
Langit membereskan meja kerjanya bersiap hendak pulang. Sebenarnya hatinya tidak tenang saat itu. Makan tak enak, tidur pun tak nyenyak.
Sungguh perasaan yang tidak nyaman, yang ia rasakan kini. Pikirannya selalu tertuju pada Bulan. Terlebih sejak mereka pergi bersama sama ke area skateboard tempo hari, membuat ada perasaan tersendiri pada Bulan.
"Apa yang harus aku lakukan? Apakah perasaanku ini benar atau hanya timbul karena saat bersama saja?" Langit bertanya pada diri sendiri.
Akhir akhir ini ia seringkali memikirkan Bulan dan segala tingkah lakunya. Saat sedang bersama Syaharani pun, tak jarang ia teringat dengan Bulan. Ia menjadi merasa makin bersalah pada Syaharani.
Maka, sore itu, ia memutuskan untuk menemui seseorang untuk menceritakan semua perasaannya. Ia takut apa yang ia rasakan kali ini akan bertumbuh dan berkembang hingga membuat kesalahan yang lebih besar lagi.
Langit menuju ke kediaman Maura, sahabat Bulan. Satu satunya orang yang mengerti kisah mereka.
"Hai, tumben kesini? Kok sendiri?" Tanya Maura saat menerima kedatangan Langit.
Langit hanya tersenyum mendengar pertanyaan Maura.
"Ih, ditanyain malah ketawa, nanti kesambet loh!" Ledek Maura.
"Maaf, apa aku mengganggumu?" Tanya Langit dengan sopan.
"Kamu tidak mengganggu. Ada apa?"
"Sepertinya aku melakukan kesalahan besar kali ini."
"Maksudmu??!"
"Ya." Sahut Langit sambil menghela napas dalam-dalam.
"Pada kekasihmu?" Celetuk Maura.
"Bukan. Eh, sebenarnya iya juga sih. Tapi.. aku melakukan kesalahan besar dengan Bulan." Ucap Langit lirih.
"Hah..?!" Maura hanya melongo, terkejut.
"Aku merasa. Aku telah jatuh cinta dengannya."
"Pada kekasihmu?"
"Bukan. Pada Bulan."
"Haaah?!" Maura tambah melongo dan makin membesarkan bola matanya.
"Duh, tolong jangan membuatku merasa tambah tidak enak dengan reaksimu itu." Seloroh Langit. Maura hanya nyengir.
"Maaf, teman. Aku hanya amat sangat terkejut dan tidak menyangka hal ini terjadi."
"Hhhh....!" Keduanya tak sengaja menghela napas bersamaan.
"Hahahaha...!" Seketika mereka tertawa saat menyadarinya.
Langit saat ini berada di teras di kediaman Maura. Sore itu, Langit menyempatkan diri mampir ke rumah Maura sekedar mengeluarkan unek-uneknya.
"Huh... Apa yang harus aku lakukan?" Tanya Langit muram.
"Hmmm.. iya, apa yang musti kamu lakukan, ya?" Timpal Maura ikutan muram sambil menyangga dagunya.
__ADS_1
Langit memutar bola matanya.
"Ah... Maura, kalau saja, bukan karena dia yang tahu segalanya soal rahasia ini, aku bakal menempatkannya pada urutan ke sekian untuk ku ajak bicara saat ini." Ucap Langit dalam hati.
"Aha... Aku tahu!" Maura berseru sambil menjentikkan jarinya.
Langit menoleh ke arahnya.
"Kamu harus bisa membuat bulan jatuh cinta padamu." Ucapnya meyakinkan.
"Ra, masalahnya kan.." ucap Langit masih dengan wajah muramnya.
"Kekasihmu, ya?" Sela Maura, lalu wajahnya berubah muram kembali.
"Dan kekasihnya juga." Timpal Langit lesu.
"Iya... Masalahnya jadi semakin rumit, ya?" Maura bergumam dengan lesu juga.
"Sudahlah, Ra. Aku akan menjalani ini semua." Langit membesarkan hatinya sendiri dan juga Maura.
"Bulan bilang besok Sabtu Mario mengajaknya pergi berlibur mengisi weekend ke Pulau Ayer. Katanya ada party di sana bareng teman temannya Mario. Dia sangat senang sekali, Ra. Jika sudah seperti itu, tidak ada lagi yang bisa aku lakukan lagi, kan?" Tutur Langit sambil menerawang, lalu menoleh ke arah Maura.
"Ya ampun, aku ingat!" Seloroh Maura.
"Bulan pernah bercerita kalau dia pernah dibaca garis tangannya dan diramal bahwa ada dua pria dalam hatinya. Dan salah satunya adalah pasangan sejatinya." Cerita Maura.
"Mario." Celetuk Langit.
Maura lantas menepuk bahu Langit keras. Langit sampai meringis dibuatnya.
