
Bulan akhirnya dapat bernapas dengan lega usai menanda tangani perjanjian penyelenggaraan turnamen basket antar sekolah menengah atas sekota Jakarta, mendapatkan piala Gubernur. Lokasi pertandingan adalah di arena basket yang ia kelola.
Event besar ini adalah permulaan, jika sukses, maka akan dijadwalkan menjadi agenda tahunan rutin.
Area outbound anak anak kini berkembang menjadi tempat rekreasi keluarga. Sangat ramai dikunjungi saat akhir pekan, terutama musim liburan.
Bulan terlihat sibuk mengurus beberapa hal untuk persiapan event turnamen basket yang akan diselenggarakan bulan depan.
Bulan selalu mondar-mandir untuk mengadakan meeting dengan panitia pelaksana, yang merupakan team khusus yang dibentuk sebagai event organizer dalam pelaksanaan turnamen, mulai dari promosi, pencari dana pelaksana, pendaftaran, saat lomba berlangsung, hingga selesai acara.
Siang ini, dia telah sampai di sebuah restoran, janjian makan siang dengan Mario. Bulan memarkir mobil, lalu menuju pintu masuk restoran. Di sana tampak Mario telah menunggu kedatangan Bulan, lalu membimbing masuk menuju tempat yang telah ia pesan.
"Jadi, kemarin ada acara apa? Sepertinya sibuk sekali, sampai susah dihubungi!" Tanya Mario setengah merajuk.
"Mama Papa mengundang makan malam, ada Oma, Opa, dan Eyang juga." Jawab Bulan. Ia sengaja tak menyebut nama Langit supaya tidak menyinggung perasaan Mario.
"Oh. Acara apa?" Tanya Mario.
"Makan malam biasa saja sih. Eh, lalu gimana kerjaan kamu? Yang kemarin sudah deal?" Bulan mengalihkan pembicaraan.
"Ya, Cleo sudah deal dua penthouse, satu apartemen, dan satu town house. Lalu ada beberapa klien yang memesan beberapa unit rumah dan town house. Beberapa hari kemarin aku sibuk, jadi tidak bisa menemani makan siang. Tapi hari ini, aku ada di sini. Aku merindukanmu, Bulan." Kalimat akhir yang Mario ucapkan membuat jantung Bulan, berdesir.
Mario menggenggam jemari Bulan, meneguhkan perasaan masing masing. Lalu mereka menikmati makan siang.
"Aku pulang dulu, dua puluh menit lagi meeting dengan pihak panitia acara." Pamit Bulan sambil bersiap untuk berdiri.
Mario bergegas ke kasir untuk membayar makan siang mereka. Lalu mengantar Bulan hingga ke mobilnya.
"Hati hati!" Ucapnya sambil mengecup kening Bulan melalui jendela mobil yang terbuka.
Lalu Bulan menganguk sambil tersenyum.
"Terima kasih, Mario." Ucapnya, sambil menjalankan mobil hingga keluar dari area restoran itu.
***
Pagi itu, Bulan terbangun dari tidurnya. Merasakan tubuhnya terasa dingin sekali, ia menarik kembali selimutnya yang tebal. Lalu menunggu beberapa saat supaya dinginnya berlalu.
Bulan lalu terbangun setelah sekitar dua jam berlalu. Ia menuju kamar mandi, dan hanya untuk beberapa saat saja menghabiskan waktu dalam kamar mandi. Selesai mandi, ia langsung mendekam lagi dalamnkamar berselimut tebal.
__ADS_1
Bulan tepar, tubuhnya ambruk, dan sakit. Bulan kelelahan. Selama satu hampir dua Minggu ia maraton kerja, mempersiapkan turnamen yang diselenggarakan di area olahraga milik Eyang, lalu memenuhi acara keluarga, baik dari keluarganya maupun keluarga Langit. Lalu jadi tuan rumah, ngumpul bareng teman teman, dan kencan dengan Mario.
Tubuhnya terasa sangat lemah sekali. Matanya terasa berat dan hanya mau terpejam saja. Bulan mengambil ponselnya dan menghubungi Langit. Ia berharap Langit masih berada di rumah, dan bisa segera membantunya.
"Ya, kenapa Lan?" Tanya Langit saat mengangkat panggilan Bulan.
"Kamu di mana?" Tanya Bulan lirih.
Sejenak, Langit termangu. Ini anak kenapa? Ya aku kan sudah di sekolah, kerja! Kok masih tanya?
"Aku sedang mengajar." Ucap Langit sambil bisik bisik, supaya tidak menggangu muridnya Yang sedang mengerjakan soal latihan.
"Aku sakit." Ucap Bulan lemah.
"Astaga! Kamu sudah minum obat? Sudah makan?" Cecar Langit.
