(Bukan) Pernikahan Impian

(Bukan) Pernikahan Impian
Putus, Patah hati


__ADS_3

Dua pria


Tidak harus memilih


Cukup membuka hati dan pikiran dengan jernih


Membimbing seseorang menuju ke tempatnya


Peka terhadap kata hati


Kata kata itu terngiang terus di kepala Bulan saat itu. Ia masih termenung di kantor, menatap ke arah luar. Keadaan semakin gelap, hari sudah malam.


Akhirnya, Bulan memutuskan untuk pulang ke rumah saja, beristirahat sejenak.


Langit di rumah sakit, bersama mamanya malam itu. Lagi pula sudah ada Syaharani yang menemaninya.


"Huh... Kenapa aku jadi begini lagi, saat memikirkan gadis itu bersama Langit?" Gumam Bulan sambil mengusap usap wajahnya.


Bulan membereskan mejanya sebelum ia keluar dari ruangannya. Tiba tiba ponselmya bergetar. Ada pesan whatsapp dari Mario, ingin bertemu di kafe.


Bulan langsung tersenyum lebar membaca pesan dari Mario itu, ia berdandan secepat kilat, lalu berlari lari keluar dari gedung kantornya itu.


Bulan memarkir mobil, ia menoleh ke sisi lain, ada mobil Mario terparkir di sana. Bulan bergegas masuk menuju kafe dengan wajah yang sumringah.


Bulan mencari cari sosok Mario, saat memasuki kafe, tak sulit untuk menemukan kekasihnya itu. Itu kafe langganan mereka dan mereka mempunyai tempat favorit di sudut kafe, yang menghadap ke arah luar, ada hamparan taman di depan sana, jika dalam keadaan terang.


Bulan langsung menuju ke tempat favorit mereka itu.


"Aku ingin putus."


Bulan yang baru saja mendaratkan pantatnya di kursi di depan Mario, sontak langsung mendongakkan kepalanya. Ia menatap Mario tak berkedip. Tak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar.


Mereka terinterupsi dengan kedatangan pelayan yang membawakan dua cangkir kopi untuk mereka.


"Aku sudah memesan minuman untukmu. Kopi yang biasa kamu pesan. Mau pesan makanan juga?" Tawar Mario.


Bulan hanya menggeleng lemah, ia masih sangat syok.


"Pembatalanmu pergi denganku ke Ayer merupakan puncak kecemburuanku. Aku sudah tidak sanggup lagi, jika harus mengalami lebih dari itu." Ucap Mario sambil menyesap kopinya.


"Maaf, aku tidak bermaksud begitu, Mario." Sahut Bulan dengan kepala tertunduk.


"Aku tahu, kita saling mencintai, tapi aku terus menerus dicekam oleh rasa cemburu dan tidak nyaman. Apalagi harus bertemu denganmu secara sembunyi sembunyi. Melakukan sandiwara, terutama melihatmu bersama pria lain. Aku tak sanggup, Lan." Tutur Mario sambil memalingkan pandangan ke luar jendela.


"Aku cuma tidak ingin menjadi gila." Sambungnya.


Bulan bergeming beberapa lama. Matanya menerawang menembus ke dalam isi cangkir di hadapannya.


"Aku sangat sedih, jika harus berpisah denganmu." Ucap Bulan lirih, nyaris berbisik.


"Sampai kapan pun aku tidak pernah siap untuk melepasmu. Tapi, aku juga tidak sanggup dengan hubungan seperti ini. Jadi, aku harap kamu mengerti." Tandas Mario


Mata Bulan mulai berkaca-kaca mendengar ucapan Mario.


"Lan, Jika kita memang ditakdirkan bersama, kita pasti bisa bersama. Mungkin... Hmmm... Dua tahun lagi, seperti yang kamu bilang." Mario menyunggingkan senyum. Bulan hanya bisa membalas dengan senyuman yang lemah.


"Aku tidak ingin kita saling menunggu. Aku tidak ingin kita membuang waktu untuk sesuatu yang mungkin bukan takdir kita. Jalani saja semua yang ada saat ini. Aku yakin suatu saat itu semua akan mengarah pada takdir kita sendiri." Tukas Mario dengan tenang sambil menatap mata Bulan.


"Oh, Mario.. kamu membuatku menangis sekarang." Celetuk Bulan dengan mata berkaca-kaca tak bisa menahan lagi lelehan air mata yang kian membanjir dari sudut matanya.

__ADS_1


"Mario, sungguh, kebesaran hatimu ini membuatku jatuh hati dan juga menangis, huhuhu...!" Ucap Bulan dengan suara terisak.


"Aku mencintaimu Mario."


"Aku tahu." Sahut Mario.


"Dan aku juga tahu, kamu mulai mencintai orang lain, Lan."


"Tidak bisakah kamu mengubah keputusanmu ini, Mar? Ini terlalu menyedihkan." Tajuk Bulan disela Isak tangisnya.


"Bulan, aku pikir inilah yang terbaik buat kita."


"Huhuhu..!" Bulan tak bisa tidak menangis tanpa suara. Dia selalu menangis tersedu-sedu.


"Mario, bolehkah aku minta pelukanmu?"


Mario tersenyum dan berpindah tempat di samping Bulan.


Bulan langsung menghambur dalam pelukan Mario, tangisnya bertambah kencang.


"Aduh Bulan, malu juga dengan adegan ini, tapi tak apalah untuk sesuatu yang akan menjadi hal terakhir kali." Pikir Mario miris.


