(Bukan) Pernikahan Impian

(Bukan) Pernikahan Impian
Sulit Melepaskan


__ADS_3

Setelah menimbang dan mempertimbangkan dengan matang dan mantab, akhirnya Bulan memutuskan untuk membuat perjanjian pranikah dengan Langit.


Bulan membolak-balik tubuhnya di atas ranjangnya, matanya tak bisa terpejam malam itu. Ia mengambil ponselnya. Ia menatap nama Mario pada layar ponselnya, hanya menatapnya, ia melirik ke arah jam weker yang ada di meja kecil samping ranjang, sudah pukul satu dini hari. Lalu diletakkan kembali ponselnya.


Lalu diambilnya lagi, dan ia menekan sebuah nama, Langit.


Dering ketiga panggilan dijawab.


"Halo, Lan. Ada apa?"


"Oh, ha-halo ya..."


"Kamu di mana? Kamu baik baik saja?"


"Ya, aku baik baik saja saat ini. Apakah kamu besok dapat mampir ke rumah untuk membicarakan perjanjian sebelum kita menikah, supaya untuk kedepannya kita lebih mudah melakukan yang terbaik bagi kita masing-masing. Dan kamu tidak perlu bingung soal biaya pengacara. Aku telah menunjuk Tantenya Maura sebagai pengacara kita untuk mengurus itu semua." Ucap Bulan dalam satu tarikan napas.


Sejenak Langit terdiam.


"Halo... Langit... Kamu masih di sana?"


"Ya... Oke. Besok aku akan mampir ke rumahmu."


"Sampai jumpa besok."


"Ya."


Bulan menutup panggilannya. Lalu ia menghela napas dalam-dalam dan menghembuskan perlahan. Ia lega, Langit tidak banyak menanyakan apa apa padanya. Hanya menjawab oke.


Sebelum jam makan malam, Langit telah tiba di kediaman Bulan mengendarai sepeda motornya. Bulan menyambut kedatangan, lalu mempersilahkan langsung ke ruang makan.


Bulan menjamu dahulu tamunya dengan hidangan yang ia pesan dari kafe Area Olahraga dan Bermain. Mereka menikmati makan malam mereka dengan tenang. Sebelum Bulan menyampaikan maksud dirinya mengundang Langit malam ini untuk datang seperti yang ia katakan di telpon kemarin.


"Sure. Kapan aku harus ke kantor pengacaramu?" Sahut Langit datar menanggapi rencana Bulan mengenai perjanjian bersama sebelum menikah.


"Ini sudah?" Tanya Langit sambil menunjuk piring Bulan.


Bulan mengamat amati ekspresi Langit, apakah ada perasaan tersinggung tersirat pada wajahnya.


"Heh, Lan?" Ulang Langit membuyarkan lamunan Bulan.


"Eh, biar aku cuci sendiri punyaku." Bulan tersadar.


"Biar aku saja, sekalian." Tukas Langit sambil mengambil piring di hadapan Bulan.


Langit membawa piring ke tempat cucian piring, dan mencucinya.


"Kamu tidak mau membahas isinya terlebih dahulu?" Tanya Bulan.


"Aku percaya kamu sajalah. Aku serahkan semua padamu." Jawab Langit enteng sambil mencuci piring.


Langit sudah terbiasa berlaku seperti rumah sendiri di rumah Bulan.


"Langit, jujur, aku jadi tidak enak kalau kamu sepasrah itu. Ini menyangkut hidup dua orang. Aku dan kamu. Bukan aku saja." Ucap Bulan serius.

__ADS_1


"Aku percaya yang kamu lakukan juga untuk kebaikanku, jadi santai saja." Sahut Langit.


"Ngit, kamu merasa bersalah, kan, sehingga kamu mau saja diperlakukan apa pun. Ayolah, Ngit, aku tidak ingin kamu begitu. Ini bentuk tanggung jawab terhadap apa yang telah kita lakukan, bukan hukuman. Jadi berhentilah bersikap kayak pesakitan seperti itu." Tutur Bulan sambil menatap Langit.


"Bulan..."


"Kamu bilang aku bisa minta bantuanmu, jadi please..." Sela Bulan sambil menatap punggung Langit dari kursi meja makan.


Langit mencuci tangannya, lalu mengeringkan, dan menoleh menatap ke arah Bulan. Lalu duduk tepat di depan gadis itu.


"Baiklah. Ayo kita buat poin poinnya." Ucapnya.


Bulan tersenyum, lalu menyodorkan kertas dan pena.


"Mulai dari mana? Soal dua ruang, berhak menjalin hubungan dengan orang lain, atau pembagian tugas beresin rumah?" Cetus Langit nyengir.


Bulan meninju bahu Langit pelan.


"Yang serius dong!" Seru Bulan.


"Hhmmmm... Apa ya... Oya, poin dariku gini, selama jadi suami aku tidak perlu bayar sewa kamar dan semua hutangku dihapus." Langit manggut-manggut memasang tampang pura pura serius.


"Aahhh... Sudahlah! Kapasitas otakmu memang terlalu kecil untuk membuat poin poin yang lebih bermutu.." Gerutu Bulan dengan pasrah sambil memonyongkan bibirnya.


***


Dua Minggu sudah Mario tidak bertemu Bulan. Ini memang kemauannya sendiri. Bahkan ia telah memesan tiket untuk pergi ke Labuhan Bajo untuk menenangkan diri di sana, hingga acara perhelatan besar Bulan selesai.


