(Bukan) Pernikahan Impian

(Bukan) Pernikahan Impian
Malam Keputusan


__ADS_3

Hari mulai larut malam, Bulan selepas dari kantornya. Malam ini dia melajukan mobilnya ke cafe and bar, tempat yang akhir akhir ini ia datangi saat mulai merasa butuh ketenangan.


Harusnya Bulan mendekatkan diri pada Tuhan ya, jika ingin mencari ketenangan? Ini malah maen ke cafe and bar 😜.


Dia menuju ke bar, tempat favoritnya.


"Hai, Roy. Yang biasa ya." Pinta Bulan.


"Sip. Sendirian aja?" Tanya Roy, bartender yang sudah mengenal Bulan karena seringnya gadis itu pergi ke tempat ini. Ini memang bar langganan Bulan sejak jaman masih abege. Dan Roy, adalah kakak kelasnya semasa sekolah.


"Ho oh." Jawab Bulan dengan lesu.


Belakangan ini, Bulan sering mampir ke tempat ini usai pulang kerja. Kadang bersama teman, kadang sendirian. Tapi tidak lagi bersama Mario, juga tidak dengan Langit.


Bulan seakan tenggelam dengan kesendiriannya.


Terlebih saat dia membaca dari sosial media mengenai kedekatan Mario dan Cleo kembali. Dan mendengar sendiri dari berita gosip yang ditayangkan di sebuah acara gosip di televisi, bahwa sosialita Cleo CLBK kembali dengan tunangannya dahulu, Mario.


"Hhaarrrggghh....!!" Bulan geram sekali rasanya.


"Ternyata ramalan Pak Aji salah! Dua duanya bukan pasangan sejati ku. Tapi, bukan beliau yang keliru, melainkan aku sendiri. Aku tidak membuka mata hatiku selama ini. Bahwa selama ini, ternyata aku telah mencintai seseorang yang dekat dengan keseharian ku. Dan kini, dia telah menjauh, bersama orang lain. Aku bisa apa coba?" Bulan termenung menatap gelas yang ada di depannya.


"Ssttt.... Masih patah hati?" Tanya Roy, melihat bulan yang melamun dengan wajah lesu.


Bulan memang sempat menyinggung sepintas tentang suasana hatinya pada Roy. Karena terkadang bartender itu dapat menjadi teman curhat yang menyenangkan, dan dapat menghibur.


Bulan nyengir menanggapi pertanyaan Roy.


"Masih nih, Beruntun." Sahut Bulan.


"Wuih, dah kayak tabrakan aja, Non."


"Hehe... Emang. Satu ditabrak cinta lama. Terus langsung ditabrak cinta yang baru. Hmmm bukan baru sih, tapi baru belakangan ini aja nyadarnya. Habis habisan deh pokoknya." Curhat Bulan pada Roy.


"Ouch..!" Celetuk Roy sembari mengepalkan tangan kanannya dan menempelkannya ke dada kirinya. Lambang berduka.


"Untuk itulah bat diciptakan. Kami menampung orang orang yang patah hati supaya nggak terlantar di jalan sebelum ahli jiwa memungut ongkos dari penderitaan mereka." Tutur Roy sambil terkekeh.


Bulan tertawa dan mengacungkan jempol.


Namun, baginya, saat ini dia tidak terlantar di jalan. Melainkan di rumah. Karena hatinya terlantar dan nelangsa saat berada di rumah, ketika Langit terlihat cuek padanya akhir akhir ini, saat dalam dirinya tumbuh benih benih perasaan cinta itu.


Bulan menikmati minumannya, hingga dia merasa lelah dan ingin pulang.


Hari berganti hari, Minggu berganti Minggu, tak terasa empat pekan lebih, Bulan secara resmi telah putus dengan Mario. Dan berita tentang Mario dan Cleo makin gencar.


Bulan terkadang menghabiskan waktunya dengan lembur di kantor atau sekedar mampir ke bar.


Saat kembali ke rumah, terasa sepi. Langit sudah berada dalam kamarnya, entah apa yang sedang dilakukannya di sana.


Mereka satu rumah, namun seakan berjauhan. Bulan merasa Langit tengah menjauh darinya. Dan perasaan itu kian menganggu Bulan.


Cinta itu datang tiba tiba

__ADS_1


Cinta tumbuh dalam kebersamaan


- Bulan -


*


*


Langit menatap dinding kamarnya, lalu beralih pada foto yang kini ada di tangannya.


Ingatan Langit kembali lagi bagai flashback beberapa bulan ke belakang, saat dia menghilangkan keputusan untuk meminta Bulan menerima dirinya tinggal di rumah ini.


Lalu dirinya yang memutuskan untuk tidak menceritakan pada Syaharani tentang hal itu. Lalu salah paham antara dirinya dan Syaharani, yang mengakibatkan dirinya kelewat batas dengan Bulan.


Namun, ucapan Maura tempo hari selalu terngiang-ngiang di telinga Langit.


"Bulan memang dalam pengaruh alkohol, tapi dia sadar dia tidur dengan siapa. Jika tidak nyaman, Bulan tidak akan mau denganmu!"


Langit teringat saat mengajak Bulan bermain skateboard bersama anak anak didiknya. Perasaan yang tidak pernah dirasakan saat bersama dengan Syaharani.


Langit tidak dapat membandingkan Bulan dengan Syaharani. Namun, semakin lama, rasa itu semakin kuat. Apalagi terkadang ingin rasanya Langit mengetuk pintu kamar Bulan dan meminta haknya sebagai suami. Ahhh... Sudahlah!


Langit menghela napas dalam-dalam. Lalu dia membuka kamarnya dan menyulut sebatang rokok untuk menjernihkan pikirannya.


