(Bukan) Pernikahan Impian

(Bukan) Pernikahan Impian
Seharian, Sesuatu yang berbeda


__ADS_3

Bulan membuka matanya perlahan. Ia sayup sayup mendengar suara .


KLETAK... KLETOK... KLETAK.. KLETOK..


"Aarrgghh... Berisik amat sih!" Keluhnya sambil menutup kepalanya dengan bantal.


Namun semua itu sudah sia sia. Suara berisik itu terus terdengar di telinga Bulan, yang membuatnya tak bisa tidur kembali.


"Astaga! Apa apa sih, Langit! Pagi pagi sudah membuyarkan mimpin indahku!" Bulan masih menggerutu.


Meskipun Langit telah menjadi teman pendengar yang baik, memberikan bahu untuknya dan menghiburnya. Bahkan membelikan makanan yang sudah diidamkan sekian lama. Namun, kelakuannya kali ini telah benar benar keterlaluan. Membuat kegaduhan, sehingga mengganggu orang istirahat.


Akhirnya Bulan tak tahan lagi mendengar suara dari luar kamarnya itu. Dengan menyeret kakinya malas, Bulan membuka pintu kamar dan menuju ke pintu depan.


Langit menyeringai menyaksikan penampakan di hadapannya. Kaos kusut, rambut terurai acak acakan, bibir cemberut maju, mata sembap, dan pasti belum gosok gigi!


"Ya ampun, Langit! Emangnya nggak bisa nanti siang saja sih?! Orang tidur baru sebentar, malah diganggu, huhhh..!" Dengus Bulan kesal.


Langit menghentikan kegiatannya dan menatap Bulan sambil tersenyum.


"Tuan Putri, lihat dulu jam berapa sekarang?" Balas Langit.


Bulan menjulurkan badannya ke dalam menengok jam dinding.


"Astaga, sudah jam sepuluh lebih sekarang. Tapi, peduli amat lah!"


"Pokoknya jangan berisik ya, Teman serumah yang baik.!" Bulan beringsut ke dalam.


"Hei, pemalas, mau ke mana?" Panggil Langit.


"Ya tidur lah! Huh...!" Sahut Bulan sambil menoleh ke arah Langit dengan wajah acak adutnya.


Langit hanya tersenyum menatap Bulan, ia gemas ingin merapikan rambut acak acakan milik Bulan saat itu.


"Hei. Aku dan anak anak didikku mau ke tempat latihan skateboard, kamu belum pernah ke sana, kan?" Cetus Langit.


"Belum." Bulan menggeleng.


"Emang kamu bisa?" Sambung Bulan bertanya pada Langit.


"Belum juga. Makanya, hari ini kita rame rame mau latihan ke sana. Kamu mau ikut?" Langit menawari Bulan.


Bulan mengangguk dengan antusias.


"Tapi, kita naik motor ya!" Celetuk Bulan.


"Hah..?!" Langit memiringkan kepalanya, raut wajahnya penuh keheranan.

__ADS_1


"Tuan putri pagi pagi kesambet apa nih? Tiba tiba merajuk minta naik motor. Enggak salah nih?"


Wajah Langit masih memperlihatkan tidak yakin pada Bulan.


"Lagi bosan naik mobil terus. Capek nyetir! Tarikan mobil kurang enak, perlu cek ke bengkel dulu." Tutur Bulan menjawab ketidakyakinan Langit.


Namun, yang sebenarnya, Bulan hanya sedang bosan dengan hidupnya. Suntuk dengan hubungan yang dijalani dengan Mario yang tidak sejalan dengan keinginannya.


Bulan ingin hari ini menghilangkan penat dalam pikirannya, tentang hubungan yang sedang dijalani bersama Mario. Ia ingin menyegarkan pikirannya dengan hal yang baru.


"Ayo! Bersiaplah dulu, aku tunggu." Ucap Langit.


Bulan langsung tersenyum lebar sambil melompat lompat masuk ke dalam rumah untuk mandi dan bersiap pergi ikut Langit bermain skateboard bersama anak anak muridnya.


"Huuuaaaa..... Yeeeeyy....!!!" Bulan berteriak merentangkan tangannya saat Langit memacu motornya di jalanan. Seolah olah ia menjadi Kate Winslet saat di Titanic.


Langit ikut tertawa melihat tingkah Bulan. Lalu Bulan memeluk pinggang Langit erat saat melintasi jalanan ibu kota yang mulai padat.


"Kamu yakin?" Tanya Langit saat berhenti di lampu merah.


"Yakin kenapa?" Bulan heran.


"Panas panasan gini? Macet, lalu kena angin, debu, bising."


"Tenang, aku suka tantangan. Aku suka hal baru seperti ini." Jawab Bulan dengan nada yang riang.


Langit hanya bisa tersenyum mendengarnya. Ia menikmati naik motor berdua bersama Bulan saat ini.


