
Hari ini Eyang datang ke kantor untuk meeting dengan bagian keuangan perusahaan.
"Bulan, ayo kita makan siang sama sama." Ajak Eyang seusai meeting.
Bulan yang masih berkonsentrasi dengan tumpukan lembaran, mendongakan kepala.
"Aduh, maafkan aku Eyang. Aku sudah janjian sama teman." Tolak Bulan.
"Ya sudah, Eyang akan langsung pulang saja kalau begitu."
"Baik, Eyang. Hati hati ya, salam buat orang rumah." Sahut Bulan sambil memeluk Eyangnya.
Eyang Kakung Bulan adalah orang tua Papanya. Puluhan tahun ia abdikan diri sebagai pegawai negeri sipil bidang olahraga.
Menjelang pensiun, dia mendirikan Area Olahraga yang saat ini dikelola oleh Bulan. Selain itu ada juga bisnis perkebunan, yang dikelola oleh Papanya.
Area Olehraga itu mulanya hanya kolam renang dan lapangan badminton indoor. Lalu bertambah kolam renang anak, lapangan basket, futsal, dan tenis, yang masing masing dilengkapi dengan peralatan dan kantin untuk pengunjung.
Bulan bergabung saat tahun kedua kuliah. Mama Papanya semula sangsi, takut mengganggu belajarnya. Namun, Bulan berkeras membuktikan jika ia sanggup.
Bulan banyak memberi ide segar pada tempat itu. Sekarang ada joging track, kantin berubah menjadi kafe kekinian. Lalu ada aneka permainan untuk anak anak, seperti perosotan, ayunan, balok balok, trampolin, dan mini outbound untuk anak anak.
Untuk tiket masuk dihitung perjam, namun, ada penawaran khusus untuk member dan paket hemat untuk keluarga dan rombongan pada hari tertentu.
Tak terasa jam menunjukkan pukul setengah satu, Mario menghubunginya.
"Bulan, maaf, sepertinya kita batal makan siang bareng. Ini masih meeting di kantor. Maaf banget ya, Sayang!" Rayu Mario pada Bulan.
Bulan mendengus kesal.
"Kenapa tidak bilang dari tadi. Mana teman teman kantor sudah pada jalan makan siang, lalu ga bawa mobil. Huh... Makan di kafe lagi..!" Keluh Bulan dalam hati.
"Bulan...?" Panggil Mario. Panggilan masih tersambung.
"Ya sudah, nanti bisa jemput aku kan?" Tanya Bulan.
"Hhmm... Sebenarnya aku ada janji dengan Klien jam lima, dan gak tau sampai jam berapa.." Jawab Mario.
"Sudah dua Minggu lebih kayak gini! Kamu benar benar ga ada waktu buat aku." Bulan merajuk.
"Bulan, kan sudah aku bilang." Suara Mario berbisik seolah takut ada yang mendengar.
"Ya.. ya, aku ngerti." Sahut Bulan, sambil mematikan panggilan.
Sesaat kemudian pesan dari Mario masuk.
Demi order besar, Sayang. Setelah ini, aku janji akan balas semuanya.
Mario memang sudah bercerita sedang menangani klien yang akan membeli dua unit penthouse. Perusahan memberikan fasilitas pelayanan menyeluruh, mulai dari konsultasi, hingga menyediakan semua desain interior yang telah dipilih. Ini adalah tugas Mario sebagai marketing.
Bulan sangat gembira mendengar kabar itu. Artinya jika Mario untung gede, ia juga akan mendapat bagian juga. Tapi, setelah mengetahui klien yang membeli itu, kegembiraan Bulan sirna.
Belum sempat membalas whatsapp dari Mario, telah masuk pesan darinya lagi.
Selama aku sedang sibuk, dan ga bisa menjemputmu. Jangan sering meminjamkan mobil pada temanmu. Merepotkan dirimu sendiri.
Bulan menghela napas panjang dengan kesal.
***
Langit membaca whatsapp dari Bulan yang nitip belikan pembalut padanya. Kali ini, Langit meminjam mobil Bulan untuk bekerja, karena motornya sedang dipinjam oleh sahabatnya, Doni.
__ADS_1
Saat dalam perjalanan menuju minimarket, ponsel Langit berbunyi.
"Mas, lagi ada di mana?"
"Ini lagi di minimarket. Kamu di mana?"
"Di kampus. Dari sana langsung jemput aku ya. Terus kita makan, aku pingin soto Betawi nih."
"Oke. Oya, Rani, tapi agak lama ya, karena antri putar balik." Sahut Langit.
Siang itu sepulang mengajar, Langit berencana menjemput Syaharani, kekasihnya yang statusnya mahasiswi. Biasanya Langit menjemput menggunakan motornya, kini ia memakai mobil pinjaman dari Bulan.
Ketika sampai di depan kampus, Syaharani tidak menyadari, jika mobil di depannya disopiri oleh Langit.
Tin.. Tin..
Langit mengklakson, lalu menurun kaca jendela mobil.
"Hai, Ran, Ayo!"
Syaharani mengerutkan keningnya, lalu masuk ke mobil.
"Ini mobilnya temanmu, kan?" Tanya Syaharani saat mobil mulai jalan.
Langit menganguk.
"Motorku dipinjam teman untuk survei selama beberapa hari."
"Siapa namanya?"
"Yang pinjam motor?"
"Bukan. Yang punya ini?"
"Ya. Aku ingat wajahnya." Seru Syaharani.
