
Sore itu Langit menyesap kopinya perlahan di teras rumah kontrakan, Doni sahabatnya datang mengunjunginya.
"Bagaimana bisa kamu akan menikah dengan Bulan? Bulan pemilik rumah kemarin kan..?!" Doni ikut duduk di samping Langit.
"Ya." Jawab Langit lirih sambil mengambil sebatang rokok dan menyulutnya.
Langit bukan seorang perokok, namun jika dia sedang stress, ia akan melakukannya untuk menenangkan pikirannya, dan itu hanya sebatang saja, sisanya biasanya ia akan beri pada temannya.
"Aku dan Rani putus." Langit menerawang sambil menghisap rokoknya.
"Aku memang salah tidak berterus terang padanya dari awal. Tentang tinggal sementara di rumah Bulan. Aku sudah salah dari awal. Kupikir dengan tidak melibatkannya, tidak membebaninya, akan membuat hubungan kami baik baik saja. Tapi, ternyata sebaliknya." Tutur Langit.
"Bukankah kamu dan Bulan telah memiliki pasangan masing-masing?"
"Ya. Kami telah memiliki pasangan masing-masing. Setelah Rani datang memergoki aku tinggal di rumah Bulan. Aku langsung pindah kemari, memindahkan barang-barangku. Bulan mengundangku datang ke pesta yang diadakan temannya." Langit berhenti sejenak mengambil napas.
"Aku hanya ingin melupakan masalahku dengan Rani. Aku ingin memperbaikinya untuk selanjutnya. Tapi kegilaan melandaku. Aku minum terlalu banyak, sehingga semua terjadi begitu cepat. Dan saat aku sadar, keluarga Bulan dan keluargaku sudah ada di sana semua." Langit menggelengkan kepalanya, lalu menoleh ke arah Doni.
Doni terdiam, ia menghisap rokok juga.
"Awalnya aku dan Bulan, sepakat untuk melupakan semuanya. Kami akan memperbaiki hubungan dengan pasangan kami masing-masing, dan melanjutkan hidup kami kembali. Namun, Eyang Kakung Bulan sakitnya kambuh setelah kejadian itu. Beberapa hari koma dan harus dirawat intensif di rumah sakit. Saat sadar inilah permintaannya. Seolah permintaan terakhir untuknya pada Bulan. Dan aku akui, aku memang salah dari awal. Dan mungkin itu melukai Eyangnya. Bulan adalah cucu kesayangannya, dan aku kepergok melakukan itu dengannya. Huh...!" Langit mendengus kesal dan mengusap usap wajahnya.
"Lalu kamu melamarnya." Tanya Doni.
"Ya. Namun, semua hanya di atas kertas dan di hadapan keluarga saja. Dan untuk jangka waktu tertentu. Kami akan menjalani hidup masing masing setelah menikah, seperti saat aku tinggal sementara di sana. Kata Bulan. Sejujurnya aku pun tidak tahu harus berbuat apa. Jadi, aku menuruti Bulan. Keluargaku telah bertemu dengan keluarganya. Dan menyerahkan semua persiapan nya pada pihak keluarganya. Aku bilang pada Bulan, jika perlu bantuanmu, aku selalu siap." Cerita Langit pada Doni panjang lebar.
Doni menepuk pundak sahabatnya itu.
"Aku akan mendukungmu. Semoga semua lancar."
__ADS_1
"Terima kasih, Don."
****
Bulan mendatangi pusat kebugaran sore itu. Ia menenteng tas olahraganya berjalan masuk ke sebuah ruangan mengikuti kelas pound fit (olahraga kardio dengan menggunakan stik drum).
Maura menyambutnya dari dalam ruangan itu dan menariknya untuk berada di dekatnya.
Sebenarnya, Bulan sedang malas membasahi tubuhnya dengan keringat. Tapi, demi melobi orang satu ini yang gila olahraga, apa boleh buat.
Satu jam lebih mereka berbadan ria dengan keringat dengan melakukan pound fit. Setelah itu, Bulan dan Maura melakukan "pendinginan" di kafe ber- AC yang terletak di samping pusat kebugaran itu.
Bulan menuturkan semua kejadian yang menimpanya. Keluarganya termasuk Eyang datang menjemput karena akan ke rumah Oma dan Opa.
"Jadi aku dan Langit akan menikah." Tutup Bulan mengakhiri ceritanya.