Tapi hari ini, ia sudah tidak tahan lagi. Rasa rindunya pada Bulan seolah tak terbendung lagi. Karena selain karena rindu, pertemuan ini akan jadi pertemuan terakhir.


Mario menghubungi Bulan untuk mengajaknya minum kopi bersama sebelum ia pergi ke Labuhan Bajo dan sebelum hari pernikahan Bulan.


Mario menghembuskan napas panjang. Pandangannya berulang kali diarahkan ke luar jendela kafe itu, tepat di jalan orang masuk dan keluar dari kafe. Pikirannya selalu tertuju pada Bulan.


Selama absen menemui Bulan, terjadi pergolakan di hati Mario. Antara rasa cinta dan keinginan untuk menyerah. Akhir-akhir ini keinginan menyerah menguasai pikirannya. Dan malam ini, tiga hari sebelum Bulan mengubah statusnya di mata dunia, satu hari sebelum ia berangkat ke Labuhan Bajo.


"Mungkin aku memang harus mengakhiri semua ini." Gumam Mario sambil berpikir keras dan penuh kebimbangan.


"Hai!" Sapa Bulan memecah lamunan Mario.


Sejenak Mario tergagap dan menyambut kedatangan Bulan.


"Aku sudah pesan untuk tidak usah dandan cantik hari ini!" Celetuk Mario.


"Aku sudah tidak dandan kok." Tampil Bulan.


"Berarti kamu memang selalu cantik." Timpal Mario seraya meraih Bulan dalam pelukannya.


Bulan tersenyum senang dan membalas pelukan Mario erat. Mario mencium wajah Bulan. Mario dan Bulan memilih tempat di sudut kafe itu untuk duduk dan menikmati kebersamaan mereka.


"Sudah lama kita gak ketemu. Aku rindu." Ucap Mario lirih. Bulan menatap Mario dan memberi kecupan pada bibir pria itu.


Sesaat kemudian seorang pelayan datang mencatat pesanan, dan tak lama kembali mengantar pesanan mereka.

__ADS_1


"Besok aku ke Labuhan Bajo." Tukas Mario.


"Ya, aku tahu, dan aku akan kehilangan kamu." Sahut Bulan.


"Aku juga akan kehilangan kamu." Balas Mario.


"Kamu mau kan kembali padaku?" Tanya Bulan sambil menatap wajah Mario lekat lekat.


Jantung Mario berdebar. Pertanyaan Bulan seolah memberi isyarat bahwa gadis itu merasakan kebimbangan hatinya.


"Tak perlu bertanya seperti itu?" Elak Mario menghindar jawaban ya atau tidak.


Tiba tiba Mario berdiri sambil menggaet tangan Bulan. "Ayo!" Ajaknya.


"Loh?" Bulan hanya melongo dan mengikuti pasrah kemana Mario akan membawanya.


Setelah ia membayar di kasir, Mario mengajak ke luar dari kafe itu.


"Kita akan jalan jalan seharian, terserah mau ke mana." Tukas Mario sambil menggenggam erat tangan Bulan.


"Bener nih?" Tanya Bulan kurang yakin, karena Mario bukan tipe orang yang betah berjalan berjam-jam seharian tanpa tujuan yang pasti.


Mario menganguk mantap dan yakin.


Bulan mengajak ke tempat yang dulu tidak pernah mau disinggahi oleh Mario, ke arena bowling.


Bulan menantang Mario untuk bermain bowling, hingga Bulan bosan.


Setelah itu Bulan mengajak Mario ke sebuah toko pakaian pria dan memilih kemeja dan suspender untuk asesorisnya. Meskipun Mario tak suka, ia hanya pasrah saat Bulan menyuruhnya keluar masuk kamar pas untuk mencoba pakaian yang dipilihnya.


Setelah berbelanja untuk Mario, Bulan menarik tangan kekasihnya itu ke tempat bermain game yang ada di mall. Bulan mengajak bermain basket, balap motor dan mobil, naik bom-bom car, hingga bermain war game bersama sama.


Mario tersenyum geli. Matanya tak pernah lepas menatap Bulan. Inilah alasan kenapa ia berinisiatif untuk mengajak jalan-jalan. Hanya supaya ia puas melihat Bulan melakukan hal-hal yang disenanginya. Belum tentu besok besok ada hari seperti itu.


Hari sudah gelap kala mereka mengakhiri kebersamaan. Mario mengantar Bulan ke parkiran mobilnya.


"Lain kali kita luangkan waktu seharian seperti ini ya. Terserah kamu ingin ke mana." Tukas Bulan sebelum masuk ke mobilnya.


Sekali lagi dada Mario bergemuruh. Dia hanya tersenyum karena tak yakin apa akan ada lain kali.


Dan seandainya memang tidak ada lain kali, dia tidak akan mengatakannya sekarang. Dia tak ingin merusak akhir kebersamaan hari ini.


"Mario." Panggil Bulan dari balik kemudi sesaat setelah menghidupkan mesin mobil.


"Kita akan baik baik saja." Ucapnya.


Mario mengecup kening Bulan lewat jendela mobil yang terbuka lebar.


"Hati hati!" Ucap Mario.


"Kamu juga. Kalau sudah balik ke Jakarta kabari ya."


Mario menganguk, lalu Bulan melajukan mobil pergi dari hadapan Mario. Yang masih termangu di sana.

__ADS_1


Mengakhiri kebersamaan dengan indah seperti tadi ternyata membuat dirinya sulit untuk melepaskan gadis itu.


__ADS_2