(Bukan) Pernikahan Impian

(Bukan) Pernikahan Impian
Mengambil Hati


__ADS_3

Bulan menelentangkan badan di atas tempat tidur dalam kamarnya sendiri.


Diangkatnya pergelangan tangan kanan. Diamati amatirnya gelang emas pemberian Mario.


"Hubungan kita melibatkan orang lain, jadi memang sama sekali tidak mudah. Tapi, bukan berarti tidak bisa." Ucap Bulan saat ia mendatangi rumah Mario pagi pagi itu.


Bulan sedang mencoba meyakinkan Mario, bahwa kedatangannya malam itu sungguh sangat berarti baginya. Dan Bulan memastikan, bahwa Mario tidak kecewa pada dirinya dan mau memaafkan dirinya.


"Kita lihat nanti." Jawab Mario dengan dingin. Hal itu membuat Bulan menjadi gundah gulana.


Seolah Mario telah berubah. Tidak yakin lagi dengan keputusannya untuk mempertahankan hubungan yang saat ini terjalin.


Bulan merasa bahwa Mario telah mulai menyerah. Tampaknya kekasihnya itu siap untuk melepaskan Bulan. Namun, Bulan rasanya belum siap untuk melepas Mario.


Kecamuk pikiran Bulan langsung buyar karena suara ketukan di pintu kamarnya.


TOK... TOK... TOK...


"Buka saja!" Teriak Bulan sambil bangun dan mengubah posisinya menjadi duduk di tempat tidur.


"Aku pinjam mobilmu ya, mau mengembalikan alat barbekyu." Ucap Langit dari ambang pintu.


Bulan menjawab dengan anggukan kepala.


"Oke. Makasih." Sahut Langit seraya menutup pintu kamar Bulan kembali.


Beberapa detik usai Langit menutup pintu kamarnya, terbersit di pikiran nya untuk ikut Langit.


Dia bergegas bangun dan membuka pintu kamarnya.


"Eeehhhh...!"


Ternyata Langit masih di depan pintu kamarnya. Nyaris saja Bulan menubruknya. Keduanya berdiri berhadapan sangat dekat. Tapi, mereka hanya diam dan saling menatap.


Rasanya Langit ingin mendorong Bulan seketika masuk kembali ke kamar dan mereka saling bergelut di atas ranjang.


"Ehh, aku mau ikut!" Cetus Bulan memecah keheningan sekaligus membuyarkan fantasi Langit akan mereka berdua.


"Kenapa mau ikut?" Tanya Langit. Ia masih diam di tempat dan terus memandang Bulan dari dekat. Sampai sampai Bulan harus mendorong tubuh Langit agar dirinya bisa lewat.


"Mau ikut mengucapkan terima kasih!" Seru Bulan sambil berjalan keluar rumah.


"Kita beli pizza dulu, sebagai ucapan terima kasih." Ucap Langit.


Bulan menganguk.


Langit memasukkan alat barbekyu ke dalam bagasi mobil, lalu menutup kembali.


Bulan membuka dan menutup pagar rumah, lalu masuk ke dalam mobil.


Langit melajukan mobil ke rumah Doni sahabatnya.


Sekitar satu jam kemudian, mereka tiba di depan rumah Doni.

__ADS_1


Bulan baru memperhatikan dengan seksama rumah yang pernah ditempati oleh Langit pada kunjungan keduanya kali ini.


Tempat tinggal yang cukup teduh, banyak tanaman di halaman depan.


Berbeda sekali dengan halaman rumahnya yang gersang.


Baru akhir akhir ini saja, setelah Langit bergabung menjadi penghuni rumahnya, setelah mereka menikah, halaman rumahnya menjadi terlihat lebih asri.


Mungkin Langit ketularan hobi Doni merawat tanaman atau memang hobinya juga begitu. Atau langit hanya merasa risih dengan kegersangan di halaman rumah Bulan.


"Dia tahu kita." Bisik Langit saat membuka pagar.


"Dia tahu kita datang?" Bulan balik bertanya sambil ikut berbisik.


"Ya. Tapi, bukan itu yang aku maksud. Dia tahu soal rahasia kita." Sahut Langit.


"Oo..." Bulan mengangguk mengerti maksud Langit.


"Kamu punya Maura, aku punya dia." Bisik Langit hendak melanjutkan melangkah menuju teras.


Bulan berhenti dan menarik lengan baju Langit, memintanya berhenti juga.


"Jadi... Dia tahu soal aku dan..."


"Oh, itu. Nggaklah! Maksudku hanya soal kita tidur bareng dan menikah tidak sungguhan." Jawab Langit menatap Bulan.


"Dia tahu kita pernah... Itu, melakukan itu..?" Bulan sudah merasa sangat malu, padahal ia belum bertemu dengan Doni.


