(Bukan) Pernikahan Impian

(Bukan) Pernikahan Impian
Melabrak


__ADS_3

"Nya, kamu saja gih yang masuk. Terus kamu foto diam diam pakai hp mu." Saran Bulan sambil berbisik.


"Halah... Kamu ini, ngapain kamu repot repot kemari kalo begitu??!" Sahut Sonya dengan gemas ke arah Bulan.


"Aduh, Bulan, kenapa kita gak masuk saja?" Cecar Sonya dengan penuh emosi.


"Eee aku terlalu gugup." Bulan mengarang alasan. Sonya menatap Bulan sambil memutar bola matanya.


Lalu Sonya pergi keluar menuju masuk ke kantor agen tur itu.


Tak sampai lima belas menit, Sonya menampakkan diri, kembali ke hadapan Bulan yang menunggu dalam mobil.


"Gimana?" Tanya Bulan.


Sonya menyodorkan ponselnya, lalu Bulan mengambil ponsel Sonya, dan melihat foto yang diambilnya tadi, untuk memperlihatkan perempuan yang Sonya lihat dengan Langit kemarin.


Bulan melihat, agak lama, ia samar samar mengingat wajah perempuan yang difoto oleh Sonya tadi.


"Ini adalah kekasih Langit yang dulu!"


Bulan hanya termenung menatap foto itu, Sonya mengerutkan keningnya memperhatikan Bulan yang hanya menatap foto yang ada di ponselnya.


"Jadi, gimana? Kamu pernah melihatnya? Kita labrak saja sekarang." Celetuk Sonya sambil menatap tajam ke arah Bulan.


"Hmmm...." Bulan hanya bergumam sambil termangu dalam mobil.


Sonya mulai habis kesabarannya. Ia mulai mendengus dengan kesal menatap Bulan yang bergerak lambat seperti siput, seolah pasrah dengan kenyataan, bahwa Langit selingkuh.


"Huh, kamu ini gimana sih, Lan? Lamban sekali!" Gerutu Sonya.


Lalu ekor matanya menatap seseorang yang tadi ia foto.


"Hah, lihat, itu dia!" Pekik Sonya. Tangan kirinya sibuk memukul mukul lengan Bulan, sedang tangan kanannya menunjuk ke arah depan. Ke arah seorang gadis yang sedang berjalan, keluar dari kantor tur itu.


"Nah, itu dia masuk ke kafe. Itu tempat yang kemarin mereka ketemuan. Dia pasti mau ketemuan lagi sama Langit. Ayo, kita samperin mereka, sebelum terlambat!" Sonya membukan pintu mobil hendak melabrak.


Bulan sontak menarik lengan Sonya, yang membuat Sonya terbelalak melotot menatap Bulan dengan kesal.


"Duh, Kamu ini, mau ngapain lagi?" Protes Bulan.

__ADS_1


Sonya makin membulatkan matanya, seakan mau lepas dari tempatnya, jika ini adegan film kartun, tuh mata makin membesar besar dan besar. "Hah? Masih nanya lagi mau ngapain!" Sonya bergegas keluar dari mobil dan berlari kecil menuju kafe.


Buru buru Bulan ikut turun mengejar temannya itu sambil berteriak.


"Sonya! Ini sama sekali tidak yang seperti kamu kira!" Serunya.


Percuma! Sudah terlambat, Sonya sudah keburu masuk dalam kafe itu. Mau tak mau Bulan juga ikut masuk ke dalam kafe juga. Mulutnya berkomat Kamit berdoa, "Ya Tuhan, tolonglah jangan membuat skenario yang memalukan untuk diriku!"


Melewati pintu masuk, Bulan m ndapari perempuan yang tengah diburu oleh Sonya duduk membelakangi pintu masuk.


Sonya duduk di depannya dengan wajah yang tegang.


"Dengar baik baik! Kamu TIDAK usah lagi menghubungi Langit!" Ucap Sonya dengan menekan kata tidak, namun sebenarnya dia mengatakan dengan penuh penekanan pada perempuan itu.


Syaharani terkejut ketika ada orang asing yang tiba tiba menyerobot. Dan yang lebih membuatnya terkejut adalah orang itu menyebut nama Langit. Syaharani mengira bahwa Sonya adalah kekasih baru Langit saat itu.


"Saya tidak menghubungi Mas Langit lagi." Tukas Syaharani dengan tegas.


"Halah, nggak udah berkelit! Kalian pernah bertemu di sini kan, dan..." Belum selesai Sonya berucap.


"Nya, sudah deh!" Bentak Bulan sembari mendekat dan berdiri di sisi Sonya duduk.


"Loh, ini kan Bulan!" Syaharani terperanjat kaget.


