(Bukan) Pernikahan Impian

(Bukan) Pernikahan Impian
Mencari Bahagia


__ADS_3

"Kamu tidak sadar, bahwa kamu adalah orang yang menyenangkan?" Tanya Doni.


"Sadar sih, tapi kan tidak mungkin mengakuinya secara terang terangan." Sahut Bulan sambil bergurau.


Doni terkekeh mendengar ucapan Bulan.


"Hoohh.. tidak!" Celetuk Bulan tiba tiba dengan mulut ternganga. Padahal dia baru saja memasukkan piza dalam mulutnya dengan ukuran maksimal.


Sontak Doni jadi kehilangan setengah dari selera makannya karena melihat cara Bulan makan.


"Bagaimana kalau aku juga mengambil hati Langit, sama seperti keluarganya itu? Gawat!" Celetuk Bulan.


Doni sontak langsung mengernyitkan keningnya, membaca mimik muka Bulan.


"Kami ini bercanda atau serius?" Tanya Doni hati hati.


"Ya, bercandalah!" Sahut Bulan sambil tergelak tertawa terbahak-bahak.


"Hei, bagaimana kalau itu benar terjadi?" Doni balik bertanya dengan raut wajah serius.


Bulan terdiam, lalu melongo menatap Doni.


Selang beberapa detik kemudian Bulan tertawa terbahak bahak meneruskan yang tadi.


"Heh! Nggak sopan di depan orang tertawa keras dengan mulut penuh makanan! Malu maluin saja!" Tegur Langit tiba tiba dengan lantang tepat di belakang kursi Bulan.


Bulan terkesiap kaget hingga tersedak. Ia megap megap seperti ikan koki terlempar dari akuarium. Ia kesulitan bernapas, sehingga membuat Langit dan Doni jadi kelabakan.


"Air, air!" Ucap Langit meminta pada Doni.


Bulan meneguk sampai habis gelas air yang disodorkan oleh Doni.


Ia dapat bernapas dengan lega kembali setelah itu.


Setelah keadaan tenang. Langit dan Doni baru tergelak menertawakan Bulan. Bulan hanya nyengir saja melihat mereka menertawakannya.


"Kelakuan kalian ini, ada ada saja!" Ucap Doni sambil geleng geleng kepala.


"Nggak heran kalian pernah melakukan sesuatu yang jauh lebih heboh daripada ini." Sambung Doni.


Sontak wajah Bulan terasa panas. Ia berkehendak. Tanpa diduga, Langit yang berdiri di belakang Bulan yang masih duduk. Langit menunduk, merangkulkan tangan ke leher Bulan, lalu menempelkan dagunya ke ubun-ubun Bulan, lantas berujar. "Dia luar biasa!"


"Hhhaahh..!!" Mulut Bulan menganga. Ia sontak berdiri melepaskan diri dari Langit yang iseng sekali malam itu. Langit sampai terhuyung ke belakang dan wajah Bulan memerah.


"Huhhh! Kalian ini, ngerjain aku! Menyebalkan!" Gerutu Bulan sambil mendengus kesal.


Langit tertawa terbahak-bahak dan mengedipkan sebelah matanya pada Doni yang ikut tertawa.

__ADS_1


Setelah beberapa jam mereka mengobrol bersama Doni malam itu. Akhirnya, Langit dan Bulan permisi pulang.


Saat hendak berpisah, Doni melongok Bulan dan Langit yang berada di dalam mobil.


"Kalian harus bahagia, dengan cara kalian masing-masing." Ucapnya sambil tersenyum.


Ucapan terakhir Doni seketika menyentak Bulan. Sehingga kata kata tersebut terngiang-ngiang terus selama perjalanan.


"Kalian harus bahagia!"


Rasanya sudah lama sekali tidak ada yang menyuruhnya untuk hidup bahagia.


Seakan seabad yang lampau Bulan pernah membahas tentang kebahagian.


Waktu itu ada yang bilang cinta yang dapat menciptakan kebahagiaan. Bulan sendiri saat itu, berpendapat panjang lebar.


Ia berpendapat bahwa kebahagian itu dipisahkan menjadi dua jenis. Yaitu, bahagia yang dangkal dan kebahagiaan yang mendalam atau hakiki.


Kebahagian dangkal biasanya berkaitan dengan materi seperti bahagia saat mendapat hadiah, atau mendapat barang yang bagus. Tapi, tidak semua. Materi juga bisa memberikan kebahagian mendalam, seperti yang dapat digunakan untuk menolong yang sedang membutuhkan. Intinya materi sebagai tujuan kebahagiaan berakhir dangkal.


