
KRIIIIINNGGGGG......
Suara jam weker terdengar nyaring di meja kecil sebelah tempat tidur. Namun, Bulan masih terbuai mimpi. Lama kelamaan suara nyaring itu sampai merasuk dalam alam bawah sadarnya hingga ke mimpinya.
"ASTAGA...!!!" Pekik Bulan dengan panik. Ia langsung menyambar jam weker yang setia berbunyi dan mematikannya. Untung saja tak sampai ia lempar hingga pecah seperti yang sebelumnya.
Ia dengan sigap melompat dari tempat tidur dan menuju ke kamar mandi.
Setelah keluar dari kamar mandi ia baru memperhatikan sekitarnya. Rumah sudah sepi.
Ia melirik ke arah dapur. Seperti biasa, ada sesuatu di sana. Bulan segera berganti pakaian sebelum terlambat menjemput sang nyonya artis di rumah.
Bulan meneguk segelas air lalu mengambil setangkup roti yang telah disiapkan oleh Langit di meja makan.
Bulan segera keluar, lalu mengunci pintu rumahnya. Ia mengeluarkan mobilnya, lalu ia mengunci pagar rumahnya.
Ia melirik jam di mobilnya, sudah agak terlambat untuk menjemput Mamanya saat ini, jadi ia memutuskan untuk langsung datang ke lokasi syuting saja.
Bulan memarkir mobilnya di tempat parkir dan mencari sang mama.
"Sori Ma, sori.." Bulan mendatangi mamanya yang sedang break. Mamanya melengos, masih tidak menerima dirinya harus naik taksi online sambil membawa tas besar ke lokasi syuting, pagi pagi sekali. Mama Bulan memiliki masalah fobia atau ketakutan saat bepergian sendirian.
"Kalau kamu keberatan, bilang saja dari awal! Masa Mama harus naik taksi online sendirian. Mana jalanan masih sepi. Kamu ini, membiarkan mamamu ini ketakutan!" Gerutu mama dengan ekspresi seolah menjadi korban.
"Hadew... Mulai lagi deh... Bahasa sinetron." Celetuk Bulan dalam hati mengomentari ekspresi dan tutur kata Mama.
"Apa orang di rumah tidak ada yang bisa nganterin sih? Raka atau Papa?" Tanya Bulan sembari duduk sambil mengipas ngipasi dirinya dengan lembaran naskah milik mamanya.
"Kakakmu tidak pulang semalam. Lalu papamu sedang tidak enak badan. Takutnya sakitnya tambah parah kalau harus nyetir dengan jarak sejauh ini." Jawab Mama masih dengan ekspresi kesal.
"Lagi pula itu kan tugasmu, kan? Kenapa harus suruh orang lain? Heran deh!" Sambung mama dengan ketus.
"Kan, kondisi darurat Ma." Sahut Bulan sambil meringis kecut.
"Tadi sempat kepikiran nyamperin kamu di rumah, tapi rutenya jadi putar balik. Tambah jauh!" Lanjut Mama masih dengan nada pedas.
Dalam hati, Bulan mengucap syukur karena Mamanya urung melakukan inspeksi mendadak ke rumahnya.
Apa jadinya kalau mama langsung menyeruak masuk dan mengetahui dirinya tidur di mana dan Langit tidur di mana. Bisa kacau dan tambah runyam jadinya.
"Lili nggak ngasih tahu jam berapa Mama berangkat. Kupikir ya, pagi standar gitu." Bulan membela diri mencari alasan.
Mama mencibir.
"Apa? Pagi standar? Standar nasional gitu? Mengadakan ada saja! Sejak kapan kerja beginian ada waktu standar?!" Omel mama.
Bulan yang sudah kepanasan kian gerah diomeli oleh mamanya.
__ADS_1
"Ih, Mama! Hargai dong, niatku untuk membantu Lili, membantu Mama juga. Aku sudah berusaha menebus kesalahan dengan langsung kemari tanpa sempat dandan, ngisi perut, dan nggak ngantor.." Dahi Bulan berkerut kerut. Kemudian dia berlalu dari tempat itu, meninggalkan mamanya.
"Mau ke mana?" Seru Mama.
"Cari kopi. Pusing!" Sahut Bulan tanpa menoleh ke arah Mama.
Setelah berhasil menyeduh kopi paginya yang ditemukan siang ini, kepala Bulan tidak tegang lagi. Tapi, kelopak matanya tetap saja minta menutup.
Maklum, Bulan harus begadang menyelesaikan beberapa pekerjaan karena sebelumnya ia banyak tidak masuk karena mempersiapkan pernikahannya.
Tiba tiba seseorang berdehem di dekatnya.
"Ckckck... Duh... Pengantin baru auranya gelap sekali! Ada apa gerangan?" Sapa Mimi, penata rias yang sering bekerja untuk sinetron buatan rumah produksi milik teman mamanya ini. Yang juga menjadi teman baik Lili. Lalu Bulan tidak perlu waktu lama lagi untuk berakrab akrab dengannya.