"Heh! Dengarkan baik baik, ya! Itu pun kalau kamu belum tahu, Langit sudah menikah! Camkan itu dalam hati dan kepalamu!" Sonya terus melabrak dengan penuh emosi.


"Sonya!" Seru Bulan untuk mengehentikan temannya supaya tidak terus menerus berucap dengan emosi.


Ia menoleh ke arah Syaharani yang bertambah syok. "Nggak..."


"Iya! Dan ini istrinya!" Potong Sonya. Lalu Sonya meraih lebih tepatnya menarik lengan Bulan.


"SONYA! Sudah! Hentikan!" Bentak Bulan dengan suara lantang.


Wajah Syaharani sudah membeku, sampai sampai matanya tidak berkedip.


"Maaf, ini semua salah paham." Terang Bulan yang lagi lagi disela oleh Sonya.


"Hah? Salah paham apanya? Lan..!" Sela Sonya.

__ADS_1


"Sudah! Diam aku bilang!" Jerit Bulan dengan spontan. Beberapa orang menoleh dengan kehebohan yang sedang terjadi saat itu.


"Saya yang akan pergi." Ujar Syaharani sambil berdiri.


"Jangan! Kumohon." Cegah Bulan.


"Aku harus meluruskan semua ini, Syahrini, kumohon.."


"Syaharani. Rani." Cetus Syaharani dengan suara sangat dingin.


Ups... Bulan menutup mulutnya dengan tangan karena salah panggil.


"Sonya, bisa tolong tinggalkan kami berdua." Pinta Bulan pada Sonya. Tampangnya terlihat tegang sekali ke Sonya. Sonya hanya mengendikkan bahu lalu ngeloyor ke luar kafe.


"Maaf, Rani. Jadi begini. Mulanya Langit menghubungiku dengan maksud menyewa salah satu kamar yang memang sengaja aku sewakan. Mulanya aku sempat ragu, karena berharap dapat penyewa perempuan. Namun, Langit meyakinkanku, dan dia sangat membutuhkan tempat tinggal sementara saat itu, dan uangnya terbatas. Akhirnya aku mengijinkan dia tinggal di sana. Karena saat itu tak ada satu pun temannya yang dapat membantu.


Namun, suatu hari, keluargaku datang ke rumah, dan mereka mengetahui, jika aku tinggal bersama lawan jenis. Itu pamali, bahkan termasuk hal yang sangat memalukan bagi Eyang kakungku.


Eyang masih menganut paham kuno yang kolot, hingga dia kepikiran dan sakit. Aku tak mau Eyang drop gara gara memikirkan aku dan aku nggak mau jadi penyebab Eyang meninggal. Maka aku memutuskan, lebih tepatnya, aku dan Langit sepakat untuk melakukan pernikahan ini." Bulan menuturkan semua dari awal. Eh, ralat, hampir semua.


Bulan memang menceritakan dari awal, namun tidak semua. Karena tentu saja dia tidak bercerita tentang tidur bersama dengan Langit. Bulan bertekad membantu Langit meluluhkan hati Syaharani. Jadi menceritakan hal tidur bersama itu pasti tidak akan membuat Syaharani luluh.


"Kami seperti teman kos. Dia tetap membayar sewa kamarnya, dan kami tidur terpisah. Dan aku tetap menjalin hubungan dengan kekasihku. Namanya Mario. Kami sudah berpacaran selama dua tahun." Imbuh Bulan.


Syaharani tertegun. Lama banget dalam posisi diam. Dia tak menyangka hari ini bakal dapat kejutan yang tidak pernah terlintas di benaknya dalam versi apa pun.


Bulan merogoh ponsel, dan meletakkannya di sisi meja dekat Syaharani.


"Bukalah! Yang ada hanya foto foto pria lain, foto Mario." Ucap Bulan dengan suara lembut.


Syaharani menatap Bulan lekat lekat. Bulan meneruskan. "Kamu orang ketiga yang mengetahui semua detail ini. Dan aku harap cukup tiga orang yang mengetahui ini semua." Tukas Bulan sambil menatap Syaharani.


Syaharani menggigit gigit bibir bawahnya. Ini semua masih di luar jangkauan otaknya yang menggambarkan Langit selama ini.


"Langit melakukan semua ini??" Tanya Syaharani dalam hatinya. Ia sungguh tak menyangka.


"Aku merasa bersalah karena sudah nggak adil ke Langit. Dia juga berhak memperoleh cintanya. Dan kamu juga berhak memperoleh cintamu." Tambah Bulan meyakinkan gadis di depannya itu.


Syaharani tertunduk, matanya berkaca-kaca mendengar semua ucapan Bulan.

__ADS_1


__ADS_2