Di rumah sakit, saat mengetahui Bulan mengkhawatirkan dirinya dan dengan setia menunggu. Bahkan mengorbankan liburannya bersama Mario hanya demi menunggunya.


Makin lama, perasaannya pada Bulan semakin kuat. Terlebih saat mendengar Mario telah memutuskan hubungannya dengan Bulan. Lalu tak sengaja melihat berita infotainment tentang Mario yang saat ini tengah berhubungan dengan Cleo seorang sosialita.


Langit melihat akhir akhir ini, Bulan juga sering pulang malam. Dia yakin, Bulan tengah patah hati. Langit ingin mendekatinya, namun ada hal yang belum diselesaikan.


*


*


Malam ini, Langit sengaja menjemput Syaharani di tempat kerjanya. Lalu menuju sebuah kafe.


Mereka duduk berhadapan. Lalu memesan makanan dan minuman seperti biasanya.


"Tumben, jemput?"


"Iya."


Langit tersenyum menatap Syaharani.


"Mas, sudah nggak sibuk lagi?"


"Kebetulan hari ini sedang kosong jadwal ngajarnya."


Syaharani mengangguk.


Lalu pelayan datang membawa pesanan mereka.


Langit tak banyak bicara malam itu, dia sengaja membiarkan Syaharani untuk menikmati makanannya dahulu sebelum dia mengatakan maksud dan tujuannya mengajak gadis itu makan malam bersama.

__ADS_1


Mereka menikmati makanan pesanan seperti biasa.


Syaharani beberapa kali melirik ke arah Langit yang tidak seperti biasanya, banyak bercerita saat mereka sedang makan bersama seperti itu.


Dia mulai merasa ada yang ditutupi dan disimpan oleh Langit saat itu.


"Ada apa, Mas?" Tanya Syaharani, sambil menyuapkan sendok ke mulutnya.


Langit meneguk air mineral, sejenak, dan menghela napas.


"Ran, maaf." Ucap Langit lirih.


"Maaf untuk apa?"


"Untuk semua yang telah aku lakukan padamu."


"Aku sudah memaafkanmu, Mas. Dan aku senang dengan yang kita jalani saat ini."


"Tapi, yang kita lakukan saat ini salah, Ran. Aku telah menikah, dan terikat dengan seorang wanita lain. Namun, masih berhubungan denganmu. Aku tidak mau menjadi pria yang brengsek. Aku tidak mau menyakiti hati siapa pun." Ucap Langit tertahan.


Syaharani terdiam dan menatap ke arah Langit.


"Apa yang terjadi dengan kalian, Mas?" Syaharani menatap tajam ke arah Langit.


"Aku.. aku tidak bisa berpisah dengan Bulan, Ran. Aku tidak dapat hidup dengan dua wanita saat ini. Aku tahu, aku salah dan aku tidak ingin yang kita lakukan semakin berlarut dan terlalu jauh. Aku ingin kita mengakhiri semua ini."


Syaharani menghentikan makannya, meletakkan sendoknya, dan menatap tajam ke arah Langit.


"Sejak awal aku juga berpikir seperti itu, Mas. Namun, wanita itu yang meyakinkan aku untuk bisa menerimamu kembali. Tapi, kenyataannya, ternyata.. kamu yang selama ini telah berbuat terlalu jauh, Mas!" Tukas Syaharani.


"Bulan tidak ada hubungannya dengan ini semua, Ran. Aku yang salah. Aku tidak bisa menjalani lagi semua ini. Kamu tahu, aku telah menikah secara resmi dengan Bulan. Lalu, aku juga menjalin hubungan denganmu. Aku tidak bisa menjalani hidup seperti ini lagi. Aku harus memilih, Ran."


"Memilih? Mengapa dia yang datang padaku dan menceritakan semua kebohongan kalian selama ini? Mengapa dia memintaku untuk memikirkan kembali tentang hubungan kita, Mas? Mengapa, lalu kamu memilih dia? Mengapa?" Tanya Syaharani setengah berteriak menahan emosinya.


Langit terdiam. Ia sadar telah melakukan kesalahan selama ini. Dia telah membohongi gadis di hadapannya. Kali ini dia ingin mengatakan yang sejujurnya, meski akan menyakiti perasaannya.


"Aku mencintainya, Ran. Maaf."


Syaharani terdiam sejenak dan menatap Langit dengan tajam.


PLAK!


Sebuah tamparan mendarat di pipi Langit, dan Syaharani berdiri.


"Kamu memang laki laki brengsek! Dan jangan pernah sekali kali mencariku lagi!" Ucap gadis itu masih dengan tatapan tajam, lalu berlalu meninggalkan Langit.


"Rani, Ran. Maafkan aku. Aku antar kamu pulang." Panggil Langit sambil mengejar gadis itu.


Syaharani, menepis tangan Langit yang menyentuh tubuhnya.


"Aku pulang sendiri saja! Jangan pernah menggangguku lagi!" Ucap Syaharani dingin.


Langit terdiam, membiarkan Syaharani berlalu dari hadapannya. Ada rasa sedih yang dirasakan saat itu, ia tahu telah menyakiti hati gadis itu lagi. Langit yakin, suatu saat, Syaharani pasti akan menemukan kembali kebahagiaannya, dan waktu dapat menyembuhkan lukanya itu.

__ADS_1


Di sisi lain dalam hatinya juga terselip ada rasa lega. Kelegaan telah menyelesaikan satu masalah supaya bisa menyelesaikan satu lagi hal yang harus dia lakukan. Yaitu, mengungkapkan perasaannya pada Bulan.


__ADS_2