(Bukan) Pernikahan Impian

(Bukan) Pernikahan Impian
Dua Tahun


__ADS_3

Bulan termenung di sofa dengan televisi menyala. Ia mengingat kembali semua kenangan tentang dia dan Langit. Lalu ia tersenyum, seakan telah mendapat wangsit jawaban dari maksud ramalan itu.


Keakraban. Ya, mungkin itulah jawabannya.


"Aku dan Langit hanya terlalu akrab saja. Sudah mengetahui masing masing, dan susah terbiasa berbagi ruang dan privasi."


Itu kesimpulan pribadi Bulan, meluruskan apa yang telah dituduhkan Maura kemarin tentang kedekatannya dengan Langit selama ini, hingga berkembang menjadi sebuah rasa.


Bulan duduk bersila di atas sofa, pandangannya menyapu langit langit rumah, lalu berlanjut ke sudut sudut di ruang tengah itu. Kalau sedang sendirian malam malam begini, yang kerap terlintas di benak pikiran Bulan adalah Langit.


"Huh... Itu wajar saja. Langit, kan tinggal serumah denganku. Jadi, visualisasi lebih banyak merekam gambar Langit. Jadi, jika dia sedang tidak ada. Dengan otomatis otakku mencari sosok yang menghilang. Yaitu, Langit." Itu adalah salah satu argumen dari sisi otak yang logis versi Bulan yang diutarakan ke Maura waktu itu.


Tiba tiba engsel pintu bergerak. Bulan terperanjat.


"Langit pulang! Kok nggak kedengaran suara motornya.. aduh... Gimana ini... Aku sedang tidak siap untuk mengobrol bersama dia sekarang!" Rutuk Bulan.


Lalu Bulan buru buru merebahkan badannya ke sofa, pura pura tertidur. Beberapa detik kemudian, Langit nongol di ruang tengah. Perlahan Langit mendekati Bulan, lalu mengambil remote control yang ada di genggaman Bulan.


"Aduh, bodoh! Kenapa remote nya aku pegang? Kacau ini, duh... Hush... Sana cepat pergi!" Ucap Bulan dalam hati.


Langit mematikan televisi. Hening....


Bulan merasa lega. Namun, ia menyadari Langit masih ada di sana. Ia belum beranjak pergi dari tempatnya saat ini.


Langit masih berdiri terpaku sambil menatap Bulan, yang saat itu memejamkan matanya sok tidur pulas.


Langit menatap wajah Bulan, lalu membungkuk, tangannya menjulur perlahan-lahan merapikan poni rambut Bulan yang menutupi mata.


"Ya Tuhan, Langit... Apa yang akan kamu lakukan lagi kali ini? Mampus deh aku!"


Batin Bulan berseru panik, Bulan harus menahan diri untuk tidak bergerak dan tanpa ekspresi sama sekali, sampai sampai ia harus menahan napasnya saat Langit menyentuh rambutnya.


Otak Bulan mengirimkan sinyal sinyal untuk tidur pada saraf matanya. Ia berusaha memejamkan matanya. Dia khawatir Langit akan menciumnya tiba tiba. Ia sama sekali belum, dan tidak siap untuk hal itu.


(Seperti adegan di film film romantis, saat sang pria menatap wanita yang tertidur pulas, lalu menyentuh wajahnya, mengelusnya, dan mencium bibirnya dengan mesra. Itu yang ada dalam bayangan Bulan)


Bulan menghitung saat saat Langit hanya menatap wajahnya yang pura pura tidur itu. Padahal jantung Bulan saat itu berdegup dengan kencang saat mereka berdekatan.

__ADS_1


Pada detik ke-20, Langit baru beranjak berdiri dan pergi ke kamarnya. Bulan menghembuskan napas sangat sangat lega. Dan yang paling penting tidak ada ciuman, seperti di film film itu.


Bulan langsung berlari ke kamarnya. Bulan meloncat ke tempat tidur, menelungkupkan tubuhnya dan membenamkan mukanya ke atas bantal.


Ia masih memikirkan apa yang baru saja terjadi. Mengapa Langit berbuat seperti itu? Apa yang ada di benak pria yang tinggal satu rumah dengannya itu? Mengapa dia menatap dan... Membuat Bulan menjadi serba salah begini?


Bulan membolak-balik badannya dengan pikiran sibuk menelaah peristiwa itu.