Bulan mengarahkan kepalanya ke mamanya sambil menyambar roti isi cokelat yang disodori oleh Mimi.
"Omong omong soal aura gelap, mamamu juga begitu sewaktu tiba tadi. Lebih gelap, pakai petir segala!" Cerocos Mimi.
Bulan tergelak mendengar celotehan Mimi.
"Padahal mamamu itu seharusnya tahu. Wajar saja, kan, kalau pengantin baru itu nggak bisa pergi pagi pagi buta, tidak rela...!" Terus Mimi sambil mengeringkan mata kirinya sambil menyeringai penuh arti. Menyenggol lengan Bulan.
Yang disenggol ikut menyeringai dengan arti yang berbeda.
"Tau tuh, Mama. Bawaannya mengajak berantem melulu, gerah kan?" Gerutu Bulan.
Beliau merasa tidak diorangtuakan, tidak dimamakan, sedang kan Bulan merasa mamanya terlalu berlebihan sehingga mengalihkan segala urusan pada wedding organizer, Maura, Irena,dan dirinya sendiri.
"Ngomong ngomong soal gerah, aku juga gerah ke kamu! Teganya nikah nggak undang undang!" Ujar Mimi dengan tampang cemberut.
"Eit, kan sudah ada undang undang, undang undang pernikahan." Seloroh Bulan sambil terkikik sendiri.
"Mengundang diriku, Nek!" Sahut Mimi sambil mencibir.
"Kamu dulu juga nggak mengundangku." Sahut Bulan.
"Yeee... Kita kan belum kenal waktu itu, gimana sih!" Balas Mimi.
"Sori teman, budget terbatas." Sahut Bulan sambil nyengir.
Mimi menepuk keras paha Bulan.
"Ih, bohong banget sih kamu! Orang kaya macam kalian ini, menyebar ribuan undangan, tidak akan mempengaruhi keuangan kalian!" Sahut Mimi dengan sengit.
"Ya sudah kalau tidak percaya." Balas Bulan sambil mengusap usap pahanya bekas dipukul oleh Mimi.
Obrolan mereka terhenti oleh panggilan telpon masuk dari ponsel Bulan mengenai urusan kantor.
__ADS_1
"Nek, lihat dong foto suamimu!" Pinta Mimi saat Bulan menutup panggilan pada ponselnya.
"Foto?" Bulan gelagapan.
"Ennggg.. nggak ada!" Jawabnya ngawur.
"Hah? Di dompet? Di ponsel ? Nggak punya foto pasangan sendiri! Aneh!" Celetuk Mimi tidak percaya.
Bulan menggaruk rambutnya yang tidak gatal itu dengan keki.
Yang ada di ponselnya adalah foto Mario, yang disimpan dalam salah satu folder ponselnya. Tidak pernah terlintas di pikiran Bulan untuk menyimpan foto Langit. Ia tak bisa membayangkan.
"Ya ampun! Kamu juga tidak memakai cincin kawin!" Kritik Mimi berlanjut.
Sontak Bulan mengacungkan jari jari tangan kirinya.
"Kok di tangan kiri sih?" Protes Mimi.
"Di film film barat, pakai cincin kawinnya di sebelah kiri." Jawab Bulan dengan tenang.
Lagi lagi Mimi menepuk paha Bulan.
"Hellooww?! Kamu kan tidak lagi tinggal di Barat sana, Nek!" Kritik Mimi.
"Udah deh, Nek! Dari tadi kamu cuma kritik kanan kiri. Betehh!" Protes Bulan.
Ia hendak beranjak dari duduknya, namun, Mimi langsung menahannya.
"Aduh, jangan ngambek gitu. Ayo dong, cerita soal kehidupan baru kalian. Pasti banyak kejutan. Karena pacarannya aja orang orang pada nggak tau. Tahu tahu kawin.." Rayu Mimi.
"Nggak ada." Jawab Bulan spontan.
"Hah, nggak? Biasanya bulan bulan pertama banyak hal yang tidak terduga dari pasangan." Protes Mimi kembali.
Bulan mengangkat bahu. "Tidak ada, sudah biasa." Jawab Bulan dengan datar.
"Hah, sudah biasa gimana?" Mimi makin penasaran dan terus mendesak.
Bulan baru sadar jika dirinya sudah terlalu jujur menjawab.
"Eemmm.... Iya, kami sudah biasa. Tidak saling memberi kejutan gitu." Jawab Bulan asal saja.
Mimi hanya menatapnya dengan tatapan heran dan bingung, bercampur penasaran.
Tangan Bulan makin kencang berkipas ria.
Gerah... Gerah karena cuaca dan karena diberondong oleh pertanyaan dari Mimi.
__ADS_1