"Pak Langit datang!" Teriak salah seorang anak pada yang lain, yang membuat sekelompok anak di sana mendatangi Langit dan Bulan yang baru tiba. Mereka menyambut kedatangan Langit dengan melakukan tos.


"Kalian sudah siap?" Tanya Langit.


"SUDAAAHHH!!" Jawab mereka kompak.


Lalu mereka belajar meluncur dengan papan skateboard di tempat yang lurus. Ada yang sudah mahir, ada pula yang baru bisa, bahkan ada yang benar benar masih baru belajar. Ya, seperti Bulan contohnya.


"Awaaaaassss! Minggiirrrr semua...!" Teriak Bulan.


Namun, terlambat. Teriakan Bulan tidak mampu mencegahnya menabrak barisan anak anak yang sedang melakukan start.


BRUUUKKK....


Tabrakan beruntun tak terelakan di antara mereka


Ceritanya, Bulan mulai berhasil memainkan papan itu dan dia dengan gaya sok jagonya bermain di jalan yang menurun dengan ngebut. Karena tidak sanggup menghentikan dirinya sendiri, lalu terjadilah tabrakan beruntun tersebut.


"Hahahaha!"

__ADS_1


Gelak tawa riuh terdengar dari mereka semua. Mereka terbaring bertumpuk tumpuk dan tergelak senang. Bulan berada di antara tumpukan anak anak. Ia satu satunya manusia dewasa yang berkelakuan anak-anak di sana.


Langit hanya dapat menghela napas dalam-dalam, menundukkan kepala dengan tangan menutupi matanya, menunjukkan dia malu sudah mengajak Bulan.


"Kalian tidak apa apa?!" Tanya Bukan berseru kepada anak anak.


"Tidak Bu!" Jawab mereka bersahutan.


"Wuiihhh... Mendebarkan!" Ucap Bulan menyeringai lebar.


"Asyik, Bu Langit! Ayo lagi!" Seru salah seorang anak yang langsung diamini teman temannya.


Langit makin menutupi wajahnya dengan kedua tangannya. Beberapa skater tertawa melihat kelakuan Bulan dan anak anak itu. Sedangkan Bulan tetap nggak punya malu dan tetap cuek bermain skateboard bersama anak anak.


"Hah, Bu Langit?! Langit, mereka memanggil aku dengan sebutan Bu Langit! Lucu, hiihihihi...!" Seru Bulan dengan riang.


Langit segera menghampiri Bulan dan menyeretnya ke pinggir.


"Sssttt jangan kencang kencang." Ucap Langit sambil menaruh jari telunjuk di bibir.


"Ups... Maaf, aku lupa. Aku lupa segalanya saking asyiknya bermain bersama mereka!" Timpal Bulan, kemudian dia siap beraksi lagi.


"Heh, jangan malu maluin lagi ya. Kamu membawa nama Langit di sini." Pesan Langit.


"Siap, Pak!" Sahut Bulan menyeringai lebar dan berlari kembali ke area lintasan permainan.


Dari tempatnya berdiri, Langit kembali menikmati tingkah polah Bulan.


"Astaga, kurasa aku telah melakukan kesalahan besar saat ini." Ucap Langit dalam hati sambil terus menatap ke arah Bulan.


"Wohooo....!!" Terdengar suara Bulan dengan riang bermain papan skateboard.


Anak anak mengikutinya dengan papan mereka.


Saat melihat aksi beberapa anak murid Langit yang telah menjadi skater, Bulan bertepuk tangan dengan kencang.


Lalu setelah sekitar bermain sekitar kurang lebih satu setengah jam, Bulan menghampiri Langit yang telah beristirahat di pinggir lintasan.


"Aku haus!" Ucap Bulan sambil melayangkan pandangan ke sekeliling. Ia melihat seorang pedagang minuman di dekat mereka.


"Hai, kalau kalian haus kemari ya! Aku yang traktir kalian!" Teriak Bulan.


"Horeee....!" Teriak mereka bersahutan sambil mengerubungi penjual minuman itu.


Mereka tertawa dengan senang sambil sesekali bersenda gurau dengan Bulan.


Langit hanya menatap Bulan dengan hati berdesir, ada sebuah perasaan yang sulit dideskripsikan saat ini, saat ia bersama dengan Bulan.

__ADS_1


Bulan menikmati hari ini dengan hati yang senang, naik motor, menghirup udara Jakarta yang penuh dengan polusi, ditempeli dengan miliaran debu, disengat panasnya matahari, bergaul dengan anak anak pemukiman padat yang menjadi murid Langit.


Ia menikmati jatuh bangun dan berteriak-teriak saat bermain skate, bertemu dengan para skater dan melihat aksi permainannya. Lalu melihat Langit yang disegani oleh anak anak didiknya.


__ADS_2