(Bukan) Pernikahan Impian

(Bukan) Pernikahan Impian
Pengungkapan


__ADS_3

Satu bulan kemudian....


Bulan membuka matanya perlahan dan menggeliat tubuhnya. Mengerjapkan matanya yang masih lengket karena mengantuk.


Weekend kali ini dihabiskan dengan menginap di apartemen Sonya, yang sedang ditinggalkan oleh pemiliknya yang sibuk ke luar negeri. Entah sampai kapan dia kembali. Yang jelas Bulan saat ini mendapat akses penuh menguasai ruangan ini.


Dan itulah yang sedang dibutuhkan oleh Bulan saat ini. Dia ingin sendiri merenungi nasibnya. Setelah beberapa Minggu terakhir ini, Langit seolah semakin menjauh dari dirinya, dan Mario... Ah, sudahlah, Bulan semakin sedih jika mendengar atau membaca berita tentang Mario dan Cleo.


Bulan membasuh wajahnya supaya terlihat segar, lalu membuat secangkir kopi untuk dinikmati sambil menatap keindahan alam buatan Tuhan pagi itu.


Dari ketinggian lantai kamar apartemen Sonya, matahari akan tampak lebih jelas dan cantik. Bulan menyeret kursi malas ke dekat jendela menghadap ke timur. Lalu meletakkan gelasnya di dekat jendela, sambil mendengarkan musik dari playlist ponselnya.


Bulan duduk bersiap menyambut munculnya matahari pagi sebelum ke bawah melakukan satu hal lagi hal favoritnya setiap berada di apartemen Sonya.


Lalu sambil membaca sebuah artikel mengenai hubungan percintaan.


Batas kesetiaan itu ada di mana sih?


Pada emosi dan hasrat khusus.


Kontak fisik yang intens.


Di hati.


Selama tidak melakukan hal hal yang melukai perasaan.


Bulan mencerna perlahan semua pilihan pilihan tersebut. Bulan memikirkan kembali hubungan percintaannya selama ini. Lalu dia akhirnya menghela napas panjang sambil manyun.


Dia merasa selama ini menjadi pasangan yang tidak setia. Terlebih saat dia menjalani hubungan dengan Mario, dia melakukan hal bodoh bersama Langit, yang membuatnya terjebak dalam situasi yang seperti ini.


Sonya memang pandai dalam memilih apartemen yang memiliki view yang indah.


Yang paling Bulan sukai adalah jendela pengganti dinding pada sisi timur dan barat. Sehingga penghuni dapat menikmati indahnya matahari terbit dan terbenam.


Yang kedua adalah taman yang dimiliki apartemen ini. Tamannya indah dengan bunga bunga yang terawat segar.


Dua hal yang sangat menenangkan, apalagi jika suasana hati lagi sedang tidak bagus seperti ini.


Selain dua hal itu, hal yang favorit dari apartemen milik Sonya adalah memiliki tempat privat party. Ya, untuk hal itu hanya sebagai hiburan, bukan menenangkan.

__ADS_1


Matahari mulai menunjukkan dirinya, Bulan menyesap kopinya perlahan. Hati Bulan sedang muram. Dia sangat merindukan kebersamaan dengan Langit seperti dulu. Dia merasa kehilangan.


Benar kata Maura, pacar nggak, suami enggak.


Bulan memejamkan matanya lalu menghirup napas dalam-dalam.


"Terima kasih Tuhan, aku bersyukur mempunyai kesempatan menyaksikan keindahan alam ini. Tapi, aku juga kehilangan dia, Tuhan. Aku telah kehilangan semuanya. Dia tidak akan melihatku ada di sana untuknya. Mungkin aku terlalu bodoh, merusak indahnya pagi ini dengan perasaan sedihku."


Bulan menatap indahnya matahari terbit. Bagai telur mata sapi raksasa. Namun pandangannya kabur oleh titik air mata yang mulai mengalir di pelupuk mata Bulan.


Bulan menyeka air matanya. Lalu mengganti pakaiannya dengan pakaian olah raga. Setelan kaos celana sport berwarna pink kombinasi hitam. Mengenakan sepatu kets, bersiap untuk lari pagi di seputaran apartemen itu.


Bulan keluar dari kamar, menuju lift dan turun ke area taman.


Bulan mengembang senyum begitu tiba di taman komplek apartemen. Bulan berlari lari kecil mengelilingi taman sekitar tiga putaran saja, selebihnya, jalan kaki sambil menikmati bunga bunga yang menyemarakkan taman, terlebih yang mulai bermekaran warna warni.


