(Bukan) Pernikahan Impian

(Bukan) Pernikahan Impian
Berbaikan kembali


__ADS_3

S : Mas, bisakah kita bertemu?


Whatsapp singkat dari Syaharani siang itu, membuat Langit tak dapat berkonsentrasi lagi mengajar. Ia menatap layar ponselnya sesekali, sambil mengawasi muridnya mengerjakan tugas.


Ia belum membalas pesan dari Syaharani itu. Jika jujur, ia ingin secepatnya bertemu dengan gadis yang selama ini ia rindukan.


Di sisi lain hatinya ia penasaran, apa yang membuat Syaharani bisa tergerak untuk menghubunginya. Akhirnya, Langit mengambil ponselnya dan mengetikkan di whatsapp.


L : Kita bisa bertemu. Kapan dan di mana?


Langit membalas pesan Syaharani saat ia telah duduk di meja kerjanya kembali. Ia telah selesai mengajar, dan masih bersiap untuk pulang. Namun, Langit masih duduk, menunggu balasan pesan dari Syaharani.


S : Aku kuliah sampai sore.


L : Aku jemput saja, ya?


S : Baik. Mas.


Sore itu, Langit menjemput Syaharani di kampus, lalu mengajaknya ke sebuah kafe tak jauh dari kampus Syaharani.


"Apa kabar?" Tanya Langit memecah kesunyian mereka.


"Baik." Sahut Syaharani dengan singkat.


"Mas..."


"Ya." Langit menatap wajah Syaharani dengan tatapan lembut dan tenang. Membuat gadis itu selalu luluh saat menatap mata Langit.


"Butuh waktu berhari-hari aku memikirkan ini semua. Aku tahu kita pernah melakukan kesalahan sebelumnya. Bukan cuma Mas, tapi juga aku. Karena aku yang terlalu egois. Seharusnya aku bisa lebih mengerti dirimu. Aku tahu, Mas dan Bulan menikah bukan karena atas dasar rasa cinta. Aku tahu, kalian hanya terpaksa melakukan ini semua." Ucapan itu meluncur begitu saja dari mulut Syaharani membuat Langit terbelalak.


"Dari mana kamu tahu ini semua?" Tanya Langit masih belum hilang kagetnya.


"Dari Bulan." Jawab Syaharani sambil tersenyum.


"Hah....??!"


"Ya, jadi tempo hari, Mas mengajak teman untuk wisata menggunakan tur tempatku bekerja."


"Sonya?" Sela Langit.


Syaharani mengangguk mengiyakan.


"Dia teman Bulan, Kan? Dia melihat kita waktu di kafe, dan dia mengira kita selingkuh. Lalu ia datang melabrakku dan ada Bulan.

__ADS_1


Namun, Bulan mengatakan semuanya padaku. Menceritakan semuanya, Mas. Kesalahpahaman yang terjadi di antara kita selama ini.


Bagaimana pernikahan kalian bisa terjadi, hingga hubungan di antara kalian. Dia dan kekasihnya, dan Mas..." Syaharani tak melanjutkan ucapannya, ia menatap Langit sejenak.


"Sekarang semuanya sudah jelas, Mas. Aku memikirkan ini berhari hari sebelum mengutarakan ini semua, sebelum aku menghubungimu. Aku ingin... Kembali ke kamu, Mas. Selama ini aku nggak pernah benar benar bisa melupakan dirimu, Mas." Ucapnya. Langit memeluk Syaharani erat. Hatinya sangat senang, walau pun ada satu hal yang masih mengganjal.


Syaharani menceritakan semua tentang insiden kecil di kafe dengan Sonya dan bagaimana akhirnya Bulan bercerita juga tentang rahasia besarnya supaya Syaharani tidak salah paham.


Lalu setelah Langit dan Syaharani berbaikan kembali, ia mengantar gadis itu kembali ke rumahnya. Setelah itu, ia berpamitan kembali ke rumahnya bersama Bulan.


"Bulan... Bulan... Bulan... Astaga...!"


Langit sibuk membatin di atas motor dalam perjalanan pulang malam ini. Ia masih tak percaya Bulan melakukan semua itu untuknya.


Sesampainya di rumah, Langit mendapati Bulan tertidur di sofa di depan televisi yang menyala. Remote control didekapnya di dada. Langit membungkuk ke sofa dan dengan berhati-hati menggeser tangan Bulan guna mengambil remote control itu.


Tapi, sedikit gerakan itu ternyata mampu membangunkan Bulan dari tidurnya yang nyenyak.


Bulan membuka mata. Karena terkejut menyadari ada sosok lain yang sangat dekat dengan jangkauan pandangan matanya, dengan refleks dia bangun dan menegakkan punggungnya sesegera mungkin.


DUUUKKK...


