
Bulan masuk ke dalam rumahnya, dan mencium aroma yang sangat lezat dari arah dapur.
"Hmmm.... Wanginya...!" Seru Bulan sambil berjalan ke arah sumber aroma masakan itu.
"Oh, halo, Nyonya Langit sudah pulang?" Sapa Langit yang berdiri di depan kompor sambil memegang sutil dan memakai celemek, sambil mengaduk aduk panci di atas kompor.
"Masak apa sih?"
"Duduklah dulu, sebentar lagi sudah matang." Instruksi Langit, seraya mengambil mangkuk dan sendok di rak.
"Silahkan dicoba." Ucap Langit sambil menaruh mangkuk berisi sup ayam buatannya di depan Bulan.
"Hmmmm... Wanginya, pasti rasanya juga sangat lezat seperti biasanya!" Puji Bulan sambil menggosok gosok telapak tangannya.
Bulan mengambil sup dengan sendok dan mulai menyuapkan dalam mulutnya. Ia mengangguk angguk kepalanya sambil mengacungkan jempolnya pada Langit.
Ia berdiri dan mencium pipi lelaki yang saat ini benar benar telah menjadi kekasihnya, walaupun sebenarnya mereka telah resmi menikah.
Mereka menikmati sup ayam buatan Langit dengan nasi hangat yang telah dimasak menggunakan rice cooker.
Bulan makan dengan lahap, hingga nambah tiga kali, hingga dia kekenyangan sampai serdawa dengan kencang. Membuat Langit melotot ke arah Bulan.
Bulan hanya terkekeh sambil mengelus perutnya yang kekenyangan.
"Kamu benar benar merusak selera makanku." Protes Langit.
"Habis, masakkanmu enak! Salah sendiri, ye!" Ledek Bulan dengan cuek.
Tiba tiba ponsel Bulan berbunyi. Bulan segera mengambil ponselnya dari tasnya yang masih diletakkan di kursi di dapur.
"Ya, Ma? Ada apa?"
"Lan, hari Sabtu besok datang ke rumah ya, ajak Langit. Eyang ulang tahun. Awas kalau menolak lagi!" Ucap Mama sambil mengancam di akhir kalimatnya.
"Eh, iya Ma. Aku usahakan ya."
"Tidak ada kata usaha! Pokoknya kamu harus datang dengan suamimu! Itu perintah Eyangmu, Mama cuma menyampaikan saja. Oma dan Opa juga datang ke rumah buat makan bersama juga."
Mendengar ucapan Mama itu perintah Eyang, Bulan hanya menghela napas.
"Bulan? Halo?"
"Iya, Ma. Besok kami datang." Sahut Bulan dengan lesu.
__ADS_1
Padahal sebenarnya, Bulan berencana ingin menikmati berdua saja dengan Langit weekend ini. Karena sejak mereka benar benar resmi menjadi pasangan, weekend selalu dipenuhi dengan banyak kegiatan.
Bulan dengan turnamen basket yang dilaksanakan di arena olahraga. Sedang Langit dua weekend sebelumnya sibuk ada acara dengan anak anak didiknya.
"Kenapa?" Tanya Langit, menatap heran Bulan yang terlihat manyun setelah menerima panggilan.
"Mama telepon. Katanya Sabtu besok kita disuruh datang. Eyang ulang tahun. Makan malam bersama." Sahut Bulan.
Langit mengerutkan keningnya heran.
"Eyang ulang tahun. Ya nggak apa apa kita datang untuk merayakan. Mumpung beliau masih sehat dan kita masih dapat berkumpul dengan beliau." Ucap Langit.
"Nah itu dia." Bulan menghela napas dalam-dalam sebelum melanjutkan ucapannya.
"Kita sudah berminggu-minggu tidak bisa menikmati waktu bersama. Aku ingin..."
Belum selesai Bulan melanjutkan kalimatnya, Langit telah memeluk pinggang Bulan dari belakang.
"Kita bisa berduaan kapan saja kamu mau, Sayang!" Bisik Langit tepat di telinga Bulan.
Bulan hanya bisa menelan ludahnya mendengar setiap hembusan napas Langit yang terasa menembus kulitnya.
"A-aku, hanya.."
"Ssttt... Aku suamimu, akan selalu ada di sampingmu."
Langit menyusuri sepanjang tangan Bulan, dan mencium leher Bulan dengan lembut. Terdengar hela napas Bulan pelan seolah menginginkan yang lebih lagi.
