(Bukan) Pernikahan Impian

(Bukan) Pernikahan Impian
Aku menunggumu


__ADS_3

Hari hari Mario sekarang sangatlah terasa seperti roller coaster, naik turun perasaannya. Makan tak enak, tidur pun tak nyenyak. Jatuh cinta dan patah hati bedanya tipis. Jika jatuh cinta, wajah selalu dihiasi senyum. Namun, jika patah hati, wajah terlihat muram. Ya, yang jelas saat itu Mario tengah mengalami patah hati fatal. Semua terasa salah menurutnya. Bawaannya uring-uringan atau sebaliknya, sendu berat cenderung melow.


Kemunculan Cleo kembali dalam hidupnya yang sempat menggoyahkan pertahanan dirinya, sekarang tidak memberikan rasa apa apa lagi. Padahal mantan tunangannya itu menambah porsi curahan perhatian dan materi. Yah, mungkin kini Mario telah ambruk, sehingga tidak perlu goyah lagi.


Mario melajukan mobilnya, keluar dari parkiran kantor. Saat itu belum jam pulang dan beberapa laporan juga belum ia selesaikan. Tapi, rasa suntuknya tak tertahankan.


Biasanya jika jam jam suntuk dan membosankan seperti itu, ia berada di depan laptopnya, sambil mengirimkan whatsapp pada Bulan untuk menghilangkan rasa suntuk dan bosannya. Terkadang ia akan tertawa sendiri membaca pesan yang ditulis oleh kekasihnya itu.


Mario menguap sambil terus melakukan mobilnya. Kemudian ia menyalakan sebatang rokok untuk kesekian kalinya. Lama kelamaan pikiran kembali melayang menjauhi jalanan aspal tempat ia melajukan kendaraannya saat ini. Ia melamun sambil menyetir mobil.


Tiba tiba satu gerakan sangat cepat di depannya tanpa jarak. Mario terkesiap kaget. Lalu dengan gerakan refleks kakinya yang berada di atas pedal rem, langsung diinjaknya.


BRUUUKKK...


Terdengar dentuman tubuh menabrak moncong depan mobilnya. Untung saat itu tidak ada kendaraan lain di belakang mobil Mario.


Mario dengan sigap keluar dari mobilnya untuk memeriksa keadaan orang yang ditabraknya dengan wajah kesal ingin meluapkan kemarahannya karena berlari mendadak.


Namun, Mario sangat terkejut menatap orang yang terjatuh di depan mobilnya. Begitu juga orang yang di tabrak yang tadi. Kini dengan posisi setengah berdiri, terkejut pula menatap Mario.


"Langit..?!"


Kemarahan Mario seakan menghilang saat mengetahui orang itu.


"Lho, Mario." Langit tak kalah terkejutnya.


"Kamu tidak apa apa? Ngapain berlari di tengah jalan? Ceroboh sekali!" Cecar Mario sambil mengangkat kedua tangan menghadap ke atas, ujung alis kanan dan kiri sudah menjadi satu.


"Maaf, maafkan. Aku harus segera ke tempat kejadian secepatnya." Sahut Langit cepat.


"Tempat kejadian?" Sela Mario. Yang terlintas dalam benaknya adalah Bulan. Kerena setiap melihat Langit, yang terkoneksi di otaknya adalah sosok Bulan.


"Anak didikku dikeroyok preman di ujung jalan sana!" Jawab Langit.


"Oh.. Ayo kuantar ke sana." Mario menawarkan diri untuk membantu.


Mereka bergegas naik mobil.


"Dia sedang jalan ke tempat biasa kami belajar. Tidak jauh dari sini." Terang Langit sambil kepalanya celingukan mengawasi sepanjang jalan.


"Nah itu dia!" Tunjuk Langit.


Sampai di tempat kejadian, hanya ada seorang bocah lelaki tersungkur babak belur. Entah berapa preman yang menghajarnya. Dari kepalanya keluar banyak darah.


"Coba aku datang lebih awal." Sesal Langit. Langit meraih tubuh bocah itu dan menatapnya dengan sedih. Mario diam tak berkedip.


"Kita harus ke rumah sakit." Ujar Langit seraya melepas jaketnya untuk menekan pendarahan di kepala. Bocah itu dalam keadaan setengah sadar, matanya setengah redup, sebentar lagi pingsan.

__ADS_1


Mereka berdua membopong bocah itu ke dalam mobil dan segera membawa ke rumah sakit. Kaos yang dikenakan Langit terkena noda darah. Begitu juga kemeja yang dikenakan Mario.


Mereka segera membawa bocah itu ke ruang gawat darurat untuk segera ditangani.


"Dia masih anak anak, masih di bawah umur, kerja di jalanan yang hasilnya tidak seberapa. Eh, uangnya malah dipalak pemalas pemalas yang tidak punya motivasi hidup secara benar!" Gerutu Langit dengan geram.


