(Bukan) Pernikahan Impian

(Bukan) Pernikahan Impian
Mencuri Waktu Bersama


__ADS_3

Langit tak langsung tidur sampai rumah. Pikirannya melayang layang entah kemana. Ia terus memikirkan Syaharani.


Gadis yang pernah mengisi hatinya selama hampir tiga tahun. Langit menatap layar televisi di ruang tengah, namun pikirannya tak di sana.


Ia teramat merindukan kekasih yang telah ia tinggalkan karena perbuatan bodohnya. Ia sangat menyesal.


Udara dingin menusuk kulitnya malam itu, bercampur dengan nyamuk nyamuk yang mulai menyerangnya. Ia mematikan televisi dan hendak beranjak dari sofa untuk masuk ke kamarnya di ruang belakang.


Tepat hendak melangkah ke ruang belakang, terdengar deru mobil berhenti di depan rumah, tak lama terdengar mobil itu pergi, dan pintu pagar dibuka lalu ditutup kembali.


Langit menuju ke ruang tamu untuk membukakan pintu rumah, karena ia tau, Bulan yang kembali.


Langit membuka pintu, dan saat itu Bulan berdiri mematung di depannya karena terkejut.


"Astaga Langit!" Pekik Bulan sambil menutup mulutnya.


"Ma-maaf aku pikir kamu masih agak jauh dari pintu masuk." Sahut Langit sambil meringis.


"Masuklah, kamu terlihat sangat lelah." Ajak Langit sambil menutup pintu dan menguncinya.


"Ya, aku sangat lelah sekali, mulai dari peresmian lapangan basket, lalu pernikahan, terus penyambutan keluarga, dan Mario. Tubuhku terasa remuk. Aku butuh spa dan pijat relaksasi untuk memulihkan tenagaku." Bulan berkeluh kesah pada Langit.


Ia menaruh sepatu wedgesnya di rak sepatu lalu menoleh ke arah Langit dengan heran.


"Kamu belum tidur? Jangan bilang kamu menungguku?"


"Jangan ge er ya! Aku baru selesai nonton film di Netflix, lalu aku mendengar kamu pulang, jadi aku berbaik hati membuka pintu untukmu." Sahut Langit dengan cepat.


"Sudah, sana kamu bersihkan diri dan tidur. Besok masih ada satu hari libur, nikmatilah dengan pijat dan spa di salon supaya tubuhmu terasa lebih nyaman." Tambah Langit dengan bijak.


"Terima kasih sekali lagi untuk semuanya." Jawab Bulan sambil tersenyum lebar pada Langit.


Ia menuruti ucapan Langit, untuk segera membersihkan diri, lalu masuk ke kamar tidurnya. Saat itu Langit telah masuk ke kamarnya di ruang belakang.


***


Bulan membuka matanya yang terasa masih berat pagi ini. Dengan malas ia membuka pintu untuk menuju kamar mandi. Sekilas ia melihat Langit sibuk di dapur dan mencium aroma masakan.


Setelah urusan kamar mandi, Bulan menuju ke dapur. Harum masakan sangat kuat tercium di sekitar sana, ia masuk ke sana dan duduk di kursi yang ada di dekat meja makan.


Di meja telah tersedia bolu dan aneka makanan dari acara kemarin, serta rendang dan beberapa menu lain yang telah dipanaskan oleh Langit. Rice cooker juga telah terisi nasi yang telah matang.


"Mau teh atau kopi?" Langit menawari Bulan.


"Kopi pakai krimer." Jawab Bulan.


Langit menuangkan kopi dari teko dan memasukkan krimer memakai sendok lalu mengaduknya.


Ia menaruh di depan Bulan.

__ADS_1


"Terima kasih." Ucap Bulan.


Mereka menikmati sarapan tanpa banyak bicara. Langit sibuk memakan aren ayem uang dibawakan oleh Mamanya kemarin.


"Jadi apa kegiatanmu hari ini?" Tanya Langit.


"Aku mungkin akan menghabiskan waktuku di salon untuk memanjakan tubuhku." Sahut Bulan.


"Mau aku antar?"


"Jika kamu tidak keberatan. Kamu bisa pakai mobilku setelah itu."


Acara mereka hari itu adalah Langit mengantar Bulan ke salon dan spa. Lalu Langit menuju ke tempat ia mengajar.


Setelah selesai mengajar, Langit menjemput Bulan dan mereka segera pulang.


Hari itu mereka lebih banyak menghabiskan waktu di rumah benar benar untuk istirahat setelah mengikuti serangkaian acara yang melelahkan untuk meresmikan hubungan mereka.


***


Pagi itu Bulan kembali lagi ke rutinitas hari harinya untuk ke kantor. Pagi itu seperti biasa Langit sudah berangkat, dan makanan telah tersedia di meja makan. Sebenarnya ia merasa tak enak yang membuatnya seolah-olah Langit itu adalah asistennya, bukan suaminya. Ia tak ingin Langit berbuat seperti itu, ia sendiri juga tak memintanya, namun, Langit selalu melakukannya.