Entah mengapa, dia sangat menikmati setiap perlakuan Langit yang lembut.
Bulan membalikkan tubuhnya, dan menatap Langit sambil tersenyum.
"Aku tidak tahu bagaimana perasaanku jadi seperti ini padamu." Ucapnya.
"Ya. Aku pun sama. Ada sesuatu dari dalam dirimu yang membuatku menyukaimu." Sahut Langit.
"Sejak kapan?"
"Entahlah, sejak kita mulai menikah, rasa itu ada, hilang, lalu timbul lagi, dan selalu ada. Tapi, aku tahu ada seseorang dalam hatimu saat itu." Tutur Langit mengungkapkan isi hatinya.
"Aku hanya perlu membuka mata hati dan perasaanku lebar lebar. Dan ternyata itu kamu."
Langit menautkan bibirnya pada bibir Bulan, lalu mereka saling menikmati setiap sentuhan yang mereka buat.
__ADS_1
Langit membuka kancing kemeja Bulan, lalu entah bagaimana mereka telah sampai di sofa. Bulan membuka dan melemparkannya kemejanya ke lantai, dan membalas Langit dengan ciuman pada leher suaminya, membuat Langit mengerang sambil memeluk tubuh Bulan dengan erat.
Lalu mereka saling mencium dan mencumbu, saling memeluk. Mereka berpindah tempat ke kamar utama dan mulai bergerilya di atas tempat tidur.
Langit mencium setiap lekuk tubuh Bulan, dan membuka semua kain penutup yang ada pada tubuh Bulan. Langit tersenyum melihat Bulan menikmati setiap sentuhannya. Terutama saat mendengar Bulan menyebut namanya saat merasa nikmat menyerang dirinya.
Langit membuka pakaiannya, dan mulai menyatukan dirinya dengan Bulan.
Bulan hanya berteriak meminta lagi dan lagi saat Langit memompa tubuhnya di atas tubuh Bulan.
Suara tubuh saling beradu, peluh dan saliva tercampur antara mereka atas nama cinta yang telah sah. Lalu setelah beberapa lama saling merengkuh nikmat duniawi, Langit mulai merasakan inilah saatnya melepaskan semuanya.
"Bulan, aku.. aku.."
"Langit... Ahhh!"
Tubuh keduanya bergetar, dan teriakan keluar dari mulut keduanya.
Langit memeluk tubuh Bulan, dan merebahkan tubuhnya ke tempat tidur.
Mereka berdua terbaring di atas tempat tidur mengatur napas masing-masing.
"Aku masih tidak percaya dengan semua yang telah kita lakukan." Bulan menyangka kepalanya dengan tangan, sambil menatap Langit.
Langit tersenyum dan mengelus rambut Bulan dengan lembut.
"Semua yang kita lakukan berawal dari kekacauan yang kita perbuat sendiri. Tapi kamu ternyata menarik juga." Sambung Bulan lagi.
"Menarik bagaimana?" Tanya Langit sambil mendekatkan kepalanya pada wajah Bulan.
"Ya, setelah lebih mengenalmu, kamu ternyata pribadi yang menarik."
"Kamu tahu? Kamu telah mengambil hati keluargaku. Lalu aku mulai memikirkan dirimu. Aku pikir, hanya sesaat. Bahkan sejak aku kembali pada Rani, aku pikir akan hilang perasaan ini. Namun, tidak. Aku merasa tak bisa melepaskan dirimu. Aku selalu berpikir menikah itu sekali untuk selamanya."
Bulan sangat tersentuh dengan pengakuan Langit. Lalu mencium pipi lelaki yang kini telah menjadi suaminya itu dengan mesra.
"Eh, besok kita mencari kado buat Eyang sepulang kerja." Bulan melontarkan saran.
"Ya. Kebetulan aku tidak ada jadwal sore hari."
"Kamu sebaiknya membawa mobil saja, lalu menjemput aku. Setelah mencari kado, kita bisa langsung pulang."
"Oke. Baiklah. Siap Mam!" Sahut Langit sambil membalas kecupan Bulan dengan mencium kening Bulan dengan lembut.
__ADS_1
Bulan merebahkan kepalanya di dada Langit yang bidang. Dan mulai memejamkan matanya. Langit mengelus rambut Bulan dan mencium ubunnya dengan sayang. Lama kelamaan Bulan mulai terpejam dan pikiran telah terbang ke alam mimpi.
Langit pun tersenyum, dan memejamkan matanya, mencoba untuk tidur dengan perasaan bahagia malam itu.