"Belum. Ini masih di tempat tidur. Gak kuat buat jalan keluar kamar." Sahut Bulan masih dengan nada lemah.
"Tunggu, sekitar tiga puluh menit ya. Aku akan pulang."
"Hah...?!"
***
Bagaimana tidak? Pasalnya setelah ia menghubungi Langit pagi itu, mengabari bahwa dirinya sakit. Langit memaksanya ke dokter, yang membuatnya harus menelan obat yang kini hanya teronggok di meja.
Lalu tekanan darah Bulan yang mengkhawatirkan rendahnya. Ya, mengkhawatirkan Langit, bukan Bulan. Bulan sudah pernah mengalami ini sebelumnya, jadi dia merasa tidak terlalu cemas.
Langit selalu dan tidak pernah bosan mengingatkan untuk meminum obatnya supaya segera lekas pulih. Bahkan karena mengetahui bahwa Bulan malas malasan minum obat, membuat Langit bela belain untuk menghitung jumlah obat yang tersisa.
"Astaga, Langit! Kenapa sih sampai segitunya? Nanti pasti aku minum obatnya." Gerutu Bulan saat Langit tetap memaksa sambil menunggu hingga ia meminum obat yang telah diberikan oleh dokter.
Akhirnya Bulan menurut juga. Ia segera mengambil beberapa butir obat yang telah disediakan oleh Langit, dan mengambil gelas yang telah terisi penuh air. Ia meminum pil pil itu satu persatu hingga habis. Langit menatapnya sambil tersenyum puas.
"Apa kamu nggak mau sembuh? Sampai akhirnya ketahuan mama papamu?" Tanya Langit usai Bulan meminum obatnya.
Iya sih, kalau dipikir-pikir, Bulan ogah ketahuan sakit dari orang tuanya. Jika sakit di bawa pengawasan mamanya, membuatnya tak nyaman. Sangat tidak menentramkan jiwa. Rasanya lebih baik menjual jiwa dari pada berada dalam cengkraman sang mama.
"Iya, tapi kalau kamu gini gini amat, kamu tuh gmnggak jauh beda sama mama! Kamu mau disamain sama ibu ibu cerewet?" Balas Bulan sambil cemberut, sebal.
__ADS_1
Saat Maura menghubungi, menanyakan kabar, karena mengetahui Bulan sakit. Bulan malah dibuat lebih cemberut lagi.
"Namanya suami, wajar dong kalau cemas sama istri sendiri." Celetuk Maura setelah mendengar keluh kesah Bulan saat menceritakan perlakuan Langit yang over protektif padanya.
"Kamu sama saja, bikin sebel!" Sahut Bulan sambil cemberut.
Maura hanya terkikik geli.
"Tapi yang lebih menyebalkan lagi adalah batal merayakan ulang tahun rame rame, nih. Aku jadi makin sedih!" Keluh Bulan.
Untuk meredakan kebetean dan kebosanannya, Bulan menghabiskan waktu dengan bermalas-malasan di atas tempat tidur. Sebentar memejamkan mata, karena pengaruh obat, membuatnya akhirnya tertidur.
Bulan dibangunkan oleh suara nyaring panggilan dari ponselnya.
"Hai, Sayang, aku bebas siang ini. Mau makan siang bareng?" Suara Mario menyusup di telinga Bulan.
Ah ya, Mario belum mengetahui bahwa Bulan tepar saat ini. Yah... Karena Mario tidak menghubunginya selama tiga hari ini.
"Aku lagi nggak ngantor, nih, Mario. Aku tepar! Kecapean." Ucap Bulan.
"Kamu sakit?" Terdengar ada kekhawatiran suara Mario.
"Iya." Jawa Bulan singkat.
"Kenapa nggak bilang bilang?" Nada suara Mario cemas. Bulan merasa senang mendengarnya.
"Nggak apa apa sih. Cuma disuruh banyak istirahat. Makanya, kamu jangan lupa istirahat. Jangan kebanyakan kerja!" Bulan malah menceramahi Mario.
Mario terkekeh mendengar ucapan Bulan.
"Baik Bu. Terus, kamu jadi merayakan ulang tahun sama teman teman?" Tanya Mario.
"Hmmmm. Kayanya nggak jadi deh! Aku nggak boleh ke mana mana." Ucap Bulan sambil menghela napas berat.
"Ya sudah, kamu istirahat saja dulu. Lekas sembuh ya, Sayang. Bye."
"Bye.."
Mario termangu setelah menutup panggilan ponselnya.
__ADS_1
"Bulan sedang sakit, dan tak kemana mana, kalau begitu, aku akan memberinya kejutan untuk hari ulang tahun besok." Gumam Mario.