"Heh... Belum tentu, teman! Intinya dia juga menempatkan kamu di dalam hatinya. Itu yang penting saat ini. Betul, nggak?" Ucap Maura bersemangat sampai alisnya naik.
"Aku sangat menghargai semua usahamu." Langit lalu berdiri bersiap untuk pergi.
"Loh, Langit?!" Maura melongo, Langit tidak tergerak dengan penuturannya saat itu.
"Oya. Ra, tolong kamu jangan cerita ini pada siapa pun, oke." Tegas Langit.
"Tapi.."
"Dilarang keras! Pada siapa pun." Ulang Langit mempertegas kata katanya kembali.
Maura menjadi mengkeret dan hanya dapat mengangguk setuju.
"Terima kasih, Ra. Aku cuma tidak ingin merusak kebahagiaan Bulan saat ini. Aku yakin kamu juga, kan?"
Lagi lagi Maura hanya menjawab dengan mengangguk.
"Aduh, betapa berat beban hidup seorang Maura, harus menjaga rahasia semua orang di dunia.." keluh Maura dalam hati seraya menghela napas dalam-dalam.
Ia hanya dapat menatap Langit yang pergi berlalu dari rumahnya.
****
Weekend ini, Bulan dan Langit memiliki kegiatan masing-masing.
__ADS_1
Bulan yang akan pergi liburan di Pulau Ayer bersama Mario dan Langit ada acara kemah bersama anak anak didiknya.
"Hup!" Bulan menjinjing tas traveling yang menggembung, lalu menutup pintu kamarnya. Tadinya pintu itu ingin ia kunci. Tapi, tidak jadi. Siapa tahu, Langit memerlukan sesuatu yang ada dalam kamarnya.
Langit sudah pergi pagi pagi sekali keluar rumah. Langit sempat berpamitan menyiapkan acara kemah buat anak anak pemukiman padat. Bulan teringat Minggu lalu, saat ia belajar dan bermain skateboard bersama anak-anak itu.
"Hhhmmmm... Pasti menyenangkan bagi mereka." Gumamnya sambil tersenyum.
TIN..TIN..
Suara klakson mobil. Bulan melongok melihat dari jendela, terlihat mobil Mario telah ada di depan. Bulan bergegas keluar dan perjalanannya menuju Pesta Hawaii pun dimulai...
Mario tersenyum lebar menyambut kedatangan Bulan. Yang dibalas tak kalah riangnya oleh Bulan. Kesegaran pagi bersaing dengan kesegaran rona wajah mereka.
Ini adalah perjalanan liburan bersama pertama mereka setelah Bulan menikah. Jadi, mereka menyambutnya dengan antusias.
"Bulan." Panggil Mario sambil mengemudi laju mobilnya.
"Ya." Sahut Bulan menoleh ke arah Mario.
"Aku telah memikirkan tentang ucapannya kemarin."
"Ucapan yang mana?"
"Soal dua tahun itu." Jawab Mario.
Bulan masih menatap Mario, menunggu lanjutannya.
"Aku telah memutuskan. Aku tidak keberatan untuk menunggumu. Maaf jika, waktu itu aku terlalu emosi. Setelah aku pikirkan dan pertimbangankan matang matang apalah arti dua tahun dibandingkan aku harus kehilangan kamu." Tutur Mario dengan tenang.
"Oh, Mario... Apakah ini sungguhan?" Bulan menatap Mario seakan tak percaya.
Mario menatap Bulan dan tersenyum meyakinkan gadis itu.
"Ini sungguh manis sekali. Terima kasih!" Ucap Bulan sambil menyeruak memeluk Mario yang masih fokus pada kemudinya.
Bulan langsung melepaskan pelukannya supaya Mario tetap fokus. Ia mengerjapkan matanya, dan merasa sangat senang sekali akhirnya Mario berkata seperti itu.
Mereka menikmati perjalanan mereka dengan perasaan bahagia, Bulan meletakkan kepalanya di bahu Mario sambil mendengarkan lagu yang mengalun dari radio di mobil.
Setalah sekitar satu jam perjalanan mereka, tiba tiba ponsel Bulan bergetar dan berbunyi. Bulan mengambil ponselnya dari tasnya, dan melihatnya.
Dari nomor tak dikenal dan tak ada dalam kontaknya.
Bulan ingin mengabaikan saja, namun ponselnya berbunyi terus.
Akhirnya, Bulan menjawab panggilan itu.
"Halo." Jawab Bulan perlahan.
"Bulan? Istri Langit?" Terdengar suara laki laki di seberang sana.
"Iya, saya Bulan. Ini siapa?"
"Saya Egi, temannya Langit. Begini... Langit.. mengalami kecelakaan."
__ADS_1
"Haaahhh....!!"
BERSAMBUNG...