"Addduuuhhhh....!!" Seru Langit sambil memegang wajahnya. Bulan dengan sukses membenturkan jidatnya ke wajah Langit. Langit berdiri dengan terhuyung-huyung sambil menutupi wajahnya dengan tangan. Saat menyadari hal tersebut, Bulan langsung panik dan terlonjak berdiri.


"Astaga... Langit!! Maaf... Maaf.. Nggak sengaja!" Bulan bergegas menuju ke kulkas. Ia mengambil es batu.


"Sini, biar aku kompres, biar nggak bengkak." Cetus Bulan merasa bersalah sambil menatap wajah Langit yang masih meringis menahan sakit. Langit hanya menurut saat Bulan mengompres wajahnya.


"Kenapa kamu hobi banget nyakitin aku?" Keluh Langit sambil menatap Bulan.


"Ya ampun, aku tuh nggak sengaja, tauuuu!" Sahut Bulan sambil nyengir.


"Kalau nggak sengaja, mengapa sering banget?" Protes Langit sambil menggelengkan kepalanya.


Bulan hanya terkikik mendengar Langit masih mengeluh dengan nada yang memelas.


"Super nggak sengaja. Mungkin ya, kosmikmu dan kosmikku memang tidak sejajar, jadi sering berbenturan." Jawab Bulan.


Langit terkekeh mendengar jawaban Bulan. Kemudian, dia meraih kompresan dari tangan Bulan.


"Bulan, terima kasih. Kamu telah meluruskan masalah ke Rani." Ucap Langit sambil menatap Bulan.


"Sama sama, Bro. Eh, gimana dia?" Tanya Bulan sambil berbinar.

__ADS_1


"Kami berbaikan." Sahut Langit.


Mata Bulan makin membesar dan makin berbinar. "Wow... Kalian balikan?"


Langit menjawab dengan anggukan kepala.


"Wah, selamat ya!" Ucap Bulan sambil tersenyum lebar.


"Terima kasih. Tapi, Lan.." Langit diam sejenak mencari kata kata yang tepat.


"Oh, tidak! Dia nggak minta kamu pindah rumah sekarang, kan?!" Raut wajah Bulan berubah cemas.


"Nggak. Nggak! Hanya saja, aku tetap nggak jujur soal yang telah kita lakukan malam itu. Aku sangat takut membuat dia terluka kedua kalinya lagi." Ucap Langit sambil menghela napas dalam-dalam.


"Yahhh... Terkadang suatu kesalahan yang pernah kita lakukan, cukup disimpan untuk kita saja. Agar orang lain yang nggak ikut melakukan kesalahan, nggak ikut menanggung perasaan bersalah yang muncul sebagai dampaknya. Kamu mengerti maksudku, kan?" Tanya Bulan sambil ikutan menghela napas.


Langit hanya diam bersandar di sofa.


Bulan menoleh ke arah Langit. "Aku yang sudah tidak jujur, Ngit. Karena aku yang cerita, bukan kamu." Bulan berusaha mendapatkan optimisme Langit.


"Aku hanya nggak ingin egois. Merasa bahagia sendirian. Sedangkan kamu masih terombang-ambing." Imbuh Bulan.


Langit tersenyum menatap Bulan. Ia memegang ubun ubun Bulan dan mengacak rambutnya.


"Duh, makin kamu baik sama aku. Membuat rasa bersalahku ke kamu nggak mau pergi, Lan!" Ucap Langit dalam hati.


Bulan berdiri dan menuju ke dapur.


"Ngit, mau kopi?" Teriak Bulan dari dapur.


"Iya." Langit segera berdiri, lalu berjalan ke dapur dan duduk di kursi sambil mengompres wajahnya.


"Maaf ya! Duh, wajahmu jadi merah gitu." Ucap Bulan sambil menyentuh wajah Langit.


Langit hanya mendengus kesal.


"Tuh, kan. Kamu tuh berulang kali melakukan kekerasan padaku!" Keluh Langit kembali.


"Ih, suruh siapa selalu bikin kaget orang! Kamu tuh juga suka membuat jantung mau copot, tau!" Sela Bulan, sambil menaruh mug kopi di depan Langit.


"Gimana ceritanya Sonya bisa melabrak Rani?" Tanya Langit penasaran.


Bulan tertawa terbahak-bahak ketika mengingat kejadian itu.

__ADS_1


Akhirnya ia menceritakan awal mula kisah Sonya melabrak Syaharani, dan Bulan memutuskan untuk meluruskan semua kesalahpahaman yang terjadi di antara Langit dan Syaharani. Ya hitung hitung berbagi kebahagiaan. Dan ternyata terbukti, Syaharani kembali lagi pada Langit, setelah Bulan mengungkapkan semuanya.


Ya, tidak semua sih. Kecuali, bagian Langit dan Bulan yang tidur bersama. Karena bagian itu cukup disimpan untuk mereka saja.


__ADS_2