(Bukan) Pernikahan Impian

(Bukan) Pernikahan Impian
Pesta Ulang Tahun Bulan


__ADS_3

Langit masih berkutat dengan pemanggangan, baik ikan, ayam, dan aneka sate ala ala yakitori yang berisi udang, baso, sosis, dan nanas.


Sebenarnya, Langit merasa jengah dicecar pertanyaan oleh Sonya tentang hal pribadinya dengan Bulan. Ia ingin segera menghentikan obrolan dengan Sonya mengenai hal pribadi dengannya.


Langit terbatuk-batuk sesaat akibat menghirup asap Bakaran yang semakin mengepul dan . mengeluarkan aroma khas campuran antara bumbu bakaran, dan aneka makanan.


"Kamu ke mana saja selama ini, sampai sampai menghilang dari peredaran, dan membuat Bulan kangen seperti itu?" Tanya Langit membanting arah pembicaraan, membelokkan nya.


"Ada teman di Belanda yang menikah. Kerena betah di sana, ya sekalian aku puasin tinggalnya. Sekarang gantian aku yang jadi pemandu beberapa kenalan dari Belanda yang ikut ke Indonesia." Jawab Sonya sambil melayani beberapa teman yang meminta ikan bakar dan aneka sate.


"Wow.. kamu sebenarnya layak diangkat jadi duta pariwisata!" Seru Langit seraya bersiul.


Sonya tertawa mendengar ucapan Langit. "Nggak juga lah, Aku nggak begitu tahu banyak tempat wisata di Indonesia. Aku baru tahu Bali, Lombok, Labuhan Bajo, dan Sumba. Ini aku juga lagi cari cari agen wisata semacam tour agent yang bagus buat mereka, untuk memandu keliling Indonesia." Sahut Sonya kemudian.


Sejenak Langit menghentikan aktivitasnya. "Hmmm aku punya kenalan, dan aku kenal baik dengan orang yang bekerja di tour agent yang bonafide." Sergah Langit sambil menoleh menatap ke arah Sonya meyakinkan.


"Oya? Wah kebetulan sekali. Aku pusing jika musti pilih pilih." Celetuk Sonya.


"Aku bisa mengantarkan, jika kamu mau." Tawar Langit.


Sonya tersenyum dengan senang. "Perfect. Terima kasih, Langit." Ujarnya kemudian.


Keduanya tersenyum, tetapi masing masing untuk tujuan yang berbeda.


"Hoooiiii... Kuenya datang! Ayo tiup lilin!" Mita berseru masuk dari dalam.


"Maaf teman, jalanan macet gila!" Keluh Vera yang kebagian tugas mengambil pesanan kue tar ulang tahun yang dibuat khusus untuk Bulan.


"Hah.... Ada kue tarnya!" Pekik Bulan tak menyangka. Karena semua teman temannya dan Langit sengaja tak memberi tahu untuk memberi kejutan ulang tahun untuk Bulan.


Mereka mengelilingi Bulan dan kue tar besar tersebut, lalu bertepuk tangan sambil menyanyikan lagu Happy Birthday, dan Selamat ulang tahun bersama sama. Langit berdiri di samping Bulan saat itu menemaninya.

__ADS_1


Lagu tiup lilinnya dan potong kue dinyanyikan sebelum Bulan terdiam sejenak mengucapkan doa dan permohonan ulang tahun sebelum meniup lilin yang ada di kue besar itu.


Lilin dengan angka 25 ditiup, lalu kue diiris, dan kemudian Bulan dilanda kebimbangan akan diberikan pada siapa potongan pertama kue ulang tahunnya tadi. Hampir saja ia sodorkan pada Raka, kakaknya yang hadir pada pesta ulang tahunnya itu.


Namun, akhirnya ia menyadari, semua orang menatap Langit, Sang pasangan, Sang Suami. Itulah yang tampak di mata orang orang sedunia saat ini.


Bulan menyodorkan potongan kue itu pada Langit. Lalu Langit menerima irisan kue. Langit agak kikuk, lalu mencium pipi kanan dan kiri Bulan. Tak ayal beberapa teman mereka memprotes.


"Huuuu Basi...! Kayak perayaan kawin emas saja, cuma cium pipi!" Protesnya.


"Iyaaaaaaa... Tunjukkan gairah pengantin barunya!" Celetuk yang lain.