Maura tercengang dengan penuturan Bulan soal pernikahan tiba tibanya. Bulan memang belum memberitahu teman-temannya. Ia sendiri saja masih dalam tahap mencoba menerima kenyataan yang dirasakan berat.
"Heh, maksudmu what, when, where, who, why, how?!" Bulan segera tanggap apa yang dimaksud oleh Maura.
Maura mengangguk mantap, sementara Bulan malah memajukan bibirnya.
"Ya, itu yang ada di benakku." Sahut Maura sambil meringis.
"Baiklah, jika itu maumu." Bukan membenarkan duduknya, dan duduk tegak.
"What? Adakah sebuah pernikahan sederhana yang tidak memerlukan acara ramai ramai. Kamu cukup membantuku untuk meyakinkan Mama, dan membantuku membicarakan ini dengan pihak event organizer yang telah ditunjuk oleh Mama. Who? Aku dan langit. Where? Aku menginginkan di rumah, tapi sepertinya akan merepotkan, jadi aku ingin dilakukan di tempat yang lebih privat. When? Mungkin sekitar satu hingga dua bulan lagi. How? Itu tugas dari pihak wedding organizer, dan aku meminta bantuanmu untuk berdiskusi bersama pihak WO." Terang Bulan sejelas mungkin.
"Lalu why? Bukan karena kalian tinggal serumah lalu kamu hamil, kan?" Selidik Maura dengan menatap tajam Bulan.
__ADS_1
"Nggak! Aku sudah periksa." Tangkis Bulan dengan cepat dan spontan. Yang membuat Maura tercengang hingga mulutnya menganga lebar saking terkejutnya. Bulan yang keceplosan langsung buru buru menutup mulutnya sendiri.
"Astaga..! Astaga! Astaga Bulan.. Ya ampun! Kamu dan Langit? Padahal aku tadi cuma tanya iseng, karena gak mungkin kalian melakukan itu, dan kamu kan masih punya.."
"Sssttt.... Bisa tolong pelanin suaramu!" Sergah Bulan sambil menutup mulut sahabatnya itu dari reaksi heboh yang dibuatnya.
"Katanya ini bukan keinginan kalian? Tapi kok kalian berbuat begitu?" Sontak pertanyaan Maura membuat wajah Bulan terasa panas.
Semula Bulan menyensor adegan kepergok tidur bersama itu pada Maura. Hanya menceritakan Eyang dan Orang tuanya mengetahui bahwa Langit yang tinggal bersamanya. Tindakan mereka dianggap merupakan hubungan yang serius dan harus diresmikan dalam sebuah pernikahan.
Namun, berhubung Bulan keceplosan, ya sudah. Akhirnya ia pasrah menceritakan yang sebenarnya pada Maura.
"Aku dan Langit sama sama mabuk sepulang dari tempat Sonya malam itu. Kami sama sama punya masalah. Paginya kepergok sama Mama Papa dan Eyang. Eyang shock, mogok minum obat, mogok makan, hingga terkapar begitu saja, hingga koma. Makanya aku harus merealisasikan permintaan Eyang. Takut keadaan Eyang malah semakin memburuk."
Maura terbengong mendengar penuturan Bulan. Bulan bertambah malu, dengan reaksi sahabatnya yang sepertinya mulai shock juga.
"Aku sebenarnya malu cerita seperti ini ke kamu, Ra." Ucap Bulan lirih.
"Tenang, aku tak akan menceritakan ke siapapun." Sahut Maura menenangkan.
"Aku akan membantumu." Lanjutnya. Membuat Bulan berbinar dan tersenyum lebar.
"Makasih Ra, kamu memang yang terbaik. Kamu memang sahabat yang bisa diandalkan. Aku lagi pusing mikirin acara peresmian lapangan basket, lalu ditambah skandal ini." Bulan langsung memeluk Maura.
"Aku tidak akan melupakan jasamu yang satu ini, super!" Janji Bulan.
"Oh, jadi kamu melupakan jasa jasaku yang lain, begitu?" Seloroh Maura manyun. Bulan menyeringai.
"Entah kenapa kalau soal itu, tiba tiba aku terserang amnesia." Gurau Bulan.
__ADS_1
"Kamu yang terbaik, Maura." Sambung Bulan sambil tersenyum manis menatap sahabatnya itu.
"Huh... Merayu..!" Celetuk Maura sambil melipat kedua tangannya di dada.