"Terima kasih bunga bunga yang cantik. Kalian membuat dunia semakin terlihat cantik." Ucap Bulan dan mencium segerombolan bunga lili yang sedang mekar.


"Dan terima kasih, kamu telah membuat duniaku lebih berwarna." Ucap seseorang tepat di belakang Bulan.


Sontak Bulan terlonjak. Ia sangat mengenal pemilik suara itu. Bulan perlahan membalikkan tubuhnya melihat seseorang di belakangnya saat ini.


"Selamat pagi." Sapa Langit sambil tersenyum manis sambil memamerkan deretan giginya yang putih.


"Eh, kok bisa kemari? Ngapain?" Tanya Bulan datar, namun sorot matanya tak bisa menyembunyikan rasa gembiranya.


"Kamu pernah bilang sendiri, jika selalu ke taman di pagi hari kalau sedang menginap di tempat Sonya." Sahut Langit masih dengan raut wajah yang sama.


"Eh, maksudku, ada apa kemari? Apa ada hal yang penting."


"Sangat penting." Langit menganguk dengan raut wajah serius.


Wajah Bulan seketika berubah tegang.


"Eyang? Gimana?" Bulan panik.


"Bukan. Bukan orang lain, tapi aku." Jawab Langit.


"Kenapa kamu?" Bulan mengerutkan keningnya sambil menatap Langit.

__ADS_1


"Minta maaf."


"Minta maaf? Untuk apa?" Tanya Bulan makin tidak mengerti.


Langit mangangguk, lalu menatap wajah Bulan.


"Bulan, aku meminta maaf, akhir akhir ini aku tidak banyak bersamamu. Aku harus melakukan beberapa hal untuk masa depan. Aku harus melepaskan dan menyelesaikan beberapa hal, sehingga akhirnya aku benar benar bisa mengungkapkan ini semua ke kamu."


Bulan menyimak dengan serius semua ucapan Langit. Lalu Langit melanjutkan penuturannya.


"Aku sudah mengenalmu. Berteman denganmu, sudah pernah tidur bersama, sudah tinggal serumah, sudah menikahimu, dan aku... Aku sudah mencintaimu." Langit meraih tangan Bulan yang masih dilanda kebengongan luar biasa di pagi hari ini.


"Tapi bodohnya aku, aku belum mengatakan aku mencintaimu. Aku mencintaimu Bulan."


Bulan dilanda perasaan bahagia mendengar ungkapan perasaan Langit.


Namun, Bulan langsung mengerutkan keningnya kembali.


Langit seolah mengerti isyarat Bulan tersebut.


"Aku tadi bilang sudah menyelesaikannya. Sudah selesai. Sekarang tidak ada orang lain selain kamu, Bulan." Sahut Langit menjawab pikiran Bulan.


"Oh, aku sungguh merindukan dirimu, Langit. Aku sangat benci waktu kamu menjauhiku." Ucap Bulan sambil memeluk Langit dengan erat.


Langit mendekap kepala Bulan dan mengecup ubun ubun Bulan.


"Maaf. Itu semua aku lakukan karena aku ingin menyatakan cintaku dengan yakin dan tanpa ada beban. Maaf, ya. Aku tidak akan membuatmu merasa begitu lagi." Langit membelai lembut rambut Bulan.


"Eh, tapi kan kosmikku dan kosmikmu berbenturan." Celetuk Bulan.


"Itu karena kita belum jadian, Non. Kalau sudah jadian, kosmik kita akan jadi serasi." Jawab Langit sambil memencet hidung Bulan.


Sontak keduanya tertawa bersama.


"Jadi, kita pasangan beneran, nih sekarang. Bukan jadi jadian penuh sandiwara." Celetuk Bulan sambil bermanja pada lengan Langit. Langit menanggapi dengan nyengir.


Langit menundukkan kepala agar bisa mencium bibir Bulan. Namun, Langit segera sadar, bahwa mereka berdua saat ini jadi pusat perhatian orang orang di sekitar taman itu, karena pagi pagi sudah berpelukan dengan mesra di area umum. Akhirnya, Langit mengurungkan niatnya untuk mencium Bulan.


"Hei, mau melakukan satu hal favorit di apartemen Sonya pada pagi hari?" Tanya Bulan sambil mengedipkan sebelah matanya.

__ADS_1


Langit menyeringai lebar, sambil mengangguk.


__ADS_2