"Iyaaaaaaa... Nih, biar kita termotivasi untuk segera menikahi pacar kita!" Imbuh teman yang lain juga.


Celotehan gak akan berhenti sebelum Bulan dan Langit menuruti permintaan mereka. Wajah Bulan sontak bersemu merah. Dalam hati ia mengumpat umpat seluruh temannya itu.


Tangan kanan Langit meraih dagu Bulan. Mendongakkan wajah Bulan ke atas dan terasa menekan dagu Bulan agar membuka bibirnya.


Pipi Bulan terasa panas, apalagi Langit. Ia menatap wajah Bulan. Seakan akan ingin memastikan reaksi biologis yang timbul dalam dirinya, dan Bulan. Sialan! Umpat Langit dalam hati.


Acara makan makan berlanjut. Tapi tidak demikian dengan Bulan. Ia menyelinap masuk ke dalam kamar dan berdiri mematung di depan cermin. Adegan ciuman tadi berlangsung dengan cepat. Bulan belum sempat menyiapkan mental dan langsung memegang megang kedua pipinya meredam panas. Lalu ia meraba bibirnya.


"Aduh... Mengapa jadi begini?" Gumam Bulan pada dirinya sendiri sambil menatap cermin.


Pintu kamar terbuka pelan. Bulan terkaget, dan secepat kilat segera meraih ponselnya.


"Eehhh... Eyang telepon. Mengucapkan selamat ulang tahun." Cetus Bulan mengajukan alasan palsu kenapa dia tadi langsung masuk ke kamar.


Langit hanya manggut-manggut. Ada jeda hening. Bulan masih blingsatan berduaan dengan Langit sekarang. Langit berdiri di belakang Bulan.


"Eenngg... Maaf soal ciuman tadi. Aku tak bermaksud... Itu semua demi.."

__ADS_1


"Akting!" Sahut Bulan dengan cepat.


"Ya. Itu akting terberat kita, ya." Imbuh Bulan sambil tersenyum dengan gugup.


Untuk beberapa saat Langit hanya terdiam, sampai akhirnya ia menjawab. "Ya." Ucapnya singkat masih menatap punggung Bukan.


Tok... Tok... Tok...


Terdengar suara ketukan di pintu kamar.


"Sori..!" Ternyata Maura yang mengetuk pintu kamar itu.


"Ada Mario di luar." Ucapnya kemudian.


"Apaa?" Seloroh Bulan terperangah kaget. Ia langsung buru buru bergegas menghambur menuju depan rumah. Langit bergegas menyusulnya. Diikuti oleh Maura mengikuti mereka.


Di teras Mario berdiri kaku. Tangan kanannya membawa sebuket bunga mawar. Sebagian besar yang berada di sana terpana dengan kehadiran Mario. Hampir semua teman yang ada di sana tahu, bahwa Mario dulu adalah kekasih Bulan. Dan setahu mereka tentu saja hubungan Mario dan Bulan telah berakhir dengan pernikahan Bulan dan Langit.


Makanya, kalau lantas Mario ada di sini, di pesta ulang tahun Bulan. Itu adalah sesuatu yang patut dipertanyakan. Ada apa di balik cerita mereka sesungguhnya? Di antara teman teman Bulan sudah ada yang kasak kusuk bisik bisik lantaran kehadiran Mario saat itu. Mereka sudah bagaikan wartawan infotainment yang mencari berita saja.


Hawa panas menerpa sekujur tubuh Mario. Saat ini yang ia rasakan adalah perasaan malu dan marah.


"Mario...!" Panggil Bulan yang kini ada tepat di depan Mario.


Saat itu Mario hanya diam mematung. Ia benar benar tak menyangka keriuhan yang ia saksikan saat ini.


"Mario.." ucap Bulan yang kini berjalan kian mendekati Mario yang masih bergeming dari tempatnya.


Mario mengambil napas dalam dalam. Ia berusaha untuk mengendalikan dirinya setenang mungkin saat ini.


"Wah... Ada pesta ya? Tadi aku lagi di jalan, tiba tiba aku teringat bahwa hari ini kamu ulang tahu. Lalu aku mampir ke sini. Selamat ulang tahun!" Mario menyodorkan buket bunga mawar yang dibawanya pada Bulan. Bulan menatap Mario tanpa berkedip. Ia menerima buket bunga itu.

__ADS_1


Mereka berdua berdiri saling berpandangan sesaat.


__ADS_2