
HAPPY FUN TOUR AND TRAVEL
"Inikah tempatnya? Kantor tour and travel yang kamu rekomendasikan padaku tempo hari?" Gumam Sonya sedikit mendongakkan kepala membaca papan nama yang bertengger manis dengan kokoh di atas komplek sebuah ruko.
"Iya, ini." Sahut Langit sambil mengangguk dan mengajak Sonya untuk masuk.
Langit memenuhi janjinya menemani Sonya pergi ke kantor agen perjalanan tersebut.
Mereka masuk ke salah satu pintu ruko itu. Di dalam kantor, Langit menoleh ke kanan dan kiri, celingukan mencari cari sesuatu. Lebih tepatnya seseorang yang diharapkannya.
Sonya memiringkan kepala, mengerutkan keningnya, heran melihat tingkah Langit. Ia menatap Langit dengan penuh selidik.
Langit menyadari bahwa, Sonya memperhatikannya dengan raut wajah bertanya tanya. Langit nyengir dan meringis sambil menatap Sonya.
"Eh, cat ruangannya bagus." Ucap Langit.
Sonya mengedarkan pandangannya pada seluruh dinding ruangan itu. Bercat krem, cat standar untuk kantor kantor.
"Huh, apanya yang bagus? Lebih bagus warna cat rumahnya Bulan!" Ucap Sonya dalam hati.
Sonya kembali menatap ke arah Langit. Kali ini dengan tatapan lebih heran dan penuh selidik. Langit buru buru mengalihkan pembicaraan.
"Ada tour yang sesuai nggak?" Tanya Langit sambil menatap ke arah Sonya.
"Hhmmm, aku sudah baca sekilas, sih." Sahut Sonya.
Lalu ia menoleh ke arah wanita yang yang ada di bagian customer service yang ada di ruang kantor bagian depan.
"Mbak, bisa minta info detail paket wisata yang ini?" Sonya bertanya pada petugas itu,sambil menunjuk brosur iklan.
Petugas customer servis itu menjelaskan dengan semangat dan sabar pada Sonya, dan Sonya sibuk memperhatikan.
Mumpung Sonya sedang sibuk berbicara dengan salah satu pegawai kantor di meja lobi. Langit dengan sigap mendekati pegawai lain yang ada di sana.
"Mbak, saya temannya Rani, kok dia nggak kelihatan, ya?" Tanya Langit sambil celingukan.
"Oh, Rani sedang nggak masuk hari ini. Ijin sakit." Jawab pegawai itu.
"Sakit? Sakit apa, Mbak? Sudah berapa hari?" Langit spontan memberondong pertanyaan.
"Baru hari ini. Katanya sih demam. Oya, Kakak teman kampusnya?" Tanya pegawai itu lagi.
"Oh, bukan. Saya teman... Teman lamanya." Sahut Langit sekenanya.
__ADS_1
Pikiran Langit jadi tidak tenang memperoleh kabar bahwa Syaharani sakit. Ia adalah satu satunya orang yang menemaninya, lantaran kakak satu satunya yang tinggal berdua saja dengan Syaharani sering bertugas ke luar kota hingga berhari hari meninggalkan Syaharani sendirian.
Langit menghampiri Sonya yang masih bercakap-cakap dengan pegawai di sana. Ia menunggu beberapa saat di sofa yang ada di ruangan itu sambil bermain game yang ada di ponsel pintarnya.
Tak berapa lama Sonya datang menghampirinya.
"Done!" Seru Sonya menepuk bahu Langit.
"Oh, sudah ya? Gimana?" Tanya Langit.
"Sudah. Beres semua. Sudah oke." Jawab Sonya sambil tersenyum.
"Oya, maaf. Gimana kalau kamu pulang sendiri? Aku ada urusan mendadak ini." Ucap Langit beralasan.
"Baiklah. Tidak masalah. Terima kasih sudah menemaniku untuk urusan ini." Ucap Sonya sambil tersenyum.
Sonya segera bergegas masuk ke mobilnya. Langit melambaikan tangan ke arah Sonya saat ia melajukan kendaraannya meninggalkan agen travel itu.
Langit segera menuju parkiran mengambil motornya, dan tanpa pikir panjang dia langsung menuju sebuah rumah. Tempat di mana ada seseorang yang tengah ia khawatirkan.
Tok... Tok... Tok...
Langit mengetuk pintu.
Langit hendak mengetuk pintu kembali, namun, terdengar suara anak kunci diputar.
"Mas...!" Syaharani sangat terkejut dengan kedatangan Langit. Dia terlihat tidak siap untuk bertemu dengan Langit. Apalagi dengan penampilan kacau seperti ini. Hanya dengan memakai piyama dan berwajah kuyu.
