
Pagi ini, Bulan sengaja lari pagi di seputaran komplek perumahan tempatnya tinggal untuk menghilangkan rasa suntuk dan supaya pikirannya lebih relaks.
Saat berlari ia terngiang-ngiang omongannya sendiri tentang melanjutkan hidup dengan segala konsekuensinya, kemarin, saat sedang mengobrol dengan Langit.
"Lalu mengapa aku harus enggan bertemu dengan Mario? Aku sangat merindukan Mario saat ini." Gumam Bulan sambil berlari.
Karena hal tersebut terus berputar dikepalanya, Bulan menambah kecepatan larinya. Hingga di tikungan dia nyaris menabrak gerobak bubur ayam yang sedang keliling komplek.
"Aaaaaa......!!" Jerit Bulan terkaget. Membuat si tukang bubur ayam ikut meloncat kaget, yang membuat tukang bubur ayam membelokkan gerobaknya menjauh dari Bulan supaya tidak bertabrakan.
Bulan yang masih syok, berdiri dan bengong di tengah jalan tepat di depan tukang bubur ayam.
"Neng? Neng tidak apa apa?" Si tukang bubur yakin Bulan tidak apa apa, cuma si neng ini masih bengong kelamaan di depannya.
"Oh, ya, ya. Mau deh, Bang. Buburnya satu, dibungkus." Sontak kalimat itu meluncur dari bibir Bulan.
"Huh, gara gara pikiran kacau membuat keselamatan diri jadi terancam!" Gumam Bulan sambil menepuk keningnya sendiri.
Ternyata lari pagi yang niatnya bikin relaks malah membuatnya bertambah kacau.
Bulan pulang ke rumah berjalan kaki sambil menenteng plastik yang berisi bubur ayam.
Sampai di rumah ia memeriksa ponselnya, ada panggilan dari Papa dan Mamanya berkali kali. Lalu ia menghubungi kembali Papanya.
"Lan, Eyang masuk rumah sakit. Kritis." Ucap Papanya. Yang membuat Bulan terdiam, tubuhnya seakan lunglai.
Ia menutup panggilan, dan bersiap untuk menuju rumah sakit tempat Eyang dirawat.
Bulan langsung bergegas menuju ruang ICU. Bulan berlari menyusuri koridor rumah sakit, menuju ke sana. Meski berlari sekali pun, rasanya lama sekali, tidak sampai sampai.
Bulan melihat Papanya dikejauhan. Ia mempercepat langkahnya.
Begitu sampai, Bulan langsung memeluk Papanya.
"Gimana Eyang?"
"Masih dalam penanganan dokter di dalam." Sahut Papa.
"Tubuh Eyang makin melemah, tadi pagi waktu mama bawakan makanan ke kamar, Eyang terbaring tidak sadarkan diri di ranjang." Mama menimpali dengan sedih.
__ADS_1
"Semenjak pulang hari Minggu kemarin, dari tempatmu itu. Eyang menjadi murung, sering tidak mau makan, menolak minum obat, tidak istirahat teratur, sering uring-uringan, dan berulang mengatakan kekecewaannya padamu." Terang Papa.
Bulan hanya tertunduk dan air matanya berlinang setelah itu.
Mama memeluk Bulan dan menenangkan, dan Papa menepuk bahu putrinya itu untuk memberi support.
Kepala Bulan menjadi sangat pusing sekali, Eyang Kakung jadi stres memikirkan dirinya. Terlebih perbuatan yang telah dilakukannya kemarin, telah mencoreng nama baik keluarga.
Tak lama kemudian Dokter keluar dari ruang ICU. Yang mengatakan bahwa kondisi Eyang sudah mulai stabil, tinggal menunggu siuman saja.
Raka berlari-lari kecil menghampi mereka. Masih dengan napas tersengal-sengal, Raka mengikuti Mama Papa dan Bulan masuk ke ruang ICU untuk melihat Eyang.
Hari kedua di rumah sakit, Eyang masih belum sadar. Beberapa rekan kerja Bulan, yang juga bawahan Eyangnya langsung di Area Olahraga dan Bermain datang menjenguk.
Hari ketiga di rumah sakit. Saat itu Bulan sedang menjaga Eyang sendiri di rumah sakit. Kali ini Eyang sudah dipindah di kamar perawatan dengan bantuan peralatan lengkap. Bulan menatap wajah Eyang Kakung yang pucat dengan sedih. Bulan sangat sedih dan sangat merasa bersalah menatap Eyang yang tak kunjung membuka matanya.
