(Bukan) Pernikahan Impian

(Bukan) Pernikahan Impian
Tante Datang Membantu


__ADS_3

Waktu berjalan cepat sejak kedatangan Langit ke kediaman orang tua Bulan.


Beberapa hari setelah itu, Langit mengabari Bulan, jika orang tuanya akan datang ke rumahnya, lebih tepatnya rumah orang tuanya.


Pada akhir pekan orang tua Langit datang ke kediaman orang tua Bulan. Pertemuan dua keluarga dimulai. Tentu saja Bulan dan Langit juga ada di sana.


Mereka duduk bersama sama, melapangkan dada, menjelaskan kedatangan, merencanakan langkah selanjutnya, dan melaksanakannya.


Hal terakhir tersebut menjadi kepusingan tersendiri bagi Mama Bulan. Karena Bulan menyerahkan segala urusan persiapan kepada Mamanya.


Namun Bulan, tidak seratus persen menyerahkan semuanya kepada Mamanya. Ada hal hal tertentu yang menurutnya terlalu berlebihan.


"Ma, kenapa kita harus menyewa gedung sebesar itu? Memang harus semua teman artis mama diundang ke acara itu? Haruskah acara diadakan dua hari? Mengapa tidak dalam sehari saja?" Dan banyak pertanyaan lain terlontar dari Bulan saat melihat daftar perencanaan untuk pesta pernikahannya besok.


"Bulan, Eyangmu, Papamu, dan Mama punya teman yang banyak, jika mereka tidak diundang, kau ditaruh di mana muka keluarga kita." Sanggah Mama.


"Lalu musti dua hari?"


"Setelah akad, acara intim buat keluarga kita dan Langit. Lalu untuk resepsi, untuk semua. Teman Papamu, kolega Eyang, dan kolega Oma dan Opa, teman teman Mama, bahkan teman temanmu dan Langit juga bisa kamu undang." Lanjut Mama.


Bulan membulatkan matanya dan menghela napas berulang kali.


"Kenapa tidak keluarga saja, Ma. Selesai akad, dilanjutkan dengan jamuan makan bersama." Bulan menyampaikan pendapatnya.


"Tidak. Tidak bisa seperti itu, Lan. Apalagi kita adalah keturunan Jawa. Tidak boleh melupakan adat istiadat ya. Tetap pakem pada aturan leluhur." Mama tetap bergeming dengan pendapatnya.


"Ma, tidak bisakah yang lebih sederhana saja. Acara seperti itu cuma ceremony saja. Buang buang uang. Lebih baik kita gunakan untuk acara sosial, atau acara amal mama."


"Ngawur kamu! Ini acaramu, acara keluarga kita. Ini juga demi kebaikan nama baik keluarga kita juga kelak."


Mereka saling menegangkan urat masing-masing, berdebat hingga malam hari.


Sampai Papa yang turun tangan menengahi perbedaan pendapat antara pasangan ibu dan anak itu.


"Ma, kenapa kita ga serahkan saja semua pada pihak Wedding organizer?"

__ADS_1


"Mama sudah tunjuk wedding organizer terbaik. Bahkan artis artis pada pake jasa dia. Makanya, Mama ingin acaranya besok seperti itu." Jawab Mama tetap kekeh.


Sebenarnya masalah utamanya hanya satu. Mama ingin mengadakan perhelatan besar untuk pernikahan Bulan, sedangkan Bulan menginginkan sebaliknya. Nah, inti dari hal itu yang membawahi segala printilan dan keriwehan di bawahnya.


"Duh, sudah kaya persiapan pernikahan beneran saja.." Gerutu Bulan dalam hati.


Tapi, memang yang terjadi, orang lain melihat itu adalah sebuah pernikahan sungguhan dan sah.


****


Mama akhirnya menghubungi adiknya yang paling kecil untuk membantu persiapan pernikahan Bulan.


Irene, Tantenya Bulan, adik mamanya, yang saat ini bekerja di perusahaan asing di Sulawesi.


Setelah Mama menghubungi sang Tante. Akhirnya sore ini, ia telah berada di rumah orang tua Bulan.


Mama dan Tante Irene duduk di teras belakang sambil menikmati secangkir kopi dan bolu jadul.


"Untung kamu bisa datang, Ren. Urat uratku hampir putus semua ngotot ngototan terus sama anak sendiri." Keluh Mama Bulan pada Irene, adiknya, yang rela lintas pulau, buru buru datang setelah mendengar kehebohan yang dibuat oleh Bulan, keponakannya.


