
"Jika sesuai rencanamu. Besok lapangan basket ini mulai dirombak, dilengkapi dengan bangku penonton, papan skor digital, dan akan menjadi salah satu tempat untuk mengadakan turnamen. Jadi malam ini kamu mengingat lapangan ini untuk terakhir kali.
Besok akan jadi lapangan baru dengan temanku, Bulan sebagai pelaksana. Proyek pertama harus sukses!" Cerocos Langit panjang lebar dengan hanya sekali napas.
Bulan terharu. Ini yang hendak ia bagi dengan Mario malam ini. Eyang akhirnya memberinya wewenang pertama kali sebagai pelaksana proyek, bukan sekedar konseptor seperti yang sudah sudah. Ini sangat berarti bagi Bulan.
"Aku tahu setiap malam kamu berkutat mengerjakan ini, bikin layout, budget, materi, proposal, bolak balik diubah sampai bikin kamu naik darah." Tambah Langit.
Bulan ingat saat Eyang mematahkan teori dan hitungan yang ia kerjakan berminggu-minggu dengan sekali kedip, semangatnya pun langsung turun.
Saat di rumah, Bulan selalu uring uringan, dan orang di rumah yang tidak punya andil apa apa selalu jadi korbannya. Ya siapa lagi kalau bukan Langit.
Saat itu, Langit serasa mengalami malam mencekam yang entah sampai kapan. Makanya, malam ini ia berbaik hati membuat ini untuk Bulan, sebagai wujud syukur penderita telah berakhir.
"Jadi, kami tidak patut untuk sedih malam ini, kerja kerasmu sudah dihargai setimpal, Oke?" Langit menepuk bahu Bulan.
Bulan tersenyum lebar, dia tak menyangka penghargaan Langit setinggi ini.
Bulan menghela napas dalam-dalam.
"Kenapa bukan Mario yang mengatakan ini? Kenapa bukan Mario yang membuat kejutan seperti ini? Mengapa harus orang lain yang membuatku merasa dihargai?" Tanya Bulan dalam hati.
Selesai menikmati makan malam di tengah lapangan basket yang besok akan segera dibongkar itu, mereka pulang ke rumah Bulan.
"Lan, lihat." Ucapan Langit membuyarkan lamunan Bulan, dan mengikuti pandangan Langit .
Mario berdiri bersandar pada mobilnya yang terparkir di depan rumah Bulan.
"Kamu keluar saja, biar kumasukkan mobilmu." Cetus Langit.
Bulan dengan malas keluar dari mobil, melangkah mendekati Mario.
Terlihat ada beberapa puntung rokok tergeletak di dekat sepatu Mario, dan di jemarinya sekarang juga terselip rokok.
Mereka tak langsung berbicara.
Mario tidak melepaskan tatapan tajamnya dari Langit sampai menghilang ke dalam rumah.
"Aku tak bisa menghubungimu." Ucap Mario ketus.
__ADS_1
"Aku biarkan berjam-jam di restoran dan sama sekali tak ada whatsapp, pesan, bahkan telpon darimu. Apa tidak ada sinyal di sana?" Sindir Bulan dengan nada dingin.
"Kamu matikan ponselmu selama bersama temanmu itu, agar kalian tidak terganggu dengan teleponku, hah?! Aku sudah menunggu di sini satu jam yang lalu. Di jalan!" Sahut Mario dengan nada tinggi.
"Keterlaluan kamu, Mario. Kenapa jadi kamu yang menyalahkan ku?" Desis Bulan.
"Kamu yang ingkar janji, kamu yang tidak ada kabar sama sekali, kamu yang menelantarkan aku seperti orang bego! Kamu selalu minta dimaklumi, kamu yang seenaknya!" Bulan lepas kendali meluapkan semua kekesalannya pada Mario dengan mata berkaca-kaca.
"Ada apa, Mar?" Suara Bulan berubah lirih, matanya menatap mata Mario.
"Kamu dulu tidak seperti ini, kenapa kamu berubah Mario?" Tanya Bulan sambil terisak.
Mario memalingkan wajahnya. Ia kembali bersandar pada mobil. Bulan ikut berdiri di samping Mario dan menyandarkan tubuhnya di mobil. Kepalanya menunduk lelah, sudah hampir jam dua belas malam.
"Maafkan aku Bulan. Aku terlalu fokus pada proyek ini, sampai terkadang melewatkan sesuatu yang lain. Yang sebenarnya sama pentingnya bagiku." Tukas Mario pelan, lalu ia meraih jemari tangan Bulan.
"Aku yakin kita punya masa depan bersama. Untuk itu aku bekerja keras. Aku akan melakukan apa saja untuk mewujudkan hal yang terbaik dalam hidup kita." Lanjutnya kembali.
Dinding hati Bulan tersentuh kala Mario mengucapkan 'masa depan bersama'. Mario telah memikirkan sejauh itu.
Mario menarik tubuh Bulan dalam pelukannya dan Bulan pun membalas erat genggaman tangan lelaki itu.