Menjelang siang usai meeting, Mario mengirim whatsapp mengajak makan siang di food court sebuah mall di dekat tempat Mario bekerja. Bulan segera membalas ya dengan cepat.


Saat jam makan siang, Bulan segera bergegas menuju mobilnya untuk ke mall yang disebutkan oleh Mario.


Kini mereka telah bertemu di food court dan telah memesan menu dari gerai makan yang ada di sana.


"Bulan, ada apa?" Tanya Mario.


"Ada.." Bulan belum sempat menyelesaikan jawabannya, tiba tiba.


"Waaahhh.... Bulan! Hello, helo, helo! Kebetulan sekali ketemu di sini. Aku baru saja mau menghubungi kamu!" Teriak seorang perempuan.


Bulan menurunkan majalahnya dan memasang tampang terkejut juga. Akting, ia mencoba mengikuti jejak Mamanya, supaya dapat menyelamatkan dirinya.


"Hai, Lili! Halo juga! Sapa siapa? Mama?" Bulan takut sambil matanya menyapu sekeliling memastikan keberadaan Mamanya.


"Sendiri. Aku curi waktu nih. Mumpung mamamu lagi syuting. Aku kelaparan ini, belum makan dari pagi. Sampai tanganku gemetaran!" Tutur Lili, asisten mama.


Bulan menarik napas lega dan spontan mulutnya berucap. "Syukurlah.."


"Hah! Syukurlah?! Maksudmu..?!" Sahut Lili dengan nyolot sambil melotot.


"Oh, eh, maksudku, syukurlah kamu bisa curi waktu makan sebelum pingsan." Sambung Bulan sekenanya.


Pandangan Lili terang terangan menyelidik ke arah Mario.


Bulan langsung berdehem.

__ADS_1


"Ini temanku, kami sedang berbicara tentang bisnis." Sambar Bulan menepis kecurigaan Lili.


Mario hanya mengangguk, lantas sibuk kembali dengan handsfree- nya. Lili setengah melengos, mengurungkan niatnya semula untuk mengajak berjabat tangan.


"Eh, kamu tadi ngomong mau menghubungi aku, ada apa?" Tanya Bulan tanpa basa basi mempercepat urusannya dengan asisten mamanya ini.


"Mau minta tolong, gantiin aku, sehari saja." Jawab Lili dengan tampang memohon.


Bulan langsung mendengus.


"Aku harus pulang mendadak ini. Tidak lama kok, Lan. Tolonglah!" Pinta Lili dengan wajah memelas.


Bulan masih mendengus. "Kapan? Jadwalnya si nyonya artis itu lama tidak?" Tanya Bulan dengan malas. Yang dimaksud nyonya artis tak lain dan tak bukan adalah sang mama.


Lili menggeleng cepat. "Tidak kok. Besok adegannya dikit, di satu tempat saja. Oke friend?" Ucap Lili.


"Fran fren, fran fren." Gerutu Bulan tapi tak menampik permintaan Lili.


Seketika Lili mengembangkan senyum terindahnya sepanjang hayat dikandung badan.


Bulan lantas menarik bahu Lili supaya mendekat.


"Jangan bilang bos mu, kalau ketemu aku di sini, oke?" Bisik Bulan.


"Takut ketahuan selingkuh, ya..?" Sahut Lili sambil nyengir.


Bulan mendelikkan matanya sambil mulutnya mendesis.


Lili tambah nyengir dan sekali lagi mencuri pandanh ke arah Mario.


"Oke, aku kembali dulu, menyelesaikan tugas negara. Jangan lupa lusa, ya! Salam untuk SUAMIMU!" Lili sengaja mengeraskan kata terakhir sambil menyeringai, kemudian pergi.


"Sialan!" Rutuk Bulan dalam hati.


Ia melirik ke arah Mario.


"Hmmm... Teman, ya?" Gumam Mario, setelah Lili terlihat menjauh pergi.


"Bukan, asisten pribadi Mama." Sahut Bulan.


"Maksudku, aku." Jawab Mario meralat.


"Oh..!" Bulan menjadi salah tingkah.


"Ya.. tapi mau bagaimana lagi. Orang orang juga tidak akan ngerti kalau yang disebut teman adalah yang disebut suami itu. Jadi aku harus membiasakan diri dipanggil teman di depan orang orang." Mario menambahkan.


Bulan tahu Mario kecewa. Kecewa pada peristiwa dulu dan tidak puas dengan kebersamaan yang sekarang, tapi Mario sendiri yang menahannya untuk tidak pergi.


"Kita tetap bersama karena kita saling mencintai, bukan siapa menang atas siapa, siapa berhak atas siapa. Jangan menyudutkan ku! Posisiku sudah sangat sulit, Mar." Tandas Bulan sambil menundukkan kepalanya.

__ADS_1


Mario segera menggenggam tangan Bulan.


"Maaf, aku tidak bermaksud begitu, Lan. Maafkan aku ya." Mario memeluk Bulan.


__ADS_2