"Oh, hai! Maaf, tapi aku mendengar kamu sedang sakit. Kakakmu sering tidak ada di rumah. Dan aku khawatir kamu sendirian dalam keadaan sakit. Jadi, aku menjengukmu kemari. Kamu sendirian sekarang?" Sapa Langit dengan mengeluarkan banyak kata dalam satu hembusan napas.
"Iya. Tapi, sudah tidak apa apa lagi. Demamnya sudah turun." Sahut Syaharani.
"Dari mana, Mas tahu aku sakit?" Selidik Syaharani.
"Tadi kebetulan aku sedang mengantar teman ke kantormu." Jawab Langit setenang mungkin.
"Oh." Gumam Syaharani.
Mereka terdiam berdiri di ambang pintu dan saling berpandangan, tenggelam dalam pikiran masing masing.
"Mungkin, datang kemari adalah adalah keputusan yang salah." Langit membatin.
"Ehh, maaf, jika kedatanganmu kemari membuat kamu tidak nyaman." Ucap Langit memecah kebisuan.
__ADS_1
"Hhmm.. kulihat kamu sudah lebih baik sekarang. Kalau begitu aku permisi pulang. Banyak makan dan istirahat yang cukup, oke." Langit bergegas membalikkan adannya.
"Jangan pergi!" Seloroh Syaharani.
Langit terdiam, laki menoleh ke arah Syaharani.
"Eh, maksudku, kamu sudah jauh jauh kemari. Masuklah dulu. Aku buatkan minum dulu." Sambung Syaharani mengklarifikasi apa yang dimaksud ucapannya jangan pergi yang terlontar tadi.
Langit menceritakan kunjungannya ke kantor tempat Syaharani bekerja. Ia juga menanyakan kabar dan kesibukan gadis itu saat ini. Tapi Syaharani hanya memberi jawaban singkat. Dan gadis itu sama sekali tidak menanyakan kabar atau apa pun kepada Langit.
Langit menghela napas dalam-dalam. Dalam hatinya sangat sedih sekali. Ia merasa Syaharani, gadis yang pernah mengisi hatinya, bahkan masih hingga saat ini. kini, ia telah berubah. Syaharani telah memagari dirinya tinggi tinggi darinya. Seolah tak memberi kesempatan pada Langit untuk dapat mendekati, bahkan mendapatkan perhatian dan cintanya lagi.
"Kepalamu sakit?" Tanya Langit saat melihat Syaharani memijit mijit keningnya.
"Nggak apa apa, Mas. Minum obat juga bakal hilang kok." Jawab Syaharani.
Langit menatap Syaharani dengan seksama. Memastikan bahwa gadis itu baik baik saja. Syaharani makin tak berdaya menatap mata Langit. Ia berdehem.
"Mas, terima kasih sudah menjenguk kemari. Dan terima kasih sudah mengkhawatirkan aku. Aku sangat menghargai perhatiannya." Tukas Syaharani.
Langit tersenyum menatap gadis itu.
"Tapi... Aku harap, jangan seperti ini lagi. Ini bisa..." Syaharani mengambil jeda beberapa detik
"Ini bisa membuatku kembali terluka. Maaf.." lanjutnya sambil tertunduk.
Napas Langit tertahan mendengar kata kata Syaharani.
"Begitu, ya? Aku jadi merasa bersalah dengan semua ini." Langit menimpali dengan lemas.
"Nggak! Jangan merasa begitu. Akulah yang bersalah karena punya sikap seperti itu. Maafkan aku, Mas." Seloroh Syaharani.
"Aku yang seharusnya minta maaf. Aku hanya mengkhawatirkan keadaanmu." Ucap Langit sambil menghela napas.
"Iya. Aku tahu. Maafkan aku." Sahut Syaharani.
Kemudian Langit permisi pulang. Ia merasa kedatangannya kali itu membuat Syaharani tidak nyaman. Ia tak ingin membuat gadis itu kembali terluka olehnya.
Setelah Langit pergi dari rumahnya. Syaharani mengambil napas dalam-dalam dan menghembuskan dengan keras. Matanya berkaca-kaca. Dadanya serasa mau meledak.
Otot ototnya tegang selama Langit berada di rumahnya karena berusaha keras menahan luapan perasaannya. Ia belum dapat melupakan begitu saja lelaki itu.
Namun, di satu sisi, dia juga tak bisa melupakan bagaimana Langit melakukan kebohongan besar yang sangat tidak pantas dilakukannya.
__ADS_1
Syaharani menuju ke kamarnya. Lalu ia mengambil paper bag super besar dari kolong tempat tidurnya. Isinya adalah semua barang yang pernah diberikan oleh Langit padanya. Keputusannya makin bulat untuk mengembalikan semua isi paper bag itu.