(Bukan) Pernikahan Impian

(Bukan) Pernikahan Impian
Persiapan Pesta


__ADS_3

Langit menjemput Mawar di stasiun Juanda. Ia langsung mengajak adiknya untuk berbelanja di supermarket yang dilewati saat hendak pulang ke rumah.


Mereka membeli ayam, daging, ikan segar, beberapa makanan beku untuk dibuat yakitori. Langit membeli aneka saos untuk bumbu olesan barbekyu. Aneka saos akan ia campur disesuaikan dengan tingkat kepedasan selera masing masing. Lalu ia membeli aneka lalapan, mulai dari timun, selada, tomat, lalu ia membeli buah.


Selesai berbelanja, Langit bergegas ke parkiran, lalu melajukan mobil untuk pulang.


Di rumah, Bulan dikejutkan dengan kedatangan Mawar dan banyaknya belanjaan yang dibawa bersama dengan Langit. Lalu ia lebih terkejut lagi, saat mendapat cake cokelat, buatan mama Langit.


"Selamat ulang tahun, Kak. Ini dari mama." Tukas Mawar sambil memberi ciuman pipi dan menyerahkan cake cokelat.


"Terima kasih banyak, ya. Tapi... Ini semua apa?" Bulan mengernyitkan dahinya, bingung dan menunjuk ke banyaknya tas belanjaan.


Mawar mengarahkan jarinya menunjuk ke arah Langit. Langit hanya dapat meringis dan kemudian mengungkapkan rencananya. Langit mengatakan bahwa ini ide dari Maura, lalu disampaikan ke Langit. Kini mereka sedang mempersiapkan acara ulang tahun untuk Bulan. Karena tidak dapat merayakan di luar rumah. Maka, kali ini teman teman akan merayakan pesta kecil-kecilan di rumah.


"Astaga! Jadi malam ini kalian akan mengadakan pesta untukku?" Seru Bulan kegirangan.


Lalu secara tiba tiba Bulan meloncat memeluk Langit.


"Asyiiik...! Thank you sooo much, buddy!" Ucap Bulan dengan gembira.


Belum sempat Langit membalas pelukan Bulan, ia telah meloncat memeluk Mawar.


Langit hanya bisa menghela napas panjang, membayangkan memeluk Bulan.


"Aduh... Belum rejeki!" Gumam Langit dalam hati.


"Kamu pasti dihasut oleh kakakmu supaya bolos hanya untuk bantu bantu dia?!" Tebak Bulan menuduh langsung dan terang terangan di depan Langit. Mawar hanya dapat cengengesan.


"Sok tahu! Mawar cuma ingin mengambil jatah absennya yang belum pernah diambil." Balas Langit dengan sengit.


"Eehh... Sebenarnya sudah dua kali loh, Kak." Sela Mawar meralat ucapan kakaknya.


"Nah, dia ingin mengambil jatah selanjutnya." Timpal Langit membelokkan kekeliruannya. Bulan mencibir.


"Mawar, aku benar benar nggak tahu, lho. Jadi kalau ada apa apa dengan prestasi akademismu. Kesalahan penuh ada pada kakakmu!" Bulan tak mau kalah dengan Langit.


"Tuh, sudah dibuatkan pesta, kayak gitu balasannya!" Seloroh Langit.


Bulan tertawa terbahak-bahak. Dia terlihat lebih ceria hari ini. Dengan penuh semangat ia ikut membantu bantu.

__ADS_1


Bulan juga menghubungi Maura, berkali kali menanyakan detail makanan dan minuman yang dibeli. Pakai cerewet pula, Maura dibuat bete jadinya. Alhasil, dia tidak seratus persen tulus membuat pesta kejutan untuk Bukan.


"Heh, kamu itu ga usah banyak perintah ini itu, ini itu, kan aku yang mau buat acara buatmu, ngapain jadi kamu yang atur aku?" Ucap Maura dengan kesal di seberang sana.


"Bukan gitu, Ra. Supaya menu yang ada dapat dinikmati semua orang maksudnya!" Bulan jadi merasa tak enak.


"Ya sudah, nanti aku periksa lagi. Tapi yang sudah terlanjur aku beli dan pesan tetap akan aku bawa. Tenang saja, pasti semua suka." Maura meyakinkan.


"Oke, Ra. Bye." Tutup Bulan.


Ia lalu meletakkan ponselnya, lalu melanjutkan membantu Mawar yang sibuk di dapur mempersiapkan menu makan besar untuk pesta malam nanti.


"Bulan, kamu istirahat sana. Jangan lupa obatnya. Kalau tidak istirahat, nanti malam ambruk loh." Tutur Langit mengingatkan Bulan.


Bulan berdiri di samping Mawar di dapur.


"Aku serasa masih tinggal bersama mamaku." Bisik nya pada Mawar kala itu.