"Dia pintar matematika. Dia tadi pasti dalam perjalanan tempat belajar kami." Gumam Langit saat menunggu dokter memeriksa dan mengobati anak tersebut.


Di pangkuan Langit ada buku lecek milik si bocah.


"Terima kasih atas bantuannya. Kamu tidak perlu menunggu di sini. Bisa aku tangani sendiri." Ucap Langit sambil menoleh ke arah Mario.


" Tidak apa apa. Kalian butuh tumpangan untuk pulang." Sahut Mario.


"Sekali lagi, terima kasih banyak." Balas Langit. Lalu kemudian mereka terdiam. Meredakan lelah.


"Mario.."


Mario menoleh saat namanya dipanggil.


"Maaf." Sambung Langit.


"Maaf?" Mario mengernyitkan keningnya.


"Iya, untuk semua kekacauan yang telah terjadi. Kamu dan Bulan." Terang Langit.


"Maaf, aku tidak bisa memaafkan kamu." Sambung Mario.


Langit mengehela napas.


"Yaaahhh. Aku tahu." Sahut Langit lemah.


"Bulan dan aku sepakat untuk tetap hidup masing masing."


"Apa kamu bilang?" Mario terkejut dan sontak menatap Langit.


"Bulan belum mengatakan ke kamu?" Tanya Langit.


Mario menggelengkan kepala.


"Aku tetap menghuni kamar belakang, seperti dulu. Hubungan kami tidak berubah, tetap berteman." Langit menjelaskan lebih lanjut.


"Tetap saja, kan? Dulu kamu juga di kamar yang berbeda, tapi kalian tidur bersama." Seloroh Mario sinis.


"Itu kesalahan. Aku tidak akan membiarkan diriku mabuk di rumah Bulan lagi. Lain kali lebih baik aku tidur di jalan." Tutur Langit dengan nada bersungguh-sungguh.


"Dia mencintaimu sampai detik ini. Dia sedang kalut sekarang. Hanya kamu yang bisa menyentuh hatinya Mario." Sambung Langit menatap Mario.

__ADS_1


Mario terdiam memikirkan semua ucapan Langit saat itu.


Tak lama dokter menemui mereka mengatakan bahwa bocah itu saat ini baik baik saja. Mario dan Langit mengantar pulang bocah itu di area kumuh yang terletak tak jauh dari rumah sakit itu. Setelah itu Mario mengantar Langit kembali ke kontrakannya.


Lalu ia melajukan mobilnya ke suatu tempat untuk menanyakan kebenarannya.


TOK.... TOK... TOK...


Bulan baru saja pulang dan menutup pintu. Lalu kini ada yang mengetuk pintu. Ia membukanya kembali.


Ia terperanjat Mario kini di depannya, dengan kemeja terkena darah.


"Mario! Kamu berdarah! Ya ampun!" Bulan memegang erat tubuh Mario panik dan memeriksa seluruh tubuh Mario.


"Oh, bukan, bukan! Ini darah orang.." Jawab Mario.


Seketika Bulan menghentikan segala gerakannya.


"Apa maksudmu? Kamu..?" Wajah Bulan tegang.


"Oke, biar aku jelaskan, tapi biarkan aku masuk."


Bulan memberi jalan supaya Mario masuk.


Mario menceritakan kejadian yang baru saja dialaminya. Bulan menghela napas panjang.


"Jadi, Langit nekat mendatangi preman preman itu sendirian, tanpa bantuan, terus dia yang kepalanya bocor karena dikeroyok..?" Tebak Bulan, dengan nada prihatin.


Ada kilatan cemburu pada sorot mata Mario.


"Bulan, Langit bilang... Kalian akan hidup sendiri sendiri..." Tanya Mario langsung pada intinya.


"Oh, eh.. hmmm... Ya..." Bulan tergagap. Dalam hati ia merutuki Langit yang membuka rahasia mereka.


"Hei, aku masih cukup pintar untuk tidak menceritakan ke orang lain." Celetuk Mario membaca kekhawatiran Bulan.


"Dia hanya ingin bilang bahwa di antara kalian memang tidak ada perasaan apa apa." Lanjut Mario yang lantas menggeser posisinya hingga dapat meraih tangan Bulan.


"Aku memutuskan untuk tetap mempertahankanmu." Ucap Mario seraya menatap Bulan, sehingga membuatnya terpana dengan apa yang baru saja ia dengar.


"Apa..?" Bulan menatap mata Mario tak berkedip untuk meyakinkan dirinya.


"Aku ingin kamu tetap di sisiku, Lan. Paling tidak sampai aku siap untuk merelakan kamu pergi. Beri aku waktu untuk mempersiapkan perasaanku." Mario tak lepas menatap Bulan untuk meyakinkan dirinya maupun Bulan.


Bibir Bulan terkatup rapat. Ia menatap Mario tanpa kedip sekali lagi. Lalu ia memeluk lelaki yang selalu ada dalam hatinya itu.


Rasanya sangat lega.

__ADS_1


__ADS_2