Materi sebagai alat untuk memperoleh kebahagiaan mendalam akan lebih baik.


Kebahagiaan mendalam lebih bersifat emosional dan spiritual. Seperti, terpenuhinya kebutuhan akan mencintai dan dicintai. Penemuan makna hidup, dan tercapainya tingkat spiritual yang diharapkan.


Masalahnya adalah karena manusia itu hidup di dunia fana, jadi kadang kadang ada hal hal duniawi yang mempengaruhi dan akhirnya kebahagian pun terusik.


Dan pada saat itu Sonya menganggap pendapat Bulan hanya omong kosong yang rumit saja.


"Bahagia itu ya happy, senang! Jika kamu senang, berarti kamu bahagia!"


Ya sesederhana itu pendapat dari Sonya. Sahabat yang hidupnya terasa bahagia terus.


Kata orang cinta yang bisa membuat orang bahagia. Bulan melirik ke arah Langit yang masih fokus mengemudi.


Dan kini, Langit bersamaku yang membuatnya nggak bisa menemukan cinta sejatinya.


Bulan dihinggapi rasa bersalah.


"Langit, kamu ingin apa?" Tanya Bulan tiba tiba.


"Hah?" Langit terbengong mendengar pertanyaan Bulan.


"Ayo, ngomong saja. Aku ingin bikin kamu bahagia malam ini." Ucap Bulan sambil menatap Langit.


Tentu saja yang dimaksud Bulan adalah kebahagiaan yang dangkal, karena itu yang bisa dia berikan sekarang.


Dengan tangan kanan tetap memegang kemudi, tangan kiri Langit menjulur memegang dahi Bulan.

__ADS_1


"Nggak panas! Kok bisa ngomong aneh gini, ya?" Celetuk Langit.


Bulan memajukan bibirnya, cemberut dan menepis tangan Langit.


"Aaahh...! Aku kan cuma ingin berbuat baik, setelah kamu membuat aku happy di ulang tahunku kemarin."


"Kamu happy waktu itu?" Selidik Langit.


Bulan menganguk. Ya, terlepas dari permasalahannya dengan Mario.


Langit memandang Bulan kurang yakin. Ia hendak menanyakan soal Mario, tapi ia urungkan saja.


"Hmmm, aku memang lagi ingin sesuatu." Ucap Langit kemudian.


"Apa?" Bulan menatap Langit dengan serius.


"Bisakah, kita melakukan.. hhmm itu lagi?" Sahut Langit.


PLAKK..


Bulan memukul bagian belakang kepala Langit dengan telapak tangannya sambil mendengus kesal.


"Aduh! Kekerasan dalam rumah tangga!" Seloroh Langit.


Bulan mencibir dan menggosokkan kedua telapak tangannya.


Langit mengarah mobil ke sebuah mall. Iamlalu menggiring Bulan menuju sebuah konter pakaian khusus pria.


"Dari beberapa hari yang lalu aku ingin beli kemeja itu." Tunjuk Langit pada sebuah model kemeja yang digantung, lalu menoleh ke Bulan.


"Aku bakalan bahagia benget malam ini kalau bisa beli kemeja itu!" Ucap Langit.


"Ya sudah, kamu ambil gih! Aku kan sudah janji." Sahut Bulan sambil tertawa.


Saat keluar dari kamar pas untuk menunjukkan kemejanya saat dikenakan, tahu tahu Langit sudah memadukan dengan suspender.


"Pasti keren berdiri di depan murid seperti ini." Ucap Langit sambil bergaya.


Bulan mengacungkan dua jempolnya. Ia menghela napas dalam-dalam. Ia mengingat waktu, hari di mana ia dan Mario menghabiskan waktu hanya berdua melakukan hal yang menyenangkan. Ia ingin Mario seperti hari itu untuk seterusnya, bukan hanya sehari itu.


"Astaga! Apakah aku membuat kamu seterpesona itu, ya? Sampai sampai kamu terbengong bengong!" Seru Langit keras keras. Bulan yang duduk bengong tersentak.


"Eh, aku sedang mempraktekkan reaksi murid-murid melihat kamu sekeren ini." Tangkis Bulan sambil terkekeh.


Langit terbahak.


"Aku senang malam ini. Terima kasih." Ucapnya dan mengulurkan tangan memegang ubun ubun Bulan.

__ADS_1


Bulan hanya meringis, merasa kikuk, jika suasana sudah mulai mengarah pada hal sentimentil seperti ini.


__ADS_2