(Bukan) Pernikahan Impian

(Bukan) Pernikahan Impian
Serba Salah


__ADS_3

Bulan menatap brosur honeymoon, lalu diletakkan ke meja. Bulan dilanda keraguan untuk mengajak Langit.


Sebenarnya, dalam hatinya, Bulan memiliki harapan dengan perjalanan honeymoon ini kelak. Walau dalam prakteknya, mereka mungkin tidak sepenuhnya honeymoon seperti layaknya pasangan yang baru menikah seperti kebanyakan. Namun, setidaknya, dia dapat menjalin hubungan lebih dekat lagi, dan dapat saling mengenal satu sama lain.


Bulan berpikir, mereka telah menikah secara sungguhan, resmi tercatat di catatan sipil dan agama juga. Mereka benar benar pasangan yang sah, di mata Tuhan dan negara. Lalu Mario telah memutuskannya dengan tiba tiba, yang membuat parah hati bermalam malam.


"Mengapa aku tidak sekalian saja jadian dengan Langit. Mendekatinya, dan menjadikannya pasangan sungguhan. Hmmm tapi, masalahnya.... Aku lah yang menyuruh dia untuk kembali pada kekasihnya!" Gumam Bulan sambil menelungkup di atas meja, kepala dibenamkan di antara kedua tangannya.


"Huh... Mana aku tahu, jika perasaanku bisa berkembang menjadi seperti ini!" Rutuk Bulan dengan lesu.


Dia menggelengkan kepalanya. Dan lalu lagi lagi kepalanya ditangkupkanke dalam dua tangan di atas meja di dapur.


"Lan, Bulan." Panggil Langit. Karena tak ada respon, Langit mendekat dan menyentuh tengkuk Bulan.


Bulan setengah terlonjak dan mendongak.


"Kamu sakit?" Tanya Langit.


"Nggak!" Jawab Bulan secepat kilat sembari merapikan rambutnya.


Mata Langit mengarah pada brosur yang ada di meja. Buru buru, Bulan menyambar brosur tersebut dan bangkit dari duduknya.


"Terus kenapa menelungkup kepala begitu?" Langit kurang percaya dengan Bulan, kalau sudah menyangkut urusan pengakuan keadaan sakit atau tidak sakit.


"Oh... Aku lagi mikirin kerjaan." Elak Bulan.


Tiba tiba tangan kanan Langit sudah mendarat di dahi Bulan.


Lalu refleks Bulan mengelak dengan menggenggam tangan Langit yang terulur itu.


Mata bertemu mata, tangan bertemu dengan tangan. Bulan sudah pasrah, jika akan terjadi adegan romantis, seperti yang ada di film film itu.


Namun, saat ini telah lebih dari dua puluh detik mereka masih dalam posisi yang sama. Remasan tangan Langit mulai menguat. Jantung Bulam langsung berdetak lebih cepat tidak karuan.


"Lakukanlah, Langit, apa pun mau kamu." Ucap Bulan dalam hati dengan pasrah.


"A-aku harus se-segera pergi sekarang..." Langit menelan ludah, sambil melepaskan tangannya.


Tangan mereka pun terlepas. Langit memundurkan tubuhnya.


"Jangan lupa kunci pintu. Jangan ketiduran di sofa!" Pesan Langit kemudian. Lalu dia berlalu meninggalkan Bulan yang masih terpaku.


Setelah kepergian Langit, Bulan menghembuskan napasnya sekeras kerasnya.


Ia menatap brosur honeymoon sekali lagi, lalu dilempar ke tempat sampah.

__ADS_1


*


*


Dalam beberapa hari ini Langit dan Bulan telah menjalani aktivitas mereka kembali. Lagi lagi Bulan menyibukkan diri dengan pekerjaan di kantor, lalu Langit juga telah sibuk dengan kegiatannya.


Setelah beberapa hari berkutat dengan meeting rencana turnamen basket antar SMA se Jakarta, sore ini, Bulan memutuskan untuk pulang lebih awal, tidak lembur seperti biasanya. Sebenarnya, lembur adalah pelarian supaya tidak lama lama bertemu dengan Langit.


Bulan memarkir mobilnya, dan masuk ke rumah. Bulan langsung menuju kamarnya, tiba tiba ponselnya berbunyi, dari Mama.


"Ya , Mama, ada apa?"


"Bulan, Sabtu ini kami dan Langit datang ke rumah ya. Kita akan makan malam bareng. Sudah lama kita nggak kumpul kumpul." Ucap Mama.


Bulan menghela napas. Wajahnya nggak bersemangat. Bukan karena soal undangan makan malamnya, melainkan dia terpaksa menolak undangan itu, karena harus mengajak pasangannya. Jika sendiri sih, nggak apa apa. Lama Bulan terdiam.