Selain bertujuan untuk ikut membantu, juga untuk menyaksikan secara langsung pernikahan keponakan tercintanya itu. Dan terlebih ingin mendengar sendiri bagaimana kehebohan itu terjadi.


Irene mengerutkan keningnya. "Aduh, pasti akhir akhir ini, kakakku kebanyakan menghapal dialog sinetron dengan kata satu satunya, nih." Celetuk Irene dalam hati sambil terkikik geli sendiri.


"Ya sudah, nanti pas pernikahanku saja kelak. Dirayakan gede gedean. Usiaku kan cuma selisih setahun sama Raka. Anggap saja aku anak sulungmu. Jadi, dirimu mewakili ibu kita. Oke?!" Hibur Irene dengan iseng.


"Huh... Lagakmu Ren! Kelak, kelak! Kelakuan saja yang ada. Sekarang malah keduluan sama keponakan sendiri!" Semprot kakaknya.


"Satu satu dulu lah... Nanti aku menyusul, tenang saja!" Ujar Irene berkelit sambil cengar-cengir.


Hari sudah semakin gelap kala itu. Sang Tante dan Mama masih melepas rindu mengobrol panjang lebar tentang banyak hal.


****


Siang itu usai meeting, Bulan segera meninggalkan kantor untuk menemui Tante tercintanya yang telah rela datang jauh jauh antar pulau.

__ADS_1


Bulan sangat pusing dibuat oleh Mamanya untuk urusan pesta pernikahannya ini.


"Untung Tante datang. Aku jadi punya seseorang yang bisa meyakinkan Mama." Ujar Bulan pada Irene. Tantenya itu menyeringai karena nada yang sama ia dengar belum lama berselang. Dari kalimat saja persis. Tidak heran ibu dan anak ini kadar ngototnya juga persis.


"Siapa bilang?" Irene mengerutkan keningnya.


"Hah?!" Ganti Bulan yang terkejut.


"Aku hanya jadi penengah saja ya, bukan siapa bela siapa. Oke?" Sahut Irene.


Bulan hanya bisa cemberut mendengar jawaban Tante tercintanya itu.


"Bulan, mamamu cuma ingin menunjukkan kebanggaannya terhadapmu. Cuma caranya saja yang seperti itu." Irene menjelaskan pada Bulan.


Bulan langsung menampik.


"Bagaimana bisa membanggakan perkawinan karena "kecelakaan" seperti ini! Heran deh!" Tangan Bulan membentuk tanda kutip saat mengucapkan kata kecelakaan.


Irena hanya terkekeh geli mendengar balasan keponakannya itu.


"Jangan cengar cengir gitu!" Bulan makin sewot.


Irene makin makin terbahak-bahak dibuatnya.


"Tahu tidak, leherku sampai capek kebanyakan geleng-geleng kepala mendengar kehebohan yang kamu buat. Aku terheran-heran bin takjub mendengarnya! Ternyata kamu bisa membikin heboh sekeluarga besar. Apalagi sampai membakar jenggot Eyangmu tersayang." Irene terkikik.


"Ya ampun, Tante! Teganya tertawa di atas penderitaan keponakan sendiri.." Ucap Bulan sambil geleng geleng kepala dengan kesal.


"Oh, kamu menderita?" Alia kiri Irene naik.


"Bukannya kamu disuruh nikah, karena mulanya melakukan perbuatan yang keenakan. Lalu bagian mana yang menderita?" Irene meledek Bulan habis habisan.


Bulan gemas bukan kepalang.


"Heh... Tante iseng! Jangan sia siakan biaya, waktu, dan tenaga yang telah Tante habiskan buat kemari hanya untuk meledekku habis habisan kayak gini. Mending Tante manfaatkan sebaik baiknya dengan membantuku. Setuju?" Bulan mengambil tasnya dan berdiri.

__ADS_1


"Hei.. mau kemana? Ngambek ya?" Tanya Irene gantian bingung.


"Ngambekku sudah habis dari kemari kemarin. Masih ada orang lain yang perlu aku hubungi. Daaahhh...." Bulan langsung ngeloyor meninggalkan tantenya itu. Kini tinggal Tante yang dibuatnya hanya geleng-geleng kepala lagi.


__ADS_2