Acara Bulan hari Minggu ini adalah bertemu Sonya, sahabat lama yang baru tiba di Jakarta. Karena lama tak bertemu, pastilah mereka akan menghabiskan waktu bersama seharian, dan juga hang out, berjalan jalan keliling mall Jakarta .
"Aku jadi penasaran, seperti apa wujud Langit, sampai membuat Mario ketar ketir." Sonya menyeringai penuh arti.
"Mario ketar ketir karena kami serumah, tahu.." Elak Bulan, mengartikan cengiran Sonya.
"Hei, aku mengenal Mario sejak kecil. Dari dia kecil, dialah teman yang paling pede. Kalau teman seeumahmu itu tidak cukup tampan dibandingkan dirinya. Dapat kupastikan Mario akan tenang tenang saja. Lagian kamu dan Langit sudah seperti pasangan beneran. Pake acara gantian pakai mobil. Barangku adalah barangmu juga." Cerocos Sonya.
"Nggak lah..!" Bantah Bulan.
"Hari ini mobilku dia yang pakai karena kamu bawa mobil. Dan mobilmu jauh lebih keren." Lanjut Bukan sambil tertawa.
Dulu, Sonya yang mengenalkan Mario pada Bulan. Tanpa maksud apa apa. Saat itu Sonya yang terkenal dengan julukan 'Ratu Pesta', sedang menggelar pesta di rumahnya. Dari situ Mario dan Bulan saling tertarik dan lalu jadian.
"Jadi, seperti apa wujudnya?" Tanya Sonya sekali lagi dengan tampang menggoda.
"Mohon untuk mengendalikan diri, Nona." Sahut Bulan.
__ADS_1
Sonya adalah wanita yang senang melakukan petualangan. Baik berpetualang dalam arti sebetulnya alias jalan jalan, dan juga petualang cinta, berpetualang dari lelaki satu ke lelaki yang lain, mengikuti tempatnya berada.
Sonya memiliki tubuh yang seksi, dengan kulit sawo matang yang eksotis, dan rambut ikal, dan yang terpenting dia kaya raya.
"Sonya, sekarang yang tidak tenang adalah aku. Klien yang digembar-gemborkan, dan dilayani habis habisan sekarang adalah Cleo!" Ucap Bulan berapi api.
"Si Nyonya besar itu..?" Seloroh Sonya.
"Koreksi, di bukan nyonya lagi, makanya dia balik lagi mendekati Mario. Pernah kapan itu ponselnya benar benar ga bisa dihubungi dan pesan whatsappku centang satu saja, katanya urusan bisnis yang tidak bisa diganggu. Tapi, jadinya aku yang berpikir yang terlalu jauh." Ucap Bulan.
Sonya manggut-manggut mendengarkan curhatan Bulan.
Sonya tahu Cleo dan Mario memiliki hubungan yang serius bahkan hampir menikah sebelumnya. Kemudian Cleo memilih untuk menikah dengan pengusaha tua renta, namun kaya raya dan meninggalkan Mario.
"Lusa, Mario minta ditemani ke pesta kantornya, dan mereka mengundang klien besar mereka. Makanya hari ini aku harus cari gaun yang seksi. Bukan cuma elegan, anggun, apalagi klasik, tapi yang seksiii." Tutur Bulan dengan mengedipkan sebelah matanya.
Dia bertekad tak mau kalah, karena pasti Cleo juga hadir di sana, merupakan salah satu klien besar kantor Mario.
Gaun yang diinginkan oleh Bulan sudah di dapat dari butik langganan Sonya. Sonya pun tak kalah sibuk belanjanya. Tentengannya jauh lebih banyak dari pada Bulan.
Saat mereka sedang jalan, ponsel Sonya berdering. Ia sedikit menjauh untuk menerima panggilan itu, lalu tak lama ia kembali pada Bulan.
"Bulan, aku sudah ditunggu temanku, aku sudah janji mengajaknya jalan. Maaf ya, kamu jadi naik taksi. Atau kamu ikut kami juga."
"Sudah, aku naik taksi saja. Eh, cowo baru kah?" Goda Bulan.
Sonya hanya mengedipkan mata.
"Kenalan di Sidney, kemarin. Sedang main ke Bali. Katanya pingin lihat Jakarta juga, makanya aku temenin." Jawab Sonya.
Pucuk dicinta ulama tiba. Langit menghubungi, menanyakan apa perlu dijemput. Akhirnya Bulan tidak jadi memesan taksi.
Sonya sengaja menemani Bulan, menunggu kedatangan Langit yang menjemput. Ia penasaran dengan rupa teman serumah Bulan itu.
Saat Langit datang, Bulan mengenalkan Sonya pada Langit.
"Wow, ternyata oke juga. Pantes bikin Mario cemas." Bisik Sonya pada Bulan.
"Langit memang punya modal fisik yang oke, tapi tidak oke di modal keuangan." Batin Bulan.
__ADS_1
Setelah itu mereka berpisah. Bulan dan Langit pulang ke rumah, sedang Sonya menemui temannya.