(Bukan) Pernikahan Impian

(Bukan) Pernikahan Impian
Ajakan Liburan Berdua dari Mario


__ADS_3

TOK .. TOK... TOK...


Langit menggedor pintu kamar mandi.


"Ya...!" Sahut Bulan yang ada di dalam kamar mandi.


"Lan, hape mu bunyi! Mau diterima atau nggak?" Balas Langit.


"Dari siapa?" Seru Bulan.


Langit meraih ponsel Bulan yang tergeletak di meja dapur. Ia menghela napas sejenak saat membaca nama yang muncul di layar ponsel.


"Dari Mario!" Teriak Langit.


Bulan membuka sedikit pintu kamar mandi dan menjulurkan tangan meminta ponselnya.


Lima menit kemudian, Bulan telah keluar dari kamar mandi dengan buru buru, menyudahi ritual mandinya.


Handuknya membungkus rambutnya yang masih basah, lalu berlari keluar rumah. Saat itu Bulan hanya mengenakan kaos kedodoran dan celana kolor saja.


"Mau apa, Mario pagi pagi datang ke mari? Apakah dia akan menyudahi hubungan karena kekecewaannya kemarin?"


Terlihat mobil Mario sudah terparkir di depan rumah Bulan. Bulan bergegas menuju ke mobil itu, lalu membuka pintu mobil dan duduk di jok kiri.


Mario menatap dengan nanar pada rambut Bulan yang basah, lalu handuk dikalungkan di leher menutupi pundak.


"Aku harus bilang langsung ini." Tukas Mario. Seketika membuat jantung Bulan berdetak dengan kencang.


"Aku sudah memesan cottage di Pulau Anyer. Kita berangkat Sabtu depan." Ucap Mario sambil menatap wajah Bulan, yang matanya kian membesar.


Tak ayal mata Bulan berubah menjadi berbinar.


"Maksudmu, kita akan berlibur ke sana?" Tanya Bulan tak percaya.


Mario menganguk meyakinkan Bulan sambil tersenyum.


"Temanku juga menyewa cottage di sana. Dia akan membuat acara Hawaiian Night." Ucap Mario menerangkan.


"Sungguh?" Teriak Bulan tak bisa menyembunyikan kegembiraannya.

__ADS_1


"Iyes..!" Mario mengedipkan sebelah matanya.


"Mario, ini semua sungguhan? Dan kamu tidak marah?"


Mario menatap Bulan dengan tatapan lembut.


"Tidak. Dan aku ingin besok kita dapat menikmati kebersamaan kita kembali " ucapnya.


Senyum Bulan mengembang sangat lebar. Ternyata Mario tidak secuek itu. Mario tidak lagi kecewa tentang tenggat waktu yang tempo hari. Hati Mario memang seluas lautan samudera lepas. Buktinya, pagi ini ia memberi Bulan kejutan yang manis seperti ini. Itu yang sangat disukai Bulan dari kekasihnya.


Bulan langsung mencium bibir Mario, lalu memeluk erat kekasihnya itu sebagai ucapan terima kasih dengan perasaan terharu.


Tepat saat Bulan melepas pelukannya dari Mario, sebuah mobil yang tidak asing sedang menuju ke arah rumahnya. Sontak mata Bulan melotot.


"Mati aku! Mama datang! Aduh..!" Bulan langsung diserbu dengan segala kepanikan, lalu meloncat keluar dari mobil.


Dari mobil yang baru datang itu keluarlah Mama dan Lili. Mamanya langsung menatap tajam pada Bulan yang berdiri di dekat pintu mobil yang belum tertutup, dan juga menatap tajam panuh selidik pada Mario yang masih berada di belakang kemudi. Bulan yang berkalungan handuk, rambut acak-acakan, kaos, dan celana kolor kedodoran tak luput dari perhatian Mama yang penuh selidik ala detektif.


"Ngapain di dalam situ? Kok nggak ke dalam rumah? Siapa dia?" Tanya Mama dengan nada tinggi penuh selidik.


Mario lalu keluar dari mobil dan menganggukkan kepala ke arah Mama Bulan. Lili mengerutkan keningnya, berusaha mengingat di mana dan kapan dia pernah bertemu dengan pria itu?


