(Bukan) Pernikahan Impian

(Bukan) Pernikahan Impian
Buka Hati dan Pikiran


__ADS_3

Beberapa jam kemudian operasi selesai dilaksanakan dan Langit dipindahkan ke ruang perawatan intensif. Hanya Bulan yang menunggu di sana. Dia merapikan barang-barang milik Langit dan baru menyadari ponsel Langit bergetar. Ternyata ada beberapa panggilan tak terjawab yang masuk, dari Syaharani.


Bulan menghela napas panjang, ponsel masih bergetar menandakan masih dihubungi. Sejenak, Bulan tertegun lama. Sebelum akhirnya dia memutuskan untuk menghubungi balik Syaharani dan mengabarkan kondisi Langit saat ini.


Bulan meletakkan kepalanya di bibir ranjang rumah sakit itu. Lalu memejamkan matanya di sana.


Bulan merasa ia baru sebentar memejamkan matanya.


"Selamat sore Mas, Mbak, saya mau ganti perban pasien ya!" Ucap perawat itu sambil membersihkan luka, ganti perban, mengobati pasien yang satu ini.


Ternyata Langit sudah sadar lumayan lama, ia sengaja membiarkan gadis itu tertidur dulu, baru memanggil perawat untuk datang karena dia telah sadar.


"Mas Langit sudah boleh pindah ke ruang perawatan biasa sekarang. Kondisinya sudah membaik." Ucap Perawat itu.


"Baik, Sus. Oya, saya minta kamar VIP, ya." Pinta Bulan.


"Baik, Mbak. Segera kami siapkan." Jawab perawat tersebut, lalu berlalu meninggalkan kamar sambil membawa nampan berisi perban dan kasa bekas luka Langit tadi.


Setelah menunggu sekitar tiga puluh menit, perawat itu datang kembali bersama beberapa rekannya, untuk membantu memindahkan ranjang menuju ruang VIP.


Selama proses berlangsung Bulan dengan setia menunggu dan mengurus semua keperluan Langit. Langit menjadi tersentuh melihat itu.


"Sini!" Langit menyuruh Bulan untuk mendekat saat mereka telah di ruang VIP.


Bulan menurut dan menarik kursi, lalu duduk mendekat, duduk di samping Langit.


"Hei, kamu nggak ingin tahu kejadian yang menimpaku?"


"Aku nggak mau denger! Aku nanti akan mencuri dengar saja kalau kamu cerita ke orang lain, oke?" Sahut Bulan sambil menggelengkan kepalanya.


Langit tertawa mendengar jawaban Bulan. Namun, badannya jadi sakit semua jadinya.


"Oya, mamamu nanti akan datang." Ucap Bulan.


"Bulan, makasih, ya, sudah menemani. Itu berarti kamu berkorban dengan membatalkan acara liburanmu." Ucap Langit sambil menatap Bulan lekat lekat.


Bulan belum pernah melihat Langit berbicara dan menatapnya seromantis ini.


"Seperti ini kah, sikap orang yang baru sadar dari obat bius?!" Pikir Bulan sambil membalas tatapan Langit.


"Heh, lihatlah dirimu sendiri, lebam lebam dan bekas jahitan. Sejelek jeleknya kamu, aku tuh masih punya rasa belas kasihan." Celetuk Bulan bercanda melumerkan suasana yang romantis itu. Bulan merasa belum siap dengan Langit. Dia merasa sangat grogi.


Langit masih menatap Bulan, lalu meraih tangannya dan menggenggamnya. "Bulan, aku.."


TOK..TOK..


Tepat saat itu, muncul seseorang dari ambang pintu. Mengetahui siapa yang datang, Bulan secepat kilat menarik tangannya dari genggaman Langit.


"Rani..?!" Panggil Langit terkejut.


Bulan langsung berdiri dan mundur agak menjauh dari ranjang.


"Hmm tadi aku yang menghubungi dia." Ucap Bulan.


"Apa??" Seloroh Langit, masih dengan keterkejutannya.


"Hai, silahkan!" Sapa Bulan pada Syaharani.


Syaharani mengangguk sambil mendekat, mengambil tempat di sisi seberang Bulan berdiri dekat pembaringan Langit.


"Hai, Mas, aku datang." Ucap Syaharani sambil tersenyum. Langit menatap gadis itu membalas senyumnya.


Bulan seketika merasa mulas perutnya.

__ADS_1


"Maaf, eh, kamu bisa di sini, sampai Ibu, eh mamanya Langit datang? Kalau kamu nggak repot sih."


"Tentu." Sahut Syaharani.


"Eh.." gumam Langit yang mau bicara, tapi langsung diserobot oleh Bulan.


"Makasih ya. Saya harus ke kantor sebentar. Sampai nanti." Dengan tergesa-gesa Bulan meraih tasnya dan langsung keluar. Mata Langit mengikuti sampai Bulan menghilang.


Bulan berjalan cepat hingga sampai di samping mobilnya. Bulan berkacak pinggang, lalu menepuk jidatnya, dan mengumpat dengan sepenuh hati.


"Sialan! Sialan! Hih, harus balik lagi ke dalam, sialan, dasar pikun!" Rutuknya pada dirinya sendiri.


Kunci mobilnya ketinggalan. Dengan langkah gontai ia berjalan kembali lagi ke kamar Langit dirawat.


Bulan mendekati kamar Langit, ia menempelkan tubuhnya ke dinding dan kepalanya menjulur ke ambang pintu yang tidak tertutup sempurna itu. Bulan mengintip apa yang sedang berlangsung di dalam kamar. Dia takut kedatangannya kembali bakal mengganggu hal yang seharusnya tidak boleh diganggu.


