(Bukan) Pernikahan Impian

(Bukan) Pernikahan Impian
Langit Kecelakaan


__ADS_3

"Halo." Jawab Bulan perlahan.


"Bulan? Istri Langit?" Terdengar suara laki laki di seberang sana.


"Iya, saya Bulan. Ini siapa?"


"Saya Egi, temannya Langit. Begini... Langit.. mengalami kecelakaan."


"Haaahhh....!!" Pekik Bulan terkejut.


"Di mana? Parah nggak? Sekarang dia ada di mana?!" Sambung Bulan masih dengan nada suara keras dan terkejut bercampur cemas.


Tanpa sadar dia memajukan tubuhnya. Raut wajahnya tegang, sehingga Mario menoleh menatapnya.


"Ba-bagaimana bisa?" Ucap Bulan tanpa sadar.


"Langit terlibat pengeroyokan. Dia membela salah satu anak didik kami yang dikeroyok preman. Lalu dia ditusuk salah satu preman itu." Cerita teman Langit.


"Lalu sekarang di mana?"


"Dia kini ada di rumah sakit Umum, sedang dalam penanganan." Jawab teman Langit.


"Baik. Terima kasih." Bulan menutup panggilan ponselnya. Wajahnya pias, penuh kecemasan.


"Mario, maaf, aku tidak bisa ikut. Langit di rumah sakit." Ucap Bulan lirih, dan tak enak.


"Kenapa dia?" Tanya Mario yang ikut terkejut.


"Kata temannya dia dikeroyok preman, gara garaembela anak didiknya. Dia... Ditusuk salah satu preman." Bibir Bulan bergetar. Kedua tangannya menutup wajahnya.


Kemudian dia menoleh ke arah Mario.


"Mario, maafkan aku. Aku harus ke rumah sakit sekarang."


"Oke. Aku antar kamu ke sana." Ujar Mario kemudian.


Raut wajahnya sangat tegang, namun, Bulan tak terpikirkan untuk menelaah ekspresi Mario saat itu.


Pikiran Bulan seketika kalut saat itu. Dia lalu menghubungi orang tua Langit, lalu menghubungi Mama dan papanya. Mereka sepakat tidak memberitahu dulu pada Eyang supaya tidak cemas.


Selama perjalanan menuju rumah sakit yang lumayan jauh, Bulan tidak dapat duduk dengan tenang. Tidak sabar untuk cepat sampai. Mario berusaha tenang, tidak menampakkan emosi apa pun.


Mereka telah sampai di depan lobi rumah sakit. Mario membantu menurunkan traveling bag milik Bulan.


"Lan, aku nggak bisa mengantarmu ke dalam. Banyak keluargamu dan keluarga Langit di sana." Ucap Mario.

__ADS_1


"Iya. Tidak apa-apa. Terima kasih ya atas tumpangannya. Dan maafkan aku, semuanya nggak sesuai rencana jadinya." Sahut Bulan sambil meremas lengan Mario.


Mario menganguk lemah. Lalu ia masuk ke mobilnya. Ia sempat melihat Bulan lari tergesa-gesa masuk ke dalam lobi rumah sakit. Dada Mario sesak.


Kejadian barusan menyadarkan Mario.


"Aku sudah kehilangan kamu, Bulan." Gumamnya.


Cinta yang sesungguhnya


Mampu mengiklaskan seseorang


Melepaskan perasaan cinta


Mencintai tanpa paksaan dan tanpa sandiwara


- Bulan -


Di rumah sakit, mama dan Lili sudah tiba lebih dulu.


"Bulan!" Panggil Mama cemas. Ada dua teman Langit berada di sana. Salah satunya segera menyongsong Bulan.


"Saya Egi. Langit sedang dioperasi."


"Gimana kejadiannya?" Imbuhnya kemudian.


"Langit berusaha menolong Imam, salah satu murid kami. Dia sekarang sedang dirawat juga. Dia nggak sengaja menabrak preman mabuk dengan skateboard. Imam dihajar, kemudian Langit datang, menolongnya. Lalu mereka berantem. Lalu datang teman teman preman itu, dan mereka mengeroyok. Salah satunya dari mereka ada yang membawa pisau dan menusuk Langit. Imam lalu lari mendatangi kami." Cerita Egi.


"Astaga! Ya ampun! Ya ampun!" Bulan menutup mulutnya dengan tangan sambil menggelengkan kepalanya.