Lili tadi sempat menangkap siluet tubuh Bulan melepaskan pelukan dari pria itu. Untung saat itu Mama sedang menoleh ke arah belakang meraih kotak berisi makanan untuk Bulan di jok belakang. Saat itu Lili bahkan sudah mengambil ancang-ancang mengalihkan perhatian Mama Bulan kalau Bulan berbuat lebih jauh yang dapat membuat Mama mencak mencak.


"Selamat pagi, Tante, saya hanya sebentar." Tukas Mario sambil tersenyum dengan ramah pada mama Bulan.


"Mana suamimu?" Tanya Mama dengan suara tegas tanpa senyum.


Bulan melirik Mario, melihat reaksinya takkala mendengar kata suamimu dari mama. Mario hanya melengos.


"Di dalam, Ma." Jawab Bulan sambil menelan ludah.


Lili mulai ingat. Mulutnya menganga lebar, untung saat itu dia tidak keceplosan, hanya menutup mulutnya dengan tangannya.


"Astaga! Ini pria yang makan siang bersama dengan Bulan waktu itu. Ya ampun! Jangan jangan mereka benar ada apa apa? Bulan harus segera diselamatkan dari situasi ini!" Ucap Lili dalam hati.


"Ma.." Lili memanggil Mama Bulan dengan sebutan Mama juga.


"Yuk, kita ke dalam saja. Biar mereka menyelesaikan urusan penting mereka. Waktu kita juga sudah mepet juga, sebentar lagi harus kembali balik ke lokasi." Rayu Lili sambil menarik dengan agak memaksa tangan Mama supaya masuk ke rumah.

__ADS_1


Tepat saat itu, Langit keluar dari dalam rumah.


"Pagi Mama, Lili." Sapa Langit.


Langit menghampiri kerumunan. Lalu ia menatap ke arah Mario.


"Hai!" Sapa Langit ke arah Mario sambil melambaikan tangan. Mario membalas lambaian tangan Langit dengan kikuk. Temperatur tubuh Bulan saat itu sudah tidak karuan.


"Beneran nih, nggak masuk dulu?" Tegas Langit pada Mario. Langit merapat di samping Bulan. Sebelah tangannya merangkul bahu Bulan. Tak pelak Mario dan Bulan terkejut. Untung Bulan segera tanggap dengan adegan itu. Mereka mulai mahir berakting secara spontan dalam segala kondisi. Sedangkan Mario masih melongo melihat adegan itu.


"Di sedang buru buru banget. Makasih loh, Mario, sudah diusahakan." Timpal Bulan. Tubuhnya bergerak maju agar lepas dari rangkulan Langit. Tapi, tangan Langit masih nangkring di bahu Bulan, bahkan kian erat, seakan tak mau melepaskan Bulan.


"Sialan!" Rutuk Bulan dalam hati sambil mendengus kesal pada Langit.


"Oh, Oya, iya, tentu." Sahut Mario dengan tak jelas. "Oke, aku permisi dulu. Mari semua." Ucapnya berpamitan. Raut wajahnya merah padam antara malu, kesal, serba salah.


Lalu Mobil Mario pun melaju dan hilang di tikungan komplek.


Lili bengong. Mama sudah tidak menyelidik lagi. Bulan menghela napas lega. Dan Langit, hanya senyum senyum kecil.


Di dalam rumah, Bulan menyeret Langit ke kamar dan menutup pintunya. Dia tak ingin Mama dan Lili mendengar suara mereka.


"Ngapain sih kamu pakai acara keluar tadi?" Protes Bulan dengan suara tertahan.


"Hei, aku mencoba menyelamatkan kamu. Mamamu sudah terlihat curiga." Sahut Langit.


"Terus ngapain pakai acara ngrangkul ngrangkul segala, ih!"


"Nggak bisa lihat apa? Mamamu itu sudah curiga."


"Mamaku itu, mencurigai semua hal di dunia ini!" Tampik Bulan dengan kesal.


"Dan kamu sudah sukses membikin Mario keki." Imbuh Bulan sambil mendengus kesal.


"Menurutmu apa aku nggak kelihatan keki juga, harus sok mesra denganmu di depan kekasihmu itu?" Balas Langit sambil menatap Bulan.


"Hhhheeeerrrgghh.....!" Bulan hanya bisa menggeram dengan kesal. Ia lalu keluar dari kamar dan menemui Mama dan Lili.


Langit masih tersenyum mengingat kejadian tadi. Entah dalam hatinya ada perasaan senang saat itu.

__ADS_1


__ADS_2