Bulan melihat tangan Syaharani terulur ke kening Langit. Mereka saling tersenyum.


"Astaga, gawat! Perutku tiba tiba jadi mulas lagi!" Gumam Bulan dari balik dinding.


"Mbak? Ada yang bisa saya bantu?" Tanya seseorang di belakang Bulan.


Bulan meloncat super kaget, seorang perawat memergokinya.


"Mbak sedang mencari pasien?" Tanya perawat itu lagi.


Bulan mengangguk cepat secara spontan. Dadanya bergemuruh.


"Atas nama siapa?"


"Eh..."


"Bulan!" Panggil Langit dengan raut wajah heran, karena melihat Bulan muncul kembali dari ambang pintu.


"Oh, hai!" Cetus Bulan melambaikan tangan. Dia menoleh ke perawat tadi.


"Suster, sudah ketemu hehe... Terima kasih." Pulang meringis ke arah perawatan tadi.


Dengan segan, Bulan lantas masuk kembali.


"Kamu diapain suster?" Celetuk Langit.


"Hehe... Nggak." Bulan berdiri rikuh, merasa tak nyaman. Syaharani dan Langit memandanginya.


"Itu.. kunci mobil ketinggalan. Maaf mengganggu. Silahkan dilanjutkan." Bulan segera menyambar kunci yang tergeletak di meja. Tanpa banyak basa basi, Bulan langsung ngeloyor ke arah pintu tanpa bertatapan dengan Langit ataupun Syaharani.


"Hei?" Panggil Langit.


Bulan berhenti dan menoleh. "Ya?"


"Kamu nanti ke sini jam berapa?"


"Eh, mamamu kan nanti ke sini, jadi lebih baik aku nggak di sini."


"Begitu ya? Tapi, kalau besok ke sini, kan?" Langit menatap Bulan.


Bulan melirik ke arah Syaharani. Gadis itu membuang muka.


"Oh, mungkin. Oya, aku harus pergi sekarang." Ucap Bulan tanpa melihat ke belakang lagi.


Dia berjalan cepat setengah berlari menuju arah parkir mobilnya.


*

__ADS_1


*


*


Bulan menghabiskan weekend di kantornya yang sepi itu. Para pegawai kantor sebenarnya libur, hanya pegawai yang bertanggung jawab di lapangan yang masuk kala itu. Hanya ada satu atau dua pegawai yang masuk untuk lembur atau sekedar menghabiskan waktu di kantor untuk menikmati WiFi gratis.


Arena olah raga dan bermain ramai pengunjung saat weekend seperti ini. Bulan ingin menyendiri dulu sementara waktu di dalam kantor.


PEEEETTT..


Tiba tiba lampu padam. Bulan terkejut dan buru buru bangkit. Kaki kananya tak sengaja menginjak sepatu yang berserakan di lantai, dan sukses membuat Bulan kehilangan keseimbangan.


KROMPYANG...!!


Lampu kembali menyala. Ada Pak Aji, satpam senior sedang berdiri di dekat saklar dengan bahasa tubuh waspada.


Saat mengetahui siapa yang menjadi biang keributan, Pak Aji mengendorkan kewaspadaan.


"Maaf, saya kira sudah tidak ada orang. Tadi Mbak Bulan ada di mana?"


Bulan hanya terdiam saat berdiri.


Bulan tadi duduk meringkuk di lantai. Meja menyembunyikan posisi tubuh Bulan dari pandangan mata. Bulan meringkuk melamun menghadap jendela kantor. Menatap pemandangan senja khas metropolitan, sekedar untuk menyepi, merenungkan perasaan yang menyergapnya akhir akhir ini.


"Harusnya aku lega menyaksikan Langit kembali bersama orang yang dicintai. Tapi, mengapa aku malah mulas, tiap melihat mereka bersama. Huh...!"


"Halo... Mbak Bulan! Mbak, apakah Mbak Bulan baik baik saja?" Tanya Pak Aji memastikan kembali. Lantaran Bulan hanya berdiri bengong.


"Oh, eh, iya. Baik." Sahut Bulan sambil memungut tutup gelas yang jatuh tersapu tangan Bulan saat berusaha menjaga keseimbangan.


"Maaf, tadi saya mematikan lampu."


"Iya, Pak. Tidak apa apa."


Pak Aji mengangguk, kemudian memalingkan badan untuk keluar ruangan.


"Pak Aji." Panggil Bulan.


"Ya, Mbak?" Sahut Pak Aji menoleh.


"Tentang dua pria itu, tentang ramalan yang waktu itu Pak Aji pernah bilang ke saya. Apa benar saya harus memilih?"


"Mungkin nggak harus memilih, cukup membuka hati dan pikiran yang jernih. Itu akan membimbing seseorang menuju tempatnya." Sahut Pak Aji sambil terkekeh.


"Itulah masalahnya. Semakin saya membuka hati untuk menerima segala kemungkinan, kok semakin bingung. Apa saya terlalu lebat membuka, ya?" Tanya Bulan sambil mengusap rambutnya.


Pak Aji tertawa menanggapi ucapan Bulan. "Mungkin, Mbak Bulan hanya perlu waktu."


Bulan hanya manggut-manggut.


"Dan lebih peka terhadap kata hati sendiri, ya, Mbak." Imbuh Pak Aji.


Bulan masih manggut-manggut meresapi ucapan Pak Aji barusan.


"Baik, Pak. Terima kasih."


"Saya permisi, Mbak." Pamit Pak Aji sambil berlalu meninggalkan Bulan yang masih termangu mengartikan semuanya.


Membuka hati dan pikiran


Membimbing seseorang pada tempatnya


- Bulan -

__ADS_1


__ADS_2