"Aku harus melakukan sesuatu, kalau terus dibiarkan, lama lama aku dan Langit jadi berperilaku seperti layaknya pasangan suami-istri beneran... Bisa gawat!" Gumam Bulan sambil menggelengkan kepalanya.


***


Bulan tak bisa tidur dengan nyenyak semalam. Hasilnya, pagi ini dia bangun lebih pagi, bahkan sangat pagi sekali dari biasanya. Langit saja belum bangun, terbukti dengan masih padam lampu kamarnya.


Bulan lalu menuju ke dapur berniat membuat kopi untuk membuat tubuhnya lebih bersemangat.


"Tumben, jam segini sudah nongkrong di dapur? Mau berangkat lebih pagi?" Sapa Langit tiba tiba.


Bulan menoleh dan tersenyum.


"Ada yang lagi aku pikirkan." Sahutnya.


"Bagaimana kabar kalian? Kamu dan kekasihmu? Aku harap kalian baik baik saja sejauh ini." Tanya Bulan. Sejauh ini, Bulan masih belum berani menatap mata Langit, karena masih teringat kejadian yang mendebarkan tanpa kata tadi malam.


"Ya. Kami baik baik saja." Sahut Langit sambil mengunyah roti. Benaknya agak heran dengan Bulan yang tumben menanyakan hubungannya dengan Syaharani.


"Hhmmm... Hubungan Langit dengan sang kekasih baik baik saja, lalu kenapa semalam dia? Ahhh.. "


Bulan menahan pikirannya dan berkata.


"Eh, Langit, aku mau mengajukan penawaran." Ucapnya.


"Tawaran?"


"Iya. Aku masih memikirkan yang dikatakan oleh Doni, bahwa kita harus bahagia." Ucap Bulan menerangkan.


"Itu lagi. Saat ini kamu sudah jadi peri kebahagiaan, ya?" Celetuk Langit.

__ADS_1


"Hei, nggak usah sesinis itu, dong." Protes Bulan kemudian.


"Doni benar. Aku berpikir kita tidak akan selamanya begini. Harus ada tenggat waktu untuk mengakhiri hidup bersama seperti ini dan kembali menjalani hidup normal bersama pasangan kita masing-masing." Lanjut Bulan.


Langit terdiam. Tidak memberikan reaksi apa apa.


"Adik dari Eyang pernah bercerai. Jadi, Eyang mungkin tidak tabu dengan hal itu. Mungkin inilah yang dapat kita tempuh untuk menjadi solusi." Tukas Bulan.


"Kamu yakin, Eyang tidak apa apa? Tidak akan jatuh sakit lagi?" Tanya Langit masih belum yakin dengan rencana Bulan.


Bulan mengangguk.


"Yang jelas, kamu, kan sudah menunjukkan pada beliau, kamu bertanggung jawab waktu itu. Kini, tinggal kita berdua yang akan menjalaninya." Ucap Bulan meyakinkan Langit.


"Kapan?" Tanya Langit sambil mengerutkan keningnya.


"Aku memikirkan angka dua. Dua tahun. Bagaimana menurutmu?" Jawab Bulan. Ia sambil menyesap kopinya dan mengambil roti cokelat yang diambil Langit tadi.


"Kamu yakin Eyang bisa menerima ini semua nantinya?"


"Hmmm.. kita akan memberi tanda tandanya jauh jauh hari."


Langit menatap agak lama pada Bulan sejenak memikirkan semua yang dikatakan oleh Bulan.


"Kamu sudah berpikir detail, merencanakan semua dengan sebegitu sungguh sungguh, ya?" Ucap Langit sambil mengambil napas dalam-dalam.


Bulan hanya menunduk saat Langit berucap. Ia pun sebenarnya tidak yakin, namun ini demi kebaikan dan kebagian mereka masing-masing, pikirnya.


"Oke. Kami adalah sutradaranya, dan aku adalah aktornya!" Ucap Langit sambil menepuk pundak Bulan.


Bulan tersenyum menatap Langit.


"Terima kasih, Ngit."


"Sama sama." Sahut Langit.


Lalu ia menghabiskan susunya. Berlalu dari dapur masuk ke kamar mandi.

__ADS_1


Bulan masih di dapur menikmati kopinya sambil memikirkan langkah selanjutnya yang akan dia ambil. Yaitu menghubungi Mario dan mengatakan semua rencananya ini.


Ia sangat optimis semua orang akan setuju dan rencananya berjalan dengan baik, hingga dua tahun ke depan. Lalu ia dan Langit akan hidup bahagia dengan pasangan masing-masing.


__ADS_2