Setelah Bulan menangis dengan puas di pelukan Mario. Ia melepaskan pelukannya dan mulai menyeka air mata dengan tisu.


Tak lama, Bulan ingin pulang menenangkan dirinya. Mario mengantar Bulan sampai gadis itu menjalankan mobilnya keluar dari pelataran parkir.


Lalu ia lantas berdiri mematung.


"Selesai sudah. Kamu kalah, Mario!" Gumamnya.


Sesampainya di rumah, Bulan langsung masuk ke dalam kamarnya dan menangis sepuasnya, membenamkan wajahnya pada bantal, meluapkan semuanya.


Ia tak peduli lagi dengan panggilan ponsel atau pesta. Yang masuk dari ponselnya malam itu. Ia masih meratapi nasib percintaannya yang mengenaskan saat ini.


*


*


Sinar matahari menyeruak masuk melalui sela sela jendela. Bulan perlahan membuka matanya. Sepertinya matahari sudah tinggi pagi ini. Dia berencana tidak masuk hari itu untuk menenangkan dirinya.


Bulan menuju ke kamar mandi, lalu masuk lagi ke dalam kamar, ia mengambil ponsel yang tergeletak di atas meja. Ia mulai membuka satu persatu pesan dan panggilan yang masuk semalam.


Ada pesan dari Langit dan juga panggilan darinya. Mengabarkan, jika hari itu dia sudah boleh pulang dan meminta Bulan untuk menjemputnya.


Bulan kemudian menghubungi Maura untuk menemaninya menjemput Langit siang nanti. Dan ia akan menceritakan semua kejadian semalam pada sahabatnya itu.


Lalu ada beberapa pesan dari kantor mengenai beberapa hal, yang membutuhkan tanda tangannya.


Bulan pergi ke rumah sakit, selesai dari kantornya.


Bulan celingukan di depan rumah sakit. Ia menerima pesan, jika Maura sudah di depan rumah sakit.


Maura melambaikan tangan saat melihat Bulan yang terlihat bingung.


Bulan langsung masuk ke dalam rumah sakit menuju ke sahabatnya.


"Ya ampun, kamu kok pucat sekali? Sakit?" Tanya Maura saat Bulan mendekat.


"Iya, nggak dandan, lagi!" Timpal Sonya.

__ADS_1


"Semalam kurang tidur, terus tadi bangun kesiangan, lalu ada kerjaan mendadak."


Semalam Bulan merenungi dan menangisi nasibnya habis habisan. Sendirian.


"Ngapain kamu ngajak Sonya segala? Aku kan mau curhat hal paling rahasia banget sama kamu." Bisik Bulan ke telinga Maura.


"Tadi gym bareng, terus dia maksa ikut aku seharian ini. Maklum, stok cowoknya lagi kosong. Aku kan nggak enak, jadinya. Apalagi dia tahu kegiatanku hari ini." Sahut Maura sambil meringis.


"Ngobrol apaan sih, aku nggak denger nih?" Seloroh Sonya merengsek di antara teman temannya.


Maura dan Bulan hanya menggeleng. Lalu mereka berjalan menuju kamar Langit.


Tiba di depan kamar Langit, pintu kamar terbuka. Bulan melihat ada perawat di dalam dan ada Syaharani.


Seketika Bulan buru buru mundur dan balik badan menjauhi pintu.


"Aduh!"


"Awwwhhh!"


Bulan menubruk Maura dan Sonya yang tadi berdiri di belakangnya.


"Ssttt ini rumah sakit, jangan berisik." Tegur Bulan berbisik.


"Kita berisik juga kerena kamu!" Seloroh Sonya.


"Ssttt... Ayo kita pergi saja. Eh, ada mamanya Langit!" Sahut Bulan berbohong.


Bulan menarik kedua temannya menuju ruangan tunggu di lorong agak jauh dari kamar Langit.


"Loh, kok malah pergi?" Tanya Sonya heran.


"Soalnya perjumpaan anak dan ibu itu sangat penting. Aku nggak mau ganggu." Jawab Bulan asal.


"Ada kekasih Langit di dalam, aku nggak mau ganggu?" Bisik Bulan pada Maura saat di ruang tunggu.


"Oh, dari jam berapa?"


"Nggak tahu."


"Tuh, kan, bisik bisik lagi! Sebel deh! Minggir kalian!" Protes Sonya. Ia menarik Maura yang duduk di tengah. Dia sendiri lantas duduk di tengah di antara Bulan dan Maura.


"Nah, sekarang kalian nggak perlu bisik bisik kalau ngomong." Ucap Sonya sambil tersenyum penuh kemenangan.


Maura mencibir, Bulan hanya melongo.


"Nih kalian mau?" Sonya membuka tas dan menyodorkan coklat berbentuk kepingan kepada dua temannya.


Maura menggeleng.


"Aku nggak napsu makan apapun di rumah sakit." Celetuk Bulan.


"Ya sudah." Sonya lantas menikmati coklat itu sendiri sambil memainkan ponselnya.


Bulan melirik ke arah Sonya yang tertawa sendiri menatap layar ponselnya, ia sedang menonton drakor saat itu.


Hal itu membuat Bulan menemukan ide, guna memecahkan kebuntuan untuk curhat pada Maura.


Ia mengambil ponselnya, lalu langsung memainkan jempolnya pada keyboard ponsel pintarnya.

__ADS_1


Semalam Mario mutusin aku. Aku patah hati 😭


BERSAMBUNG


__ADS_2