasrah.


"Jangan lupa dandan ala metroseksual ya, kamu dapat kehormatan berkencan dengan tuan rumah." Goda Bulan.


"Mumpung hubungan dengan tambatan hati sedang dalam masa tenggang." Imbuh Bulan sambil mengedipkan sebelah matanya.


Langit hanya nyengir.


***


Sonya mengenalkan teman barunya yang dari Australia, yang tengah melancong ke tanah air.


Ada Rio dan Flo yang kebagian meracik minuman. Benny yang nge-dj, dengan nama panggung DJ Ben. Mita, Maura, dan Bulan mendapat tugas "mengulurkan tangan" kepada setiap yang datang untuk dimintai sumbangan sukarela.


Berhubung berteman, memang tidak ada tiket masuk dan bisa minum sepuasnya. Dan semuanya itu tidak gratis.


Bagi yang membawa minuman atau makanan untuk pesta, akan bebas dari julukan tangan ketiga gadis itu.


Bulan sedang malas bersapa ria. Ia menekuri sekeliling apartemen milik Sonya.


Apartemen studio yang luas. Sonya hanya tinggal seorang diri, dan sering mengadakan pesta di apartemennya.

__ADS_1


"Mana kamar Sonya?" Tanya Raka, kakak Bulan yang tiba tiba sudah ada di sampingnya.


"Apa? Kamar?" Bulan terlonjak kaget.


"Dia yang suruh langsung ke kamar, mau bahas investasi. Pasti sudah mikir ngeres! Huh..!" Gerutu Raka sambil menyentil kepala adiknya.


Bulan hanya cengar-cengir.


"Ohh.. itu." Tunjuk Bulan ke sebuah pintu. Raka langsung bergegas ke tempat yang ditunjukkan Bulan.


Bulan membalikkan pandangan, Langit masuk dan mengedarkan pandangan mencari sosok yang dikenalnya. Mulut Bulan menganga. Tampilan Langit sangat memukau malam itu.


Dia menuruti instruksi Bulan untuk berpenampilan ala pria metroseksual. Rambut dibuat mencuat berantakan. Dengan kemeja slim fit, bagian lengan disingsingkan asal asalan sampai siku, celana jeans agak kebesaran melorot sampai batas pinggang.


Mita menyambutnya dengan rangkulan. Langit menunjukkan sebotol minuman impor, Mita menerimanya dan menunjuk ke arah Bulan.


Bulan melambaikan tangannya. Langit menuju ke arah Bulan.


"Wow... Kamu kelihatan..." Bulan membesarkan matanya dan menyunggingkan senyum.


"Keren maksudmu?" Sahut Langit.


"Atau, seksi, hot, yummy..." Sambungnya lagi.


"Setiap satu kata mengurangi poinnya, tau!" Balas Bulan sambil meringis.


Matanya mengamati dandanan Bulan yang mengenakan atasan model kemben dan rok menutupi setengah paha saja.


"Bahan handukku saja lebih besar daripada kedua potong bajumu ini." Gurau Langit mengomentari. Bulan hanya terkekeh.


Mereka memesan dua gelas minuman dan melakukan cheers pertamanya.


"Rani meminta break." Ujar Langit sambil menghabiskan minumannya.


"Dia benar-benar sakit hati." Sambung Langit.


"Break atau break up?"


"Entahlah. Di tengah tengahnya mungkin. Yang jelas dia bilang tidak ingin diganggu dulu. Aku tanya sampai berapa lama, dia jawab belum tahu." Sahut Langit sambil menghela napas.


"Ya mungkin lebih baik begitu, daripada langsung diputus. Aku sudah kasih tahu dia, kalau aku sudah tidak tinggal di rumahmu lagi." Imbuh Langit.


"Tapi sudah terlanjur terluka ya?" Seloroh Bulan.


Langit mengacungkan gelasnya, meminta tambah.


"Aku bantu menjelaskan tantang yang sebenarnya terjadi pada kekasihmu, ya?"


"Ah, ga usah. Ini kesalahanku yang tidak jujur ke dia." Tampil Langit.


"Oke, lupakan dulu masalah malam ini. Jangan mabuk dulu sebelum dapat undangan kencan dari Sonya." Cetus Bulan sambil memutar tubuh Langit ke arah Sonya yang datang menghampiri.


Langit bersiul menggoda. Bulan nyengir. Sonya memakai pakaian sangat seksi, kemben dengan belahan dada seksi, lalu mini pant.


"Pakaianmu lebih bagus daripada dia." Bisik Langit di telinga Bulan.


"Sepanjang yang kutahu. Kamu punya otot yang bagus, dan kamu merayuku di hari terakhir kita serumah, ya?" Goda Bulan.


Langit menyipitkan mata, Bulan terkikik.


"Hellooo teacher!" Sapa Sonya sambil terus 'menyerang' Langit.


"Kamu lebih keren daripada yang terakhir kulihat."


"Ada yang mengimingi bakal berkencan dengan tuan rumah yang luar biasa. Jadi apa salahnya tampil all-out." Sahut Langit.


Mereka tertawa bersama. Mereka menikmati pesta malam itu dengan minum dan menari dengan hentakan musik DJ.

__ADS_1


__ADS_2