"Eyang, jangan mati karena aku. Maafkan Bulan, Eyang!" Ucap Bulan lirih sambil menitikkan air matanya.
Hari keempat, Mario datang menemui Bulan di rumah sakit. Ia memang belum tahu sosok sosok di keluarga Bulan, tapi ia tahu Bulan sangat dekat dengan Eyang Kakung nya.
Mereka berbicara dengan suara pelan di koridor depan kamar.
"Tidak apa apa. Aku hanya memastikan kamu jangan sampai drop. Dan memastikan kamu bisa mengandalkan aku kapan saja." Sela Mario sambil menepuk bahu Bulan.
Bulan menatap mata Mario. Tenggorokannya tercekat, rasanya ingin menangis, dan ingin memeluk Mario saat itu juga menumpahkan semua kesedihannya. Namun, diurungkannya. Bulan menguatkan hatinya sendiri.
"Terima kasih banyak." Jawab Bulan lirih.
Bulan terdiam untuk melegakan tenggorokannya sebelum berkata lagi.
"Mario, sebenarnya ada yang ingin ku...."
Belum sempat Bulan melanjutkan ucapannya, Mama memanggilnya dari ambang pintu.
"Bulan, Eyang sadar." Panggil Mama.
Bulan bergegas mendekati Mamanya meninggalkan Mario di koridor rumah sakit.
Bulan dan Mamanya masuk ke ruang kamar perawatan dan menutup pintunya.
__ADS_1
"Eyang memanggil kamu." Bisik mamanya.
Bulan mendekati Eyang, lalu duduk di tepi tempat tidur, menunduk mendekat ke wajah Eyang.
"Menikahlah, Eyang baru tenang." Eyang tidak mengeluarkan suara, hanya gerak mulut yang diucapkan dengan susah payah.
Wajah Bulan menjadi makin luas.
"Aku punya andil besar dalam menentukan nasib Eyang, kali ini." Batin Bulan.
Belum sempat mengucapkan apa apa pada Eyang. Dokter dan perawat masuk untuk memeriksa keadaan Eyang.
Bulan mundur dan membalikkan tubuhnya untuk keluar dari ruang perawatan Eyangnya.
Mario masih terlihat duduk menunggu di bangku tunggu. Bulan melangkah mendekatinya, dan duduk di sebelahnya.
"Mario, kita harus bicara." Ucap Bulan lirih. Mario menoleh ke arah Bulan siap mendengarkan.
Bulan menceritakan semua yang telah ia perbuatan dengan Langit pada malam itu, dan kehebohan pagi harinya. Yang membuat Eyang marah besar padanya. Kekecewaannya yang berlarut membuat kesehatannya makin menurun hingga masuk rumah sakit kali ini. Lalu saat Eyang sadar tadi, dia meminta sesuatu padanya.
Mario sontak membulatkan matanya dan menatap tajam ke arah Bulan yang hanya tertunduk lemah siap menerima apapun kemarahan Mario.
"Kalau tidak ingat ini di rumah sakit, dan kamu yang stres memikirkan Eyangmu. Sudah pasti aku meledakkan kemarahan ku sekarang. Aku sangat marah, Lan!" Ucap Mario dengan penuh penekanan.
Keterusterangan Mario menjawab keheranan di benak Bulan, akan ketenangan Mario menerima hal yang baru saja disampaikannya. Karena sebenarnya sifat Mario adalah menyalurkan kekesalan secara langsung, dan terkadang terkesan berlebihan.
"Sudah cukup pahit kamu tidur dengan laki laki itu. Tapi, ternyata masih ada sentuhan akhir. Kamu di suruh menikah segala! Ini gila!" Ucap Mario dengan gelisah. Ia mengacak rambutnya sendiri dan mengusap usah wajahnya.
"Aku harus merokok. Ayo keluar!" Mario lalu berjalan ke luar rumah sakit mencari tempat untuk merokok.
Bulan setengah berlari menyusul Mario yang langsung pergi.
"SIAL..!" Mario mengumpat dengan keras. Bulan melonjak kaget. Setelah sekian menit, akhirnya Mario menumpahkan kekesalannya.
Mereka berjalan beriringan menuju sebuah kafe di seberang rumah sakit. Mereka segera memesan minuman dan duduk di teras kafe yang area terbuka.
Mario langsung mengambil sebatang rokok dari bungkusnya, lalu menyulutnya.
Ia masih diam, namun terlihat penuh emosi. Berkali kali ia hanya mendengus dengan kesal sambil menghembuskan asap rokoknya.
__ADS_1