Syaharani pernah bertemu dengan Bulan, sekali di pesta ulang tahun teman Langit dan Bulan. Di sana Bulan, Langit, dan dua teman lain sedang sibuk tentang kado kejutan yang mereka rencanakan. Ia merasa terabaikan waktu itu, karena Langit sibuk bersama teman temannya.
Langit melirik ke arah Syaharani.
"Hanya dia yang kendaraannya fleksibel. Yang lain sama sekali nggak bisa dipinjam. Rumah yang kutumpangi juga jauh dari tempatku mengajar. Jika naik ojek online lumayan juga tarifnya. Maklum aku masih guru baru, dan tiap hari dapat jatah ngajar jam pertama." Langit bercerita panjang lebar mencegah muncul kecurigaan pada kekasihnya.
Langit tidak memberitahu jika ia tinggal di rumah Bulan saat ini, ia hanya memberi tahu, jika tinggal sementara di rumah teman. Langit malas, jika terus diberondong dengan banyak pertanyaan oleh kekasihnya itu. Terlebih, jika kekasihnya akan cemburu, jika menceritakan yang sesungguhnya.
Syaharani manggut-manggut sambil iseng menoleh ke belakang. Ia mengerutkan keningnya saat melihat isi dalam bungkus minimarket itu selain roti tawar ada sebungkus pembalut wanita.
"Pembalut? Tadi kamu membeli pembalut di minimarket?" Tanya Syaharani heran.
Langit menelan ludah dan mengangguk.
"Itu.. Buat... Istrinya teman yang punya rumah. Yang aku tempati sementara ini. Tadi dia wa nitip pembalut." Jawab Langit tergagap karena berbohong.
"Ooooh, jadi mereka suami istri ya? Kirain masih single." Gumam Syaharani.
Langit melajukan mobil menuju rumah Syaharani dan menolak ajakan makan siang, karena beralasan istri teman sedang membutuhkan pembalut itu dengan segera.
Sampai di depan rumah Syaharani mengucapkan terima kasih dan senyum yang manis.
"Mas, kapan kapan ajak aku dong, ke rumah temanmu itu. Sekedar silahturahmi, gitu." Pintanya sambil tersenyum.
Langit hanya tersenyum kaku.
__ADS_1
***
Di suatu malam, Mario mengajak Bulan kencan makan malam romantis di sebuah restoran. Setelah berminggu-minggu mereka sulit keluar bersama sama.
Satu jam lebih Bulan duduk di sudut restoran sambil memesan es lemon teh, memandang ke luar jendela. Mengirim pesan whatsapp yang hanya centang satu, lalu mencoba menghubungi, namun tak tersambung juga.
Bulan menunggu hingga satu jam berikutnya. Ia mencoba menghubungi Mario, dan hasilnya sama. Tetap tak tersambung. Dia memutuskan untuk mengakhiri penantiannya.
Ia menatap ponselnya, dan menghubungi sebuah nama, Langit.
"Langit, bisa jemput aku sekarang?"
"Mario gak bisa nganter?" Tanya Langit bingung.
"Boro boro nganter, datang saja nggak!" Jawab Bulan sewot.
"Dinner nya nggak jadi?"
"Nggak ada dinner dinneran, benar benar menyebalkan! Nggak ada kabar sama sekali! Asal jawab ya, tahunya nggak sanggup!" Suara Bulan bergetar menahan marah.
"Aku kecewa sekali. Aku cuma minta waktu sebentar untuk membagi perasaan senang, bukan berita buruk. Kenapa dia masih enggan juga?!" Ucapan Bulan kini mulai diselingi dengan isakan.
"Wait! Aku berangkat sekarang. Jangan menangis ya!" Pesan Langit sambil menutup panggilan ponselnya.
Langit sudah hapal, jika Bulan sudah sangat kesal dan memuncak, pasti akan membuat tangisan yang keras. Dan ia tak peduli seramai apapun sekelilingnya, dan semalu apapun efek habis menangis, dilihat oleh orang orang, dia tetap akan menangis.
Bulan berlalu keluar dari restoran itu, dan berdiri menunggu Langit, yang agak lama datangnya.
Bulan hanya diam setalah masuk dalam mobilnya, sambil membuang pandangan ke luar jendela. Langit membiarkan saja.
Bulan mematikan ponselnya, sebagai wujud rasa kesalnya pada Mario.
Tiba tiba mobil berhenti, tapi bukan di rumah.
"Loh, kenapa kemari?" Tanya Bulan dengan heran.
Mereka ada di parkiran Area Olahraga dan Bermain.
"Untung masih ada yang berenang dan main futsal sampai malam, jadi belum tutup." Sahut Langit menjawab pertanyaan Bulan.
"Kok tahu?"
Langit mengambil sebuah kantong dan menarik lengan Bulan di lapangan basket.
Langit menghampiri gardu lampu dan menghidupkan lampu area basket.
Langit menggelar alas di sana dan membuka mengeluarkan isi kantong yang dibawanya tadi.
"Ayo makan!" Ajak Langit duduk bersila dan membongkar kotak makan.
"Astaga, Kamu!" Bulan tercengang.
"Maaf aku tadi masuk kamarmu." Langit memberikan jaket pada Bulan.
"Aku ambil jaket, karena kamu pasti kedinginan."
Langit menarik tangan Bulan untuk duduk dan menyodorkan kotak makan yang berisi nasi goreng seafood. Bulan menerimanya.
Langit menikmati makanannya dengan lahap, akhirnya Bulan juga ikut makan, dengan mata tak lepas dari Langit, masih terheran-heran.
"Tidak ada bulan di sana, pantes kamu ngeliatin aku melulu." Gurau Langit sambil menatap ke atas.
__ADS_1
Bulan berlagak tersedak dan mencibirnya.