
Dua hari menjelang pernikahannya, Bulan masih berkutat di kediaman orang tuanya untuk mengecek segala sesuatunya.
Undangan sudah disebar, pihak wedding organizer juga sudah melaporkan soal tempat, acara dan urusan konsumsi juga sudah beres. Urusan make up dan pakaian diserahkan pada Maura.
Mama juga sibuk dengan saudara lain yang datang dari luar kota. Raka pun juga kebagian tugas mengurus tamu tamu dari luar kota itu.
Bulan dengan gusar bersiap siap untuk pergi, pulang ke rumahnya, sebelum mama mengoceh lebih panjang lagi.
"Bulan, acaramu besok lusa, dari pada bolak balik, lebih praktis tinggal di sini. Lebih hemat waktu dan tenaga." Cerocos Mama.
"Tapi, Ma.."
"Tidak ada tapi tapian, jangan keras kepala!" Ucap Mama dengan keras sambil melotot ke arah Bulan.
Gara gara urusan baju seragam untuk acara ada yang terselip jadi ribet begini. Sedangkan Maura, dihubungi tidak bisa dari tadi.
Mama ingin segera cepat terselesaikan dengan bantuan Bulan, sehingga dia harus sampai malam di rumah orang tuanya.
Bulan mendengus kesal.
"Mama sih yang keras kepala, dibilangin besok saja, mendesak terus!" Keluh Bulan dalam hati.
Sebenarnya dan yang paling sebenarnya alasan Bulan enggan berlama lama di rumah orang tuanya adalah berinteraksi dengan Eyang. Bukan benci, bukan...
Bulan tidak pernah bisa membenci Eyang tersayangnya itu. Dia hanya merasa jengkel pada Eyang.
Sudah lama ia tidak merasa jengkel seperti itu. Terakhir perasaan yang hampir sama dialaminya saat awal awal kuliah dahulu. Waktu itu dia pulang ke rumah subuh dalam keadaan teler diantar kekasihnya yang keadaannya tidak jauh berbeda dengannya, sama sama teler.
Eyang menyaksikan langsung tingkah Bulan saat itu, lalu sederet hukuman menantinya kemudian.
__ADS_1
Yang paling menyebalkan adalah Bulan harus putus dengan kekasihnya. Jika tidak Eyang akan menarik semua kartu kredit yang diberikan padanya.
Tentu saja saat itu Bulan lebih memilih kartu kredit, dari pada kekasihnya. Tapi itu dulu. Saat dia masih culun. Sejak itu, dia kapok. Kapok kepergok lagi saat habis dugem. Sejak itu, jika kemalaman dia akan memilih menginap di rumah teman dan tidak pulang.
Yang sekarang kadar jengkelnya di atas jengkel yang dulu itu. Bagaimana Eyang Kakung menyikapi kejadian dirinya dan Langit menyadarkan Bulan tentang adanya satu poin baru yang selama ini tak pernah diketahuinya mengenai Eyang.
Bahwa bagi Eyang masih ada satu hal yang bisa mengalahkan perasaan kasih dan sayang, yaitu kehormatan dan harga diri.
"Kenapa menyelamatkan muka lebih penting Eyang? Kenapa tidak menerimaku apa adanya?" Bulan selalu menanyakan itu dalam hatinya.
Bulan terhenti sejenak saat melihat Eyang duduk termenung di bangku panjang teras samping. Bulan memandang dari dalam rumah. Lalu memutuskan untuk menghampirinya.
Bulan duduk di sebelah Eyang, tapi tidak mengucapkan apa pun untuk beberapa menit. Eyang menoleh ke arahnya.
"Eyang hanya mencari jalan terbaik. Semua ini untuk kebaikanmu." Gumam Eyang.
"Aku tahu, Eyang." Sahut Bulan lirih. Sejujurnya dia pun tidak tahu. Hanya mencoba menyenangkan Eyang saja.
"Dulu, Eyang memberimu nama Bulan, karena Eyang ingin gadis kecil Eyang tumbuh menjadi seperti Dewi malam, yang memiliki kehormatan dan harga diri yang tinggi. Dan dapat menyinari dalam kegelapan. Eyang Putri yang memilihkan nama itu untukmu." Ucap Eyang.
Tenggorokan Bulan tercekat.
"Eyang Putri pasti sedih di sana mengetahui ini."
Bulan termenung. Rasanya dadanya bergemuruh, air matanya mulai berkumpul di pelupuk, siap untuk tumpah.
Buru buru dia berpamitan pada Eyang, lalu ia pulang menuju rumahnya.
Ia sangat sedih mendengar Eyang Kakung mengatakan bahwa dirinya telah membuat Eyang Putrinya sedih.
__ADS_1
Bulan merasa sangat bersalah dan sedih, dalam perjalanan pulang ia menumpahkan air matanya.
Eyang Kakung dan Eyang Putri adalah segala-galanya baginya saat ini.
***
Pesta pernikahan Bulan dan Langit diselenggarakan dengan sederhana tanpa mengundang banyak orang. Hanya keluarga dan teman dekat saja. Itu keinginan Bulan, yang akhirnya dapat terealisasi berkat bantuan Tante Irene yang dapat melobi dan meyakinkan Mamanya bahwa itu hanyalah sebuah pesta. Intinya tetap sama. Doa dan harapan terbaik bagi pasangan baru itu.
Dan tak lupa berkat jasa Maura juga dapat dilaksanakan pesta yang terasa mewah dan megah meski sederhana.
Wedding organizer juga berperan penting dalam acara itu, dan Maura yang sibuk berurusan dengan pihak WO.
Bulan dan Langit telah mengucap janji setia dan disaksikan oleh keluarga dan teman teman.
Setelah acara akad, di sebuah tempat yang outdoor di sebuah restoran. Acara dilanjutkan di tempat yang sama. Hanya acara makan bersama dan foto foto. Untuk acara hiburan, mereka memakai jasa band yang disediakan oleh pihak restoran itu.
Bulan mengenakan kebaya rancangan desainer terkenal berwarna putih tulang, rambut disanggul modern kekinian, membuat wajah Bulan terlihat anggun seperti seorang bangsawan.
Langit mengenakan jas berwarna abu tua, dengan dalaman kemeja putih, celana bahan berwarna abu tua juga. Untuk pakaian Langit, Maura memesannya dari butik langganannya. Langit hanya tersenyum saat menerima paket berisi pakaian lengkap untuk acara pernikahannya dari Maura.
Untuk keluarga seragam menggunakan pakaian berwarna pastel yang soft untuk yang perempuan, sedang bagi pria memakai kemeja dan jas.
Bulan dan Langit mengumbar senyum sepanjang acara tersebut. Mereka tak banyak bicara satu sama lain karena sibuk meladeni para tamu yang datang dari pihak keluarga maupun teman.
Semua keluarga menikmati semuanya, teman teman Bulan dan Langit juga. Sonya dengan heboh juga datang ke pesta itu mengajak teman prianya yang berbeda lagi. Bahkan menyumbang suaranya untuk pesta itu.
Hanya Mama yang seolah tidak terima hanya diadakan pesta kecil itu. Mama hanya duduk dan menatap dengan lesu acara hiburan yang diadakan saat pesta.
Eyang tersenyum menatap cucunya yang berada di pelaminan saat itu. Beberapa petuah dan doa terucap dari Eyang saat mereka sungkem tadi.
__ADS_1