"Lan.. Bulan? Halo?"


"Waduh, Ma. Maaf, sepertinya kami nggak bisa deh. Aku lagi sibuk banget, dan Langit juga sedang sibuk. Hmmm mungkin Minggu depan atau Minggu depannya lagi.. Lihat nanti deh." Sahut Bulan sambil menutup panggilannya.


Bukan tanpa alasan, Bulan mulai menjauh dan enggan bertemu, Langit juga terlihat sama seperti Bulan. Langit terlihat lebih sibuk.


Mereka sudah tidak saling mengobrol lama seperti dulu. Hanya basa basi sedikit di pagi hari.


Saat Bulan sedang nonton televisi di sofa, Langit juga langsung ngeloyor ke kamar tanpa basa basi juga.


Bulan membersihkan dirinya sebentar, lalu berganti pakaian, dan tak lama dia telah bersiap hendak pergi.


Langit yang baru datang mengerutkan keningnya saat berpapasan.


"Mau ke mana?"


"Aku ada janji sama Kita di bar tempat biasa." Sahut Bulan seraya melenggang melewati Langit, masuk ke mobilnya.


Langit hanya menatap kepergian, lalu masuk ke rumah.


Usai membersihkan tubuhnya, Langit masuk ke dalam kamar untuk merebahkan dirinya di atas tempat tidurnya.


Ada Panggilan masuk dari Maura, Langit langsung menjawabnya.


"Ya, Ra. Ada apa?"


"Bulan cerita nggak?"


"Cerita apa?"

__ADS_1


"Bulan putus dengan Mario. Mario yang mutusin."


"Oh ya?" Langit terkejut.


"Sekarang dia di mana?"


"Katanya pergi ke bar sama Mita."


"Hah? Wah, sialan tuh anak, nggak ajak anak." Celetuk Maura.


"Dia lagi bosan kali sama kamu." Sela Langit sambil bergurau.


"Ih, kamu juga sialan!"


Langit hanya meringis.


"Kapan kejadiannya?"


"Mutusin nya?"


"Iya."


"Sudah agak lama sih, hampir dua Minggu deh. Pas kamu di rumah sakit kejadiannya."


"Oh.. Eh, Ra, terus aku musti gimana di depan dia? Pura pura nggak tau? Atau mancing dia buat cerita?" Tanya Langit sambil bingung sendiri.


"Aku jadi nggak enak kalau berlagak nggak ada apa apa, tapi memang selama ini dia berlagak nggak ada apa apa di depanku." Imbuh Langit.


"Halah, nggak penting itu! Yang penting adalah, saat ini kesempatan kamu untuk menyatakan perasaanmu ke dia." Saran Maura langsung pada intinya.


"Aku nggak bisa, Ra. Aku masih berhubungan sama orang lain. Aku tidak mau jadi pria brengsek, Ra." Elak Langit.


Maura menghela napas keras, sampai terdengar Langit melalui speaker ponselnya.


"Heh, Langit, kamu tuh sudah brengsek sejak kamu meniduri Bulan." Maura berujar kalem, sama sekali tidak ada nada menghardik atau sinis pada suara Maura saat itu.


"Astaga, Ra. Kamu membuatku jadi tak berdaya." Langit menimpali dengan suara memelas.


"Satu hal yang musti kamu camkan, Lang. Bulan nggak akan mau melakukan itu dengan pria yang nggak membuatnya merasa nyaman dan berkenan di hatinya."


"Tapi kan, kami sama sama mabuk malam itu, Ra."


"A-a! Dia bisa menyetir mobil dengan selamat sampai ke rumah malam itu, kan. Dia tidak mabuk mampus. Dia memang dalam pengaruh alkohol hingga dia berani melakukan itu. Tapi, dia juga pasti sadar dengan siapa dia tidur malam itu. Dengan kamu Langit!" Ucap Maura dengan tegas. Seolah tertancap dan terngiang-ngiang di kepala langit.


Semalaman Langit memikirkan benar benar semua ucapan Maura di telepon. Pandangan Langit menjelajah gelisah ke seluruh sudut kamar dan berhenti pada laci meja. Ia membuka laci tersebut dan mengambil foto, foto Syaharani.

__ADS_1


"Sekarang aku belum bisa memutuskan semuanya. Apa yang bisa diharapkan dari pasangan jadi jadian? Yang ada hanyalah rekayasa. Andai akhirnya timbul perasaan dan nyata, lalu makin berkembang, itu salahku sendiri! Mengapa aku jadi terjebak dalam perasaan ini. Aku mulai menyukai Bulan perlahan-lahan. Namun, di sisi lain aku pasti akan menyakiti orang lain lagi!" Gumam Langit yang merutuki dirinya sendiri.


__ADS_2