"Dia luka parah." Kata Mama sembari merangkul Bulan. Bulan hanya bisa berkata astaga dan ya ampun berkali kali sementara tangannya memegangi dada, syok.


"Kenapa hanya masalah sepele gitu jadi parah gini?" Tanya Bulan.


"Dunia anak anak kami di jalanan memang keras. Kami sebagai pendidik mereka mau tak mau ikut merasakannya." Tukas Egi serius.


Selanjutnya mereka diam. Menunggu. Kedua teman Langit kemudian pamit karena masih harus mengurus persiapan acara perkemahan.


Papa Bulan tiba lime belas menit kemudian.


Lili menceritakan kembali kepada beliau tentang apa yang telah terjadi.


Bulan duduk melamun, masih menunggu. Sedangkan mamanya, secara naluri, menatap sambil meneliti keadaan anaknya saat itu.


"Penampilannya kasual tapi rapi, sandal santai, celana jeans, kaos oversize, make up tipis, dan wangi parfum. Masih segar. Aneh?

__ADS_1


Lalu tas besar itu..! Apa isi ya?"


Mengingat berita musibah yang menimpa Langit sangat mendadak, sepertinya tidak cukup banyak waktu menyiapkan diri dan berdandan serapi itu. Atau Bulan memang sengaja mau pergi? Ke mana dia tanpa suaminya dengan tas besar itu?"


Si mama berusaha keras untuk tidak bersikap menyelidik di saat seperti ini, tapi pertahanannya tidak sekuat imannya.


"Kamu sudah siap dengan pakaian Langit?" Tanya Mama sambil menunjuk tas besar di lantai.


Bulan yang masih bermain dalam lamunannya hanya menatap mamanya sesaat bengong. Lalu menoleh ke arah tas besar miliknya.


"Oh.. itu, bukan! Itu bajuku, aku harus menginap di sini." Otak Bulan langsung beraksi dengan cepat setelah sadar.


"Aku menunggu operasi Langit selesai dulu, baru balik ke rumah ambil keperluan hariannya." Tambahnya sigap.


"Lebih baik kamu pulang sekarang, biar kaki yang menunggu di sini. Jadi, nanti kalau Langit sadar, kamu sudah ada di sini." Saran papa.


Bulan mengangguk setuju.


"Li, temenin aku, ya!" Pinta Bulan.


Lili lalu menggaguk.


Mereka lalu segera bergegas keluar dari rumah sakit.


"Untung mama nggak tanya tanya aku ke mari dengan apa? Huh, akan aku buat bungkam si asisten mama, supaya membantu diriku." Gumam Bulan.


"Li, ntar pakai mobil mama ya! Tadi aku kemari dengan taksi online soalnya." Ucap Bulan berbohong.


"Sudah deh Nek, ga usah bohong sama aku. Kamu tadi sama cowok itu kan?"


"Ssttt! Tolong jangan bilang-bilang sama mama ya!" Bulan langsung menaruh telunjuknya di bibir.


Setelah perjalanan sekitar sepuluh menit, mereka tiba di rumah Bulan.


Baru beberapa jam ditinggal, Bulan merasakan atmosfer yang sama sekali berbeda kala masuk ke rumah.


Rumah terasa kosong, padahal dahulu dia terbiasa dengan hal itu.


Sekarang setelah dia terbiasa berbagi, berkompromi, bertukar argumen, bekerja sama. Bersama Langit, sesuatu yang besar menjadi kecil, sesuatu yang kecil menjadi tidak ada. Langit adalah sosok yang ringan tangan. Ia dapat menenangkan dirinya dari stres karena pekerjaannya, dan juga saat sedang ada masalah dengan Mario.


Bulan menghela napas sejenak, lalu menuju kamar Langit. Baru kali ini dia membuka lemari dan memilah Milah perlengkapan lelaki itu. Bulan mengambil traveling bag dan mulai berkemas. Sisir, gel rambut, deodorant, parfum. Langit selalu wangi. Iseng dia membuka laci. Bulan tertegun.


Ada foto Langit dan Syaharani berdua, dan foto Syaharani seorang diri. Entah datangnya dari mana, Bulan merasa dadanya bergemuruh melihat foto foto tersebut.


"Aduh, kenapa sih dengan aku ini!" Rutuk Bulan sambil menepuk kepalanya menyadarkan diri. Ia lalu bergegas membereskan sisa barang. Kemudian dia berangkat kembali ke rumah sakit dengan mengendarai mobilnya. Lili mengikuti dari belakang dengan mobil mamanya.

__ADS_1


__ADS_2