(Bukan) Pernikahan Impian

(Bukan) Pernikahan Impian
Mengurai Benang Kusut


__ADS_3

Sepulang dari kantor, Bulan langsung melajukan mobilnya ke rumah orang tuanya. Tadi Mama menelpon, memberitahu bahwa Eyang tidak jadi ke kantor karena sakit. Meeting yang sudah terjadwal akhirnya ikut batal.


"Lan, sebaiknya jangan bertemu Eyang dulu deh. Dia masih... Tahu sendiri kan?" Cetus Mama.


"Aku cuma ingin menjenguk, ingin tahu keadaan Eyang." Sahut Bulan.


"Mama ngerti. Mama hanya khawatir pikiran Eyang kembali tidak tenang kalau bertemu dengan kamu. Karena sesungguhnya, cuma kamu yang Eyang pikirin. Maksud mama... Tentang kejadian itu." Terang Mama.


Wajah Bulan menjadi muram mendengar keterangan Mama. Disodorkannya tas plastik yang dipegangnya kepada Mamanya.


"Buah untuk Eyang. Bilang saja Mama yang beli. Biar dia mau makan." Lalu Bulan beranjak mau pergi.


"Bulan." Panggil Mama lembut.


"Apa, Ma?" Sahut Bulan.


"Mama dan Papamu pelan-pelan memberi pengertian dan membujuk Eyang untuk mau memaafkan dan melupakan kejadian itu. Tapi, kamu tahu sendiri, Eyangmu keras kepalanya minta ampun. Apalagi yang diributkan masalah kehormatan, harga diri, apalah itu.." Ucap Mama masih dengan nada yang sama.


"Terima kasih, Ma. Untuk tidak membuatku makin tersudut."


"Apapun kesalahanmu, selama kamu menyesalinya, mama dan papamu akan menganggap itu berlalu. Cuma sedikit masa lalu, masih banyak yang lebih baik di depan." Lanjut Mamanya sambil membelai punggung putrinya itu.


Bulan menatap mamanya. Di balik ketusnya, dan kecerewetannya, mama tetaplah seorang ibu yang takkan tega melihat anaknya sedih terus menerus. Bulan memeluk erat mamanya sebelum kemudian pulang.


Di depan rumah ia berpapasan dengan Raka yang baru datang.


"Nah, ini dia tokoh bulan ini. Ayo, aku ingin mendengar semuanya langsung darimu. Mana kunci mobilmu?" Todong Raka sembari menggeret adiknya.


"Apaan sih?" Bulan menepis tangan kakaknya.


"Aku ingin mendengar versi lengkap darimu." Ucap Raka.


Raka menghidupkan mobil Bulan, dan melajukannya.


Raka mengajak Bulan keluar menuju ke Starbucks di dekat rumah.


"Jadi apa yang terjadi sebenarnya?" Tanya Raka menyelidik.


"Ya seperti yang sudah kamu dengar dari orang rumah." Jawab Bulan dengan malas. Disambut tawa oleh Raka.


"Malam itu sepertinya kamu baik baik saja."

__ADS_1


"Tidak. Hubunganku dengan Mario sedang tidak baik baik saja saat itu. Dia bagai bertekuk lutut dengan kliennya yang ternyata mantan tunangannya dulu. Lalu Sonya mengajakku ke pestanya seperti biasa. Dan selebihnya kamu pasti telah mendengar semuanya." Cerocos Bulan pada kakaknya.


"Lalu pria itu?"


"Langit?" Jawab Bulan, Raka mengangguk.


"Langit temanku. Dia butuh tumpangan sementara selama rumah kontrakannya direnovasi. Lalu Sonya mengundangnya juga untuk datang malam itu. Kebetulan hubungannya dengan kekasihnya juga sedang bermasalah." Terang Bulan.


"Aku masih tak bisa mengerti, bagaimana bisa kamu berakhir di ranjang bersama lelaki itu." Raka menggelengkan kepalanya sambil menyeringai menatap adiknya.


Bulan hanya mendengus kesal menatap kakaknya itu.


"Jadi ibarat seperti listrik, hubungan singkat arus listrik menimbulkan kebakaran. Nah seperti itulah yang sedang kamu alami saat itu. Hubungan pendekmu, memicu kebakaran jenggot semuanya." Celetuk Raka sambil terkekeh. Menambah suram wajah Bulan yang kesal dengan celetukan kakaknya.


"Eyang dengan seenaknya menyuruhku menikah dengan Langit. Demi harga diri dan kehormatan keluarga. Belum lagi tamparan Eyang. Rasanya masih membekas di sini." Ucap Bulan sambil menunjuk dadanya.