Mawar terkikik geli mendengar ucapan Bulan.


"Kamu merasa gitu, nggak, sih? Mungkin bukan mamamu, tapi nenekmu barang kali..?" Lanjut Bulan.


"Ayo, bandel, makan dulu!" Cetus Langit.


"Kita juga makan, War. Kalau nggak begitu, anak satu ini maunya makan nanti pas pesta." Sambung Langit mengomeli Bulan.


Bulan mencibir, tapi menurut juga. " Iya, iya, Nek." Ledek Bulan.


Mawar tertawa dan menuruti kakaknya untuk makan bersama sama.


Di sela sela makan, Mawar memperhatikan Langit dan Bulan yang makan sambil sesekali saling meledek.


"Kalian pasangan yang ceria, ya. Jadi iri, deh." Celetuk Mawar.


Sontak Langit dan Bulan menghentikan suapannya masing masing dan melongo. Mereka saling tatap lalu berganti menoleh ke arah Mawar.


"Hah?!"


"Apa?!"

__ADS_1


Teriak mereka berdua bersamaan.


Tanpa ada yang memberi aba aba, keduanya serempak beringsut menjauh. Langit berdiri mengambil minum di kulkas, Bulan pindah ke depan televisi. Sekarang, giliran Mawar yang melongo, tidak mengerti. Dibilang pasangan yang ceria kenapa malah jadi salah tingkah gitu, ya? Pasangan yang aneh!


Selesai makan yang berujung tak nyaman tadi, Bulan akhirnya menuruti ucapan Langit dengan meminum obatnya, lalu menuju ke kamarnya untuk beristirahat.


Beberapa jam kemudian, bersamaan jam pulang kantor, satu dua orang mulai nongol datang ke rumah Bulan. Yang semakin bertambah saat matahari mulai tenggelam dan hari semakin gelap, suasana rumah makin ramai.


Ada yang langsung dari kantor, biasanya pada numpang ngopi atau hanya sekedar tidur tiduran. Ada yang pulang dulu atau pergi memenuhi urusan lain. Dan agak malam baru datang.


Raka, kakak Bulan juga datang, tapi dia datang saat saat terakhir. Hari sudah semakin malam.


Di halaman, Sonya mengolesi ikan, ayam, dan udang dengan bumbu racikan buatan Mawar. Kemudian Langit membakarnya secara merata.


"Huummm enaaakk.." komentar Sonya sambil mencubit sedikit ikan yang telah selesai dibakar, kemudian dimasukkan ke mulutnya.


Langit mendekatkan kepalanya ke Sonya, hidungnya nyungir berlagak mengendus endus tubuh Sonya.


"Ih, bau bakaran semua. Rugi parfum dong!" Ledek Langit.


"Tak apalah, demi merayakan ulang tahun sahabat tercinta. Omong omong, apa kabar kalian? Sudah sebulan ini aku nggak kontak kontrakan dengan Bulan." Ucap Sonya sambil menoleh ke arah Langit yang masih sibuk mengangkat udang, dan membalik ikan.


"Iya, Bulan juga pernah mengeluh soal itu. Kamu tuh, susah banget dihubungi. Kalo di chat, lama balesnya. Sukur sukur dibales, biasanya sampai berhari-hari baru dibales." Tutur Langit.


Sonya meringis, ia merasa bersalah.


"Aku memang tidak punya waktu sebanyak dulu untuk Bulan dan sahabatku yang lain. Tapi, aku tetap berusaha menjadi teman yang baik. Contohnya seperti saat ini, aku datang ke acara ulang tahun sahabatku. Aku tetap tak akan melewatkan perayaan penting orang yang dekat denganku, termasuk Bulan." Sonya memberi alasan yang masuk akal.


"Jadi, apakah perkawinan kalian baik baik saja sejauh ini? Apa kalian sudah bisa saling menyesuaikan diri?" Lanjutnya sambil mendekatkan diri pada Langit sambil memelankan suaranya saat bertanya.


Sonya tidak tahu sebanyak Maura, yang mengetahui mengenai hubungan Langit dan Bukan setelah menikah.


Langit tersenyum dan hanya menjawab iya.


Kesibukannya membakar ikan, ayam, dan udang saat itu membuat orang lain, dalam hal ini, Sonya. Memaklumi bahwa Langit tidak bisa mengobrol banyak saat ini. Karena ia sedang sibuk melakukan tugasnya.


Namun, Langit sebenarnya sedang malas berbicara mengenai hal hal pribadi yang ia alami saat ini, mengenai hubungannya dengan Bulan yang hanya sekedar di atas kertas.


"Baguslah!" Sahut Sanya.

__ADS_1


"Langit, mungkin Bulan masih butuh waktu untuk dapat melupakan Mario, jadi bersabar saja, oke." Sambung Sonya memberi nasihat pada Langit.


__ADS_2