"Aduh kamu ini!" Bulan melotot ke arah Langit.


"What? Dia tahu kita mabuk?!" Bulan makin melotot.


"Aduh... Langit! Aku kan jadi malu." Seru Bulan tapi dengan suara berbisik.


"Heh, aku tidak pernah protes kamu cerita semua ke Maura! Lagian lebih dimaklumi orang yang tidak saling cinta tidur bareng dalam keadaan tidak sadar!" Suara Langit tidak berbisik lagi, dan itu membuat Doni tahu bahwa tamu tamunya sudah datang.


"Wah.. wah.. wah... Kalau cuma mau untuk ngobrol berdua, ngapain jauh jauh datang kemari?" Gurau Doni menyambut kedatangan mereka.


"Tau nih, Bulan!" Celetuk Langit.


"Ehh... Kok aku sih!" Elak Bulan.


Doni tertawa melihat Langit dan Bulan saling manyun.


"Hei, aku nggak peduli dengan kalian. Aku hanya menagih piza yang kamu janjikan, Lang!" Celetuk Doni.


Saat hendak masuk ke rumah Doni, ponsel Bulan berbunyi, dari Mario. Bulan berdehem.


"Kalian masuk saja dulu, nanti aku susul." Ucapnya sambil ngeloyor menjawab panggilan dari Mario.


Langit dan Doni masuk. Lalu membuka bungkusan piza dan mulai menyantap roti Italia yang sudah terpotong potong itu.


"Kamu kelihatan beda sekarang." Ujar Doni.

__ADS_1


"Beda gimana?" Tanya Langit penasaran.


"Lebih, eeemm, lebih jadi anak rumahan, sudah jarang ngumpul ngumpul lagi." Sahut Doni.


"Sekarang, aku harus terlibat dalam keluarga Bulan, dan teman temannya." Jawab Langit sambil tertawa.


"Sudah punya tanggung jawab lebih besar sekarang, membawa hidup anak orang." Cetus Doni.


"Ah, tidak juga. Kamu kan tahu sendiri hubunganku seperti apa dengan Bulan."


"Hubungan kalian memang aneh. Tidak wajar, tidak sehat, tahu tidak?" Komentar Doni.


Langit menghela napas, menghentikan sejenak kegiatan kunyah mengunyahnya.


"Jujur, Don, kalau melihat Bulan. Jika ada saudara yang datang menginap, kami harus satu kamar..."


"Satu tempat tidur?!" Sela Doni.


"Nggak sih. Tapi tetap saja kadang ada keinginan, aku lelaki normal. Apalagi saat mengingat dia adalah istri sahku, berarti aku punya hak, kan, untuk melakukan tindakan biologis itu." Jawab Langit.


"Itulah, maksudku, yang tidak sehat tadi!" Timpal Doni.


Kemudian Langit memajukan badannya mendekati Doni, memelankan suaranya.


"Seperti tadi, dia hampir menubruk tubuhku. Dan kami sangat dekat, tinggal satu dorongan saja..!" Bisik Langit.


"Heh, kamu tidak berniat memaksakan kehendak, kan?" Cecar Doni.


"Nggak lah! Emang aku cowo brengsek apa?!" Sahut Langit dengan sewot.


"Siapa yang brengsek?" Sahut Bulan yang berjalan menghampiri Langit dan Doni.


"Semoga bukan aku yang kalian omongin ya!" Imbuh Bulan.


Doni berdehem keras sementara Langit mengalihkan perhatian dengan permisi ke kamar mandi.


"Langit bilang kamu telah mengambil hati keluarga besarnya." Ujar Doni saat Langit sedang permisi ke kamar mandi.


"Oya? Masa sih? Padahal aku tidak melakukan apa apa loh." Sahut Bulan heran sendiri.


Bulan meraih piza dan memasukkan ke dalam mulutnya. Nyam...nyam..nyam..


"Itu karena kamu menyenangkan." Celetuk Doni.


"Ah, biasa saja tuh." Sahut Bulan masih mengunyah piza dalam mulutnya.


"Kamu tidak sadar, bahwa kamu adalah orang yang menyenangkan?" Tanya Doni.


"Sadar sih, tapi kan tidak mungkin mengakuinya secara terang terangan." Sahut Bulan sambil bergurau.


Doni terkekeh mendengar ucapan Bulan.


"Hoohh.. tidak!" Celetuk Bulan tiba tiba dengan mulut ternganga. Padahal dia baru saja memasukkan piza dalam mulutnya dengan ukuran maksimal.

__ADS_1


Sontak Doni jadi kehilangan setengah dari selera makannya karena melihat cara Bulan makan.


"Bagaimana kalau aku juga mengambil hati Langit, sama seperti keluarganya itu? Gawat!" Celetuk Bulan.


__ADS_2