"Emang enak jadi cucu kesayangan!" Ledek Raka.


Bulan hanya menatap kesal kakaknya itu.


Untung saja saat itu ponsel Raka berbunyi yang membuatnya harus buru buru bertemu klien kembali.


Bulan mengantar Raka pulang ke rumah, lalu ia menuju kembali ke rumahnya.


Sembari menyetir dengan kecepatan yang tidak diinginkan, yang diinginkan sebenarnya mengebut, tapi apa daya kini ia terjebak kemacetan ibu kota.


Teringat dia akan teori listrik dari Raka dan celetukannya membuatnya bertambah kesal.


"Kapan sih, dia dewasanya?" Gerutu Bulan sambil terus menyetir tanpa memperhatikan kalau dia telah melewati rumahnya sendiri.


"Eiittt... Kelewat. Bodoh!" Rutuk Bulan saat menyadari ia telah melewati rumahnya sendiri. Lalu ia memundurkan mobilnya pelan menuju rumah.


Ternyata di depan pagar sudah ada seseorang yang telah nangkring di atas motor menunggu sambil menyeringai geli.


"Kok bisa lupa rumah sendiri?" Kikik Langit.


Bulan meringis.


"Ngelamun. Eh, sudah nunggu lama?" Tanya Bulan. Sambil turun dari mobilnya.


"Aku tadi lagi tidak memperhatikan jalan. Aku terlarut dalam kesendirian." Gurau Bulan sambil terkikik geli sendiri.

__ADS_1


"Lan, aku sedang memikirkan hubunganmu dengan Mario. Jika hubungan kalian sampai hancur gara gara aku. Aku bakal sangat merasa bersalah." Ucap Langit sambil menatap Bulan lekat lekat.


Bulan hanya menghela napas dalam dalam lalu menghembuskan perlahan. Matanya menerawang ke arah depan. Mereka duduk bersebelahan di teras.


"Aku belum ketemu. Belum bilang apa apa..." Ucap Bulan lirih.


"Kalau ingin menghajarku atau membunuhku, kasih tahu saja alamatku, oke?" Sahut Langit.


Bulan hanya tersenyum, kemudian raut wajahnya kembali serius.


"Aku menimbang nimbang, mungkin aku tidak perlu mengatakan apa apa pada Mario. Seperti dia tak pernah mengatakan apapun tentang Cleo. Tapi, entahlah, aku belum tahu harus bagaimana." Bulan menghembuskan napasnya.


"Memang dia beneran ada apa apa dengan Cleo?"


Bulan mengendikkan bahu.


"Insting perempuan." Lalu ia menoleh ke arah Langit. "Kamu sendiri dengan Rani bagaimana?"


"Aku tak berharap banyak lagi. Mungkin lebih baik putus. Lebih baik bagi dia." Jawab Langit.


"Hah?!" Bulan mengerutkan keningnya, masih menatap Langit tak percaya.


"Dalam kasusku, aku memutuskan untuk tidak mengatakan apa yang telah kita lakukan pada Rani. Hubunganku sudah buruk dan aku tidak mau menambah kebenciannya padaku." Ucap Langit.


Bulan hanya terdiam dan menerawang ke depan mendengar Langit berbicara.


"Jangan kamu samakan dengan hubungan kalian. Prinsip, cara berpikir, dan caraku memandang hubungan cinta antara aku dan Rani tentu berbeda denganmu dan Mario." Imbuh Langit.


Bulan menghela napas, matanya masih menerawang.


"Kalau diingat-ingat, yang kemarin itu kesalahan, kekhilafan sudah membuat semua jadi runyam. Aku dengan Mario dan Eyang. Kamu dengan Rani."


Langit menatap Bulan dan menatapnya.


"Bulan, apakah kamu terluka? Sakit hati karena aku, tentang yang telah kita lakukan?" Tanya Langit dengan hati hati pada Bulan.


"Kalau aku sakit hati, sudah dari tadi aku menendangmu sampai ke neraka." Jawab Bulan asal.


Langit meringis, lalu menyenggol siku Bulan.


"Hei, semua kekacauan ini jangan ditambah dengan kerenggangan di antara kita ya. Karena cuma itu hal baik yang kupunya selain keluarga." Ucap Langit lagi.

__ADS_1


"Jika terus saja terpaku memikirkan dan menyesali itu, kapan kita bisa maju melanjutkan hidup. Meskipun, untuk kesalahan itu berarti kita harus siap menerima segala konsekuensinya. Begitu, kan?" Sahut Bulan menatap Langit.


__ADS_2